
"Bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan kak Jery?" Tanya Xixi pada Leon saat merwka makan siang bersama.
"Iya, aku sudah menemuinya."
"Lalu, apa alasan kak Jery tidak ada kabar selama dua hari kemarin, dan juga menghindari kak Mimi?"
"Kak Jery sendiri yang akan menjelaskannya pada kak Mimi, kita hanya akan melihat bagaimana hubungan mereka dari sisi lain."
"Leon, kak Mimi itu....."
"Aku tahu sayang, dia adalah kakakmu. Tapi kita harus memberi ruang bagi mereka berdua."
Xixi diam sejenak laku mengangguk.
"Sekarang makanlah, sebelum itu dingin." Ucap Leon.
"Iya."
Leon menatap Xixi yang mulai memakan makanannya.
"Semoga kak Jery bisa menceritakan semuanya pada kak Mimi, agar tidak ada lagi hal seperti ini di kemudian hari."
Leon pun mulai menyendok makanannya yang ada di atas meja, dan sejenak melupakan permasalahan antara Jery dan Mimi.
"Sayang, besok akhir pekan. Aku ingin mengajakmu keluar." Ucap Leon.
"Besok?"
Leon mengangguk "Boleh, kebetulan aku juga tidak ada kegiatan."
"Besok aku ke apartemen mu jam 9, dan kau harus sudah siap."
"Iya."
Leon tersenyum senang, karena akhirnya dia bisa mengajak Xixi berkencan setelah mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Oh iya, kau masih ingat dengan tuan muda Davidson?" Tanya Xixi.
"Tuan muda Davidson?"
"Iya, orang yang pernah membantu perusahaan keluarga Albert."
"Ah dia, iya aku ingat. Kenapa memangnya?"
"Kemarin dia memberiku undangan pesta pembukaan cabang perusahaan dia yang baru di kota ini."
Leon mengangguk "Kau akan datang?"
"Tidak, untuk apa aku datang kesana. Dia pernah membantu keluarga yang ingin menghancurkan keluarga ku."
"Aku tahu kau pasti akan seperti itu."
"Memangnya kenapa? Dia hanya tuan muda yang arogan dan suka mempermainkan wanita."
"Tidak apa-apa sayang. Aku justru senang kau bersikap seperti itu pada dia."
Xixi memicingkan matanya pada Leon.
Leon yang melihat itu hanya terkekeh, karena dia sangat tahu bagaimana karakter kekasihnya itu.
Setelah selesi makan siang, mereka pun kembali ke apartemen karena tiba-tiba langit begitu mendung seperti akan hujan.
"Kita mampir ke toko kue." Ucap Xixi.
"Kau mau membeli kue sayang?"
"Iya, hanya beberapa kue kering saja."
__ADS_1
"Baiklah, kita akan mampir nanti."
Leon melajukan mobilnya keluar dari area parkir restoran dimana mereka makan siang tadi.
"Kau ingin beli kue di toko mana?" Tanya Leon.
"Di koto yang ada di pertigaan jalan ke dua, di samping toko bunga."
"Oh, oke."
Leon pun membawa mobilnya ke toko kue itu.
...----------------...
Di tempat lain, Jery dan Mimi tengah duduk bersama di ruang tamu apartemen Xixi.
Mimi menatap Jery dengan penuh tanya, karena sudah beberapa hari ini tidak da kabar sama sekali dari laki-laki yang ada di depannya itu.
"Xixi."
"Jery."
Mereka berbicara bersamaan.
Mimi diam sejenak "Kau duluan."
"Tidak, kau lebih dulu." Ucap Jery.
Mimi mengangguk, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Jery, ku ingin bertanya sesuatu padamu." Ucap Mimi.
"Katakan saja, aku.... akan menjawabnya."
"Apa.... Kau merasa bosan dengan ku?"
"A... apa yang kau katakan? Tentu saja aku ti....."
"Lalu kenapa kau mengabaikan aku beberapa hari kemarin? Kau bahkan tidak membalas pesanku yang terakhir." Mimi menundukan wajahnya.
Jery diam, di hadapannya wanita yang begitu dia cintai terluka karenanya.
"Mimi."
Jery tidak mendapatkan jawaban dari Mimi, tapi dia melihat ada butiran bening yang jatuh di atas punggung tangn Mimi yang tengah ******* ujung pakaian yang dia pakai.
Segera Jery memeluk wanita yang di cintai, wanita yang telah berhasil membuat hatinya kembali bergetar kuat.
"Maaf, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu Mimi." Ucap Jery.
Mimi terisak dalam pelukan Jery, karena tidam tahu harus berkata apa. Di terlalu takut jika Jery yang tiba-tiba menghilang, mencampalan dirinya tanpa alasan yang jelas.
Jery mengusap punggung Mimi berkali-kali, dia sungguh merasa bersalah sebab telah membuat kekasihnya itu menangis karena kesalahannya.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Jangan menangis lagi." Ucap Jery lagi sambil terus mengusap punggung Mimi.
Setelah beberapa saat menangis, Mimi berangsur tenang dan berhenti terisak.
Jery melepaskan pelukannya, lalu menyeka air mata Mimi yang membasahi pipinya yang putih.
"Maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku berjanji. Aku mohon jangan menangis lagi."
Mimi hanya menganggul menanggapi ucapan Jery.
Jery mengecup kening Mimi dan memeluknya lagi.
Setelah Mimi benar-benar tenang, Jery melepaskan pelukannya lalu menatap Mimi dengan kedu matany yang sendu, karena melihat Mimi menangis.
__ADS_1
"Katakan padaku, kenapa kau... menghindariku beberapa hari kemarin?"
Jery mengangguk "Aku akan menceritakannya padamu, tapi aku ingin meminta sesuatu darimu terlebih dulu."
"Apa itu?"
"Berjanjilah padaku, setelah aku menceritakan semuanya kau tidak akan meninggalkanku dan tidak akan membenciku."
Mimi diam sejenak, dia menatap Jery yang menatapnya dengan penuh permohonan.
"Baik, aku tidak akan melakukannya. Tapi kau harus mengatakan semuanya padaku."
"Iya, aku akan mengatakan semuanya padamu."
Mimi mengangguk.
Jery mencoba menenangkan dirinya, mencoba menata perasaannya sebelum di menceritakan semuanya pada Mimi.
"Baik. Semua berawal dari waktu aku masih duduk di sekolah menengah. Kau mungkin sudah tahu dengan Amelia, wanita yang menusukmu karena ingin membawaku pada kakaknya yang gila."
Mimi mengangguk, karena dia masih ingat wanita itu.
"Saat itu aku Amelia dan Jessie berteman dengan baik. Dan aku tidak tahu jika Jessie menyukai ku. Suatu hari. aku bertemu dengan seorang wanita. Dia wanita yang cantik lembut dan baik, wanita itu bernama Clara. Dia adalah seorang murid pindahan, dan entah sejak kapan aku menyukai Clara."
Jery berhenti, dia menutup kedua matanya sejenak.
"Lalu?" Tanya Mimi.
"Lalu, Amelia dan Jessie yang tahu jika aku menyukai Clara, mencoba mendekati Clara dan berteman dengannya."
Jery berhenti lagi, Mimi melihat raut wajah Jery yang berubah.
"Kau bisa berhenti jika kau tidak bisa menceritakannya." Ucap Mimi.
Jery menggelengkan kepalanya "Tidak, aku akan menceritakannya padamu. Aku sudah berjanji padamu, dan aku tidak mau kau salah paham padaku."
Mimi menatap Jery, yang tengah berusaha mencoba menekan semua perasaannya saat ini demi dirinya.
Dengan lembut Mimi memeluk Jery dan mengusap punggungnya dengan pelan.
"Kau bisa menceritakannya padaku setelah kau siap, aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Semua yang pernah kau lakukan di masa lalu, itu hanyalah sebuah kenangan. Dan jika kau tidak mau mengingatnya, maka kau tidak perlu berusah untuk melukai dirimu untuk membuatku tidak salah paham padamu." Ucap Mimi dengan lembut.
"Tapi aku...."
"Tidak apa-apa, anggap aku telah mengetahui masa lalumu yang sangay menyakitkan bagimu itu. Kau tidak perlu memikirkannya lagi, aku tidak akan meninggalkan mu."
Jery membalas pelukan Mimi dengan erat, dia tidak tahu harus bagaimana di depan Mimi ketika dia menceritakan semuanya pada wanita yang dia cintai itu.
Mimi menepuk-nepuk punggung Jery, mencoba menenangkan dan meyakinkam Jery bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan satu-satunya laki-laki yang berhasil memenuhi hatinya.
"Apapun yang terjadi di masa lalumu, aku akan berusaha tidak peduli. Karena kau juga sama seperti ku, yang tidak ingin masa lalunya terkoyak dan membuat kita tidak berdaya."
Mimi melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Jery seraya tersenyum.
"Ingat ini, jangan pernah berfikir aku akan meninggalkan mu hanya karena masa lalumu." Ucap Mimi.
Jery mengangguk "Terima kasih sayang, aku tidak akan pernah menyakitimu dan mengabaikan mu lagi."
"Iya."
Jery mencium bibir Mimi dengan lembut, dan tidak seperti sebelumnya, kali ini Mimi membalas ciuman Jery.
Mereka berdua menuangkan semua perasaan yang mereka rasakan saat ini pada satu ciuman panjang itu.
"Aku benar-benar mencintaimu Michael William." Ucap Jery setelah melepaskan ciuman mereka.
"Aku juga mencintaimu." Ucap Mimi.
__ADS_1
Mereka berpelukan, mencoba melupakan apa yang telah membuat hati mereka gundah. Mengubah semua ketakutan dan ke khawatiran menjadi kebahagiaan.