
Setelah makan malam dengan sekertarisnya, Xixi kembali ke apartemen. Badannya terasa begitu lelah. Dan sepertinya dia akan langsung tidur setelah sampai di dalam kamarnya nanti.
tit tit tit tit tit tit
ceklek
Xixi masuk ke dalam apartemennya, dia lalu mengganti sepatu dengan sandal rumah yang ada di rak.
Dengan rasa lelah Xixi membaringkan tubuhnya di atas sofa, dia bahkan tidak menyadari jika kepalanya tidur di atas pangkuan seseorang.
"Apa kau lelah sayang?" Sebuah suara terdengar di telinga Xixi.
"Bahkan aku berhalusinasi mendengar suara Leon, apakah aku sungguh sudah sangat kelelahan?" Gumam Xixi.
Dia lalu membalik tubuhnya, dan itu membuat kepalanya menghadap perut seseorang yang masih terbungkus baju.
Tanpa sadar tangan Xixi terulur dan menyentuh perut itu, dan menekannya dengan pelan.
"Leon, kau benar-benar menyebalkan. Beberapa hari tidak menghubungiku, kau malah berduaan dengan wanita lain." Gumam Xixi.
Leon menahan tawanya saat mendengar gumamam Xixi yang sepertinya setengah tersadar itu.
"Apa kau sangat mencintai Leon?" Tanya Leon.
"Kenapa kau bertanya itu? Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan berusaha selama beberapa hari ini, agar semua urusanku cepat selesai. Dan memberikan jawaban...."
Leon yang dengan seksama mendengar suara Xixi menatap ke bawah, karena dia tidak lagi mendengar suara Xixi.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang." Ucap Leon seraya mengusap kepala Xixi dengan lembut.
Leon meletakkan kepala Xixi di atas sofa, kemudian dia menggendong tubuh Xixi dan membawanya ke kamar.
"Bahkan saat tidur pun kau terlihat sangat cantik." Ucap Leon pelan.
Sampai di depan kamar Xixi, Leon membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam.
Dengan pelan Leon kembali menutup pintu kamar itu, lalu berjalan menuju ranjang yang tidak jauh darinya.
"Tidurlah yang nyenyak." Ucap Leon setelah membaringkan tubuh Xixi di atas ranjang.
Saat Leon akan berdiri, tiba-tiba Xixi menarik tangannya dengan kuat.
"Bayi beruangku, jangan pergi." Ucap Xixi yang tengah mengigau.
Leon yang saat ini berbaring di samping Xixi karena tarikan tangan Xixi tadi, mengerutkan keningnya ketika mendengar Xixi berkata bayi beruang padanya.
"Dia.... bermimpi bayi beruang, dan aku... dia anggap bayi beruang olehnya?"
Tanpa di duga oleh Leon, Xixi memeluknya dengan erat. Seolah dia sedang memeluk bayi beruang yang dia katakan tadi.
Leon mencoba melepaskan pelukan Xixi, namun tidak bisa.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Leon.
Leon tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak mungkin tidur di tempat tidur itu. Akan terjadi kesalahpahaman yang sangat besar nantinya.
tok tok tok
__ADS_1
"Tuan Leon, saya sudah membuatkan anda minuman di bawah." Ucap Lia dari luar.
Mendengar suara Lia, wajah Leon berbinar.
"Lia, tolong masuk ke dalam dan bantu aku." Ucap Leon.
Ceklek
Lia membuka pintu, dan kedua matanya membulat saat melihat Leon berada di atas tempat tidur Xixi, dimana Xixi memeluknya dengan erat.
"Tu.... tuan, anda dan...."
"Berhentilah berfikir yang tidak-tidak, tolong bantu aku melepaskan pelukan Xixi. Dia memelukku tiba-tiba dan tidak mau melepaskannya."
"Maaf tuan, saya tidak berani. Dulu waktu nona Xixi tidur sambil memeluk nona Mimi karena menganggap nona Mimi sebagai boneka beruang, dan kami berusaha melepaskan pelukan nona Xixi. Saat itu saya kena pukul nona Xixi yang masih tidur. Dan saya takut akan kena pukul lagi tuan."
"Lalu bagaimana ini?"
"Sepertinya tuan terpaksa harus tidur di sana malam ini."
Kedua mata Leon terbuka lebar, itu tidak mungkin dia lakukan. Terlebih dia melakukannya dengan Xixi, wanita yang paling dia cintai.
Lia keluar dari kamar Xixi, meninggalkan Leon dalam kebingungan.
Mungkin bagi laki-laki lain, itu merupakan hal yang sangat membahagiakan dan yang mereka tunggu, namun bagi Leon yang ingin selalu menjaga Xixi, dia merasa takut jika dia dan Xixi akan terjadi kesalahpahaman lagi.
Leon menatap wajah Xixi yang tidur sangat nyenyak sambil memeluknya dengan erat, dia membelai pipi kecil namun bulat di depannya dengan lembut.
"Sepertinya aku terpaksa bermalam disini kali ini." Gumam Leon.
Leon mengecup kening Xixi, dan tertidur di samping Xixi karena sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi.
****
"Aaaaaaaaaaaaakh!"
Xixi yang baru saja bangun berteriak sangat kencang saat mendapati dirinya bangun dalam pelukan Leon.
Leon sendiri yang berbaring di samping Xixi terkejut, karena mendengar teriakan Xixi.
"Ada apa sayang? Kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang khawatir dengan suara khas bangun tidur (Agak serak-serak bas4h 😅).
Xixi menatap Leon yang duduk di sampingnya.
"Kau, kau.... kenapa kau ada di dalam kamarku, dan...."
ceklek
"Nona, nona tidak apa-apa?" Tanya Lia yang langsung masuk ke dalam kamar Xixi, setelah mendengar teriakan Xixi dari luar.
"Lia, katakan padaku kenapa Leon ada di dalam kamar ku, dan.... dan...." Ucap Xixi pada Lia.
"Nona, semalam nona pulang agak malam, dan mungkin kelelahan. Karena itu nona tidak sadar jika tuan Leon ada di sini. Nona juga tertidur di pangkuan tuan Leon saat di ruang tv tadi malam, dan tuan Leon menggendong nona ke kamar."
"Lalu kenapa dia juga...."
"Kau menarik tanganku, dan tiba-tiba memelukku dengan erat. Ah iya, kau juga berkata kalau aku adalah bayi beruangmu saat kau memeluk ku." Ucap Leon.
__ADS_1
Xixi mengerutkan keningnya, dia terdiam. Mencoba mengingat apa yang tadi malam dia lewati.
Wajah Xixi berubah merah saat dia mengingat apa yang terjadi, dan apa yang sudah dia katakan pada Leon di ruang tv malam tadi.
Xixi segera menarik selimut untuk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.
Melihat itu, Lia tersenyum dan keluar dari kamar Xixi.
"Sayang, kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Leon mencoba menggoda Xixi.
"Tidak, aku... aku tidak ingat apapun."
"Benarkah, lalu apa artinya kau juga melupakan kata-kata jika kau sangat mencintaiku, juga menunjukan rasa cemburumu karena....."
"Leon!" Seru Xixi seraya membuka selimutnya.
Leon terkekeh, dia lalu memeluk Xixi dengan erat.
"Kau tahu, aku sungguh sangat bahagia karena mendengar semua pengakuanmu itu semalam. Bahkan jika aku harus menjadi bayi beruangmu setiap hari, aku rela. Asalkan aku bisa mendengarkan kata cinta dari mu lagi." Ucap Leon dengan lembut.
"Leon, kau benar-benar."
Xixi memukul bahu Leon dengan pelan, lalu membalas pelukan Leon dan menenggelamkan wajah merahnya pada bahu Leon.
Leon tersenyum bahagia, karena pada akhirnya dia benar-benar merasa jika Xixi juga ternyata sangat mencintai dirinya.
"Sekarang pergilah ke kamar mandi, aku akan menunggumu di bawah. Kita akan pergi sarapan bersama." Ucap Leon seraya membelai pipi Xixi
Xixi mengangguk, saat ini rasanya Xixi sangat malu untuk mengatakan apapun di depan Leon.
Leon mengecup kening Xixi sebelum keluar dari kamar Xixi, karena dia pun harus membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di kamar tamu yang ada di bawah.
Setelah Leon keluar, Xixi memegangi pipinya yang terasa panas.
"Aakh, bod*h. Kenapa kau mengatakan semua itu tadi malam, Xixi. Benar-benar aku ini, kenapa selalu seperti itu saat sedang kelelahan." Gerutu Xixi.
Dengan sedikit kesal pada dirinya sendiri, Xixi turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
20 menit kemudian Xixi turun ke bawah, dia melihat Leon sudah duduk di ruang tv sedang menunggunya.
"Apa kau tidak ke perusahaan mu?" Tanya Xixi.
"Tidak, hari ini aku akan ikut ke perusahaan calon istriku."
"Leon."
"Kenapa, apa aku tidak boleh ikut kesana?"
"Bukan begitu, akhir-akhir ini aku sangat sibuk di perusahaan."
"Aku tidak akan mengganggu pekerjaan mu, aku juga akan bekerja dengan laptopku di sana."
Xixi yang tidak bisa berkata lagi, hanya bisa mengangguk memperbolehkan Leon ikut ke perusahaannya.
"Kalau begitu kita sarapan dulu di luar, sebelum ke perusahaan mu." Ucap Leon.
"Iya."
__ADS_1
Leon berdiri, dia lalu menggandeng tangan Xixi seraya tersenyum.
Pagi ini adalah pagi yang cerah menurut Leon, karena pagi ini saat dia terbangun, orang pertama yang dia lihat adalah Xixi. Mekipun dia terbangun karena teriakan keras yang Xixi lakukan.