
Valerie menatap ke sekeliling ruang rapat yang kini kosong melompong dan hanya tersisa dirinya dan Sean di dalam.
"Sir, ini di ruang rapat." ujar Vale gugup dan tak berani menatap wajah Sean.
"Jika di ruanganku, apa aku bisa melakukan ini?" tanya Sean dengan jarak yang sangat dekat dengan wajahnya. Nafas panas Sean menerpa wajahnya dengan lembut.
Valerie mencoba menarik nafas, menahan sesuatu di dalam dirinya yang mulai merasa resah. Sean yang tersenyum miring menatap wajah memerah Vale, kini mendekatkan wajahnya ke leher Valerie.
Mencium aroma kesukaannya dari leher Valerie yang terekspos. "Sirhh.." Vale meringis sambil menutup mata saat hidung Sean menggesek batang lehernya naik turun sambil menghirup udara dari kulitnya.
Tangan Valerie naik ke atas dada Sean, lalu mencoba mendorongnya menjauh. Sean dengan sigap menarik pinggang Valerie semakin dekat dengannya.
Sean tersenyum kemenangan melihat ekspresi Vale saat ini. "Lepaskan saya Sir!" ujar Vale masih berusaha sopan pada Sean, namun Sean malah terkekeh puas melihatnya.
Tangan Sean merambat menuju pipi mulus Vale, lalu mengusapnya dengan begitu lembut. "Aku merindukanmu sayang." batin Sean berteriak kencang sambil menatap wajah Valerie lekat.
Vale mencengkeram kemeja bagian dada Sean dengan frustasi. Dia tidak bisa berdekatan dengan Sean lebih lama lagi, kalau tidak dia bisa lupa diri.
Valerie memukul dada Sean berulang kali, lalu memukul hidung Sean dengan kepalanya sendiri. Sean meringis menjauh sambil mengusap bagian wajahnya yang terkena kepala keras Valerie.
Valerie merapikan bajunya yang sedikit kusut sambil menatap Sean tajam. Setelah selesai, Valerie dengan cepat kabur dari ruangan tersebut agar Sean tidak mengejarnya.
Sean mengusap hidungnya sambil terkekeh senang. "Singa betina." desis Sean dengan senyum manisnya sambil menatap pintu yang kini tertutup rapat.
***
"Dasar bereng*ek, bejat, bajin*an, Playboy. Arghhh... Menjengkelkan." teriak Valerie di ruangannya.
Masih dengan wajah marah, Valerie mengutuki Sean dengan penuh emosi yang membara. Valerie memukul mejanya dengan kesal, namun naas, tangannya malah memerah kesakitan.
Valerie meringis sambil mengusap tangannya. "Arghh... Semua gara-gara dia." ujar Vale marah sambil mengingat wajah tengil Sean yang sengaja mengganggunya.
Valerie mendengus kesal saat ponselnya bergetar. Disaat badmood seperti ini, rasanya Vale ingin membuang ponselnya yang berisik itu.
Vale menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Aiden yang di sana. Vale mengernyit, lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Aiden, Ada apa?" tanya Valerie.
"Vale, mau makan siang bersamaku?" tanya Aiden dari seberang sana, sambil memasang senyum manisnya.
"Boleh." jawab Vale sambil tersenyum.
"Mr. Zachary." alis Vale mengernyit saat mendengar suara wanita dari seberang sana. Terdengar tidak asing di telinga Vale.
__ADS_1
"Ms. Petrova." mulut Vale langsung terkatub dengan raut tak percaya. Wanita di seberang sana adalah Anna—Tunangan Sean.
"Anda di New York?" tanya Aiden.
"Tentu saja. Tunangan saya di sini, saya juga harus berada di sini." jawabnya.
Vale kini menggenggam erat ponsel di telinganya sambil mendengar jelas percakapan Aiden dan Anna. Jadi, Sean pulang ke New York bersama dengan tunangannya. Valerie pikir, Sean pulang seorang diri.
"Anda sudah selesai syuting?"
"Sudah. Ada apa Ms. Petrova datang menemui saya sampai ke tempat syuting?" tanya Aiden dengan wajah bingung.
"Siang ini anda sibuk? Saya ingin mengajak anda makan siang." ujar Anna dengan senyum manisnya.
Aiden tampak berpikir sejenak. "Saya sudah janji makan siang dengan seseorang hari ini." ujar Aiden menolak dengan halus dan masih memasang senyum sopannya.
Anna tampak tersenyum dan terkekeh beberapa detik. "Dengan gadis itu?" tanya Anna memasang senyum di bibirnya, namun terselip emosi di matanya.
Aiden seakan mengerti siapa yang dibicarakan oleh Anna. "Iya benar." jawab Aiden.
Anna mengangguk singkat. "Bagaimana jika saya ikut makan siang dengan kalian?" Aiden menatap mata Anna lekat. Pria itu berdiri diam sambil berpikir keras di kepalanya.
"Saya pikir, saya harus bertanya dengannya terlebih dahulu." ujar Aiden. Anna lagi-lagi tersenyum, namun terlihat mengerikan.
Aiden mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Valerie, kamu mendengarnya?" tanya Aiden.
"Humm." dehem Vale mengiyakan.
Aiden membuang nafasnya pelan, betapa bodohnya dia sampai ia melupakan sambungan telepon dengan Valerie. "Bagaimana menurut kamu?" tanya Aiden.
Valerie yang duduk diam di kursi ruangannya menggigit bibir ragu. "Tidak apa-apa. Aku juga ingin meminta maaf dengan benar atas kejadian hari itu." ujar Vale memaksakan senyum.
Aiden mengangguk mengerti, walau ia tau Valerie tidak tau ia sedang mengangguk. "Aku akan menjemputmu." ujar Aiden.
"Baiklah." jawab Valerie.
"Sampai jumpa nanti."
"Sampai jumpa Aiden."
Valerie dan Aiden memutuskan panggilan telepon secara bersamaan. Aiden menatap Anna yang masih berdiri di depannya untuk menunggu jawaban.
"Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan juga pada anda, jadi anda boleh bergabung."
__ADS_1
"Baguslah." jawab Anna masih dengan senyumnya, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas.
"Ini kartu namaku, kirim saja alamat Restoran dan waktunya ke nomor di sana." ujar Anna sambil menunjuk kertas dengan lirikan matanya.
Aiden mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu saya permisi." ujar Anna, lalu melangkah pergi dari sana.
Di lain sisi, Valerie terdiam sambil menggigit jempolnya. "It's okay Vale, it's just a lunch." ujar Vale pada dirinya sendiri.
"Lagipula tidak ada Sean bukan? Aku juga tidak ingin tunangan Sean memiliki dendam padaku." ucap Vale masih melanjutkan monolognya.
Valerie mengusap dadanya yang terasa berdetak kencang. "Huhhh, you can do this Valerie." Valerie menggenggam tangannya erat guna menyemangati dirinya sendiri.
***
Valerie masuk ke dalam Restoran yang sudah di pesan oleh Aiden bersama dengan Aiden di sampingnya. Valerie menatap sosok Anna yang sudah duduk manis menunggu kedatangan mereka.
Valerie tanpa sadar menggenggam erat lengan Aiden dan mendekat pada pria itu. Aiden dan Vale sampai di meja mereka.
"Ms. Petrova, anda datang lebih dulu, maaf membuat anda menunggu." ujar Aiden.
"No problem Mr. Zachary, lagipula anda juga tidak lewat dari waktu yang dijanjikan." ujar Anna membalas dengan senyum lembut, layaknya seseorang yang murah hati.
Valerie menatap Anna sambil menundukkan kepalanya. "Apa kabar Ms. Petrova?" ujar Valerie mencoba tersenyum sopan. Anna tersenyum, lalu menatap tepat di mata Valerie dengan begitu lekat.
"Sangat baik." jawab Anna dengan senyum miringnya. Valerie menelan ludah saat melihat ekspresi Anna yang tampak jelas tidak menyukainya.
"Ayo duduk Vale." ujar Aiden sambil menarik kursi untuk di duduki oleh Valerie.
Valerie duduk berhadapan dengan Anna dan Aiden duduk di sebelah kiri Valerie. Saat Aiden bertanya ia ingin memakan apa, Valerie menjawab singkat dengan mengatakan, apapun yang Aiden pesan akan dia makan.
Valerie begitu gugup jika berhadapan dengan Anna yang benar-benar penuh karisma. Terpancar jelas garis bangsawan dari wajah wanita di depannya itu, membuat Valerie merasa seperti akan dihukum.
Mereka memakan makanan yang tersaji sambil berbincang ringan. Walau Aiden dan Anna saja yang berbincang, Vale malah merasa itu lebih baik, karena ia tidak ingin terlibat percakapan dengan Anna.
"Bukankah Ms. Vasylchenko Ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Anna sambil menatap Vale dengan senyum menantang.
Valerie mengangguk gugup mendengarnya. "maaf atas kejadian yang terjadi di pesta pertunangan anda hari itu." ujar Vale yang berhasil membuat Anna tersenyum sambil menampilkan jejeran gigi rapinya.
"Tidak perlu meminta maaf, karena aku tidak pernah menganggap hal itu terjadi di acaraku."
Bersambung...
Next Up : 11/8
__ADS_1
Satu kata untuk Anna!