
Valerie kini tengah makan malam bersama Kakek dan Neneknya. Valerie duduk manis di kursi meja makan sambil menunggu makanan diantar oleh Bibi.
Bunyi dentingan piring bersentuhan dengan meja terdengar nyaring. Satu-persatu makanan mulai disajikan dihadapan mereka.
Valerie mengerutkan kening saat aroma masakan tercium masuk ke indera penciumannya. Sesuatu didalam perutnya bergejolak hebat, meminta untuk segera dikeluarkan. Valerie berlari kencang sambil menutup mulutnya ke arah wastafel dapur.
Terdengar beberapa kali Valerie mencoba memuntahkan isi perutnya. Neneknya yang khawatir, langsung menghampiri Valerie dan mengusap punggung Vale naik turun.
"Kamu kenapa?" tanya Neneknya yang dibalas gelengan lemah oleh Vale. Valerie masih terus memuntahkan isi perutnya, walau tidak ada yang keluar.
"Kamu sakit?" Vale lagi-lagi menggeleng lemah.
"Valerie tidak selera makan Nek, Vale istirahat di kamar saja." ujar Vale menatap Neneknya sebentar, lalu melangkah ke kamarnya sambil menutup mulut dan memegang perutnya.
Kakek, Nenek, dan Bibinya menatap Valerie bingung, namun tidak menghentikan wanita itu.
Valerie berbaring di atas ranjangnya dengan perlahan. Valerie mencoba menutup mata sambil mengusap perutnya naik-turun.
Namun lagi-lagi gejolak tersebut datang dan memaksa Vale untuk lari ke dalam kamar mandinya. Valerie memuntahkan kembali isi perutnya ke dalam closet, sambil duduk di lantai kamar mandi.
Valerie menekan tombol di samping closet, lalu kembali ke kamarnya. Valerie mengambil obat yang diberikan Sean tadi siang saat di kantor. Valerie meminum pil tersebut, lalu berbaring kembali ke atas ranjangnya.
Tiba-tiba suara bunyi ketukan terdengar, membuat Vale menoleh pelan ke arah daun pintu. Pintu terbuka setelah diketuk dan menampilkan sosok Melanie.
"Vale, kamu masih sakit?" tanya Melanie langsung menghampiri Valerie yang terbaring tak bertenaga di atas ranjang.
"Tadinya tidak lagi dan tiba-tiba aku mulai mual-mual." jawab Vale.
"Kita ke dokter saja, bagaimana?" tanya Melanie khawatir. Vale menggeleng lemas.
"Aku tidak ingin Kakek dan Nenek khawatir." ujar Vale.
"Ck... Bagaimana kalau kamu tidak sembuh?" tanya Melanie kesal.
"Tidur sebentar pasti sembuh kok. Kamu tenang saja." kata Vale sambil tersenyum kecil.
"Kita ke dokter sekarang atau aku bakalan bilang Kakek dan Nenek kalau kamu simpan sakit sendirian?" ancam Melanie yang langsung membuat Vale menghela nafas putus asa.
__ADS_1
"Yaudah, kita pergi dengan alasan lain." kata Vale yang dibalas anggukan oleh Melanie.
Vale bangkit dari atas ranjang, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian hangat.
Valerie dan Melanie keluar dari kamar, lalu meminta ijin pada Kakek dan Nenek Vale untuk pergi berbelanja. Cukup mudah dan merekapun meluncur ke Rumah Sakit terdekat.
***
Valerie masuk ke dalam ruangan pengecekan dengan seorang dokter wanita di dalamnya. Valerie duduk dihadapan Dokter tersebut ditemani Melanie yang ikut duduk di sofa yang disediakan di ruangan tersebut.
"Ada keluhan apa?" tanya Dokter tersebut dengan senyum manis.
"Akhir-akhir ini saya mudah lelah dan timbul rasa mual Dok." kata Vale.
"Rasa mualnya muncul disaat apa?" tanya Dokter itu lagi.
"Saya juga tidak mengerti Dok, tiba-tiba saja saya merasa ingin muntah saat makan." jawab Valerie dengan wajah heran.
"Kalau saya boleh tau, kapan terakhir kali siklus anda?" tanya Dokter tersebut.
Valerie tampak berfikir. Seharusnya bulan ini dia sudah masuk siklus datang bulannya.
"Mungkin anda yang lebih tau tentang masalah pribadi anda, saya hanya ingin mengatakan, coba anda melakukan tes kehamilan dengan testpack. Sementara saya akan memberikan Vitamin dan penambah energi, selebihnya istirahat lebih banyak dan jangan terlalu stress." ujar Dokter tersebut sambil menuliskan resep di atas kertas dan memberikannya pada Vale yang terdiam mematung.
"Silahkan tebus di apotek." ujar Dokter tersebut. Valerie menerima kertas tersebut dengan wajah tak terbaca, lalu bangkit dan keluar dari sana dengan Melanie.
Melanie meraih bahu Valerie saat ia rasa sahabatnya itu hampir jatuh. "Vale." panggil Melanie mencoba menyadarkan Valerie dari keterdiamannya.
"Aku tidak mungkin hamil." ujar Vale dengan wajah pucat tak percaya sambil menggeleng cepat.
"Valerie!" sentak Melan sambil mengguncang bahu Valerie.
Valerie menatap Melanie dengan wajah pucat panik. "Kita belum tau hasilnya, kamu tenang dulu." ujar Melanie lembut untuk menenangkan Valerie.
"Kamu duduk disini saja, aku akan menebusnya ke Apotek." ujar Melanie meriah kertas di tangan Valerie dan pergi setelah memastikan Valerie duduk tenang.
Tidak butuh waktu lama, Melanie kembali dengan bungkusan obat di tangannya. "Ini obatnya, aku juga sudah membeli testpack, kita coba di apartemenmu saja." kata Melanie sambil menggandeng Valerie yang masih berperang dengan pikirannya.
__ADS_1
Mulai dari pemeriksaan tersebut, Vale banyak diam layaknya zombie. Baik di mobil, bahkan sampai ke Apartemen dan ke kamar Valerie, wanita itu masih terdiam menutup mulut.
"Kamu periksa sana!" ujar Melanie memberikan testpack pada Valerie sambil menunjuk kamar mandi sahabatnya itu.
Valerie meraih testpack tersebut takut. "Bagaimana jika aku benar-benar hamil?" tanya Vale dengan mata memanas.
"Kita pikirkan nanti setelah hasilnya keluar." jawab Melanie berusaha menenangkan Valerie.
Valerie mengangguk pelan, lalu lintas langkah masuk ke dalam kamar mandi. Melanie duduk di atas ranjang Vale sambil menunggu dengan hati tak tenang.
Pintu terbuka, menunjukkan sosok Valerie yang menundukkan kepala sambil menggenggam alat testpack di tangan kirinya.
Melanie diam menunggu Valerie angkat bicara. Namun sahabatnya itu masih berdiri diam tanpa suara. Tangan kiri Valerie terangkat memberikan testpack tersebut pada Melanie.
Melanie menerima alat tersebut dan menatapnya lekat. Tangis Valerie langsung meluncur saat Melanie menatap alat tersebut dalam diam.
Valerie terduduk di atas lantai kamarnya sambil menutup wajah dengan telapak tangannya. Isakan Valerie terdengar menyedihkan dan menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Melanie menunduk lalu merengkuh tubuh rapuh Valerie ke dalam dekapannya. "It's okay Valerie, it's okay." kata Melan sambil mengusap punggung Vale naik turun.
"Tidak ada yang baik-baik saja Melanie. Hiks.. Bagaimana denganku sekarang? Hiks.. apa yang harus aku katakan pada Kakek?" tanya Valerie sambil menangis. Jika Kakeknya tau, Kakeknya pasti akan sangat kecewa padanya.
"Katakan semuanya pada Sean! Dia harus bertanggung jawab!" ujar Melanie.
"Dia akan menikah dengan tunangannya. Keluarganya tidak menyukaiku." jawab Vale frustasi.
"Aku akan menggugurkannya." kata Vale putus asa. Melanie terkejut bukan main mendengar ucapan gila Valerie.
"Kau gila? Dia anakmu, darah dagingmu, bagaimana bisa kau berpikir segila itu?" tanya Melanie dengan nada bergetar.
Valerie terisak menutup mulutnya yang mengeluarkan kata-kata bodoh tersebut. "Hiks.. Melanie, aku takut." ujar Valerie memeluk sahabatnya itu erat dengan wajah penuh air mata.
Melanie ikut meneteskan air mata sambil membalas pelukan Valerie tak kalah erat.
"You still have me by your side." ujar Melanie lembut.
Bersambung...
__ADS_1
Hope you Enjoyππ€