The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 56


__ADS_3

ceklek


Pintu kamar Xixi terbuka, Mimi yang membuka pintu itu masuk dan kembali menutup pintu kamar Xixi.


Mimi berjalan masuk ke dalam kamar yang cukup luas itu, dan dia melihat Xixi sedang mendengarkan musik lewat earphone nya.


"Pantas dia tidak tahu aku masuk, ternyata sedang mendengarkan musik." Gumam Mimi.


Mimi berdiri tepat di belakang kursi yang Xixi duduki, dia lalu menepuk bahu Xixi.


"Woaaahhh!" Teriak Xixi saat bahunya di tepuk oleh Mimi.


Xixi melotot pada Mimi sambil melepas earphone yang terpasang di telingnya.


"Kakak! Kkau membuat ku terkejut. Dan juga kenapa masuk tidak ketuk pintu?"


Mimi memutar bola matanya malas mendengar ucapan Xixi.


"Apa kau tidak tahu jika earphone yang kau pakai itu, membuat telingamu menjadi tidak berfungsi pada suara lain selain lagu yang kau dengar?" Mimi menunjuk earphone yang ada di tangan Xixi.


Xixi hanya tertawa kecil mendengar kakaknya yang kesal.


"Ada apa kak?" Tanya Xixi sambil melipat kedua kakinya di atas sofa.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu bagaimana hubungan mu dengan Leon. Karena aku dengar paman Damian memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan ayah, dan sekarang bekerjasma dengan perusahaan orang lain."


"Hubungan kami baik-baik saja. Kak, alasan Leon pergi meninggalkan rumah juga karena hal ini."


"Maksudmu?"


Xixi menatap kakaknya, dia lalu menceritakan semuanya pada Mimi. Mulai dari Leon yang tidak mau menjalin hubungan dengan Amie Albert, sampai Leon sekarang bekerja dengan Xixi untuk membangun vila miliknya.


"Paman Damian ini, padahal ayah dan ibu sudah sering membantu paman Damian selama mereka menjalin kerjasama."


"Kak, seseorang yang mempunyai ambisi dan sifat serakah seperti paman Damian itu, tidak akan pernah ada yang bisa mengubahnya. Bahkan mungkin bibi Damian juga tidak bisa."


"Iya kau benar. Aku pikir hubungan kalian terganggu karena hal itu."


"Tidak mungkin, kami juga seorang pebisnis yang profesional kak. Tidak akan mencampuradukan masalah pribadi dengan pekerjaan."


"Kau ini, setelah terjun di dunia bisnis semakin pintar berbicara."


"Tentu saja."


Mimi membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar di depannya.


"Kak, apa kau.... masih menyukai kak Joseph?" Xixi bertanya dengan hati-hati.


Mimi memiringkan tubuhnya dan menatap Xixi.


"Tidak, dia sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Jadi untuk apa aku masih menyukai dia."


"Kak Mimi."


"Xixi, kita itu hidup untuk masa depan. Jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang bukan milik kita, maka biarkan saja. Kita harus percaya jika kita akan mendapatkan sesuatu yang lain, yang bisa membuat kita bahagia."


Xixi menatap kakaknya, walaupun Mimi berkata seperti itu tapi Xixi tahu, itu hanyalah ucapan untuk menghibur dirinya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, aku berharap di pesta ulang tahun seniorku nanti, kakak bisa bertemu dengan laki-laki yang tampan dan baik."


"Kau ini, lupakan tentang itu. Bisa-bisanya memikirkan masalah percintaan orang lain."


"Apa salahnya kak, aku kan mendoakan kakak."


"Haahh, sudahlah. Jangan bahas hal itu lagi."


"Baiklah."


"Besok bangun lebih awal, karena kau juga di undang oleh senior mu itu, kau harus membeli gaun juga."

__ADS_1


"Aku tidak perlu."


"No!!!! Kau harus tampil cantik."


"Aku malas kak."


"Dia adalah senior mu, yang artinya juga senior Leon. Kalian bisa pergi bersama, kau sungguh tidak mau tampil cantik dengan kekasihmu itu?"


Xixi menyenderkan tubuhnya ke belakang, dia melupakan soal itu.


"Xixi, besok kau ajak Leon juga. Kalian harus membeli baju pasangan."


"Tidak perlu, aku yakin dia sudah menyiapkannya."


"Ck, kalian ini. Yang satu kurang peka yang satu lagi cuek seperti tidak saling mengenal. Sudahlah, lebih baik aku pergi untuk tidur."


Mimi berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar.


"Iya itu benar, tidurlah yang nyenyak."


"Ingat, besok bangun lebih awal."


"Iya, cerewet sekali."


Mimi keluar dari kamar Xixi.


Xixi menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang menghilang di balik pintu kamar.


"Jadi kak Joseph dan kak Mimi tidak akan pernah bersama. Rumit sekali kehidupan orang yang lebih tua." Gumam Xixi.


Xixi kembali memakai earphone nya dan melanjutkan bermain game pada ponselnya.


***


Di sebuah rumah makan mewah, tuan Albert dan putrinya tengah menikmati makan malam mereka bersama dengan tuan muda Davidson.


Ya, tuan Albert yang tidak mau berlama-lama, langsung membawa Amie untuk di kenalkan dengan putra dari keluarga Davidson.


(Pembaca tahu lah ya, gaun yang di maksud itu🤭)


Tuan Albert yang mengetahui kemana tuan muda Davidson melirik, tersenyum puas. Karena rencananya untuk menarik tuan muda Davidson agar menyukai putrinya berhasil.


"Seorang playboy dengan otak m*sum, tidak mungkin tidak tergoda oleh wanita cantik dengan pakaian seperti yang di pakai oleh Amie malam ini."


Tuan Albert meletakan alat makannya, dia lalu menatap tuan muda Davidson.


"Ehem, tuan muda Davidson. Saya mendapatkan undangan pesta ulang tahun putra pemilik perusahaan R. Group, besok lusa."


"Ah benar, aku juga mendapatkan undangan itu."


Tuan muda Davidson menatap Amie "Jika tidak keberatan, aku ingin mengajak nona muda Albert ke pesta itu sebagai pasangan saya, bagaimana?"


Tuan Albert tersenyum "Tentu saja, saya senang jika putri saya bisa menjadi pendamping anda menghadiri pesta itu."


"Bagaimana dengan nona muda Albert?"


Amie dengan malu-malu mengangguk "Dengan senang hati tuan muda Davidson."


Tuan muda Davidson tersenyum mendengar jawabab dari Amie Albert.


"Baguslah kalau begitu, besok seseorang akan membawakan gaun pesta ke rumah tuan Albert. Aku ingin nona muda Albert memakai gaun itu untuk menghadiri pesta."


"Baik, kami mengerti." Ucap tuan Albert.


Tuan muda Davidson mengangguk.


"Ah, maafkan saya tuan muda Davidson. Saya harus pulang lebih dulu, karena harus melakukan sesuatu." Ucap tuan Albert.


"Iya tidak apa-apa."

__ADS_1


"Amie, kau temani tuan muda Davidson. Papa harus pergi sekarang."


"Baik Pa."


Tuan Albert lalu pergi meninggalkan putrinya dengan tuan muda Davidson.


"Amie, kau harus bisa menjalin hubungan dengan tuan muda Davidson, agar keluarga kita bisa semakin tinggi."


Tuan Albert sengaja meninggalkan Amie disana, itu tentu untuk memberikan kebebasan kepada mereka berdua untuk saling berbicara.


"Nona muda Albert, kau terlihat sangat cantik." Ucap tuan muda Davidson.


"Terima kasih, tuan muda Davidson."


"Panggil saja aku Brian, dan aku akan memanggil mu Amie."


"Ba.... Baik Bri.... an."


Brian terkekeh melihat Amie yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Wanita ini terlihat sangat sexy, namun sepertinya belum pernah di coba. Si tua Albert itu sangat tahu bagaimana menyenangkanku, dan mengambil bagiannya."


Brian menatap dan mengangguk pada asisten pribadinya yang duduk tidak jauh dari mejanya, seperti memberi kode.


"Jadi Amie, kau pasti sering datang ke pesta?" Tanya Brian.


"Tidak, hanya sesekali saja."


"Itu bagus, wanita cantik seperti mu memang lebih baik jangan terlalu sering ke pesta."


"Ke... kenapa?"


"Tentu saja karena akan banyak laki-laki yang menatapmu. Kau begitu cantik, bukankah banyak pasang mata yang ingin berkencan dengan mu?"


Amie merona mendapat ucapan manis dari Brian, dia tidak menyangka jika laki-laki yang terkenal playboy itu, bisa berkata manis.


Seorang pelayan datang membawa dua wine untuk Brian dan Amie. Sebelum pergi, pelayan itu mengangguk pada Brian.


"Amie, mari bersulang. Ini adalah pertemuan pertama kita, dan aku sangat senang karena sudah bertemu dengan wanita yang begitu cantik malam ini." Brian mengangkat gelas wine nya.


"Terima kasih atas pujian anda."


Ting


Kedua orang itu bersulang. Amie meminum wine yang ada di tangannya, lalu tersenyum pada Brian.


"Semoga malam ini kita bisa melewatinya dengan baik."


Amie menatap Brian, dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Brian.


"Mari nona Amie, saya akan mengantarkan anda. Sangat tidak baik wanita pergi sendirian."


"Baik, terima kasih."


Brian dan Amie berdiri, mereka berjalan keluar dari rumah makan mewah menuju mobil milik Brian yang terparkir di depan rumah makan itu.


"Masuklah." Ucap Brian.


Amie mengangguk, dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disana.


Setelah Brian juga masuk, tak lama mobil bergerak meninggalkan area parkir rumah makan.


Di dalam mobil, Amie diam. Kepalanya tiba-tiba terasa sedikit berat, namum dia masih bisa menahannya.


Brian yang melihat itu menarik tangan Amie hingga dia jatuh ke dalam pelukan Brian.


Nafas Amie terdengar begitu memburu dalam pelukan Brian.


"Akhirnya setelah sekian lama, aku akan menikmati pengalaman pertama dari seorang wanita lagi."

__ADS_1


Brian menatap kedua mata Amie, dia lalu mencium bibir berwarna pink itu. Memberikan l*matan dan h*sapan pada bibir itu.


Malam ini, tentu akan menjadi malam yang panjang bagi Amie, yang sudah di dorong oleh ayahnya masuk ke dalam perangkap Brian, seorang playboy yang sudah berpengalsman dan sering berganti pasangan itu.


__ADS_2