
Namaku Valerie Vylzia Vasylchenko. Umurku 23 tahun dan aku bekerja di sebuah Perusahaan Design ternama. Aku memiliki seorang sahabat dekat bernama Melanie Agatha Christa, kami sudah bersahabat sejak menginjak kelas satu Senior High School.
Aku baru saja pindah dan tinggal di sebuah Kawasan Elit bersama kakek-nenekku serta seorang pembantu. Pagi yang cerah ini, aku bangun dan bersiap dengan bekerja dengan semangat. Kutatap diriku di depan cermin dan terperangah saat mendapatkan sebuah tanda kemerahan di leher kananku.
"Ini apa?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Masa di ranjangku ada serangganya sih?" tanyaku lagi dengan wajah bingung.
Kuusap tanda tersebut dan tak merasakan gatal atau rasa apapun itu. Seperti kulitku yang biasanya.
"Haih, aku harus suruh Bibi ngecek." ucapku lagi, lalu bersiap dengan pakaian kerjaku.
Aku melangkah menuju meja makan dan di sana sudah duduk kakek serta nenek yang mengobrol santai.
"Pagi semua." sapaku gembira.
"Pagi." jawab mereka berdua dengan senyum tipis. Kulihat bibi Rain yang datang dari arah dapur, mengantar semangkuk sup ke atas meja makan.
"Oh iya Bi, tolong cek kasur Vale ya! Kulit Vale merah-merah, kayaknya ada serangga." ucapku.
"Baik Nona." jawabnya dengan kepala menunduk.
Aku memakan sarapanku dengan ligat sampai tak tersisa, lalu pamit untuk bekerja.
"Aku pergi ya, bye." ucapku sambil melambai pada kakek dan nenek setelah mengecup kedua pipi mereka.
"Kamu hati-hati!" titah kakekku.
"Siap!" jawabku sambil terus melangkah keluar rumah dan menaiki Bugatti Chironku menuju kantor tempatku bekerja.
__ADS_1
***
30 menit berjalan dan akhirnya aku sampai ke kantor. Setelah menyerahkan kunci mobilku ke petugas Valet Parking, aku melangkah memasuki Kantorku dengan senyum yang biasa kulemparkan.
"VALE." kutolehkan kepalaku ke sumber teriakan tersebut dan mendapati Melanie yang melambai padaku dengan senyum sumringah lebar.
"Hai Mel." sapaku.
"Vale ada berita eksklusif." ucapnya dengan wajah semangat, tepat seperti wajah wanita penggosip.
"Apa?" tanyaku sedikit tak bersemangat.
"Presiden Direktur baru akan datang hari ini Vale." ucapnya semangat. Namun apanya yang eksklusif? Aku sudah dengar berita kalau Presiden Direktur sudah berganti. Lalu, memangnya kenapa jika Presdir baru tersebut datang hari ini? Toh, dia pastinya akan datang juga walau bukan hari ini.
"Lalu?" tanyaku sambil mengangkat bahu heran.
"Oh. "
"Just 'oh' Vale? Are you kidding me?" ucapnya semakin kesal menatapku.
"Jadi aku harus jawab apa dong?" tanyaku.
"Ya apa kek selain oh." jawabnya nyolot. Aku menghela nafas pasrah, lalu melangkah menuju ruanganku. Namun......
"Itu dia, itu dia." seketika seisi lobi berbisik-bisik dan berbondong-bondong menatap pintu masuk Kantor.
"Vale, sepertinya CEO itu datang sekarang. Aaa... Aku tak sabar melihat wajahnya." bisik Melan padaku dengan nada semangat sambil berjingkrak heboh.
Aku berdiri diam dan menatap ke arah pintu di mana semua orang juga sedang berkerumun menunggu kedatangan seseorang yang masuk melalui pintu tersebut.
__ADS_1
Perlahan seorang pria dengan suit hitam kinclongnya yang mencolok, rambut cepak mengkilat dan kaca mata hitam yang ia kenakan, melangkah dengan gagah dan percaya diri.
Pria tersebut melangkah masuk sambil membuka kaca mata hitamnya. Seketika semua orang semakin berisik mendapati atasan mereka setampan dan masih muda seperti ini. Mataku menatap lekat penampilan atasan baruku untuk mencoba mengingatnya.
"Perkenalkan, dia adalah Sean Matthew Aliano, Presiden Direktur baru Perusahaan kita."
Seisi lobi bertepuk tangan riuh, namun pria itu tetap saja memasang wajah datar dan dinginnya.
"Kembali bekerja!" ucapnya dingin, lalu melangkah menuju lift khusus menuju ruangannya.
"Wahh.. Dia tampan dan dingin, Mysterious Man. Dia semakin seksi dengan sikapnya." ucap Melan menatap atasan kami yang berjalan santai.
"Diam! Bagaimana jika dia sudah memiliki Kekasih atau ternyata Istri." ucapku menatap Melan heran dengan sifat sahabatku yang satu ini.
Aku menoleh kembali menatap atasanku dan entah kenapa sekarang mata tajamnya menatap ke arahku setelah aku berbicara seperti itu pada Melan.
"Apa dia melihatmu Vale?" tanya Melan bingung. Aku masih diam menatap atasanku lekat, memastikan bahwa dia memang menatap ke arahku. Hingga ia memasuki lift, lalu memutar badannya, dia kembali menatap ke arahku, sebelum akhirnya tenggelam di telan pintu besi tersebut.
"Aku tak yakin." ucapku masih ragu.
"Yasudahlah, aku keruangan dulu. Bye." aku melangkah meninggalkan Melanie yang berdiri diam, sedangkan aku berlari menuju lift.
Bersambung....
Hay.. hay.. hay..
Jangan lupa share, like, dan comment sebanyak mungkin. jika kalian suka tekan tombol hatinyaโค๏ธ
bye.. ๐๐
__ADS_1