The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 92


__ADS_3

Usia kandungan Vale kini menginjak minggu ke-24. Valerie sedang berbaring sambil merekam perutnya yang sedang bergerak. Bayi didalam perutnya sudah semakin aktif bergerak.


"Kamu sudah tidak sabar bertemu Mommy ya?" ujar Vale sambil mengelus pelan perutnya.


"Mommy akan mengirim Video ini pada Daddy, bilang hai pada Daddy sayang." ujar Vale yang dibalas gerakan lagi pada perutnya.


Valerie tertawa, lalu mematikan rekaman videonya. Valerie langsung mengirim video tersebut pada Sean dengan emot senyum pipi memerah dan ucapan 'Hi Daddy'.


Pintu kamarnya terbuka dan menunjukkan sosok bibi yang membawa secangkir susu dan sarapan. Valerie menutup kembali dress yang ia kenakan untuk menutupi perutnya.


"Aku ingin sarapan di bawah bersama-sama." ujar Vale menatap Bibinya dengan wajah cemberut.


"Nona, Tuan Gilbert mengatakan Nona sarapan di kamar saja." ujar Bibinya.


"Dia selalu menyuruhku sarapan di kamar. Panggilkan Ben, dia pasti akan menuruti kemauanku." ujar Vale pada Bibi.


"Baik Nona."


Setelah Bibi pergi ditelan pintu, Vale membuka kembali ponselnya yang berbunyi.


Vale mendapat balasan pesan dari Sean.


'Selamat Pagi sayang' dengan emot kiss.


Vale tersenyum dan membalas 'Selamat sore menjelang malam disana'.


Pintu tiba-tiba terbuka dan menunjukkan sosok Ben yang melangkah ke arahnya.


"Ben, bawa aku untuk sarapan di bawah bersama kalian." ujar Vale semangat.


Ben menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah." jawab Ben pasrah. Gilbert pasti akan memarahi mereka setelah ini.


Ben membawa Vale ke lantai satu untuk makan bersama di meja makan. "Pagi Kakek, Nenek, Gilbert." sapa Vale dengan senyum lebar.


"Pagi."


"Kenapa kau turun?" tanya Gilbert langsung.


"Aku ingin makan bersama. Lagipula ini keinginan anakku." jawab Vale memasang wajah polosnya.


Gilbert menghela nafas pasrah. Lagi-lagi Vale membawa anak didalam kandungannya sebagai alasan, membuat Gilbert tak bisa berbuat apa-apa.


Valerie duduk di kursi meja makan, lalu mulai menyantap sarapannya dengan tenang. Setelah sarapan, Vale lanjut meminum susu hamilnya.

__ADS_1


Ponsel Valerie tiba-tiba berdering. Vale dengan cepat melihat ke arah layar ponselnya. "Sean menelepon." ujar Vale heboh.


Vale langsung mengangkat video call tersebut dengan tak sabar. Vale tersenyum lebar saat melihat Sean masih dengan balutan baju kerjanya.


"Sean."


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat gembira hari ini?" tanya Sean ingin tau.


"Karena kamu menghubungiku." jawab Vale gembira.


"Sepertinya kita baru saja Video call dua hari yang lalu." ujar Sean heran.


"Dia memang selalu melebih-lebihkan sesuatu." ujar Gilbert menimpali.


Vale cemberut. "Memangnya kamu tidak suka menghubungiku terus?" tanya Vale sedih.


"Tidak, aku suka." jawab Sean jujur. Valerie kembali tersenyum mendengarnya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Gilbert. Gilbert mendecih melihatnya.


"Sean, aku ingin melihat aquarium." ujar Valerie tiba-tiba.


Gilbert menatap ke arah Vale dengan mata melotot tak percaya. Sean ikut terdiam mendengarnya.


"Aquarium?"


"Kamu tidak bisa meninggalkan pulau Valerie, kamu ingatkan?" tanya Sean penuh kelembutan.


Vale langsung terdiam dengan wajah lesu. "Pulau ini dikelilingi oleh pantai, kau bisa melihat hewan laut di sana." ujar Gilbert angkat bicara.


"Tidak ada hewan laut di pantai Gilbert. Mereka semua berada di lautan lepas. Lagipula, pasti sulit untuk menemukan mereka semua di laut lepas." ujar Vale lesu. Gilbert menelan ludah merasa bersalah.


"Kalau begitu, apa aku bisa memelihara ikan?" Valerie mengambil Ipad-nya dan menunjukkan gambar ikan pada Sean.


"Lihat ini, aku menonton Tom & Jerry dan melihat ikan seperti ini. Dia menggemaskan Sean." Sean menggeleng melihat tingkah Valerie.


"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mencari ikan seperti itu." Vale tersenyum.


"Terima kasih." ujar Vale gembira.


Gilbert menggeleng melihat kelakuan Vale. "Oh iya, hari ini dokter yang kau kirim akan datang kemari quntuk pemeriksaan kandungan Valerie." ujar Gilbert nimbrung di kamera ponsel Vale.


"Bagaimana cara dia memeriksa istrimu tanpa peralatan apapun disini." ujar Gilbert.


"Tenang saja, dia sudah membawa semua yang dibutuhkan." ujar Sean tenang. Gilbert akhirnya hanya mengangguk-angguk mengerti.

__ADS_1


"Aku harus kembali bekerja." ujar Sean.


"Apa aku tidak bisa menemanimu bekerja?" tanya Vale pada Sean.


"Kamu hanya akan membuatku tidak fokus bekerja." ujar Sean sambil menggeleng kepala.


Vale melangkah dan duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah sedih. "Ingat jadwal senammu hari ini!" ujar Segan mengingatkan yang dibalas anggukan setengah hati oleh Valerie.


"Bye sayang." ujar Sean.


"Bye."


Sambungan video call selesai. Vale melempar ponselnya ke sofa dengan wajah lesu.


Ben tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Valerie dengan ice cream di tangannya. Ben sibuk memakan ice creamnya sambil menyalakan televisi dengan remot di tangannya yang bebas.


Vale melirik ke arah Ben yang asik makan, lalu melirik ke arah Gilbert yang asik memainkan ponselnya. Bibi yang asik dengan pekerjaannya dan Kakek serta Nenek yang asik dengan perbincangan mereka.


Mereka asik dengan dunia mereka dan Vale asik dengan kegabutannya. Vale memainkan ponselnya untuk mencari kesenangan, lalu matanya mencerah saat melihat nama Aiden di salah satu berita. Sebuah bohlam terang langsung muncul di atas kepala Valerie yang artinya, ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.


***


Sean meletakkan ponselnya diatas meja kerjanya, lalu bangkit dari sana untuk bersiap-siap pulang.


Belum beberapa saat, pintu ruangannya terbuka dan muncullah sosok Ibu tirinya yang juga datang bersama Anna.


"Mommy datang tepat waktu setelah kamu selesai bekerja. Ayo makan malam bersama Mommy dan Anna." ujar Ibu tiri Sean.


Sean merapikan berkasnya dengan rapi, lalu menatap ibu tirinya. "Aku lelah dan butuh istirahat. Mommy pergi saja bersamanya untuk makan malam." tolak Sean sopan. Anna menatap ke arah Sean dengan wajah tak terima.


"Sean, kamu jarang sekali makan malam bersama Mommy bahkan di rumah sekalipun." ujar Ibu tirinya.


"Aku benar-benar lelah." ujar Sean.


"Hanya sebentar, kamu juga harus makan malam sebelum tidur."


Sean menghela nafas pasrah. "Baiklah." Mommy pasti tidak akan berhenti sebelum ia mengatakan iya.


Anna tersenyum gembira mendengar jawaban Sean, hingga senyum miring dari bibirnya perlahan muncul dengan seringai tajamnya.


"Rencana pertama berhasil." batin Anna.


"Selanjutnya rencana kedua. Sean, kali ini aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku." batin Anna berteriak keras.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2