The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 87


__ADS_3

Valerie masuk ke dalam kamarnya dengan wajah penasaran. Sean mengikutinya dari belakang. Setelah Sean menutup pintu, Valerie langsung menatap ke arah Sean dengan wajah menuntut jawaban.


Sean yang melihat tatapan menuntut tersebut langsung memeluk Valerie erat. Valerie mengernyit, namun tidak menolak dan membalas pelukan Sean.


"Kamu sudah meminum susu?" tanya Sean. Vale langsung menjauhkan diri dari Sean sambil menepuk jidat dengan mulut menganga.


"Aku lupa." jawab Vale sedikit panik. Sean mendecak, lalu melangkah keluar dari kamar dan meminta bibi untuk membuatkan susu hamil.


Setelah itu, Sean masuk kembali ke dalam kamar sembari menunggu Bibi mengantar susu tersebut ke kamar.


Sean menatap Valerie yang duduk diatas ranjang sambil menunggu kedatangannya. "Sekarang jelaskan dari awal sampai akhir!" ujar Vale langsung.


Sean ikut duduk di sebelah Valerie sambil menggenggam erat tangan Valerie.


"Tetapi aku harus pergi bekerja sekarang." ujar Sean mencoba menjahili Valerie.


Valerie langsung mengerutkan wajahnya tidak suka. "Tetapi aku ingin jawaban darimu sekarang juga." ujar Vale ngotot.


"Aku sudah cukup lama meninggalkan rapat dengan client penting." ucap Sean.


"Apa aku tidak penting?" tanya Vale kesal bercampur marah.


Valerie langsung menghempaskan tangan Sean dan langsung berbaring membelakangi pria itu. "Sana pergi, setelah itu jangan bertemu denganku selama satu bulan." Sean tersenyum lucu melihat tingkah Valerie yang menggemaskan.


"Kau yakin?" tanya Sean memancing ego Valerie. Dia yakin Valerie tidak akan tahan tidak bertemu dengannya selama satu bulan dalam keadaan hamil seperti ini. Anaknya selalu saja ingin berdekatan dengan Sean setiap saat.


Valerie terdiam, lalu menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. "Pergi!" ketus Vale.


Sean terkekeh, lalu memeluk tubuh Valerie dari belakang. Tubuhnya ikut masuk ke dalam selimut, lalu memeluk Valerie erat.


Valerie terdiam, ia tidak memberontak walau wajahnya masih memasang raut kesal. Sean mengusap perut Valerie naik turun, sambil mengecup tengkuk Vale yang terekspos.


"Aku bercanda sayang." ujar Sean sambil terus mengecup tengkuk dan bahu Vale untuk menenangkan hati Valerie.

__ADS_1


Sean mengendus wangi sampo yang menguar dari rambut Vale yang tergerai. Wangi yang memabukkan dan terasa menenangkan.


Vale masih diam dan tidak membalas perkataan Sean. "Kamu marah?" tanya Sean masih memeluk tubuh Vale dari belakang.


Tidak ada jawaban dan respon, akhirnya Sean membalikkan tubuh Valerie agar punggung gadis itu berbaring ke atas ranjang, dan dirinya berada di atas tubuh Valerie.


Sean mengusap pipi lembut Vale dan mengecup pelan bibir cemberut Valerie. "Maaf sayang." ujar Sean lembut.


Hati Valerie bergetar mendengarnya. Bagaimana mungkin dia tidak berdebar-debar mendengar suara lembut dan wajah tampan Sean dihadapannya. Valerie tidak bisa marah lebih lama lagi.


"Kau menyebalkan." ucap Vale menatap Sean cemberut. Sean terkekeh, lalu mencium seluruh wajah Valerie dengan geram.


"Sean, berhenti!" Valerie mendorong wajah Sean yang terus mengecupi wajahnya. Hingga, tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan bibi yang masuk untuk mengantar susu.


Sean berhenti mengecup wajah Valerie dan menatap ke arah pintu bersamaan dengan Vale. Valerie terdiam menahan malu karena Bibinya harus melihat mereka berdua dalam posisi memalukan seperti ini.


"Maaf Nona, Tuan." ujar Bibi sambil meletakkan susu ke atas meja nakas, laku pergi dengan cepat.


Setelah pintu tertutup, Vale langsung memukul dada Sean keras. "Aw, Sakit sayang." ujar Sean meringis sambil memegang dadanya.


"Tadi itu memalukan Sean." ucap Vale menatap Sean geram.


"Tidak memalukan." ujar Sean santai.


"Lakukan hal tadi dihadapan Kakekku kalau kamu berani." tantang Vale menatap Sean remeh. Sean pastinya tidak akan berani. Dia masih ingin bersama Valerie dan menikah dengannya.


"Kalau itu, aku tidak akan mencobanya sekarang. Tetapi jika kamu sudah menjadi istriku, aku bahkan berani melakukan lebih dari ini didepan Kakek." ucap Sean mengangkat sebelah alisnya dengan wajah menggoda.


Valerie langsung melempar bantal ke wajah Sean dengan tepat sasaran. "Dasar mesum."


Sean mengusap wajahnya yang baru saja tertimpuk bantal. Sean langsung bangkit dan menghampiri Vale dengan wajah datar.


Vale tersentak saat Sean merenggut pinggangnya dan menariknya kencang, sehingga badan depan mereka bertubrukan.

__ADS_1


"Sean, pelan-pelan, kamu lupa aku sedang hamil?"


"Oh aku lupa. Maaf ya nak." ujar Sean sambil mengelus perut Vale.


Valerie mendecak. "Daddy ingin menghukum Mommymu karena sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada Daddy."


Vale membola sambil membuka mulut tak percaya mendengar ucapan Sean.


"Itu karena kamu mesum." ujar Vale membela diri.


"Kamu juga. Kamu tidak ingat di kantor malam itu?" ujar Sean yang berhasil membuat pipi Vale memerah malu.


"A..aku tidak." ujar Vale terbata-bata. Sean tersenyum kemenangan.


"Memangnya aku salah mesum dengan istriku sendiri?" ujar Sean menatap Vale lekat. Vale langsung menoleh ke sembarang arah karena tatapan Sean.


"Aku bukan istrimu."


"Memang benar, but it will Soon." Pipi Vale semakin memerah dan mata berkedip cepat karena gugup.


Sean tersenyum, lalu mengecup pipi merah Vale. "Kamu calon istriku." bisik Sean setelah mengecup pipi Vale singkat.


Vale langsung mendorong tubuh Sean menjauh karena badannya bergetar gugup mendengar ucapan Sean. Jantungnya juga berdebar sangat kencang seakan ingin meledak. Valerie mengusap pipinya yang dicium oleh Sean dengan wajah kesal. "Jangan bertemu denganku selama satu tahun!" Vale langsung beranjak pergi dari kamarnya, meninggalkan Sean. Namun, Sean dengan cepat memeluk Valerie dari belakang sebelum keluar dari kamar.


"Aku bercanda sayang." ucap Sean dengan nada membujuk, sambil mengelus perut Valerie lembut. Sean mengecup pelipis Vale dari belakang, lalu menyandarkan dagunya di bahu Vale. 


Sean benar-benar salah bercanda dengan ibu hamil yang sedang terserang hormon labil. Valerie diam tak membuka suara, namun tak memberontak dari pelukan Sean. "Aku minta maaf, okey." ujar Sean dengan sangat lembut untuk menarik rasa iba Vale padanya. Namun Vale masih bertahan dengan keterdiamannya dan tak bergeming sedikitpun.


"Aku akan menceritakan masa kecil kita, bagaimana?" bujuk Sean lagi. Terlihat mata Vale bergerak tertarik dengan tawaran Sean. Sean yakin Vale tidak akan menolak kali ini.


"Bagaimana? Kamu tetap tidak mau?" tanya Sean.


Vale melepas pelukan Sean dari tubuhnya, lalu beranjak ke arah ranjang dan duduk diatasnya. "Ceritakan!" ujar Vale masih dengan wajah cemberut. 

__ADS_1


Sean tersenyum kecil, lalu mengambil susu Vale yang masih tersisa dan membawanya pada Valerie dan ikut duduk disana, bersiap untuk menceritakan segala hal masa kecil mereka yang mungkin Valerie tidak sadari sejak kecil hingga sekarang.


bersambung..


__ADS_2