The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 66


__ADS_3

Lima hari berlalu semenjak ia sampai ke Rusia, hari ini akhirnya datang juga. Hari dimana ia akan meninggalkan Negara kelahirannya itu.


Valerie menarik kopernya beriringan dengan Aiden dan Jovan yang ikut mengantarnya ke bandara. Valerie memeluk Jovan sebelum akhirnya ia melangkah beriringan bersama Aiden menuju jet.


Hingga tak terasa, ia tiba di New York malam hari. Di jet, ia menghabiskan waktu untuk tidur, makan dan berbincang dengan Aiden. Aiden mengantar Vale ke rumah dikarenakan tidak ada yang menjemputnya di bandara.


Setelah sampai di rumahpun, Vale memutuskan untuk langsung tidur tanpa mengganti pakaian.


***


Valerie mengucek matanya pelan, sambil menguap lebar. Bangkit berdiri dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi dan mandi dengan begitu santai.


Setelah selesai, Valerie melangkah rumah makan dan sarapan seperti biasa bersama Kakek dan Neneknya. Setelah tidak bekerja lagi, Valerie menjalankan hidupnya seperti zombie.


"Gimana liburan kamu?" tanya Kakeknya.


"Seru. Vale ke toko Mama Papa dulu dan ke tempat Vale sering main waktu kecil. Kakek tau, ternyata Aiden itu sahabat kecil Vale di Rusia loh. Vale selalu memanggilnya Will dan ternyata nama tengah Aiden itu William." ujar Vale panjang lebar.


Kakek mengangguk-angguk paham. "Toko Roti Mama-Papa juga masih sama seperti dulu Kek. Interiornya masih sama walau ada yang sedikit di renovasi mungkin karena faktor usia." ujar Vale lagi dan Kakek membalas mengangguk.


"Vale, jadi kamu nggak kerja lagi?" tanya Neneknya.


Vale menggeleng. "Nanti Vale cari kerjaan." jawab Vale santai.


"Orang dari kantor kamu selalu datang ke rumah setiap hari." ujar Nenek. Vale mengernyit lalu mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"Hari ini mungkin dia datang lagi. Kamu kerja lagi saja di sana, memangnya kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" ujar Neneknya. Vale berhenti mengunyah mendengar pertanyaan Neneknya.


Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia keluar karena masalah percintaan. Bisa-bisa Kakeknya menceramahi dirinya untuk bersikap profesional, membedakan urusan kerja dan pribadi. Masalahnya di sini, Vale susah berusaha bersikap Profesional, tetapi Sean memang pria baj*ngan yang mempermainkan hatinya saat itu, hingga kemarahannya tidak dapat ia pendam lagi.


"Sekarang mencari pekerjaan itu sulit, kamu malah keluar dari perusahaan ternama begitu." tambah Neneknya lagi.


"Iya, nanti Vale pikirin gimana." ujar Vale tak ingin membahasnya lebih lanjut.


Hingga suara bel berbunyi, Vale langsung menoleh dengan wajah panik. Apa itu orang dari kantornya? Bibinya dengan cepat membuka pintu. Vale duduk dengan wajah mengantisipasi. Cukup lama setelah suara pintu terbuka, Bibinya itu belum kembali.


Hingga akhirnya, Bibinya kembali masuk ke ruang makan dan menghadap Valerie.

__ADS_1


"Nona, seseorang dari kantor kembali mencari Nona." ujar Bibinya.


"Itu pasti orang yang sama. Sana kamu temuin!" tambah Neneknya lagi. Vale memasang wajah cemberut sambil meminum air dengan gugup.


Siapa sih yang selalu datang ke rumahnya? Valerie melangkah menuju ruang tamu dan akhirnya menatap sosok Lucy yang duduk di sofa dengan wajah tak sabar.


Lucy, si wanita paruh baya cerewet yang selalu suka menghukum dan memarahinya. Lucy yang menyadari kedatangan Valerie, langsung menoleh dan melempar senyum terpaksa.


Valerie ikut tersenyum paksa melihat wanita di depannya tersenyum mengerikan seperti itu. Valerie duduk dihadapan Lucy masih dengan senyum paksaannya.


"Ada apa Mam Lucy ke rumah saya?" tanya Vale langsung.


"Valerie kamu kembali bekerja ya?" Vale terdiam dan menatap Lucy heran.


"Tapi aku udah sah keluar dari sana." ujar Vale.


"Iya, tidak apa-apa kamu masuk dan bekerja kembali. Saya anggap selama ini kamu mengambil cuti." ujar Lucy masih dengan senyumnya.


"Tapi..."


"Valerie, kalau kamu tidak kembali, saya juga tidak bisa kembali ke sana." ujar Lucy dengan wajah memohon. Valerie mengernyit melihat wajah takut Lucy.


Mata Lucy membulat dengan wajah panik. Apa yang haru ia perbuat, jelas-jelas dia harus menyembunyikan bahwa ini semua ancaman dari atasannya.


Lucy mengigit bibir khawatir, menimang jawaban apa yang terbaik. Hingga akhirnya ia mengangguk pasrah sambil membuang nafas. "Saya diancam oleh Mr. Romanov. Jika kamu tidak kembali bekerja, saya juga tidak akan bekerja di sana lagi." ujar Lucy panjang lebar. Valerie membuang nafas mengerti. Tangan Vale saling meremas ragu.


"Saya mohon kamu kembali." ujar Lucy putus asa.


Valerie menarik nafas dalam, menguatkan hatinya untuk memutuskan yang terbaik. Membuang nafasnya lagi dan akhirnya mengangguk. "Baiklah." ujar Vale. Lucy tersenyum kemenangan, bangkit berdiri dan memeluk Vale yang ikut bangkit karena Lucy bangkit tiba-tiba.


"Kamu harus mulai bekerja besok. Sebagai balasannya, saya akan memperlakukan kamu dengan baik." Lucy melepas pelukannya, lalu meraih tasnya.


"Saya akan ke kantor untuk mengurus kembalinya kamu. Ingat besok!" ujar Lucy kegirangan, lalu beranjak keluar dari rumah Vale.


Vale menatap kepergian Lucy dengan wajah sedih. Dalam hati Vale berbisik, ia kembali lagi ke sana.


***

__ADS_1


Valerie menatap gedung tinggi di depannya dengan jantung berdebar. Ia kembali lagi ke tempat ini. Valerie menggenggam dada bagian kirinya untuk menenangkan detakan jantungnya. Valerie menarik nafas dan membuangnya sambil menutup mata. Dalam hati ia menguatkan dirinya sendiri agar tidak gugup dan bersikap biasa.


Valerie melangkah memasuki gedung tersebut, membalas sapaan karyawan yang menyapanya di lobi, lalu masuk ke dalam lift. Menekan tombol lift menuju lantai ruangannya.


Kotak besi tersebut tertutup sempurna disambut oleh Valerie yang membuang nafasnya kasar.


"Mereka menyapaku seperti tidak terjadi apa-apa." ujar Vale bermonolog seorang diri di dalam kotak besi tersebut.


"Apa mereka memang tidak mengetahui aku resign?" tanya Vale lagi-lagi pada dirinya sendiri. Valerie terlihat seperti orang bodoh saat ini, bahkan ia tidak menyadari seseorang menonton tingkah lucunya sekarang lewat CCTV lift.


Valerie keluar dari lift saat sampai ke lantai ruangannya. Valerie masuk ke dalam ruangannya, duduk di atas kursi yang cukup lama tidak ia lihat.


Vale membuka laci mejanya memastikan barang-barang nya masih berada di tempat. Valerie keluar secara tiba-tiba, sehingga ia hanya membawa barang-barang yang penting saja.


Vale membuka laci bagian bawah, mengulurkan tangan ke bagian belakang dan meraih sebuah kotak dengan pena di dalamnya. Pena ini juga masih tersimpan rapi di dalam laci.


Vale meletakkannya kembali dan mulai menyusun seluruh barangnya seperti semula.


Hingga suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan Vale.


"Masuk!"


"Permisi Ms. Vasylchenko, anda dipanggil oleh Presiden Direktur." Gerakan tangan Vale yang merapikan berkas di atas meja langsung terhenti mendengarnya.


Vale menelan ludah tidak percaya. Vale mengangkat kepala, menatap seorang wanita yang masuk ke ruangannya.


"Sekarang?" tanya Vale dengan wajah bodoh.


"Iya Ms. Vasylchenko." jawabnya yang membuat hati Vale semakin mencelos lemas.


"Aku akan datang." ujar Vale seadanya.


Wanita tersebut pamit pergi dan keluar dari ruangan Vale, sedangkan Vale kini berdiri gugup sambil meremas tangannya. Valerie gundah. Dipikirannya sekarang hanya, bagaimana ia harus bersikap di depan Sean?


Bersambung....


Dari episode sebelumnya udah mulai kebongkarkan gimana Sean selama ini bisa masuk ke rumah Vale bahkan ke kamarnya. Iya, itu karena dia memang sudah bersekongkol dengan Kakek dan Nenek Vale. Jadinya, ya kalau mau masuk ya tinggal masuk aja.

__ADS_1


Next Up : 2/8


Ayo mampir ke ceritaku yang lain. 'Trapped By the BEAST.'


__ADS_2