The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 37


__ADS_3

Akhirnya Sean Update.


Tekan tombol likenya dulu dong.


Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.


~Selamat membaca~


***


Sean memasuki mansion Romanov dengan langkah santai. Kakinya melangkah perlahan menyusuri koridor, hingga sampai ke ruang keluarga.


"Sean." Sean menoleh kesumber suara dan mendapati seorang wanita cantik dengan gaun glamournya.


"Kendra, ada apa?" tanya Sean dingin sambil duduk disofa. Kendra melangkah anggun mendekati Sean dan duduk di depan Sean.


Kendra adalah kakak perempuan Sean. "Siang ini, Papa akan sampai ke sini. Keluarga Romanov dan Keluarga Petrov akan mengadakan makan malam untuk membicarakan rencana pertunanganmu dengan Anna." ujar Kendra panjang lebar. Sean memasang wajah dingin tak peduli.


"Aku akan pulang besok." ujar Sean. Kendra mengernyit bingung.


"Kenapa cepat sekali? Seharusnya kau meluangkan waktu untuk berdekatan dengan Anna." ucap Kendra tak setuju dengan kalimat Sean.


"Aku akan tetap pulang besok apapun yang terjadi." ucap Sean tak terbantahkan. Kendra membuang nafas pasrah. Sean adalah orang dingin, tegas dan keras kepala.


"Terserahmu." ujar Kendra tak mau ambil pusing.


"Sean, kamu datang kemarin, kenapa tidak langsung menemui Mommy?" suara menggelegar itu langsung membuat seluruh pelosok mansion tau siapa pemiliknya.


Wanita paruh baya dengan dandanan mewah itu, mengambil duduk di sebelah Sean.


"Papa kamu baik-baik saja kan di sana?" tanyanya mommynya.

__ADS_1


"Hmm.." jawab Sean lagi.


"Mommy, biarkan Sean beristirahat! Ingat, malam nanti kita akan mengadakan makan malam." timpal Kendra menatap mommynya lekat.


"Oh iya, pasti kamu lelah kan? Istirahat dengan tenang, Mommy buatkan buah-buahan untukmu nanti." ujar mommynya dengan penuh semangat. Sean mengangguk dan beranjak pergi menuju kamarnya.


Sean masuk ke dalam kamarnya dan berbaring pelan ke atas ranjangnya. Berusaha menutup matanya yang mulai lelah untuk terus terbuka.


Dilain sisi.


Valerie tampak sibuk dengan laptop di depannya. Matanya menatap lekat layar laptop dan sesekali melempar tatapan ke kertas-kertas yang dia pegang.


Hingga, bunyi ponselnya menganggu kegiatan bekerjanya. Vale meraih ponselnya dan menatap layarnya sebentar.


Aiden. Tertera namanya di sana.


Vale menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.


"Hallo Vale. Aku sedang tidak sibuk hari ini, ingin makan siang bersamaku?" tanya Aiden di seberang sana.


"Tidak mungkin aku makan siang denganmu, ditengah gosip yang ramai ini Aiden." jawab Vale pelan.


Aiden terdengar menghela nafas kasar di seberang sana. "Aku merindukanmu. Apa yang harus kulakukan, untuk dapat bertemu denganmu?" tanya Aiden frontal.


Vale menegang kaku mendengar ucapan Aiden yang begitu mengagetkannya. Vale terdiam tak tau harus menjawab apa.


"Uhm... Seperti akhir-akhir ini kita tidak bisa bertemu Aiden. Sebelum semua gosip ini mereda." ujar Valerie dengan nada hati-hati. Dia takut menyakiti hati pria itu


Aiden terdengar menghela nafas pasrah. "Baiklah. Aku akan menemukan cara untuk bertemu denganmu secepatnya. Bye." setelah mengatakan itu, Aiden menutup sambungan telepon mereka, tanpa menunggu balas Vale.


Vale menggigit bibir karena merasa bersalah. Namun, dia meyakinkan diri, kalau dia sudah mengambil keputusan yang tepat. Dia bukan menghindari Aiden, hanya saja, dia tidak ingin menambah panas gosip tentang dirinya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Valerie melangkah malas menyusuri lobi kantornya. Dia sudah mulai terbiasa dengan bisikan-bisikan yang mengganggu telinganya. Dia sudah bisa untuk tidak mempedulikan mereka.


Melanie tersenyum bangga melihat Vale yang mulai bangkit. Namun, Vale melangkah malas ke kantor karena merasa tidak lengkap.


Ya, Sean. Pria itu tidak ada di kantor sehingga semangatnya berkurang. Jangan tanya sejak kapan Vale sangat menyukai pria Overprotective itu, karena Vale pun tidak tau kapan.


Vale hanya tau, dia merasa senang berada dekat dengan Sean dan sedih bila jauh darinya. Ditambah rasa rindu membuncah di dadanya yang menyesakkan.


Valerie masuk ke dalam ruangannya dan mencampakkan tasnya malas. Valerie membaringkan kepalanya malas ke atas meja.


Tok.. Tok.. Tok


"Masuk!" ujar Vale ogah-ogahan masih dengan posisi yang sama.


"Hey, kau dipanggil keruang Presdir." Vale mengangkat kepalanya cepat saat mengenali suara ini.


Suara Brenda yang lama tak dia dengar. Dan apa katanya barusan? Presdir?


Vale bangkit berdiri cepat dengan senyum tak tertahan di bibirnya. Vale berjalan cepat, sampai akhirnya berlari tak sabar.


Memasuki lift, menunggu dengan tak sabar di dalam lift, ke luar dengan cepat dari lift dan berlari menuju ruangan yang ia rindukan. Terutama orang yang berada di dalam sana.


Valerie mendorong pintunya kuat.


BRAK.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2