The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 115


__ADS_3

Beberapa hari setelah Leon melamar Xixi, dia mengajak Xixi ke rumah keluarga besar Leon. Karena dia ingin bukan hanya mengenal ibunya saja, tetapi Leon juga ingin Xixi mengenal semua keluarga dari ibunya, entah itu dengan kakek, kedua paman atau kedua bibinya.


Meskipun setelah menikah nanti mereka tidak akan tinggal di rumah keluarga besar ibunya, tetapi Leon ingin semua keluarganya dan juga keluarga Xixi bisa saling mengenal dan mengetahui satu sama lain.


Saat ini Xixi tengah duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruang tamu rumah kakek Leon, dan di depannya duduk dua orang laki-laki dan dua orang perempuan paruh baya, sementara di kursi yang lainnya ada seorang kakek berusia sekitar 75 tahun.


"Kamu memang sangat pintar dalam memilih calon istri Leon." Ucap bibi kedua Leon.


"Terima kasih bibi."


"Paman tidak menyangka kamu akan secepat ini bertemu dengan orang yang kamu cintai, dan juga mencintaimu. Karena selama ini paman mengira kamu tidak tertarik dengan seorang perempuan." Ucap paman tertua Leon.


Leon hanya bisa tertawa mendengar ucapan pamannya itu, tetapi apa yang di katakan oleh pamannya adalah benar, selama ini Leon memang tidak pernah dekat dengan seorang perempuan kecuali Rachel, tetapi itu pun karena Rachel yang selalu mendekati Leon, dan terpaksa Leon pun harus menemani Rachel karena dia adalah anak dari teman kedua orang tuanya.


"Pamam, bukan tidak tertarik dengan perempuan. Tapi Leon hanya belum menemukan wanita yang bisa membuat hati Leon bergetar." Ucap Leon.


"Dan sekarang kau sudah menemukannya?" Ucap bibi tertua.


Leon tersenyum dan mengangguk.


"Nak, kau bernama Cicilia?" Tanya kakek Leon pada Xixi.


"Benar kakek." Ucap Xixi.


"Kemarilah."


Xixi menatap Leon sejenak sebelum dia berjalan dan duduk di samping kakel Leon.


Kakek Leon menatap wajah Xixi lalu mengangguk.


"Kau memang mirip seperti nenekmu." Ucap kakek Leon.


"Kakek.... Apakah kakek mengenal nenek saya?" Tanya Xixi dengan hati-hati.


Kakek Leon mengangguk "Tentu saja, dulu kami adalah teman yang cukup dekat, namun setelah nenekmu memutuskan untuk kuliah di luar kota, kami sangat jarang bertemu."


Xixi mengangguk mendengar cerita dari kakek Leon.


Kakek Leon lalu mengambil sesuatu dari belakang bantal sofa yang telah dia siapkan.


"Ini adalah hadiah dari kakek, untuk cucu menantu kakek." Ucap kakek seraya memberikan sebuah kotak pada Xixi.


"Kakek, apa ini?"


"Kau bisa membuka dan melihatnya sendiri."


Xixi menatap kotak yang ada di tangannya, dengan sedikit ragu Xixi membuka kotak yang ada di tangannya itu.


"Kakek ini...."


"Itu adalah salah satu pemberian dari nenek kalian, dia pernah berkata untuk memberikan satu hadiah pada menantu dan cucu-cucunya saat mereka akan menikahi orang yang mereka cintai."


"Tetapi kakek......."


"Xixi, kau bisa mengambil hadiah itu. Itu merupakan perhiasan dari keluarga besar ini. Kami dan para menantu perempuan kami juga memakainya." Ucap bibi tertua.


Xixi menatap Leon untuk meminta pendapat dari Leon.


Leon mengangguk, memberikan persetujuannya agar Xixi menerima hadiah dari kakeknya.


"Baik kakek, Xixi akan menerimanya." Ucap Xixi pada kakek Leon.


Kakek Leon mengangguk dengan senang, karena a Xixi menerima hadiah darinya.



...Hadiah dari Kakek Leon untuk Xixi...

__ADS_1


...Cincin Permata Biru Batu Topas, dengan hiasan berlian mewah....


...----------------...


Xixi menutup kembali kotak hadiah pemberian dari kakek Leon.


"Kalian harus selalu bahagia, dan harus saling menjaga satu sama lain." Ucap kakek Leon.


"Baik kakek, Xixi mengerti."


Kakek Leon mengangguk dan menatap Xixi, dia masih tidak menyangka jika yang akan menjadi cucu menantunya kali ini adalah cucu dari teman dekatnya dulu.


Namun meski begitu, kakek Leon sangat bahagia karena dia sudah sangat mengenal bagaimana keluarga William itu.


Setelah mereka saling berbicara dan menceritakan sedikit kenakalan Leon saat dia masih kecil, Leon membawa Xixi ke kamarnya. Karena dia melihat Xixi sudah cukup lelah.


"Istirahatlah dulu disini, nanti sore baru aku akan mengantar mu pulang." Ucap Leon saat mereka sudah berada di dalam kamar Leon yang cukup luas.


Xixi mengangguk "Iya."


Leon duduk di sisi ranjang, menatap Xixi yang mulai memejamkan kedua matanya dan menyelami dunia mimpinya.


"Dia sangat cepat sekali tidur kalau sudah merasa lelah." Gumam Leon.


Leon berdiri dengan pelan, lalu membetulkan selimut pada tubuh Xixi.


Setelah Leon mengecup kening Xixi yang sudah terlelap, Leon keluar dari kamarnya.



...Kamar Tidur Leon di rumah kakek Leon...


Leon berjalan ke ruang keluarga, dan duduk di samping adik sepupunya yang sedang bermain ponsel disana.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Leon pada adik sepupunya (perempuan) .


"Hmm, model pakaian?"


"Iya kak, aku sedang malas keluar. Jadi aku akan memesannya saja, dan aku sedang mencarinya."


"Pakaian apa yang sedang kau cari?"


"Gaun pesta."


"Bukankah kau mempunyai banyak gaun di lemari mu? Bahkan ada yang belum pernah kau pakai setelah di beli."


"Tapi tidak ada yang cocok dengan tas kecil yang akan aku pakai nanti, kak."


"Kalau tidak pas, maka kau harus mencari tas yang cocok untuk gaun itu, bukan kau malah mencari gaun yang baru lagi."


Adik sepupu Leon mengerucutkan bibirnya, dia tahu jika Leon pasti akan menasehatinya saat Leon tahu jika dia akan membeli gaun baru lagi.


"Ada apa, bibi dengar dari luar kalian sedang seru sekali berbicara." Ucap bibi kedua Leon.


"Ti... Tidak ada apa-apa Ma." Ucap adik sepupu Leon.


Leon menahan tawanya saat melihat adik sepupunya yang takut ketahuan oleh ibunya, jika dia akan membeli gaun pesta baru.


"Benarkah? Lalu kenapa terdengar seru sekali dari jauh."


"Benar bibi, hanya ada seseorang yang ingin membeli gaun pesta baru saja." Ucap Leon seraya melirik ke arah adik sepupunya.


"Kak Leon!"


Leon hanya tertawa sambil berjalan pergi saat melihat reaksi adik sepupunya yang kesal, karena Leon mengatakan hal yang ingin adik sepupunya tutupi dari ibunya.


"Dia itu, padahal sudah banyak gaun yang dia punya. Tapi masih saja ingin membeli gaun baru." Gumam Leon yang pergi ke ruang baca yang ada di samping kamarnya.

__ADS_1


Leon masuk ke dalam ruang baca dan mencari buku yang ingin dia baca, siang ini dia akan menghabiskan waktu di ruang baca itu sambil menunggu Xixi bangun dari tidur siangnya.


****


Kedua mata Xixi mengerjap dan tak lama dia merenggangkan tubuhnya.


"Dimana Leon?" Ucap Xixi yang tidak melihat Leon di dalam kamar.


Xixi turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelah lebih dari dua jam dia tidur di kamar Leon.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Leon yang membuka pintu itu masuk kedalam dan melihat jika Xixi sudah bangun dan tidak ada di dalam kamarnya.


"Xixi, sayang. Kamu dimana?" Ucap Leon.


Tak lama Leon mendengar suara gemericik air yang keluar dari keran westafel di kamar mandi.


"Aku kira dia kemana, ternyata dia ada disana." Gumam Leon sambil menatap pintu kamar mandi.


Tak berselang lama, Xixi keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dari saat dia baru bangun tidur tadi.


"Leon." Ucap Xixi saat melihat Leon ada di dalam kamar.


"Aku mengira kau kemana, karena saat aku masuk ke dalam kamar kau sudah tidak ada."


Xixi hanya menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana tidur siang mu, sayang?" Tanya Leon.


"Cukup nyenyak."


"Baguslah kalau kau tidur dengan nyenyak."


Xixi mengangguk "Ayo, antar aku pulang."


"Kau mau pulang sekarang?"


"Iya, ini sudah sore. Aku takut ibu akan khawatir, ya.. Walaupun ibu sudah tahu kalau kau mengajak ku kesini."


Leon membelai rambut Xixi "Baiklah, aku akan mengantar mu pulang sekarang."


"Iya, terima kasih."


Leon tersenyum, dia lalu menggenggam tangan Xixi dan menggandengnya keluar dari kamar Leon, setelah Leon mengambil tas milik Xixi yang di letakan di atas meja di dalam kamar Leon.


"Xixi, apa kau sudah mau pulang?" Tanya ibu Leon, saat melihat Leon dan Xixi menuruni tangga.


"Iya bibi, sudah cukup lama aku disini."


"Kau tidak ingin makan malam dulu?"


"Tidak perlu bibi, aku akan makan malam di rumah."


"Baiklah kalau begitu."


"Bibi, dimana kakek?"


"Sepertinya dia sedang berada di ruang bacanya, tidak apa-apa nanti akan bibi katakan pada kakek, kalau kau sudah pulang. Karena jika dia sedang berada di dalam ruang bacanya lalu di ganggu, pasti tidak akan senang."


Xixi mengangguk "Baiklah kalau begitu, terima kasih bibi. Xixi pulang dulu."


"Iya, hati-hati."


"Iya bibi."


Setelah berpamitan, Xixi dan Leon keluar dari rumah keluarga besar Leon lalu mereka masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Leon melajukan mobilnya menuju rumah keluarga William.


__ADS_2