
Valerie menggeliat sambil menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya. Vale mengerjab pelan, lalu mengelus kasur sampingnya yang terasa dingin.
Mata Vale terbuka dan lagi-lagi tak mendapati Sean di dalam kamar. Valerie menguap kecil mencoba mengumpulkan nyawanya, lalu beranjak dari atas ranjang dan mandi.
Tak butuh waktu lama hingga Valerie keluar dengan pakaian rapi dan wajahnya yang tampak fresh. Valerie mengambil hairdryer dan memakainya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Setelah selesai merapikan rambutnya, Valerie keluar dari kamar setelah mengecek keadaan diluar.
Sean menatap Valerie yang keluar dari kamar dengan rapi dan freshpun tersenyum hangat. "Duduk, sebentar lagi makanan datang." ujar Sean. Vale mengangguk dan duduk di atas sofa.
Sean beranjak dari tempat duduknya, masuk ke dalam kamar untuk membuatkan susu ibu hamil untuk Valerie. Sedangkan Valerie duduk tenang sambil menatap lekat ponselnya yang menunjukkan barang-barang bayi.
Sena keluar dari kamar dengan segelas susu ditangannya. Sean menyerahkan gelas tersebut pada Vale yang terlihat tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya.
Sean yang penasaran, akhirnya mengintip apa yang membuat Vale tersenyum sambil menatap ponsel miliknya. Sean terperangah, lalu mengelus kepala Valerie naik turun.
Valerie mendongak menatap Sean yang menyerahkan segelas susu padanya. Valerie tersenyum, lalu menerima gelas susu tersebut dan meminumnya perlahan.
"Sean, lihat stroller baby ini, baguskan?" tanya Vale sambil menyerahkan ponselnya pada Sean.
Sean mangut-mangut mengiyakan. Valerie menatap kembali ponselnya sambil menscrolling layar ponselnya.
"Sean, look at this! So cute, I can't wait to see my Baby." ujar Vale kegirangan sambil menunjukkan baju bayi yang tampak menggemaskan dengan gambar dan bentuk hewan.
Vale mengelus perutnya yang masih terasa sedikit rata. Sean tersenyum, lalu mengecup pelipis Vale sayang.
Valerie kembali fokus berselancar di ponselnya. Sedangkan Sean kembali duduk di kursi kebesarannya.
Valerie menoleh ke arah Sean yang duduk sambil menatap ke arah komputernya dengan lekat. Valerie menatap lekat wajah Sean, lalu akhirnya bangkit dan melangkah ke arah Sean.
"Bagaimana dengan Anna?" tanya Valerie tiba-tiba setelah ia sampai disamping kursi Sean.
Sean menoleh sejenak, lalu memberikan beberapa lembar foto yang telah ia print. Vale mengambil foto tersebut dan melihat segala kegiatan Anna dan Nikolay semalam.
Vale tersenyum senang, lalu meletakkan kembali foto tersebut ke atas meja.
"Setelah ini, kita hanya perlu menjebak mereka." ujar Sean yang dibalas anggukan semangat oleh Valerie.
__ADS_1
Valerie memasukkan foto tersebut ke dalam amplop coklat dan menyimpannya. "Aku akan mengerjakan tugasku dan kamu mengerjakan tugasmu." ucap Vale.
Bunyi pintu diketuk menginterupsi perbincangan kedua insan tersebut. Valerie dengan cepat bersembunyi di balik meja kerja Sean.
"Masuk!"
Ternyata yang datang adalah makanan pesanan Sean. Setelah mereka menyusun makanan dengan rapi, mereka langsung keluar dengan hormat. Valerie bangkit dari persembunyiannya dan melangkah menuju meja penuh makanan.
"Sean ayo makan." ajak Vale. Seanpun dengan senang hati ikut makan bersama dengan Valerie.
***
Mobil Sean perlahan masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Setelah sampai di depan teras, Sean keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Anna yang mengetahui kedatangan Sean langsung menyambut pria itu dengan senyum semangat. "Sean kamu datang lagi." ujar Anna gembira.
"Hmm." Sean hanya berdehem singkat, lalu masuk ke dalam rumahnya dengan wajah datar.
"Kamu pasti kelelahan karena kerja lemburkan? Aku akan membuatkan makan siang." ujar Anna sambil mensejajarkan langkahnya dengan Sean.
Sean hanya mengangguk singkat menanggapi perkataan Anna. Sean menaiki anak tangga meninggalkan Anna yang menatap lekat punggung Sean yang perlahan menjauh.
Anna melempar senyum manis pada Sean saat pria itu duduk di kursi meja makan tanpa suara. Anna dengan semangat membuatkan makanan dan memberikannya pada Sean.
Sean menerima dengan datar, lalu memakannya.
"Permisi Tuan." Sean menoleh ke sumber suara saat salah satu pelayan mendekat ke arahnya.
"Maaf Tuan, ini ada kiriman berkas atas nama Tuan." ujar pelayan tersebut.
Sean menerima amplop coklat tersebut dan dalam hati tersenyum. "Kerja bagus sayang." dalam hati Sean berteriak memikirkan Valerie.
Pelayan tersebut pergi dari sana. Sean membuka amplop tersebut dengan wajah datar, masih mempertahankan ekspresi biasa saja.
Anna hanya menatap lekat kegiatan Sean. Sean membuka dan mengeluarkan isinya, menatap beberapa lembar foto yang ada di sana dengan wajah dingin.
Anna yang sejak tadi melihat saja, akhirnya ingin tau karena keterdiaman Sean. "Ada apa?" tanya Anna.
__ADS_1
Sean melirik Anna dengan tatapan tajam dan dingin. Anna yang melihat tatapan tersebut mulai merasakan khawatir.
"Ada apa Sean?" tanya Anna lagi dengan wajah gugup.
Seanpun meletakkan foto-foto tersebut di atas meja. "Jadi kau dan Nikolay selama ini memiliki hubungan seperti ini?" tanya Sean berusaha berakting dengan bagus.
Anna dengan panik menatap foto-foto apa yang ia dan Nikolay lakukan semalam. Anna menatap foto-foto tersebut dengan wajah takut.
"Sean, ini aku mabuk." ujar Anna membela diri.
"Lalu apa? Kenapa kau berbohong kalau kau belum bertemu dengan Nikolay?" tanya Sean dingin.
"A... Aku..."
"Pertunangan kita dibatalkan." ujar Sean dingin, lalu bangkit dari kursi meja makan dengan wajah datar.
Anna dengan panik bangkit dan menangkap lengan Sean agar tidak pergi. "Sean maaf. Aku mengaku salah, tapi jangan membatalkan pertunangan kita." ucap Anna dengan wajah memohon.
Sean menepis tangan Anna dengan kasar, lalu melangkah kembali menaiki anak tangga.
"Sean." Anna mengejarnya dengan gigih lalu menahan langkah Sean kembali.
"Sean maaf, aku akan melakukan apapun, asal jangan membatalkan pertunangan kita." ujar Anna dengan raut takut.
Gotcha, umpan telah dimakan. Sean terdiam, lalu menatap Anna lekat. "Apapun?" Anna mengangguk cepat dengan wajah penuh harap.
"Kalau begitu, apa kau bisa meyakinkan Ayah dan Kakekku agar Ibuku yang dirawat di Rusia bisa dirawat di negara ini?" tanya Sean dengan alih sebelahnya yang naik menantang.
Anna meneguk ludah setelah mendengar itu. Anna berperang keras dengan otaknya, menentukan apa yang harus ia lakukan.
Anna terdiam, Sean mengernyit lalu melepas cekalan tangan Anna. "Lupakan! Kau tidak akan bisa melakukannya." ujar Sean dingin, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Namun dengan cepat Anna langsung menahan Sean. "Aku bisa." ujar Anna cepat.
Sean berhenti, lalu menatap Anna lekat. "Buktikan, setelah itu kita bisa melanjutkan hubungan ini." ujar Sean singkat, lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Anna yang terdiam di anak tangga dengan wajah berkerut.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Anna bertanya panik.
__ADS_1
"Aku harus meminta bantuan Nikolay." ujar Anna bermonolog, lalu melangkah entah kemana.
Bersambung....