
Di dalam kamar, xixi sedang menonton televisi. Menikmati waktu santainya di sana sendirian.
"Aku masih tidak menyangka, ternyata paman Damian itu sebenarnya tidak mempunyai apa-apa. Semua yang dia miliki saat ini adalah milik keluarga bibi Rose, dan paman Damian bahkan bukanlah direktur utama di perusahaan itu." Gumam Xixi yang mengingat persidangan perceraian orang tua Leon pagi tadi.
Xixi mengambil minuman yang ada di atas meja lalu meminumnya.
"Nanti malam aku akan menghubungi Leon, saat ini dia pasti sedang makan malam dengan keluarganya disana." Ucap xixi lagi.
Setelah acara televisi yang xixi lihat selesai, xixi mematikan televisinya, dia berdiri dan berjalan keluar kamar karena dia sudah merasa lapar.
"Ibu." Ucap Xixi yang baru sampai di ruang makan.
"Apa kau sudah lapar?"
"Iya bu, apa ayah dan kak mimi belum pulang?"
"Mimi sudah pulang, dan sedang mandi. Tapi ayahmu sepertinya masih ada di perusahaan."
Xixi mengangguk lalu berjalan ke arah kulkas dan membukanya.
"Ibu, kemarin aku membeli beberapa puding buah. Kenapa semuanya sudah tidak ada?" Tanya xixi saat melihat isi kulkas.
"Kakakmu membawa dua puding itu tadi pagi, dia bilang tidak sempat untuk sarapan jadi dia membawa puding buah yang ada di dalam kulkas."
"Semuanya?"
"Hanya dua, dan yang dua lagi sudah ayah dan ibu makan."
"Haah? Kalian ini."
Nyonya William hanya bisa menahan tawanya melihat reaksi anak bungsunya yang kehilangan puding yang dia beli.
Xixi menutup kembali pintu kulkas dan berjalan ke meja makan dengan membawa salad buah di tangannya.
"Itu bukannya salad milik kakak mu?" Ucap nyonya William.
"Iya, aku sudah lapar dan akan memakan ini dulu."
Xixi berjalan ke ruang keluarga untuk memakan salad buah milik Mimi itu.
Nyonya William hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perilaku Xixi yang cukup pendendam itu.
Bukannya pelit, tetapi Xixi tidak suka jika ada orang lain yang mengambil miliknya tanpa meminta izin darinya terlebih dulu, dan dia akan mengambil apa yang orang itu mikiki sebagai gantinya.
Seperti yang saat ini dia lakukan, dia mengambil salad buah milik Mimi sebagai ganti dua puding yang sudah Mimi ambil darinya.
"Xixi, salad buah dari mana itu?" Tanya Mimi yang melihat Xixi sedang makan salad buah di ruang keluarga.
"Kulkas."
"Itukan salad kakak."
"Ini sudah menjadi saladku sejak kakak mengambil dua puding yang ada di dalam kulkas tadi pagi."
Kedua mata Mimi melebar, tadi pagi dia mengambil puding itu karena dia mengira jika puding itu bukan milik ibunya.
__ADS_1
Mimi yang sangat tahu sifat Xixi hanya bisa diam, saat Xixi memasukan salad buah itu ke dalam mulutnya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar di telinga Xixi, dia lalu menoleh ke arah ruang tamu dan melihat ayahnya datanh sambil membawa tas kecil di tangan kirinya.
"Akhirnya ayah pulang juga." Ucap Xixi.
"Ada apa?"
"Aku sudah lapar."
Tuan William tertawa mendengar Xixi yang berkata seperti seorang anak kecil yang telah menahan rasa laparnya.
"Baiklah, ayo kita makan malam." Ucap tuan William seraya meletakan tasnya di atas sofa.
Xixi mengangguk "Iya."
Tuan William dan Xixi berjalan bersama menuju ruang makan.
"Kau sudah pulang sayang." Ucap nyonya William pada suaminya.
"Iya."
Tuan William duduk di kursinya di susul oleh Xixi dan yang lain.
"Mimi kau kenapa?" Tanya tuan William melihat raut wajah Mimi yang tidak baik.
"Tidak apa-apa ayah."
"Baiklah, kalau begitu kita makan malam sekarang." Ucap tuan William.
Mereka mengangguk, dan mulia mengambil makanan yang ada di depan mereka.
...----------------...
Di rumah keluarga besar yang lain, Leon tengah duduk di samping rumah sambil menikmati udara malam di halaman rumah kakeknya.
"Leon."
Leon menoleh "Mama."
Ibu Leon duduk di samping kursi yang Leon duduki.
"Leon, semuanya sudah siap, lalu kapan kau akan melakukan rencana itu pada Xixi?"
"Ma, kita akan menyelesaikan urusan Mama dulu disini, setelah itu kita akan ke kota A."
"Mama sudah menyerahkan semuanya pada Josh, dia adalah pengacara terbaik. Dan juga, kakekmu akan mengggantikan Mama dalam persidangan berikutnya."
"Apakah tidak apa-apa?"
Ibu Leon mengangguk "Iya, kemarin Mama sudah datang ke persidangan pertama. Jadi untuk yang berikutnya tidak akan ada masalah."
"Baiklah kalau memang seperti itu, aku akan menghubungi kak Jery untuk melakukan rencana kita tanggal 28 nanti."
__ADS_1
"Iya."
Leon mengangguk beberapa kali.
"Mama merasa bahagia karena kau menemukan wanita yang mencintaimu, jadi kau tidak akan merasakan sesaknya cinta sebelah tangan." Ucap ibu Leon.
"Bukankah Papa dan Mama juga saling mencintai?"
Ibu Leon menggelengkan kepalanya "Dia tidak benar-benar mencintai Mama. Saat kau masih kecil, Mama pernah mendengar dia sedang berbicara dengan seorang wanita di telefo. Bahkan Mama pernah tanpa sengaja melihat Papa mu sedang melakukan hal itu di ruang kerjanya, ketika ayahmu sedang melakukan video call dengan seorang wanita yang...."
Leon terkejut mendengar semua pengakuan dari ibunya, dan dia benar-benar merasa marah juga kecewa pada tuan Damian.
"Saat itu Mama di butakan oleh cinta, dan masih ingin mempertahankan semuanya sampai kamu dewasa, tetapi semakin lama sifat Damian semakin jelas terlihat dan Mama... Tidak bisa lagi untuk menahannya."
Leon menatap ibunya yang terlihat sangat menyesal karena dulu dia telah mencintai orang yang salah.
"Cinta, seseorang akan melakukan banyak hal karena dia. Namun karena dia juga, banyak orang yang putus asa dan kehilangan nyawa."
Leon meraih tangan ibunya dan memggenggamnya.
"Senua sudah berlalu Ma, Leon berjanji akan membuat dia merasakan hukumannya." Ucao Leon.
Ibu Leon hanya diam, dia menyeka air mata yang telah mengalir membasahi pipinya.
Sungguh sebuah kisah pilu yang tidak pernah Leon tahu dari ibunya, jika saja hari ini ibunya tidak mengatakannya, maka sampai kapan pun dia tidak akan tahu.
"Damian, bukankah kau sangat suka bermain dengan wanita liar di luar sana? Aku akan memberikan hadiah yang sangat bagus karena telah menyakiti Mama selama ini."
Kebencian Leon terhadap ayahnya semakin bertambah, jika saja dia tahu lebih awal tentang semuanya, mungkin dia sudah membuat perusahaan yang tuan Damian pimpin hancur sejak lama. Meski itu bukanlah perusahaan milik tuan Damian sendiri.
" Ayo kita masuk Ma, Leon akan menghubungi kak Jery untuk melakukan rencana yang sudah di susun untuk Xixi." Ucap Leon.
Ibu Leon mengangguk "Iya, Mama berharap semua rencana yang telah kau lakukan berjalan dengan lancar. Dan kalian berdua akan bersama."
"Iya Ma, Leon juga berharap hal yang sama seperti yang Mama harapkan."
"Iya."
Leon dan ibunya masuk ke dalam rumah.
"Tunggu setelah semuanya selesai, aku akan mulai memberi perhitungan pada mu, Papa."
...----------------...
Hai kakak semua 😁😁
Xia Lin mau memberitahu kalau karya baru Xia Lin yang berjudul
"Cinta CEO Yang Terlambat" Sudah mulai bisa di baca😊😊
Semoga kalian akan menyukai cerita baru yang Xia Lin buat.
Terima kasih 🙏🙏🤗
__ADS_1