
Namun dilain sisi, seorang pria paruh baya dengan seorang laki-laki tua tengah duduk santai di sebuah ruangan.
Bunyi ketukan pintu terdengar menginterupsi perbincangan kecil mereka. "Masuk!"
Pintu terbuka menunjukkan seorang pria dengan jasa serba hitam masuk sambil menundukkan kepala.
"Tuan besar saya menerima berita dari orang suruhan Tuan di New York, bahwa Tuan Muda menyuruh Nona Petrova untuk membujuk anda agar Ibu tuan muda dirawat di New York."
Gregory terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum miring sambil menghirup kopinya. "Dia akhirnya melakukannya." ujar Gregory sambil menyeduh pelan kopinya.
Pavlo ikut tersenyum gembira melihat Ayahnya gembira. "Apa yang selanjutnya akan kita lakukan Ayah?" tanya Pavlo bersemangat.
"Selanjutnya, membiarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan." ucap Gregory menatap gelas kopinya dengan lekat dan tajam, lalu senyum miringnya kembali tersungging.
"Dia tidak akan pernah menang melawan kita."
***
Anna telah pergi. Dia akhirnya pergi dari Newyork menuju negara asalnya Rusia. Entah apa yang direncanakan wanita itu, dia hanya pergi begitu saja dengan terburu-buru.
Pagi yang indah, Valerie masuk ke dalam Apartemennya sambil membawa tasnya yang berisi baju kotornya. Misinya dan Sean sudah terwujud. Anna telah terpojok dan sekarang mereka akan menunggu hasil kerja Anna.
Bibinya yang menyambutnya dengan senang hati membawakan tas yang Valerie bawa.
"Bi, Valerie mau mandi dulu, baru nanti turun buat sarapan. Oh iya, baju didalam tas kotor, dikeluarin ya Bi."
"Baik Nona."
Tiga puluh menit kemudian, Valerie keluar dari kamarnya, melangkah menuju meja makan dan mencium singkat pipi Kakek dan Neneknya singkat.
"Pagi." sapa Vale.
"Pagi."
Valerie tersenyum kecil, lalu mulai memakan sarapannya. "Kau tidak menginap ditempat Melanie lagi?" tanya Neneknya.
Valerie menggeleng sambil mengunyah telurnya. Neneknya mengangguk paham dan memakan makanannya dengan pelan.
"Nona, saya sudah mengeluarkan pakaian kotor dari tas Nona." ujar Bibinya yang tiba-tiba mendekat.
"Terimakasih Bi." ucap Vale.
"Iya Nona, tetapi saya menemukan susu ini di tas Nona." Vale tersentak mendengarnya.
Valerie melupakan bahwa ia belum mengeluarkan susu dari tasnya sebelum ia menyerahkan tas tersebut pada Bibi. Bibinya meletakkan kotak susu tersebut keatas meja makan.
Neneknya langsung mengambil kotak tersebut dan menelitinya. Valerie yang seakan sudah tertangkap basah, langsung menunduk takut dengan tangan bergetar.
"Ini....Valerie ini punya siapa?" tanya Neneknya terkejut.
Kakeknya yang ikut mengetahui hal itu langsung menatap Valerie lekat dengan tatapan tajam.
"Jawab." Vale tersentak mendengar suara tekanan Kakeknya yang terdengar sangat marah.
Valerie saling menautkan tangan ketakutan dan terus menunduk takut untuk melihat Kakeknya.
"Pu..punya Vale." jawab Vale pelan.
__ADS_1
"Kamu buat apa minum begini?" tanya Neneknya masih dengan wajah tidak menyangka.
"Maaf Nek, maafin Vale." ujar Vale menahan tangis.
"Kamu hamil?" tanya Kakeknya dingin.
Mata Vale seketika berkaca-kaca dan jantungnya berdegup sangat kencang saat ini, seakan ingin keluar dari tempatnya.
Tubuhnya berkeringat dingin dan bibirnya bergetar tak sanggup menjawab. "Iya." jawab Vale akhirnya setelah menguatkan dirinya sendiri.
Neneknya seketika memegang dadanya dengan wajah sedih. Valerie yang melihat hal tersebut langsung menyentuh tangan Neneknya dengan wajah panik.
"Nek, Valerie salah, maafin Vale." ujar Vale panik sambil meneteskan air matanya.
"Siapa Ayahnya?" tanya Kakeknya lagi dengan nada dingin.
Vale menatap Kakeknya yang terlihat sangat marah padanya. Valerie meneguk ludah takut, apa yang harus ia lakukan?
"Siapa Valerie?"
Vale mengatupkan bibirnya yang bergetar. Matanya memerah dengan air mata yang menumpuk di pelopak matanya. "Atasan Vale, namanya Sean." jawab Vale menunduk dan saat itu air matanya semakin deras.
"Hiks.. maaf kek." Vale terisak sedih sambil menunduk. Ia sudah menyakiti hati Kakek dan neneknya yang sudah menjadi orang tuanya sejak ia kecil. Hal ini pasti menjadi tamparan bagi Kakek dan Neneknya.
"Bawa dia kesini!" ujar Kakeknya tegas tak terbantah. Vale mendongak kaget.
"Tapi Kek..."
"Dia yang kesini atau Kakek yang datang ke kantor kamu?" Vale meneguk ludah panik. Valerie mengusap air mata di pipinya dengan pelan. Sudah jelas ia akan menyuruh Sean datang kemari daripada Kakek yang datang ke kantor.
Valerie meraih ponselnya dengan wajah panik. Mencari nomor Sean, lalu menelepon pria itu. Valerie menunggu dengan tak sabar dan akhirnya terhubung.
"Halo sayang."
"Sean." panggil Vale dengan nada terisak.
"Kamu kenapa?" tanya Sean yang menyadari hal aneh dari suara Valerie.
Vale menangis sambil duduk diatas ranjang sambil menangkup wajahnya. Sean mendengar jelas tangisan frustasi Valerie yang membuatnya semakin khawatir.
"Ssush..ada apa?" tanya Sean sambil menenangkan Vale.
"Kakek mengetahui aku hamil." ujar Vale.
Sean yang diseberang sana yang mendengar kabar tersebut langsung meneguk ludah kasar. Dia panik.
"Benarkah?" tanya Sean tak yakin.
"Hiks.. iya. Kakek mau kamu datang kesini." ujar Valerie menangis kencang setelahnya.
Sean keringat dingin, dalam hati dia berteriak apa dia akan pulang dengan selamat setelah dari sana?
"Sayang, aku kesana sekarang. Kamu tenangin diri okey, nanti baby ikut sedih lihat kamu sedih." ujar Sean berusaha mencari alasan yang kuat agar Valerie tidak menangis dan terlalu stress.
"Kamu benar-benar akan datang?" tanya Vale.
"Iya." jawab Sean yakin.
__ADS_1
"Aku akan kesana dan bertemu dengan Kakek-Nenek. Sekarang kamu berhenti menangis aku sudah di mobil." ujar Sean.
Vale perlahan mulai berhenti menangis walau sedikit sesenggukan. "Aku tutup ya, kamukan sedang berkendara." ujar Vale.
"Sudah terhubung ke speaker mobil sayang." ucap Sean sambil menyalakan mesin mobilnya. Vale mendengar jelas mesin mobil Sean menyala.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Vale sambil mengusap-usap perutnya.
"Aku bisa mengaturnya nanti." jawab Sean sambil mulai mengendarai mobilnya.
Selama diperjalanan Sean dan Valerie berbincang-bincang ringan agar Valerie tidak larut dalam kesedihannya. Sampai akhirnya Sean sampai di daerah Apartemennya. Valerie memberitahu letak Apartemennya dan Sean langsung menuju kesana.
Valerie menunggu kedatangan Sean di dalam Apartemen didekat pintu masuknya. Bel berbunyi, lalu Vale membuka cepat pintu tersebut.
Terpampanglah sosok Sean berdiri di depan pintu. Sean masuk ke dalam dan Valerie langsung memeluk Sean erat.
Sean membalas memeluk Valerie sambil mengusap kepala wanitanya pelan. "Aku takut." ujar Vale dalam pelukannya.
"It's okay, everything will be ok." ujar Sean. Vale mengangguk pelan mempercayai ucapan Sean.
"Valerie sini!" titah Kakeknya tiba-tiba dengan nada marah.
Valerie menoleh ke arah Kakeknya dan melepas pelukan mereka. Valerie menatap Sean sejenak, laku melangkah ke arah Kakeknya yang duduk di ruang keluarga dengan wajah dingin.
Sean melangkah mendekat, lalu menunduk didepan Kakek Vale. "Pagi Kek-Nek." sapa Sean.
"Duduk!" Sean duduk di depan sofa yang berhadapan dengan Kakeknya, sedangkan Valerie duduk disamping Neneknya.
"Kamu yang melakukan ini dengan cucuku?" tanya Kakek dingin.
"Maaf Kek." ujar Sean menunduk.
"Kamu mengingkari janjimu. Kamu berjanji untuk menjaga Valerie dengan baik, tetapi ternyata kaku yang malah merusaknya."
Valerie yang mendengar hal itu menoleh menatap Kakeknya bingung. Ada apa ini? Apa maksudnya? Janji? Janji apa?
"Maaf Kek, waktu itu aku gelap mata." jawab Sean.
Kakeknya tersenyum sinis. "Kalau begitu lamaran kamu ditolak." ucap Kakeknya.
Sean mendongak kaget dengan mulut menganga. "Kek, Vale mengandung anakku, siapa yang akan menjadi Ayahnya jika bukan aku?" tanya Sean tidak terima.
Valerie masih memasang wajah bingung. Lamaran? "Valerie cantik dan baik, walau dia sudah punya satu anak, masih banyak pria yang ingin dengannya." ujar Kakeknya singkat dan percaya diri.
"Tidak bisa kek, aku yang membuatnya, jadi aku yang harus menjadi suami Valerie." ujar Sean benar-benar tidak terima.
"Terserah, kalau kamu tidak terima."
"Biar Valerie buat keputusan Kek."
"Tidak, Valerie cucuku, aku yang membuat keputusan."
"Tidak adil, kami saling mencintai."
"Tunggu sebentar. Apa maksudnya ini?" tanya Vale yang tiba-tiba angkat suara tidak mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang.
Bersambung.....
__ADS_1