The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 105


__ADS_3

Esok harinya, Jery dan Leon datang ke perusahaan Xixi. Sebelumnya Leon telah menghubungi sekertaris Ana terlebih dahulu, agar mereka bisa langsung pergi menemuinya.


Saat ini Leon dan Jery sedang duduk bersama dengan sekertaris Ana, di dalam ruangan khusus untuk tamu yang ingin bertemu dengan Xixi di perusahaan itu.


"Jadi, maksud kalian saya harus mengosongkan jadwal direktur pada tanggal 28 bulan ini?" Tanya sekertaris Ana.


"Benar, tolong bantu saya sekertaris Ana. Ini juga demi masa depan saya dan direktur anda." Ucap Leon.


Sekertaris Ana diam.


Ya, sebelumnya Leon dan Jery telah memberi tahu sekertaris Ana tentang rencana yang akan Leon lakukan di vila milik Xixi di akhir bulan ini, namun ternyata di akhir bulan jadwal Xixi di perusahaan cukup padat, karena itu sekarang Leon tengah memohon pada sekertaris Ana untuk mengosongkan satu hari jadwal Xixi, pada tanggal 28 nanti.


"Jika sekertaris Ana masih tidak bisa melakukannya, maka saya akan menghubungi paman William, agar beliau yang langsung berbicara dengan sekertaris Ana. Bagaimana?" Ucap Leon lagi.


Mendengar Leon memanggil tuan William dengan sebutan paman, dan hal yang Leon katakan juga termasuk sebuah kepentingan bagi masa depan direkturnya, maka sekertaris Ana hanya bisa mengalah.


"Baiklah, saya akan membantu kalian dengan mengalihkan semua jadwal direktur pada tanggal 28 ke lain hari. Ini semua karena untuk masa depan direktur, bukan karena kalian berdua." Ucap sekertaris Ana.


"Baik, terima kasih sekertaris Ana."


"Kami juga ingin meminta tolong satu hal lagi kepada anda." Ucap Jery pada sekertaris Ana.


"Apa itu?"


"Pada tanggal 28 nanti, tolong anda menghubungi direktur Cicilia, katakan saja ada hal yang sangat mendesak yang harus dia lakukan di perusahaan. Dengan begitu, dia akan kembali tanpa curiga kepada kita."


"Tapi bukankah nanti direktur akan langsung datang ke perusahaan? Lalu bagaimana dengan acara yang akan kalian adakan di vila?"


"Sekertaris Ana tenang saja, saya dan Mimi yang akan mengantar direktur Cicilia ke kota A, tepatnya ke vila milik direktur Cicilia. Anda dan karyawan yang lain juga bisa ikut menyaksikan acara itu setelah pulang kerja, karena acaranya akan berlangsung sore sampai malam hari."


Sekertaris Ana mengangguk, dia mengerti apa yang Jery katakan padanya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan membantu kalian. Dan untuk tuan Leon, semoga kau berhasil mendapatkan direktur kami."


"Terima kasih sekertaris Ana."


Setelah membicarakan semuanya, Leon dan Jery keluar dari perusahaan Xixi. Mereka tentu akan kembali ke vila untuk mengecek semuanya, sebelum vila itu akan mereka tinggalkan beberapa hari.


"Kita sudah melakukan banyak hal, dan sejauh ini semuanta lancar." Ucap Jery.


"Kau benar, kak."


"Kau harus yakin, kalau Xixi pasti akan menerimanya."

__ADS_1


Leon hanya mengangguk, dia benar-benar merasa sangat takut jika Xixi akan menolaknya dan membuat semua usahanya selama ini menjadi sia-sia.


"Oh iya, bagaimana kabar bibi?" Tanya Jery tentang ibu Leon.


"Mama baik-baik saja."


"Aku mendengar kalau bibi dan paman Damian akan bercerai, apa itu benar?"


Leon mengangguk "Iya, itu benar."


Jery menepuk bahu Leon "Kau harus bisa menjaga ibumu, dan kau juga harus berusaha lebih keras lagi untuk perusahaan mu."


"Iya kak, aku mengerti."


Leon menatap keluar jendela mobil.


"Sebenarnya aku sangat lega saat Mama memutuskan untuk bercerai dengan Papa, karena selama ini Papa selalu mengurung Mama di dalam rumah, dan selalu menekan Mama."


Jery diam mendengarkan cerita Leon.


"Mungkin orang-orang akan berkata, jika Mama sangat beruntung menikah dengan Papa. Tapi pada kenyataannya, dia sangat menyesal karena selalu merasa tertekan di dalam rumah. Dan aku.... Aku harus selalu memenuhi semua keinginan Papa, hanya untuk melindungi Mama dari kemarahan Papa."


Jery mengangguk, dia kembali menepuk bahu Leon.


"Sebentar lagi semuanya akan berakhir, bibi akan benar-benar terbebas dari paman Damian, di tambah lagi perusahaan paman Damian sekarang sudah hampir hancur. Dia akan mendapatkan hukumannya." Ucap Jery.


Jery sedikit tersentak mendengar itu, dia tidak menyangka jika tuan Damian akan begitu tega memperlakukan istri dan anaknya demi sebuah kekayaan.


"Sudah, lupakan semuanya. Semua yang kamu dan bibi alami telah kalian lewati. Dan biarkan itu tenggelam dan menghilang dalam ingatan."


Leon mengangguk, saat ini dia sama sekali sudah tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi pada tuan Damian. Bagi Leon, semua yang telah tuan Damian lakukan padanya dan ibunya hanyalah sebuah mimpi buruk.


Karena itu, dia akan berpura-pura tidak melihat dan mendengar saat tuan Damian kesulitan dan meminta bantuannya.


Bukannya Leon bersikap kejam atau durhaka kepada orang tua, tetapi semua yang telah tuan Damian lakukan pada Leon dan ibunya sudah begitu menyakitkan, seperti belati yang terus menancap dalam hati.


...----------------...


Di sebuah pusat perbelanjaan, Xixi dan Mimi sedang berkeliling dan keluar masuk dari toko satu ke toko yang lainnya.


Xixi sudah menduga hal ini akan terjadi, karena dia tahu jika kakaknya sudah masuk ke dalam pusat perbelanjaan, dia tidak mungkin hanya akan membeli barang yang sejak awal ingin dia beli saja.


Dan karena alasan itu juga, Xixi malas jika harus menemani Mimi berbelanja.

__ADS_1


"Kak, kita sudah masuk ke lebih dari 6 toko pakaian dan tas. Aku sudah lelah, kita pulang saja." Ucap Xixi yang sudah tidak tahan melihat kakaknya yang masih memilih sepatu.


"Setelah kakak memilih sepatu disini, kita akan pulang."


"Tidak, kau sudah mengatakan itu saat kita masuk ke toko pakaian yang ada disana."


"Ayolah Xixi, baru kali ini kita keluar bersama. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan mu."


"Terserah! Aku mau pulang, aku sudah lelah. Aku akan meninggal kakak disini dengan penjaga."


"Xixi, jangan pulang dulu. Kakak berjanji setelah ini kita pulang."


"Tidak. Aku malas mendengar janji kakak yang sedang berbelanja. Aku pulang sendiri."


Xixi berjalan keluar dari toko sepatu itu dengan kesal.


Hampir seharian mereka berbelanja di pusat perbelanjaan itu, dan semua barang yang di beli adalah barang-barang milik Mimi yang sebagian sudah dia punya di rumah.


Xixi tidak pernah suka pergi ke pusat perbelanjaan terlalu lama, tetapi hari ini Mimi malah membuatnya berkeliling di pusat perbelanjaan itu hampir seharian. Dan setiap mereka masuk ke dalam toko, Mimi pasti berjanji kalau mereka akan pulang setelah membeli barang yang ada di toko itu.


Dan tentu saja janji itu hanyalah janji, sehingga membuat Xixi tidak tahan dan kesal pada kakaknya.


"Hmm, anak itu. Padahal dia hanya tinggal menikmati acara berbelanja denganku." Gumam Mimi yang melihat adiknya pergi.


"Kalau sudah begini, aku jadi malas untuk melanjutkannya. Padahal aku masih membeli beberapa barang lagi." Sambung Mimi.


Mimi menghela nafas, dia lalu meminta para penjaganya untuk membawa semua barang belanjaannya.


"Kita pulang ke rumah saja." Ucap Mimi pada dua penjaganya.


"Baik nona."


Mimi lalu berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu, sementara Xixi sudah menghilang entah kemana.


Di dalam taxi Xixi menahan kekesalannya pada Mimi, sifat boros dan suka berbelanja berlebihan yang Mimi miliki sama sekali tidak bisa di ubah. Dan itu membuat Xixi ingin melemparkan semua barang-barang yang Mimi punya di dalam ruang ganti Mimi.


"Padahal sepatu dan tas yang dia beli tadi, sudah dia punya di dalam lemari yang ada di ruang pakaiannya. Tapi dia membelinya lagi."


Taxi yang Xixi naiki terus melaju menuju rumah keluarga William.


Setelah sampai di depan rumah, Xixi memberikan 3 lembar uang kertas pada supir taxi itu.


Xixi turun dari taxi dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat, dia ingin cepat sampai ke dalam kamarnya dan mandi.

__ADS_1


Hampir seharian dia berkeliling dengan Mimi, membuat badannya menjadi tidak nyaman.


"Aku tidak akan lagi menemaninya pergi ke pusat perbelanjaan manapun." Ucap Xixi sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2