
Esok harinya, Xixi yang sudah siap memakai pakaian santainya keluar dari rumah. Dia akan menemui Lulu yang sudah menunggunya di kafe yang biasa mereka datangi.
Entah apa yang ingin Lulu katakan padanya, sehingga dia tidak mau mengatakannya saat di kampus kemarin.
Sesampainya di kafe, Xixi melihat jika Lulu sudah duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kafe itu.
"Xixi." Lulu melambaikan tangannya dari kursi saat melihat Xixi masuk ke kafe.
Xixi langsung berjalan ke meja dimana Lulu berada setelah memesan es coklat, dan kue.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Ucap Xixi setelah duduk di kursi tepat di depan Lulu.
Lulu menggelengkan kepalanya "Tidak, aku baru sampai 5 menit yang lalu."
Xixi mengangguk.
Tak berapa lama, seorang pelayan kafe datang membawa pesanan Xixi.
"Jadi, apa kau sedang ada masalah, Lulu?" Tanya Xixi yang melihat Lulu diam.
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kakak ku dan kak Mimi."
"Kak Joseph dan kak Mimi?"
Lulu mengangguk "Akhir-akhir ini aku merasa sikap kak Mimi berubah pada kak Joseph."
"Mereka belum begitu mengenal satu sama lain, jadi wajar jika mereka merasa canggung saat hanya ada mereka berdua saja."
"Tidak, biasanya kak Mimi akan tersenyum pada kak Joseph, dan akan menyapa kakakku. Tapi.... waktu aku dan kak Joseph ke rumahmu, dia sama sekali tidak menyapa kak Joseph, bahkan melirik pun tidak."
Xixi menatap teman dekatnya yang terlihat murung.
"Aku juga tidak tahu, akhir-akhir ini pelayan di rumah bilang kalau kak Mimi sering ke ruang gym pribadiku saat aku tidak di rumah, waktu aku tanya kak Mimi, dia hanya bilang kalau dia hanya sedang ingin berolahraga."
"Xixi, kita harus membantu mereka."
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa, Lulu, disini hanya kakakku yang menyukai kak Joseph. Sementara kak Joseph....Aku lihat dia tidak tertarik pada kak Mimi sama sekali."
"Lalu bagaimana? Aku tidak mau wanita lain yang menjadi kakak iparku."
"Kita tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, Lulu. Mereka akan saling menyakiti jika kita paksakan mereka untuk bersama."
Lulu diam, apa yang Xixi katakan memang benar. Hanya saja, baru kali ini dia melihat ada seorang wanita yang benar-benar menyukai kakaknya tanpa melihat latar belakang keluarga mereka.
Setelah mereka membicaralan hal lain, mereka pun keluar dari kafe dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Apa olahraga yang kak Mimi lakukan beberapa hari ini berhubungan dengan kak Joseph ya?" Ucap Xixi sambil membawa mobilnya menyusuri jalan.
Selama ini yang Xixi tahu, kakaknya tidak pernah mau menyentuh peralatan yang ada di ruang gym pribadinya. Jangankan memakainya, bahkan Xixi mengajak dia untuk lari bersama saja saat pagi hari, Mimi menolak dengan alasan nanti kakinya bisa besar.
Xixi terus memikirkan perubahan yang terjadi pada kakak perempuannya itu.
__ADS_1
Sampai di rumah, Xixi melihat kakaknya sedang meletakan koper di bagasi mobil miliknya. Xixi turun dari mobil dan berjalan mendekati mobil kakaknya itu.
"Kakak mau kemana?" Tanya Xixi sambil melihat koper yang ada di dalam bagasi mobil.
"Oh, kakak ada pemotretan di luar kota selama beberapa hari. Jadi kakak harus membawa pakaian untuk selama disana."
Xixi mengangguk mengerti.
"Hubungi aku atau ayah jika terjadi sesuatu disana."
"Aku mengerti, aku bukan anak kecil."
Xixi mengangguk, sebenarnya dia ingin bertanya sesuatu pada Mimi. Tapi dia tidak mau Mimi mempunyai banyak pikiran saat pemotretan nanti.
"Kakak harus berangkat sekarang, jika tidak kak Junnie akan marah"
"Em, hati-hati."
"Oke."
Mimi lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya, menjauh dari pandangan Xixi yang masih berdiri di depan rumah.
"Haahh, aku tidak mengerti kehidupan orang yang lebih dewasa dariku." Ucap Xixi.
Xixi lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Hari ini dia sengaja tidak pergi ke perusahaan, karena badannya terasa begitu kaku setelah melakukan pertandingan basket kemarin.
Sayangnya pertandingan kemarin tim basketnya kalah, jadi hadiah yang dia inginkan dari Xixi tidak bisa dia dapatkan, dan itu membuatnya kesal.
"Huuuft, besok aku harus kembali melihat berkas di perusahaan. Benar-benar tidak ada waktu untuk berkencan dengan Xixi." Ucap Leon.
Setelah menghabiskan jusnya, Leon berdiri dan berjalan ke ruang ganti yang terletak tidak jauh dari kolam renang yang ada di belakang rumahnya itu.
Di bawah air yang keluar dari shower, Leon membersihkan dirinya. Dia menatap air yang jatuh dan mengalir di bawah kakinya.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Leon berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang dia bawa.
Sampai di dalam kamar, Leon langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Xixi, aku merindukanmu." Gumam Leon sambil menatap langit-langit kamar.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Leon bangun dari ranjangnya, dia lalu berjalan dan membuka pintu kamar.
"Ada apa?" Tanya Leon pada pelayan rumahnya.
"Ada tuan muda Smith datang dan menunggu anda di bawah, tuan muda."
__ADS_1
"Suruh saja dia naik keatas, aku sedang malas berjalan turun ke bawah."
"Baik tuan muda."
Setelah pelayan itu pergi, Leon kembali membaringkan tubuhnya tanpa menutup pintu kamar.
"Kau ini benar-benar pemalas, tuan muda Damian." Ucap Joseph setelah berada di depan pintu kamar Leon.
"Aku sangat lelah hari ini."
Joseph menutup pintu kamar Leon, dan duduk di sofa yang ada di dalam kamar Leon.
"Kenapa kau kesini tanpa memberitahu lebih dulu?" Tanya Leon.
"Aku hanya sedang bosan di rumah."
"Tumben sekali."
"Lulu menceramahiku terus-terusan di rumah."
"Hah, menceramahimu?"
Joseph mengangguk "Dia ingin menjodohkan aku dengan kakak teman dekatnya, dia memaksaku untuk berkencan dengan wanita itu."
"Maksudmu dengan kak Mimi?"
"Iya. Benar-benar menyebalkan."
"Memang kau tidak menyukai kak Mimi?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik padanya."
Leon berjalan dan duduk di samping Joseph "Bukan tidak tertarik, kau hanya tidak bisa melepaskan wanita di masa lalumu."
Joseph diam mendengar ucapan Leon.
"Joseph, hidup itu terus berjalan maju. Jika kau masih saja terpaku pada kenangan masa lalumu, maka selamanya kau tidak akan pernah bisa membuka hati mu untuk orang lain."
"Ck, kau sama saja seperti Lulu."
"Bukan begitu, aku tidak memintamu untuk berkencan dengan kak Mimi, seperti apa yang Lulu inginkan. Aku hanya ingin kau membuka mata dan hatimu, Joseph. Kehidupanmu itu masih panjang, dan semuanya harus terus berjalan maju. Wanita itu sudah menikah dengan orang lain, dan kau tidak mungkin bersama dengan dia, kau tahu itu."
Joseph kembali terdiam, semua perkataan Leon menusuk tepat di hatinya yang terluka.
"Aku mungkin tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan, tapi aku berbicara sesuai dengan logika. Jika kau terus menunggu dia yang sudah menikah, lalu kapan kau akan membuat orang tuamu bahagia dengan memberikan mereka cucu darimu, dan kapan kau bisa sadar kalau kau itu tidak akan pernah bisa bersama dengan dia lagi, Joseph?"
"Sudahlah, aku pusing. Aku tidak mau mendengar apapun lagi."
"Itu terserah pada dirimu sendiri, aku hanya memberi saran. Jika kelak orang yang pernah mencintai kita sudah tidak lagi peduli dan mempunyai perasaan pada kita. Maka, kita hanya akan mendapatkan rasa sesal yang tidak bisa di katakan, dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain membuatnya kembali menyukai kita untuk mengobati rasa penyesalan itu."
Leon berdiri dan menepuk bahu Joseph lalu melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sudah mengatakan apa yang selama ini ingin dia katakan pada teman baiknya itu.
__ADS_1
Masa lalu itu memang sulit untuk di lupakan, namun tidak untuk menjadi landasan perbandingan antara dua orang wanita. Karena setiap manusia mempunyai sifat mereka masing-masing, yang tidak akan pernah sama walaupun mereka adalah saudara kembar sekalipun.