
Tidak terasa hari-hari berat Valerie berlalu. Akhirnya hukuman lembur yang diberikan Sean sudah selesai. Valerie tidak lagi menghabiskan waktu di kantor seperti orang bodoh.
Senyum Vale merekah memikirkan sekarang adalah hari libur. Valerie sekarang sedang bersiap-siap untuk hangout dengan sahabatnya, Melanie.
Valerie memakai dress santai selutut dengan warna cerah, karena sekarang mulai memasuki musim semi, Valerie ingin penampilannya berbaur dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Sentuhan terakhir Vale berikan di bibirnya yang tampak berwarna peach menggoda. Valerie tersenyum melihat penampilannya di full mirror, lalu melangkah keluar dari kamarnya dengan segala tetebengeknya.
Valerie melangkah menuju ruang tamu dimana Melanie sedang berbincang dan tertawa bersama Nenek dan Kakeknya.
"Yuk pergi." ajak Vale menatap Melanie dengan senyum gembira.
Melanie berpamitan dengan Kakek dan neneknya, begitupun Valerie. Kedua wanita tersebut masuk ke dalam mobil dengan Valerie yang menjadi supirnya.
"Kita mau kemana nih?" tanya Vale pada Melanie sambil tersenyum begitu cerah.
"Aku udah nyiapin sesuatu spesial. Kali ini aku yang bawa mobil." ujar Melanie sambil keluar dari dalam mobil dan mengambil alih kursi pengemudi.
Valerie hanya mengikuti perkataan Melanie dan duduk tenang di sebelah Melanie.
"Jangan macam-macam ya." ujar Vale.
"Iya."
***
Valerie memandang ke arah jendela, lalu menatap taman di tepi jalan yang dipenuhi pohon rindang dan bunga. Valerie menatap ke arah langit yang begitu tampak bersahabat. Tidak dingin dan tidak panas. Rasanya sejuk dan damai.
Valerie tersenyum setiap kali memandang indahnya musim semi yang menawan. Sampai-sampai ia tidak sadar mereka sudah sampai tujuan.
Vale menatap ke sekitarnya saat ia rasa mobil yang Melanie kendarai berhenti di tepi jalan.
"Udah sampai?" Tanya Vale heran.
"Udah. Ayo turun!" Melanie mematikan mesin mobil, meraih tasnya dan turun dari mobil.
Valerie mengernyit heran, namun akhirnya ikut turun bersama Melanie. Valerie menatap sebuah Restauran mewah di depannya dengan mata menyipit.
Melanie menyerahkan kunci mobil kepada petugas Valet. Valerie berdiri di samping Melanie dengan wajah berkerut.
"Ngapain ke sini? Aku baru aja makan sebelum berangkat." ujar Vale.
"Aku udah nyusun kencan buta buat kamu. Kamu kenalan dulu sama dia, mana tau cocok."
"APA?" Melanie mengusap telinganya yang berdentum saat Vale berteriak tepat di telinganya.
"Berisik Vale."
"Kamu gila ya?" Vale menatap Melanie dengan wajah tidak percaya.
Melanie memutar matanya kesal. "Udah ikut aja, lagian kamu mau sampai kapan jomblo sih?" ujar Melanie menatap Vale dengan wajah prihatin.
Valerie menonjok bahu Melanie kesal sambil mengucap serapah karena diejek oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Melanie menarik Valerie masuk ke dalam Restauran dengan susah payah. Valerie selalu menarik dirinya sendiri agar tidak masuk ke dalam sana. Namun Melanie juga tidak ingin kalah dan menarik Vale dengan sekuat tenaga.
"Hai." Vale menatap ke arah mata Melanie yang menyala seseorang.
Terlihat sosok pria dengan senyum manis mirip Aiden, bangkit menyapa Melanie dan dirinya.
"Hai." jawab pria itu dengan senyum malu-malu.
Melanie menarik lagi Vale dengan paksa agar duduk di kursi, namun tetap memasang senyum seperti tidak terjadi apapun pada pria di depan mereka itu.
Valerie akhirnya duduk di kursi tersebut dengan penuh paksaan. "Ini teman aku yang mau aku kenalin sama kamu." ujar Melanie dengan senyum bersahabat.
"Kenalin aku Harry."
"Valerie." jawab Vale singkat sambil menerima uluran tangan pria itu.
Melanie bangkit berdiri, membuat Vale langsung menatap sahabatnya itu dengan wajah panik.
"Mau kemana?" tanya Vale.
"Aku mau ke toilet bentar." ujar Melanie, lalu pergi begitu saja meninggalkan Vale dan pria yang abru Valerie kenal.
"Kamu kerja di tempat Melanie juga?" tanya pria bernama Harry tersebut.
"Iya." jawab Vale kikuk.
15 menit berlalu, membuat Vale merasa yakin kalau Melanie pasti sudah meninggalkannya. Valerie benar-benar jenuh menghadapi pria di depannya ini.
Pria bernama Harry ini selalu melontarkan pertanyaan padanya. Tinggal dimana? Tinggal bersama siapa? Anak tunggal atau tidak? Umur berapa? Sampai akhirnya, menanyakan nomor teleponnya.
Harry tiba-tiba meraih tangannya yang berada di atas meja. Valerie reflek menghempaskan tangan Harry menjauh sambil bangkit dengan wajah kaget.
Pria itu ikut panik dan ikut bangkit menatap Vale. "Anda melebihi batas." ujar Vale menatap Harry marah.
"Apa? Lagipula ini kencan buta, seharusnya kau tau cara mainnya." ujar pria itu iku marah karena tidak terima.
Valerie mendecak. "Jadi saya harus diam jika anda bersikap tidak senonoh dengan saya?" tanya Vale meninggikan suaranya, hingga menarik perhatian pengunjung lainnya.
Harry berdiri panik saat menerima tatapan mencemooh dari para pengunjung lainnya. "A—aku sudah membayar tubuhmu dan kau berteriak untuk menarik simpati orang lain?" tanya Harry ikut meninggikan suara sambil menunjuk Vale dengan tatapan merendah.
"APA?" Vale berteriak marah mendengarnya.
"Tuan Harry, saya bisa menuntun anda sekarang juga karena pelecehan dan pencemaran nama baik." ujar Valerie marah dengan mata menusuk tajam.
Valerie benar-benar kesal karena pria di depannya ini, menuduhnya seolah-olah ia perempuan yang sedang menjual diri.
Pria tersebut tampak mendecak kesal sambil berkeringat dingin, lalu beranjak keluar dari Restauran dengan begitu cepat. Valerie menatap kepergiannya dengan geram, namun berusaha menahannya dan membiarkan pria itu kabur.
Valerie kembali duduk dan menenangkan hati dan pikirannya. Harinya langsung rusak karena hal ini. Padahal ia berharap, hari ini akan indah karena musim kesukaannya sudah tiba.
"Valerie." Vale menoleh ke sumber suara dan mendapati Melanie yang melangkah ke arahnya dengan raut khawatir.
Vale mendecak kesal. "Pulang! Aku badmood." ujar Vale sambil bangkit berdiri dengan wajah datar dan berjalan mendahului Melanie.
__ADS_1
"Maaf Vale aku nggak tau dia bakalan berbuat itu." ujar Melanie sambil mengejar Valerie.
***
Valerie melangkah ke arah balkon kamarnya, berdiri di tepi pagar sambil menatap sebuah rumah yang berada di seberangnya.
Rumah Sean. Rumah pria itu terlihat sepi di luar, apakah Sean ada di rumah bersama dengan tunangannya? Pertanyaan itu muncul di otaknya.
Vale membuang nafas menyingkirkan segala pikirannya yang berlebihan. "Lagipula mereka sudah bertunangan, wajar saja jika tinggal bersama." ujar Vale bermonolog.
Beberapa hari di kantor saat menjalani hukumannya, Valerie tau Sean juga bertahan di kantor. Valerie tau karena tinggal mobil Sean dan mobil miliknya yang berada di Basement.
Valerie juga bisa menyimpulkan, kalau Sean yang membawanya pulang ke rumah saat hari pertama ia lembur dan tertidur di kantor.
Yang Valerie bingung dan herankan adalah, kenapa Kakeknya tidak pernah bertanya mengenai Sean pada dirinya? Kakeknya benar-benar sensitif jika melihat seorang pria datang ke rumah untuk menemuinya.
"Sebenarnya Sean melakukan apa pada Kakek sehingga Kakek diam saja?" batin Vale heran.
Pikiran Valerie buyar saat ponsel di tangannya bergetar dan berdering sekejab. Valerie mengangkat ponselnya dan mengecek sebuah pesan dari nomor tidak dikenal yang masuk ke dalam ponselnya.
Kau suka hadiah dariku?
Anonymous.
Valerie mengernyit beberapa saat, lalu tersadar dengan wajah terkejut.
"Apa kotak hadiah hari itu?" batin Vale dengan mulut terbuka lebar.
Pesan kembali masuk ke ponselnya.
Mau bermain denganku?
Valerie menarik nafas dalam-dalam. Apa ini pesan iseng dari seseorang yang ingin mengerjainya.
Valerie menarikan jarinya di atas layar ponselnya.
Kau siapa?
Sebuah pesan kembali masuk.
Anjing hitammu
Valerie menggenggam erat ponselnya. Anjing hitam di foto itu? Anjing hitam apa maksudnya?
"KEBAKARAN."
Vale menoleh ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup. Terdengar jelas suara teriakan Bibinya yang menggelegar di seisi rumah. Valerie menatap sembulan asap yang mulai masuk melalui celah pintunya.
Valerie dengan panik melangkah ke arah pintu dan membukanya. "AAHh." Vale berteriak nyaring saat api menyulut masuk ke dalam kamarnya, tepat setelah Valerie membuka pintu. Mata Vale menatap kobaran Api panas yang mulai merambat menghabisi sudut-sudut rumahnya. Valerie tidak bisa keluar, ia terkurung di kamarnya yang juga mulai dilalap api. Apa yang harus dia lakukan?
Bersambung....
Next Chapter : 16/8
__ADS_1
Ayo siapa yang bisa tebak apa maksud Anjing Hitam???
Maaf malam up nya. Aku mau bagi berita bahagia. Akhirnya aku lulus dan masuk ke Univ yang aku inginkan. Makasih Support dan pengertian kalian serta doanya ya. 💓💓