The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 103


__ADS_3

Nyonya William pulang ke rumah dengan membawa dua kotak kue yang dia beli dari toko kue langganannya.


Seorang pelayan yang menyambut nyonya William, membantunya membawa dua kotak itu.


"Letakan dulu saja kue-kue itu di dalam kulkas." Ucap nyonya William pada seorang pelayan yang membantunya.


"Baik nyonya."


"Oh iya, dimana nona dan nona muda?"


"Nona dan nona muda ada di dalam kamar mereka, nyonya. Mungkin nona muda lelah setelah perjalanan jauh."


Nyonya William mengangguk, dia lalu berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Xixi yang berada di dalam kamarnya tengah berbaring di atas ranjang. Dia melihat layar ponselnya, mencari apakah ada berita baru di media sosialnya.


"Wah, sepertinya sebentar lagi keluarga Davidson akan menyusul keluarga Albert yang telah hancur itu." Ucap Xixi saat melihat berita tentang perusahaan keluarga Davidson.


Dia sudah sering membuat perusahaan keluarga yang begitu sombong, dan tidak tahu diri seperti mereka. Bahkan saat dia bekerja sebagai hacker bayaran, sudah lebih dari 10 perusahaan besar yang dia jatuhkan.


"Ternyata memang benar, kalau orang-orang yang serakah akan lebih cepat hancur. Terlebih jika apa yang dia dapatkan dari orang lain." Ucap Xixi lagi.


Xixi meletakan ponselnya di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya. Rasa lelah membuatnya tertidur dalam sekejap.


...----------------...


Siang harinya, Mimi dan ibunya duduk di ruang makan.


"Mimi, panggil Xixi untuk makan siang. Kasihan dia, pasti sudah lapar." Ucap nyonya William.


"Iya bu."


Mimi berdiri dari kursi yang dia duduki.


"Kakak mau kemana?" Tanya Xixi yang baru saja datang ke ruang makan.


"Oh kau sudah bangun, baguslah kakak tidak perlu naik ke atas untuk memanggilmu."


Xixi berjalan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di samping Mimi.


"Ibu senang kau pulang, rasanya rumah ini jadi lebih ramai." Ucap nyonya William pada Xixi.


"Aku berencana pulang akhir bulan ini bu, tetapi ayah kemarin menghubungi ku dan minta ku untuk pulang hari ini."


"Ayahmu sudah sangat merindukan kalian berdua ada di rumah. Setiap hari Mimi pergi ke tempat pemotretan, dan kamu ada di kota A. Rumah sebesar ini terasa seperti kosong."


"Bukan rumah kosong, tapi kastil kosong."


"Kau ini, setidaknya satu bulan sekali pulang ke rumah. Jangan tunggu ayah atau ibu memintamu pulang." Ucap Mimi.


"Iya, beberapa bulan kemarin aku sedang melakukan beberapa hal penting di kota A, dan itu tidak bisa kalau di lakukan di rumah, kak."


Mimi mengangkat kedua bahunya lalu meminum air yang ada di depannya, karena dia tidak tahu urusan apa yang Xixi lakukan di kota A sana.


"Sudah, lebih baik kita makan siang dulu sebelum makanannya dingin." Ucap nyonya William menengahi dua kakak beradik ini.


Mimi dan Xixi mengangguk, ketiga wanita keluarga William itu pun menikmati makan siang mereka bersama.


"Bu, katanya ibu membeli kue." Ucap Xixi setelah mereka selesai makan siang.


"Iya, kuenya ada di dalam kulkas."


"Apa ibu beli salad buatku juga?" Tanya Mimi.


"Iya, salad buah untuk mu ada di kulkas juga."

__ADS_1


"Terima kasih bu."


Xixi melihat kakaknya "Kakak masih makan salad, bukannya kakak bilang kalau mau menambah sedikit berat badan kakak?"


"Iya, tapi apa salahnya dengan makan salad sebagai cemilan?"


"Jika kau ingin cepat menaikan berat badan, makan kue akan membantu mu lebih cepat menambah berat badan. Salad itu lebih banyak di makan untuk cemilan orang diet."


"Iya nanti aku juga akan makan kuenya."


Xixi hanya mengangguk menanggapi kakaknya, dia lalu berdiri dan berjalan ke ruang keluarga. Sementara Mimi berjalan ke arah kulkas untuk mengambil salad buah miliknya.


Nyonya William duduk di samping Xixi "Jadi bagaimana perkembangan perusahaan yang kamu pimpin, sayang?"


"Semuanya berjalan dengan baik bu, ya meskipun ada 1 atau 2 karyawan yang sedikit bermasalah. Tapi semua bisa di atasi."


"Syukurlah kalau begitu, lalu apa rencanamu selanjutnya? Ibu dengar kau membuat vila di kota A."


"Iya bu, aku membeli tanah di beberapa tempat di kota A, dan membangun vila di sana. Saat musim panas banyak orang berlibur di pantai, jadi Xixi membuat vila untuk di sewakan pada mereka."


"Kamu memang mempunyai bakat dalam berbisnis."


"Itu karena ayah sudah mengajari Xixi berbisnis sejak Xixi masih kecil."


Nyonya William tertawa, dia ingat saat dimana suaminya mengajari Xixi berbisnis, dengan menggunakan uang jajan Xixi sebagai pacuannya.


"Ayahmu memang pintar dalam hal itu, tapi ibu lihat kau juga tidak kalah pintarnya sayang." Ucap nyonya William.


"Pintar apa bu?" Tanya Mimi seraya duduk sambil membawa salad buah di tangannya.


"Berbisnis, Ibu melihat Xixi tidak kalah hebat dan pintar dari ayah kalian dalam hal berbisnis."


"Bukan hanya itu bu, dia juga hebat berkelahi dan membawa mobil."


Itu karena nyonya William tidak menyukai jika Xixi mengendarai mobil seperti seorang pembalap.


"Kurangi membawa mobil dengan cepat seperti itu, Xixi." Ucap nyonya William mengingatkan putri bungsunya.


"Iya bu, Xixi tahu."


"Ibu sudah memberitahu ayah, kalau Xixi sudah di rumah. Mungkin hari ini dia akan pulang lebih cepat."


Xixi mengangguk, sekarang dia yang sudah tahu bagaimana kesibukan seorang direktur tidak lagi protes, saat ayahnya pulang terlambat bahkan larut malam setelah bekerja.


Karena dulu Xixi selalu saja kesal jika tahu ayahnya pulang terlambat dan tidak ikut makan malam di rumah, bahkan pulang sangat larut malam saat Xixi dan kakaknya sudah terlelap.


"Oh iya bu, 3 hari lagi aku akan ada pemotretan di luar kota." Ucap Mimi.


"Iya, pergilah. Tapi kau harus menjaga diri baik-baik."


"Aku tahu bu, aku bukan anak kecil lagi."


"Ibu juga tahu, karena itu ibu meminta mu untuk lebih hati-hati."


Mimi memiringkan kepalanya, karena selama ini dia sudah sangat berhari-hati setiap kali pergi keluar kota untuk pemotretan.


"Hati-hati dengan kak Jery maksud ibu, kak." Ucap Xixi.


"Memang ada apa dengan Jery?"


Xixi memutar kedua moba matanya dengan malas, sementara Mimi yang baru kali pertama berpacaran tentu tidak tahu apa yang di katakan oleh adiknya.


"Katakan ada apa, aku benar-benar tidak tahu." Ucap Mimi lagi.


"Berhati-hati, agar tidak terjadi hal yang akan membuat dirimu rugi sayang. Seperti kebanyakan artis yang di beritakan di televisi." Ucap nyonya William.

__ADS_1


"Mimi dan Jery tidak mungkin melakukannya bu, Mimi baru kali ini menjalin hubungam dengan laki-laki, dan Mimi yakin kalau Jery tidak akan melakukan hal yang tidak baik pada Mimi."


"Iya, semoga saja seperti itu. Karena ibu lihat jika dia adalah laki-laki yang cukup baik dan bijaksana."


Mimi mengangguk seraya tersenyum.


Meski kedua putrinya itu sama-sama baru pertama kali menjalin hubungan dengan laki-laki, dan kedua laki-laki itu adalah laki-laki yang baik. Tetapi nyonya William yang sebagai ibu mereka masih memiliki rasa khawatir terhadap kedua putrinya.


Terlebih pada Xixi, yang selalu terlibat dalam masalah yang serius dan bahkan pernah membuatnya tak sadarkan diri beberapa hari karena beberapa wanita yang menyukai Leon.


"Baiklah, kalian lanjutkan saja berbicara. Ibu akan melihat tanaman yang ibu tanam di halaman belakang." Ucap nyonya William seraya berdiri.


"Iya bu." Ucap Xixi.


Nyonya William berjalan pergi meninggalkan kedua putrinya di ruang keluarga.


Setelah nyonya William pergi, Xixi mengambil remot dan menyalakan televisi dengan remot itu.


Hari ini dia malas untuk keluar rumah, meskipun sudah lebih dari tiga bulan dia tidak pulang ke rumah.


"Jadi tinggal berapa lama lagi waktumu cuti kuliah, Xixi?" Tanya Mimi.


"Sekitar 3 bulan lagi kak."


"Apakah waktunya cukup untuk melakukan semua rencana yang telah kau susun?"


"Iya kak, semua sudah aku susun dengan baik. Sekertaris Ana juga ikut membantu ku disana."


"Baguslah kalau begitu, semoga saja sebelum kau kembali kuliah, perusahaan yang kamu pimpin itu sudah bisa merangkul lebih dari 5 perusahaan dari luar negeri, seperti yang sudah kau targetkan."


"Iya kak, semoga saja. Jadi ketika aku kembali kuliah, ayah bisa kembali mengendalikan perusahaan dengan lebih mudah."


"Iya."


Xixi berdiri.


"Kau mau kemana?" Tanya Mimi yang melihat Xixi berdiri.


"Aku mau mengambil ponselku di kamar."


Mimi mengangguk.


Xixi berjalan ke kamarnya meninggalkan Mimi di ruang keluarga sendirian disana untuk mengambil ponselnya.


"Ternyata tidak sia-sia ayah mengajarinya berbisnis, karena Xixi memang berbakat di bidang ini." Ucap Mimi.


Mimi menikmati salad buahnya di ruang keluarga sendirian sambil menonton salah satu acara di televisi.


"Kak, hari ini kak Jery menghubungi kakak tidak?" Tanya Xixi yang sudah kembali ke ruang keluarga.


"Tidak, hari ini Jery belum menghubungi kakak. Memangnya ada apa?"


"Tidak apa-apa, Leon hari ini belum menghubungi ku."


"Mungkin Leon sibuk, sekarang kan dia sudah mengambil alih perusahaannya yang dulu dia pimpin."


Xixi mengangguk lalu duduk di sofa yang sebelumnya dia duduki.


"Sudahlah, nanti dia juga akan menghubungiku." Ucap Xixi.


"Iya, kau bersabar saja. Jika Leon sudah tidak sibuk nanti juga pasti akan menghubungi mu."


Xixi mengangguk "Iya."


Xixi dan Mimi menonton televisi bersama siang itu.

__ADS_1


__ADS_2