
Valerie menatap ke segala penjuru ruangan. Dia duduk di sofa sambil menautkan tangannya khawatir. Dia sendirian di ruangan ini. Di mana Aiden?
Aiden tidak diperbolehkan masuk saat mereka sampai di sini. Tentu saja Aiden sempat memberontak dan memukul salah satu pengawal di sana, namun jumlah yang begitu tidak seimbang, membuat Aiden ditahan oleh seluruh pengawal di sana.
Sedangkan Valerie ditarik paksa ke dalam ruangan tersebut oleh pelayan wanita tersebut.
Dalam hati Vale berkata, ia akan melaporkan tindakan kurang sopan dan pemaksaan ini setelah dia keluar dari sini.
Vale mendongak saat suara pintu terbuka dan muncullah dua orang pria dari balik pintu. Valerie kenal satu orang, dia adalah Papa Sean. Satu lagi, pria lanjut usia berjalan dengan tongkat di tangannya.
Kedua pria itu duduk di sofa tepat dihadapan Vale. Vale menatap mereka dengan wajah waspada.
"Kamu Valerie?" tanya Kakek tersebut. Vale mengangguk pelan, tanpa ingin membuka suara.
"Perkenalkan aku Gregory Romanov, Kakek Sean." ujar pria tua itu. Valerie tampak membulatkan mata kaget. Ternyata ini adalah Kakek Sean dan Papanya Sean. Tetapi untuk apa mereka ingin bertemu dengan Vale?
"Ada apa Tuan Raveno memanggil saya?" tanya Valerie sopan.
"Aku langsung saja. Berapa nominal yang anda inginkan?" tanya Gregory dengan wajah tak sukanya pada Vale.
Vale mengerutkan dahi bingung. Ada apa sebenarnya dengan kedua orang di depannya ini.
"Maksud anda?" tanya Valerie tidak mengerti.
"Jauhi Sean! Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan." ujar Gregory.
Valerie terdiam mencoba menelaah apa yang telah terjadi di sini. Apa maksud pria tua di depannya ini? Dia dan Sean memang sudah memutuskan hubungan di antara keduanya.
"Maaf sebelumnya, kurasa anda salah paham dengan situasi sekarang. Aku dan Sean tidak memiliki hubungan apapun." ujar Valerie menatap kedua pria di depannya dengan pandangan memberi pengertian.
"Aku tau, Sean melakukan ini semua untukmu. Yang bisa kulakukan hanya menyuruhmu menjauh dari cucuku." ujar Gregory lagi.
Valerie mengernyit tak paham. Apa maksudnya pak tua ini? Sean melakukan apa demi dirinya? Valerie menggeleng bingung sambil menutup matanya pelan.
"Tuan, Sean meninggalkanku, dia memutuskan hubungan kami dengan sepihak." ujar Vale mencoba meluruskan semuanya.
"Aku tau. Aku tau dia melakukan itu untuk melindungimu dariku." ujar Gregory lagi.
__ADS_1
"Apa?" Valerie merasa ada yang mengganjal dari perkataan Gregory. Apa maksudnya itu tadi?
"Mengingat kebaikanmu dulu, karena telah menyelamatkan nyawa cucuku, aku dengan rendah hati melepaskanmu, menghentikan keputusanku untuk bersikap kasar. Sekarang pergilah sejauh mungkin dari hadapan cucuku!" ujar Gregory panjang lebar.
Bunyi pintu terbaring dengan keras membuat Vale menoleh ke sumber suara dan mendapati Sean dengan raut wajah marah serta khawatir.
Valerie menatap kedatangan Sean dengan wajah terkejut. Sean menatapnya, memandangnya dari atas ke bawah memastikan bahwa Vale baik-baik saja.
"Kau melanggar perjanjian kita." ujar Sean menatap Gregory dengan wajah kesal.
"Aku tidak melanggarnya, buktinya aku tidak menyentuhnya seujung kukupun." ujar Gregory menatap Sean tak mau kalah.
"Kesalahanmu adalah mendekatinya." ujar Sean menatap Gregory tajam sambil mengepalkan tangannya erat.
"Ingat ini masih hari pertunanganmu!" ujar Pavlo pada Sean. Sean mendecih mendengarnya.
"Semuanya akan berjalan lancar jika kalian tidak melakukan ini. Aku melakukan perintah kalian dengan baik, namun kalian yang menggagalkannya." ujar Sean dengan senyum miringnya. Valerie sejak tadi duduk terdiam mencoba menelaah susunan puzzle di kepalanya.
"Apa yang bisa kau lakukan Sean? Ingat ini masih wilayah kekuasaanku." ujar Gregory dengan raut wajah tak gentar. Sean jelas mengetahui dimana dia berada. Sean harus bisa melangkah dengan benar di antara serakan paku di jalan. Begitulah yang harus Sean lakukan sekarang.
"Biarkan dia pergi! Ini urusan di antara kita." ujar Sean menatap Gregory tajam. Gregory tampak berpikir dalam, hingga akhirnya menatap Vale yang masih menatap Sean dengan wajah tak percaya.
Vale sama sekali tidak menjauhkan tatapan matanya dari Sean, sampai ia melewati tubuh tegap Sean, pria itu masih bertahan untuk tidak menatap wajah Valerie dan menatap lurus ke arah Kakeknya.
Dadanya tiba-tiba sakit setelah melewati tubuh Sean dengan begitu saja. Valerie menoleh ke belakang menatap punggung tegap Sean hingga pintu menelannya.
Namun Vale sadar kalau Sean sekejab melihatnya dari ekor mata pria itu, sebelum akhirnya pintu tersebut tertutup. Vale menyadari apa yang terjadi sebenarnya. Sean masih peduli padanya.
Sean melakukan ini semua untuknya. Untuk melindunginya.
Valerie berdiri kaku di depan pintu ruangan tersebut. Perasaan bersalah membuncah di hatinya.
"Vale." Aiden datang dengan wajah panik, lalu menggenggam bahu Vale erat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aiden khawatir, sambil memperhatikan seluruh bagian tubuh Vale. Valerie masih terdiam kaku seakan membeku di tempat.
Aiden tampak bingung, lalu menggoncang bahu Vale. "Vale, ada apa?" tanya Aiden bingung.
__ADS_1
"Dia melakukannya untukku." desis Valerie, namun matanya masih menatap lantai seperti orang kehilangan akal.
"Dia sengaja melakukannya." ujar Vale lagi dan kini menatap Aiden lekat.
Aiden terdiam dan hanya bisa menatap Valerie dengan wajah bertanya. Vale gantian menggenggam lengan atas Aiden.
"Sean melakukannya dengan sengaja, dia melakukannya demi aku." ujar Vale sambil mengguncang lengan Aiden.
Wajah bingung Aiden berubah seketika mendengar kata-kata tersebut. "Sean tidak berniat menyakitiku." tambah Vale lagi.
"Cukup!" Vale terdiam melihat sentakan Aiden padanya. Kini Aiden menatapnya tajam, menusuk tepat di bola matanya.
"Lalu apa? Lalu apa kalau dia merencanakan ini semua? Kau mau melakukan apa? Dia masih tunangan Anna, dia seorang Bangsawan yang memang harus digariskan dengan seorang pendamping Bangsawan juga." ujar Aiden menatap Vale dengan raut marah. Aiden kesal mendengarnya ucapan Vale. Ucapan gadis itu menusuknya hingga ke ulu hatinya.
Namun tanpa Aiden sadari, ucapan Aiden juga menusuk tepat di ulu hati Valerie. Apa karena dia tidak berasal dari keluarga 'Bangsawan' ia tidak pantas berdampingan dengan Sean?
Apa karena darahnya tidak berasal dari darah biru yang suci? Vale menatap Aiden dengan mata memanas. Tangan dan bibirnya bergetar menahan tangis. Aiden seketika sadar, apa yang telah ia katakan sudah menyakiti wanita di depannya ini.
Vale menunduk malu saat air matanya akhirnya menetes. "Apa aku tidak sepantas itu untuk berada di sampingnya?" isak Vale dengan bibir bergetar.
Valerie menggigit bibirnya dalam, lalu menatap Aiden dengan wajah penuh air mata. "Apa rasa tulus saja tidak cukup? Aku memberikan sepenuh hatiku padanya tanpa aku sadari. Aku melihatnya sebagai seorang 'Sean', laki-laki yang membuatku jatuh cinta tanpa alasan. Aku tidak melihat berapa harta yang dia punya, aku hanya melihatnya sebagai penerang jalanku." ujar Vale sambil menangis kencang. Air matanya terus turun tanpa alasan.
"Aku mencintainya."
Plak.
Valerie tersentak dengan wajah menoleh ke kanan, saat seseorang dengan begitu keras menampar pipi kirinya.
Vale meraba pipi kirinya yang panas dengan rasa sakit di sana, lalu menatap ke arah si pelaku.
Berdiri sosok Anna dengan wajah marah menatap tajam Valerie. Tangis Vale berhenti dengan ajaibnya, namun pipinya masih basah dengan air mata. Vale menatap Anna lekat dengan wajah tak terbaca.
Bersambung....
kalian selalu bilang aku singkat banget. padahal aku ngetik udah 1k lebih kata.
Maaf aku telat up. Kayaknya akhir bulan ini sampai awal bulan Juli, aku mulai up klau aku bisa. Karena ada ujian UTBK, aku harus belajar makin giat sekarang. Klau kemarin bisa agak2 aja, tali sekarang aku nggak bisa tentuin kapan updatenya.
__ADS_1
Mohon pengertiannya ya.
Bye...😘