
Aiden menarik nafas dalam sambil mengusap keringat yang bercucuran dari keningnya. Wajahnya terlihat sedikit memerah karena sengatan matahari. Di badannya masih terdapat sebuah tali pengaman setelah ia melakukan beberapa aksi laga.
Seorang asisten datang menghampiri Aiden sambil memberikan minuman dan mengusap keringat Aiden dengan handuk kecil.
Aiden meminum airnya dengan tegukan cepat karena kelelahan. Aiden duduk di kursi miliknya sambil menarik nafas agar teratur.
Aiden terdiam. Sudah beberapa minggu ia tidak menghubungi Valerie karena jadwal shooting film nya yang padat. Ia merindukan wanita itu.
"Berikan ponselku!" ujar Aiden pada asistennya.
Asistennya mengangguk dan memberikan ponsel Aiden padanya. Aiden menatap lekat ponselnya dan mencari nama Valerie di sana.
Setelah dapat, Aiden tanpa basa-basi langsung menelepon Valerie.
Aiden menunggu dalam diam, hingga akhirnya panggilan teleponnya terhubung.
"Halo Vale."
"Aku Sean."
Aiden terdiam mendengar suara tak asing tersebut. "Dimana Valerie?" Tanya Aiden dingin.
"Kau mencari istriku? Dia sedang tertidur sekarang." jawab Sean dengan nada mengejek.
Rahang Aiden mengeras. "Kau memaksa dan menyakiti hatinya lagi?" tanya Aiden dengan nada tak suka.
Sean terkekeh. "Apa kau secara tidak langsung sedang menasihati aku?" tanya Sean.
Aiden ikut terkekeh miring. "Aku hanya mengkhawatirkan Valerie." ujar Aiden.
"Siapa yang menelepon Sean?" Aiden mengernyit mendengar suara Valerie dari kejauhan.
"Aiden." jawab Sean jujur.
Terdengar grasak-grusuk sebentar, hingga akhirnya terdengar suara Vale menyapanya. "Halo Aiden." ujar Vale gembira.
Aiden terdiam sejenak. Nada bicara Valerie terdengar bahagia dan seolah-olah tidak terjadi apapun padanya.
Aiden tersenyum miris. "Apa kabar?" tanya Aiden.
"Baik, kamu?" tanya Vale balik.
"Aku baik." jawab Aiden.
"Baguslah. Bagaimana dengan proses shooting film barumu?" tanya Valerie.
"Semuanya berjalan lancar."
Terdengar suara Valerie tertawa. "Sean berhenti! Aku sedang berbicara dengan Aiden."
"Tidak mau. Kamu mencuekiku setelah menerima panggilan dari dia." ujar Sean dari seberang sana.
Aiden terdiam hanya mendengarkan percakapan dua insan di seberang telepon dengan dada sesak. Aiden pikir ada kesempatan baginya.
Ternyata tidak. Valerie sudah menentukan kemana hatinya berlabuh dan itu adalah Sean bukan dirinya.
"Valerie, sepertinya aku harus melanjutkan shooting kembali." ujar Aiden tak bersemangat.
"Benarkah? Sayang sekali kita hanya berbincang sebentar. Kamu harus menemuiku setelah shootingmu selesai."
"Baiklah." jawab Aiden.
"Okey, bye."
"Bye."
__ADS_1
Valerie memutuskan panggilan telepon mereka. Aiden menatap layar ponselnya dengan miris. Saatnya dia menyerah.
Valerie bukanlah takdirnya. Aiden hanya bisa mengagumi Vale dari jauh. Dia tidak bisa lagi berharap untuk mendapatkan hati Valerie. Antara dia dan Valerie, semuanya selesai.
***
Sean dan Valerie berdiri beriringan di bawah sebuah jet pribadi sambil menunggu seseorang dengan raut penuh harap.
Sean dan Valeri saling mengaitkan tangan masing-masing dengan wajah tak sabar. Vale menoleh ke arah Sean, menatap raut wajah Sean yang terlihat khawatir.
Valerie langsung mengelus lengan Sean untuk menenangkannya, dan berhasil. Sean menatap ke arah Vale sambil tersenyum lembut, lalu mengecup singkat puncak kepala Valerie.
Beberapa menit kemudian, turun beberapa orang dengan pakaian medis beserta sebuah ranjang rumah sakit dorong dari dalam jet. Disinilah mereka, menyambut kedatang Ibu Sean dari Rusia untuk dirawat di sini.
Sean dan Valerie mendekat. Terlihat Ibu Sean terbaring tenang seperti biasanya bersama dengan Zein.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Sean pada Zein.
"Semuanya berjalan normal sampai ke sini." jawab Zein. Sean mengangguk lega.
"Aku sudah menyiapkan mobil untuk mengantarmu dan Ibuku ke sana. Untuk Dokter dan perawat lainnya selain Dokter Zein, kalian bisa kembali ke Rusia."
"Tetapi Tuan, kami diperintahkan oleh Tuan besar untuk mengawasi...."
"Aku menyuruh kalian pulang! Negara ini bukan negara kekuasaan Romanov, jadi lebih baik kalian pergi." ujar Sean dingin dengan wajah marah.
Para Dokter dan Perawat itu menunduk dengan wajah takut, lalu akhirnya pergi masuk kembali ke dalam jet.
Sean merangkul pinggang Vale mendekat padanya, lalu menatap Zein lagi.
"Aku akan menyusul ke sana nanti, kau pergilah dulu dan pastikan Ibuku aman."
"Baiklah." ujar Zein, lalu pergi bersama dengan pengawal Sean yang menuntunnya.
"Kita mau kemana?" tanya Vale bingung.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sean sambil mengusap perut Vale yang lumayan membuncit.
"Baik." ujar Vale.
"Kalau begitu, ayo kita pergi." ujar Sean sambil menarik tangan Vale pelan.
Valerie mengikuti langkah Sean, masuk ke dalam mobil pria itu dan pergi entah kemana Sean membawanya.
***
Valerie mengernyit saat mereka sampai di pelabuhan. Valerie dan Sean turun dari mobil. Sean menggenggam tangan Vale dan menuntun wanita itu untuk naik ke atas yacht.
"Kita mau kemana?" tanya Valerie bingung.
"You Will know it soon." ujar Sean.
Valerie mendengus kesal mendengarnya. Sean menuntun Valerie untuk duduk dengan nyaman di sofa yacht tersebut. Beberapa menit kemudian Yacht itu mulai berjalan lumayan cepat entah kemana.
Perjalanan mereka lumayan lama, sampai-sampai Vale mengantuk karena benturan angin laut yang menerpa wajahnya.
Valerie menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean dengan mata sayu. Tangannya juga memeluk erat perut Sean.
"Aku mengantuk." desis Vale yang terdengar oleh Sean.
"Tidurlah." ujar Sean sambil mengusap kepala Vale naik turun dengan penuh sayang agar wanitanya itu bisa tertidur.
Tak butuh waktu lama, Vale langsung masuk ke alam bawah sadarnya.
Tiga jam kemudian.
__ADS_1
Valerie mengerutkan keningnya sambil bergerak tak nyaman. Vale mulai mengerjabkan matanya, menyesuaikan pandangannya sambil menatap ke sekelilingnya dengan wajah bingung.
Tidak ada Sean. Ia terbangun sendirian di sebuah kamar asing yang tak pernah ia lihat.
"Sean." panggil Valerie panik.
Tidak ada sahutan apapun, rasa panik Vale semakin meninggi. Valerie menyingkap selimut yang menutup tubuhnya, lalu turun dari atas ranjang.
Valerie keluar dari kamar tersebut, menyusuri lorong yang terlihat sangat asing dan luas dengan takut.
"Sean." panggil Vale lagi dengan nada bergetar.
Mata Vale memanas. Dia dimana? Sean dimana? Setitik air turun membasahi pipinya.
Vale terisak seperti anak kecil yang hilang di keramaian Mall sambil mencari Ibunya.
Valerie mengusap pipinya yang basah dengan mata memerah saat ia lihat sosok Sean duduk dengan dua orang pria lainnya di sebuah ruangan, layaknya ruang keluarga.
"Hiks, Sean." panggil Vale sambil melangkah dengan wajah penuh air mata.
Sean menoleh dan langsung berdiri menghampiri Vale dengan raut khawatir.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Sean.
Valerie langsung memeluk Sean erat-erat sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sean.
"Hiks, aku pikir kamu pergi." ujar Vale sambil terisak.
"Shhh, maaf ya sayang." ujar Sean sambil mengecup puncak kepala Vale berulang kali.
"Aku takut hiks."
Sean mengelus punggung Vale naik turun, lalu menggendong Valerie ala koala.
Valerie memeluk leher Sean dan menenggelamkan wajahnya di leher Sean.
Sean membawa Valerie untuk duduk di sofa dan mendudukkan Valerie dipangkuannya.
"Masih ngantuk?" tanya Sean. Vale menggeleng.
"Maaf aku tidak menunggu kamu bangun." ujar Sean. Vale lagi-lagi menggeleng.
"Kamu masih disini." ujar Vale lembut.
"Berapa lama lagi kami harus melihat acara mesra-mesraan kalian?" tanya seorang pria.
Vale mengintip ke sumber suara. Ia malu menunjukkan wajahnya yang menagis.
"Tontonan yang menarik Ben." ujar salah satunya lagi dengan senyum menggoda.
Vale langsung menyembunyikan lagi wajahnya di leher Sean.
"Jangan menggoda istriku Gilbert." ujar Sean.
"Aku tidak menggodanya." jawab Gilbert.
"Hanya saja, wanitamu terlihat seru untuk digoda." timpal Ben sambil tertawa bersama Gilbert setelahnya.
Sean memasang wajah marah dan dinginnya dengan tatapan tajam menusuk.
"Sean, kau sangat kaku, tidak bisa diajak bercanda, tidak seru." ujar Ben.
"Biarkan dia Ben, sebentar lagi juga dia akan pergi dan istrinya akan tinggal bersama kita." ujar Gilbert lagi-lagi menggoda Sean.
"Aku salah meminta tolong pada kalian."
__ADS_1
Bersambung....