The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 106


__ADS_3

Nyonya William yang berada di rumah melihat Xixi berjalan masuk dengan cepat, tetapi saat nyonya William melihat keluar, dia tidak melihat Mimi dimanapun.


"Kenapa Xixi pulang sendirian, bukankah tadi pagi dia pergi dengan Mimi?" Ucap nyonya William.


Nyonya William yang tidak tahu jika Xixi sedang kesal karena kakaknya yang tidak mau berhenti berbelanja, tidak mau bertanya pada Xixi. Dia lebih memilih duduk di ruang keluarga, menonton televisi sambil menikmati jeruk yang ada di depannya.


Tak lama suara deru mobil terdengar di luar rumah.


"Ibu." Ucap Mimi yang masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang keluarga.


Nyonya William menoleh dan melihat putri sulungnya datang sambil membawa beberapa paperbag, dan di belakangnya ada dua pengawal yang juga membawa paperbag.


"Apa kau membeli banyak barang lagi kali ini?" Tanya nyonya William.


"Iya, tapi masih ada beberapa yang belum aku beli. Karena Xixi marah dan pulang duluan, jadi aku tidak membelinya."


"Kau ini, sudah tahu Xixi paling tidak suka berbelanja seperti ini, kau masih saja memaksanya."


Mimi duduk di atas sofa, mulutnya mengerucut.


"Padahal belanja seperti ini bisa membuat pikiran jadi terbuka." Ucap Mimi membela diri.


"Itu menurut kamu, sayang. Kalau menurut Xixi, pikirannya akan terbuka jika sudah berada di depan komputer."


"Iya, ibu benar. Dia sangat betah sekali lama-lama di depan komputer. Bahkan Mimi pernah melihat jari Xixi mengetik di atas keyboard dengan sangat cepat."


"Itulah perbedaan di antara kalian berdua."


Mimi menyenderkan tubuhnya, dia melepaskan sepatu yang dia kenakan karena kakinya terasa sedikit sakit.


"Bukankah kau sudah mempunyai dua tas yang seperti ini? Kenapa kau membelinya lagi?" Ucap nyonya William saat melihat dua tas yang di beli oleh Mimi.


"Benarkah?"


"Iya, ibu melihatnya di ruang ganti mu."


"Jadi Mimi punya 4 tas yang sama?"


Nyonya William menggelengkan kepalanya.


"Berikan tas berwarna hitam ini pada Xixi, dan kau simpan yang ini. Dan lain kali jangan beli tas yang seperti ini lagi." Ucap nyonya William.


"Tapi Xixi tidak menyukai tas model seperti ini ibu."


"Dia akan suka, setelah menikah nanti dia pasti akan memakainya."


Mimi mengangguk "Baiklah, nanti aku berikan padanya."


"Jika tidak, kau berikan padanya saat hari itu saja."


"Ibu benar."


Mimi dan nyonya William tertawa bersama di ruang keluarga itu.


"Baiklah, bawa semua ini ke kamarmu. Rasanya ibu sudah pusing melihat begitu banyak barang belanjaan disini."

__ADS_1


"Iya ibu."


Mimi lalu meminta dua orang pelayan rumah untuk membantunya membawakan semua barang belanjaan miliknya ke dalam kamar.


Nyonya William yang melihat Mimi yang sangat suka berbelanja hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kenapa mereka berdua ( Mimi dan Xixi) begitu bertolak belakang?"


Nyonya William kembali menonton acara televisi yang tadi sempat terhenti.


...----------------...


Xixi yang baru keluar dari kamar mandi berjalan ke arah ranjangnya sambil membawa laptop di tangannya.


Dengan pelan Xixi duduk di atas ranjang, lalu menghidupkan laptop yang dia bawa. Dia akan melihat kinerja para karyawannya selama beberapa hari dia tidak berada di perusahaan.


Dengan cepat Xixi mengetik papan keyboardnya, dan menatap layar laptop dengan serius.


Ting


Satu notifikasi dari ponsel Xixi berbunyi, Xixi mengambil ponsel yang ada di sampingnya lalu membaca notifikasi itu.


"Akhirnya kalian tidak bisa bertahan lagi. Aku ucapkan selamat atas kehancuran kalian." Ucap Xixi setelah membaca notifikasi yang berisi berita tentang kehancuran perusahaan Davidson.


Dan Xixi kembali membuat perusahaan besar hancur di tangannya.


"Waktu itu kalian dengan berani ikut campur dalam masalah ku dan keluarga Albert, jadi anggap saja ini adalah hukuman bagi kalian yang sudah terlalu ikut campur urusan orang lain." Ucap Xixi lagi.


Xixi meletakan kembali ponselnya, dan menatap laptopnya lagi.


dddrrrrrrrt ddrrrrrrrrrtt


Ponsel Xixi bergetar, tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Xixi langsung menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga kanannnya.


Xixi : Iya, ini siapa?


Leon : Sayang, apa kau sudah menghapus nomor ku?


(Xixi yang mendengar itu, langsung berhenti dan menatap layar ponselnya. Kedua matanya terbuka lebar saat tahu siapa yang menghubunginya).


Xixi : Ma... Maaf Leon, tadi aku langsung mengangkat telfon darimu tanpa melihatnya dulu.


Leon : Kau ini, apa kau sedang sibuk?


Xixi : Tidak juga, hanya sedang melihat hasil pekerjaan karyawan ku saja.


Leon : Lalu, apa kau sudah makan?


Xixi : Makan?


Leon : Kau ini selalu lupa kalau sudah fokus pada pekerjaan mu.


Xixi : Iya nanti aku akan makan.


Leon : Bagaimana kabarmu, aku snagat merindukan mu.

__ADS_1


Xixi : Aku baik, apakah kau sangat sibuk? Aku sedang di rumah sekarang.


Leon : Benarkah? Kalau begitu besok aku akan ke rumah.


Xixi : Iya.


Leon : Baiklah, kau harus jaga kesehatanmu. Besok aku akan mengajakmu makan siang di luar.


Xixi : Iya aku mengerti.


Xixi meletakan kembali ppnselnya, setelah sambungan telefon itu terputus, dan kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang sebentar lagi akan selesai.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar.


"Masuk saja." Ucap Xixi dengan suara sedikit keras.


Ceklek


Pintu terbuka, dan nyonya William yang tadi mengetuk pintu masuk ke dalam kamar Xixi.


"Apa kau sedang sibuk sayang?" Tanya nyonya William yang berjalan mendekati Xixi.


"Ibu, hanya sedikit bu. Sebentar lagi akan selesai."


"Kau sama persis seperti ayahmu jika sudah berhadapan dengan pekerjaan. Kalian akan lupa waktu, bahkan lupa jika perut kalian belum terisi."


Xixi hanya tertawa mendengar ucapan ibunya.


"Ibu, tadi Leon menghubungi ku dan katanya besok dia akan datang ke rumah." Ucap Xixi.


"Baguslah, sudah lama juga dia tidak main ke sini."


"Mungkin dia merasa tidak enak dengan ayah dan ibu, karena paman Damian yang sudah membuat ayah dan ibu kecewa."


"Itu adalah urusan orang tua, dan kami tidak akan menyangkut pautkan hal itu dengan kalian yang masih muda."


Xixi menatap ibunya "Jadi, jika Xixi bersama dengan Leon. Ayah dan ibu tidak keberatan?"


Nyonya William duduk di samping Xixi dan mengusap pelan kepala Xixi.


"Tentu saja tidak, kalian sudah memilih jalan hidup yang kalian mau. Ayah dan ibu hanya bisa berharap, kelak jika kau dan Leon bersama, kalian akan hidup dengan bahagia."


Xixi mengangguk seraya tersenyum.


"Sepertinya apa yang telah paman Damian lakukan memang tidak akan pernah mempengaruhi hubungan ku dengan Leon. Semoga saja Leon bisa cepat menyelesaikan urusannya dengan paman Damian."


"Baiklah, kau lanjutkan pekerjaan mu lalu turun ke bawah untuk makan." Ucap nyonya William seraya berdiri.


"Iya ibu, setelah semua ini selesai Xixi akan langsung turun."


Nyonya William mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamar Xixi.


Xixi termenung setelah ibunya keluar, dia memikirkan hubungannya dengan Leon nanti.

__ADS_1


__ADS_2