
Sean update.
like dan Vote.
***
Valerie masuk ke dalam kamar Jovan dengan senyum kegirangan. Jovan memang tinggal di rumahnya semenjak pria itu datang ke negara ini.
"Kak Jovan." Panggil Vale.
Tampak Jovan yang duduk berselonjor di ranjangnya. Jovan mendehem sambil terus fokus dengan buku di tangannya. Valerie melangkah mendekati Jovan dan duduk di sebelahnya.
"Kak, Sean kembali." Jovan menurunkan buku di tangannya dan langsung melempar senyum manis pada Vale.
"Benarkah? Lihat betapa bahagianya dirimu." ujar Jovan sambil mengusap-usap rambut Vale.
"Dia datang dan langsung menemuiku. Dia mengatakan akan membereskan semuanya setelah ini." ucap Vale antusias.
"Ya, dia mengatakan hal yang sama padaku saat itu." ucap Jovan. Vale tersenyum mendengarnya.
"Apa setelah ini semuanya akan baik-baik saja kak?" tanya Vale dengan sorot mata melembut. Sorot mata murni yang penuh harapan. Jovan tak sanggup merusaknya.
"Hmm..semua akan baik-baik saja." ujar Jovan sambil mengangguk kecil. Vale tersenyum senang, lalu memeluk Jovan.
"Terimakasih sudah kembali kak." ucap Vale lirih. Betapa beruntungnya dia memiliki seorang kakak seperti Jovan.
Mereka bukanlah saudara sedarah. Jovan dan Valerie hanyalah sekedar tetangga sejak Valerie pindah ke negara ini.
Valerie kecil yang memang pecicilan dan lasak seperti preman, langsung menghampiri Jovan yang bermain di taman dan langsung sok kenal sok dekat dengannya.
Jovan yang saat itu berumur 9 tahun tertegun bingung dengan tingkah frontal Vale. Valerie yang saat itu berumur 7 tahun, tanpa malu-malu langsung mengajak Jovan untuk bermain bersama.
Jovan dan Valerie akhirnya mulai dekat semenjak hari itu. Valerie sering bermain ke rumah Jovan dan menghabiskan waktu bersama. Mereka bersekolah di sekolah yang sama hingga SMA. Namun, Jovan harus pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah dan meninggalkan Vale sendirian.
Valerie berbaring nyaman di pelukan Jovan sampai akhirnya tak sadar ia tertidur bersama dengan Jovan. Jovan tersenyum kecil melihatnya.
"Dasar Gadis kecil." desis Jovan.
__ADS_1
***
Valerie melangkah masuk ke dalam kantornya dengan senyum cerah. Senyum cerah yang kembali muncul setelah kejadian terpuruknya.
Valerie masuk ke dalam ruangannya, lalu meraih ponselnya. Vale mencari kontak Sean dan mengirim pesan singkat untuknya.
Aku merindukanmu.
Vale tersenyum geli melihat kata-kata yang ia kirim pada Sean. Sejak kapan dia menjadi sefrontal ini?
Vale menunggu dengan penuh harap, namun Sean belum juga membalas pesannya. Sepertinya Sean sedang sibuk. Itulah alasan yang terpatri di otak Valerie.
Valerie menyimpan ponselnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
BRAK.
Hingga akhirnya gebrakan pintu mengejutkannya. Tampak Melan dengan wajah khawatir menatap dalam ke arah Vale. Perasaan khawatir langsung merasuk ke dalam diri Vale. Perasaan takut yang tak mengenakkan.
Di lain sisi.
Sean menatap lekat satu-persatu kamera tersebut.
"Pers Conference di mulai." Sean terdiam mendengar aba-aba itu.
"Mr. Aliano bagaimana anda menjelaskan hubungan anda dengan Angela?"
"Tidak ada hubungan. Kami sejak awal tidak memiliki hubungan serius. Dia hanya salah satu wanita penghangat ranjangku, dikarenakan dia menginginkan popularitas dengan memanfaatkanku." jawab Sean.
"Lalu, benarkah anda berhubungan dengan karyawan anda sendiri? Gadis yang juga dikabarkan menjalin hubungan dengan aktor ternama Aiden."
Sean tampak mengatur ekspresi sedatar mungkin. Mulutnya seakan enggan untuk menjawabnya.
"Tidak. Hubungan kami hanyalah seorang atasan dan bawahan." jawab Sean dengan wajah dingin.
"Apa anda punya buktinya Mr. Aliano? Angela dengan jelas membuktikan anda berhubungan dengan nona V ini." tantang salah satu reporter.
"Aku akan melangsungkan pertunangan di Rusia dengan calon tunanganku dan tentu saja bukan gadis itu." jawab Sean.
__ADS_1
"Dan satu lagi, sejak hari ini, namaku adalah Sean Matthew Romanov. Tidak ada lagi Aliano." tambah Sean. Sean bangkit berdiri karena merasa semuanya sudah terjawab. Tidak ada lagi yang perlu ia jelaskan. Semuanya sudah Clear dan tak akan muncul lagi berita mengenai Valerie.
Sean tau, mulai hari ini dia akan kehilangan gadisnya. Mulai hari ini, Sean akan menatap Valerie seperti orang asing. Mulai hari ini mereka berdua akan mulai terpisah.
Back to Vale.
Valerie terdiam menatap televisi yang terputar di ruangannya. Di sana tampak sosok Sean yang melenggang pergi dari tempat duduknya.
Sakit. Vale menekan dadanya yang terasa sesak. Air matanya turun begitu saja dan ia langsung terisak pilu.
"Kenapa? Apa kamu kembali untuk ini?" tanya Vale dengan mata memerah. Suara lirihnya menyesakkan hati Melanie yang berdiri tegap di samping Vale.
Melanie meraih tubuh Vale dan menarik sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Valerie menangis kencang dipelukan Melanie.
"Kenapa dia kembali jika melakukan ini padaku?" tanya Vale lirih. Hatinya begitu sakit. Rasanya seperti tertusuk-tusuk tanpa henti. Perih namun tidak berdarah.
"Vale, mulai saat ini berhenti memikirkannya! Dia bukan untukmu." ucap Melanie sambil mengusap punggung gemetar Vale.
Vale mencengkaram erat baju di bagian dadanya. "Sakit." lirih Vale. Melanie tanpa sadar ikut meneteskan air matanya melihat betapa terpuruknya Vale saat ini.
"Stop Vale! Jangan menyakiti dirimu sendiri!" lirih Melan. Valerie mencengkram semakin erat bajunya dengan tangis pilu.
"Hiks.. Melan, mengapa harus sesakit ini?" tanya Vale lirih.
"Hentikan Vale! Kau membuatku semakin ingin menangis." ujar Melan.
Vale menangis sepuasnya dengan Melanie di ruangannya.
Sedangkan Sean kini menatap jelas kejadian di ruangan Vale dari iPad yang ia pegang. Sean ikut merasakan betapa sakitnya dadanya saat ini.
Ingin rasanya ia memeluk gadisnya itu saat ini. Menenangkan Vale di dalam pelukannya. Namun, tidak bisa. Sean harus bersabar, dia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Vale suatu saat nanti.
Dia tidak bisa mendekati Vale karena ayah dan kakeknya yang pasti akan melukai dan mencelakai Vale. Tunggu sampai dia mendapatkan penuh Romanov, maka dia akan kembali pada gadisnya.
Dia tidak bisa memberitahu Valerie saya ini. Banyak telinga dan mata di mana-mana. Biar Sean yang bersandiwara seorang diri.
Bersambung..
__ADS_1