
Sean menatap laptop di hadapannya yang menunjukkan sebuah grafik dengan banyak garis di dalamnya. Sean dengan teliti menatap dan sesekali menarikan jarinya di atas keypad.
Sampai akhirnya deringan ponsel menginterupsi kegiatannya. Sean mengambil ponselnya dengan asal, langsung mengangkatnya tanpa melihat id sang penelepon.
"Halo."
"Mr. Romanov, saya Thomas ingin memberitahu hasil lab sudah keluar." ujar Thomas dari seberang sana.
Sean langsung terperanjat, matanya tak lagi menatap ke arah laptopnya. "Aku akan ke sana." ujar Sean.
"Baik."
Sambungan telepon terputus. Sean buru-buru bangkit dari kursinya, memakai jasnya dan keluar dari ruangannya. Masuk ke dalam lift dan tertelan oleh pintu besi tersebut.
Sean melangkah cepat menyusuri lobi dan ajaibnya, ia menangkap sosok Valerie yang baru datang bekerja.
Valerie terkesiap saat melihat sosok Sean melangkah menuju arahnya. Begitupun Sean menatap Valerie yang melangkah berlawanan arah dengannya.
Valerie mencoba untuk bersikap biasa saja, hingga akhirnya mereka berpapasan, Valerie menunduk hormat dan Sean melanjutkan langkahnya keluar dari gedung tersebut.
Begitupun Valerie, ia melanjutkan langkahnya menuju lift seakan tidak terjadi apapun di antara mereka, layaknya tidak saling mengenal.
"Sepertinya ada yang aneh." batin Vale.
"Aku akan menanyakannya nanti pada Sean." batinnya lagi mencoba menyingkirkan prasangka buruk.
***
Sean menatap layar komputer yang menunjukkan gambar-gambar yang tidak ia mengerti.
"Cairan itu belum pernah kami temui sebelumnya. Bisa dikatakan ini adalah penelitian baru untuk kami. Aku bisa mengatakan orang yang membuat ini, benar-benar jenius." ujar Thomas menatap layar komputer.
"Apa kegunaannya?" tanya Sean.
"Membuatmu hidup layaknya orang mati." jawab Thomas menatap Sean.
Sean menatap Thomas dengan wajah terkejut. "Bisa dikatakan seperti dongeng Sleeping Beauty, namun di kedokteran ini disebut kelumpuhan. Singkatnya, cairan ini melumpuhkan seluruh anggota tubuh Ibumu, bahkan sampai tidak bisa membuka matanya sendiri." ujar Thomas panjang lebar.
Sean terdiam, namun rahangnya mengetat dan tangannya terkepal. "Jadi cairan ini yang membuat Ibuku tidak pernah bangun sampai selama ini?" tanya Sean.
"Benar. Mereka membuat Ibumu menjadi mayat hidup."
Sean benar-benar tidak menyangka, ia telah dibodohi selama ini. Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat-alat bantu medis selama ini, dan semuanya karena perbuatan Ayah dan Kakeknya.
"Apa Ibuku masih bisa disembuhkan?" tanya Sean menatap Thomas dengan wajah berharap.
__ADS_1
Thomas terdiam sejenak, lalu membuka suaranya. "Ini adalah kasus baru untuk kami. Jika Ibumu dirawat di tempat ini, kami bisa menelitinya lebih lanjut dan berusaha untuk menemukan obatnya." ujar Thomas.
Sean menghela nafas lega, namun ada yang terasa janggal di otaknya. Sean mencoba memutar dan menyusun kembali sesuatu yang terasa mengganjal tersebut.
"Sebentar, bukannya ada sesuatu yang aneh?" ujar Sean menatap Thomas dengan pandangan menyeledik.
"Ada apa?" tanya Thomas.
"Cairan itu disuntikkan bukan hanya satu kali, namun berulang kali." ujar Sean. Thomas menatap Sean dengan kening mengerut dan akhirnya ia mulai mengerti arah pembicaraan Sean.
"Apa mungkin, cairan itu memiliki batas waktu, lalu disuntikkan kembali agar efeknya kembali muncul." ujar Sean.
Mata Thomas melebar. Ia menatap kembali komponen yang terkandung di cairan tersebut.
Thomas menatap Sean kembali. "Mungkin benar. Perlahan-lahan reaksi obat mulai menghilang dan harus diinjeksikan kembali. Namun, melihat dari senyawa penyusunannya, walaupun Ibumu sadar, kemungkinan besar ia akan mengalami kelumpuhan. Entah sementara atau permanen, kita hanya bisa mengetahuinya jika Ibumu sudah kami periksa." ujar Thomas.
Sebuah titik terang. Sean masih ada harapan untuk berjumpa kembali dengan Ibunya. Sean meremas tangannya dengan penuh keyakinan.
"Aku akan mencari cara untuk membawa Ibuku keluar dari Rusia." ujar Sean.
Thomas mengangguk. "Setelah ini, kami mungkin akan membuat kembali terobosan baru dari kasus langka ini." batin Thomas.
"Kami akan mempersiapkan alat terbaik untuk penelitian ini. Kesembuhan Ibuku adalah pencapaian terbaik untuk timku." ujar Thomas melempar senyum hangatnya.
***
Sean melangkah masuk ke dalam mobilnya yang terparkir rapi di Basement. Sean membuka ponselnya setelah ia duduk di kursi pengemudi dan menemukan pesan dari Valerie.
Sean tersenyum singkat, lalu membuka pesan tersebut.
Sean, aku melihatmu keluar dengan terburu-buru, ada apa? Apa terjadi sesuatu?
Sean tersenyum hangat melihat pesan tersebut. Ia tidak menyangka akan membuat wanitanya itu khawatir. Sean mengetik untuk membalas pesan dari Valerie.
Aku merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu.
Valerie yang menerima pesan tersebut mengernyit heran. Bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu malah membalas dengan ucapan manis begini, membuat Valerie tersipu.
Aku baru saja datang untuk bekerja, tidak mungkin keluar begitu saja.
Sean membalas kembali.
Apa yang tidak mungkin? Itu adalah perusahaanku.
Valerie mendengus melihat pesan Sean. Ia membalas.
__ADS_1
Kita bertemu di kantor saja. Baby dan aku ingin makan sushi, cepat ke sini! Bye.
Valerie tersenyum geli, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Sederhana. Valerie hanya ingin Sean untuk membuatnya bahagia, begitupun sebaliknya.
Sean yang melihat pesan tersebut tersenyum kegirangan. Valerie mengidam dan entah mengapa itu membuatnya tersenyum senang. Untuk pertama kalinya Sean berguna menjadi seorang Ayah.
Sean menghidupkan mesin mobilnya, lalu melaju menuju Perusahaannya.
***
Pukul 1 siang. Valerie menatap jam dindingnya sebentar, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Valerie memutar lehernya yang begitu pegal dan tangannya yang sejak tadi berkutat di atas keyboard. Belum lagi matanya yang terasa lelah dan kering.
Bunyi nada dering singkat dari ponselnya, yang artinya pesan masuk. Valerie membuka pesan tersebut.
Sudah waktunya makan siang, berhenti bekerja sayang!
Lengkungan kembali terbit di ujung bibirnya. Valerie tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Jarinya menari di atas layar ponselnya.
Siap bosðŸ¤
Bagus. Naik kesini, Sushi yang kamu pesan akan datang.
Valerie menganga gembira. Sean benar-benar memesan sushi, padahal pria itu tau di alergi dengan beberapa jenis seafood. Pasti Sean memilihnya dengan benar agar ia dapat memakannya.
Aku segera datang.
Vale tersenyum sambil bangkit berdiri. Merapikan berkas-berkasnya agar tidak tercecer, lalu melangkah keluar dari ruangannya menuju ruangan Sean.
Valerie keluar dari lift, menatap ke arah meja Brenda yang tenyata kosong tidak ada orangnya. Valerie melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam ruangan Sean begitu saja.
Mata Valerie langsung berbinar menatap jajaran sushi di atas meja. Valerie melangkah cepat dan menatap sushi tersebut dengan kagum.
Sean yang melihatnya hanya tersenyum geli. "Duduk!" Valerie langsung duduk di sebelah Sean masih menatap sushi tersebut.
"Ingat, makan yang bisa kamu makan!" titah Sean yang langsung dibalas anggukan antusias dari Valerie.
Sean tersenyum kecil melihat tingkah Vale. "Selamat makan Baby." ujar Sean mengelus perut Valerie lembut.
"Selamat makan." jawab Vale menatap Sean dengan senyum lebar.
Setelah itu, Valerie mulai menyantap makanan yang tersaji dengan tak sabar. Sedangkan Sean makan dengan begitu elegan sambil memperhatikan setiap makanan yang Valerie ambil, agar tidak salah.
Bersambung....
__ADS_1