
Akhirnya Sean Update.
Tekan tombol likenya dulu dong.
Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.
~Selamat membaca~
***
BRAK..
Tampak seorang pria tampan dan tinggi dengan setelan jasnya, berjalan cepat setelah membanting pintu utama, lalu berdiri menjulang di depan seorang pria paruh baya yang duduk dengan santai di sofa.
Pria itu Sean. Datang dengan wajah marah dan tangan terkepal untuk menemui papanya yang berada di balik semua drama ini.
"Apa maksud semua ini?" tanya Sean dengan rahang mengetat.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya papanya balik dengan tampang bodoh.
"Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kau melakukannya? KENAPA?" rahang Sean semakin mengeras marah. Sedangkan pria paruh baya tersebut, memasang wajah santai sambil meminum tehnya.
"Gadis polosmu itu? Atau wanita penggila harta itu?" tanya papanya sambil menatap Sean lekat.
"Kau menyuruh wanita sialan itu untuk melakukan ini bukan? Kau melakukannya dengan cara rendahan seperti ini?"
"Kenapa? Kau tidak suka cara mainku?" Sean terkekeh dengan senyum miringnya.
"Kau memilih lawan yang salah. Jangan salahkan aku jika menghancurkanmu, walau kau adalah ayah kandungku." ucap Sean lekat dengan tatapan tajam menusuk. Lalu melangkah pergi menjauhi pria paruh baya tersebut yang kini menahan amarahnya.
"Kita lihat saja siapa yang menang." desisnya.
***
Perlahan kelopak mata Valerie mengerjab pelan. Matanya sedikit perih di karenakan banyaknya air mata yang ia keluarkan.
Matanya menelisik ke seluruh pelosok kamarnya dan tak menemukan siapapun. Dia ingat terakhir kali, kalau ia berjumpa kembali dengan seseorang yang sudah lama ia rindukan. Sosok yang berada sangat jauh dengannya.
Valerie bangkit dari ranjangnya dan melangkah ke luar dari kamarnya. Dengan langkah perlahan ia menuruni anak tangga untuk sampai ke ruang keluarga.
Namun ia tetap tak menemukan siapapun di sana. Valerie melangkah ke arah dapur untuk mengambil air. Valerie berhenti tepat di depan kulkas dan mengambil botol berisi air minum di sana.
Diteguknya perlahan. "Air dingin tidak bagus di minum malam hari Vale."
__ADS_1
Vale terjengit kaget dengan botol di tangannya. Untungnya ia tidak tersedak dan hanya memuncratkan sedikit air dari mulutnya. Dengan cepat ia meletakkan botol tersebut kembali ke dalam kulkas.
Valerie berbalik ke sumber suara dan menemukan sosok yang ia cari sejak bangun tadi.
"Kak Jovan." dengan gembira Vale memeluk pria tampan bernama Jovan tersebut dengan penuh kerinduan.
Jovan tersenyum lembut dan membalas pelukan Vale dengan sama eratnya.
"Kenapa selama ini? Aku pikir kakak sudah melupakanku." ucap Vale sedih.
"Mana mungkin kakak melupakan gadis kecilku." jawab Jovan sama mengelus punggung Vale.
Vale melepas pelukannya dengan raut cemberut. "Aku bukan anak kecil lagi." bantah Vale kesal.
"Tetapi di mata kakak kamu tetap masih anak kecil." ucap Jovan tak mau kalah.
"Kenapa?" tanya Vale menuntut.
"Mana ada orang dewasa yang menangis di tepi jalan seperti anak kecil yang tersesat." jawab Jovan dengan kekehan mengejek.
Vale memukul lengan Jovan karena berani menertawainya. "Jahat." omel Vale sambil melangkah menjauhi Jovan.
Jovan tertawa mengejek, namun tetap mengikuti langkah Vale yang berjalan ke sofa ruang keluarga.
"Di mana Melanie?" tanya Vale yang seketika teringat dengan sahabatnya itu.
"Dia pulang karena kamu tertidur sangat lama." jawab Jovan sambil duduk di sebelah Vale.
Tak ada percakapan di antara mereka selama beberapa menit. Valerie melamun dengan tatapan kosong dan Jovan hanya melihat lekat wajah Vale.
Pikiran Vale melayang kepada siaran tadi siang, di mana Angela ada di sana. Dia tertekan. Dia bahkan berfikir apa akan datang ke kantor besok? Dia benar-benar malu untuk menunjukkan wajahnya ke publik sekarang.
Dia bernasib baik siang itu saat para pejalan kaki tak mengenalinya. Vale bahkan tak ingin menyalakan televisi. Saat ini, dunia pasti gempar dengan berita tersebut.
"Valerie."
Vale tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Jovan. "Hmm.. " jawab Vale.
"Kenapa?" tanya Jovan.
"Kenapa apanya?" tanya Vale yang pura-pura bodoh. Ia hanya tak ingin membahasnya sekarang.
"Jangan mengelak Vale! Ada apa? Kenapa kamu menangis tadi siang?" tanya Jovan tak sabar. Ia tak suka seseorang mengalihkan pembicaraan darinya.
__ADS_1
Vale mendengus. Rasa sakit itu muncul lagi di dadanya. Sesak, seperti ada beban berton-ton di sana. Mulutnya ingin bicara namun hatinya terlalu sakit untuk mendorong cerita buruk itu keluar.
Matanya memanas seketika. Ia ingin menangis, tetapi berusaha keras menahannya. Di tariknya nafasnya dan di hembuskannya perlahan.
"Kakak belum menonton televisi?" tanya Vale perlahan. Matanya memerah menahan tangis, namun ia coba sekuat mungkin untuk tidak ke luar.
"Memangnya ada apa?" tanya Jovan tak sabar.
Valerie meraih remot TV dan menyalakannya. Seketika muncullah berita mengenai jumpa pers yang di adakan oleh Angela.
"Kakak tau berita ini?" tanya Vale. Jovan mengangguk. Ia menonton berita ini sejak tadi siang. Berita hot ini selalu muncul di saluran manapun, sampai-sampai Jovan kesal di buatnya.
"Ada apa dengan berita ini?" tanya Jovan.
"Perempuan yang dia bicarakan itu adalah aku." jawab Vale pelan. Matanya semakin memanas.
"Aku tidak tau hubungan apa yang bisa mendefinisikan antara aku dan kekasihnya. Namanya Sean. Dia adalah bosku di kantor. Sejak awal bertemu, aku tidak tau dia memiliki kekasih. Namun, dia beberapa kali melecehkanku sejak awal pertemuan." Vale mengusap setitik air mata yang tak terduga turun dari mata lentiknya.
Vale menarik nafasnya lagi. Rasanya tak sanggup melanjutkannya.
"Hingga akhirnya Angela datang ke kantor. Sean memanggilku saat itu dan di mengusir Angela di depan mataku. Dia mengatakan kalau Angela bukan kekasihnya. Aku percaya. Hingga akhirnya, dia mengatakan semua hal tidak benar itu. Sampai semua orang kantor dan orang-orang sekitar membicarakanku yang tidak-tidak."
Bibir Vale bergetar dan matanya merahnya memanas kembali. "Apa yang mereka katakan tidak benar kak." ucap Vale dengan suara bergetar menahan tangis. Matanya menatap lekat Jovan dan menyakinkan pria itu.
Jovan menangkup pipi Vale dan mengelus air nata yang perlahan turun membasahi pipi mulusnya.
"Aku tau. Gadis kecilku tidak mungkin seperti itu." ucap Jovan. Vale terharu. Ia senang Jovan mempercayainya.
Jovan meraih tubuh Vale dan memeluknya erat. Menenangkan gadis itu.
"Namanya Sean bukan? Besok, aku akan menemuinya."
Bersambung.....
Hay.. Hay...
Sorry telat up.
Satu kata buat Jovan dong!
Terus kalian merasa ada yang aneh nggak sama Melanie setelah kak Jo datang? *ayo tebak!*
bye.... 😘💕
__ADS_1