
Sean up.
Like Dan Vote.
Join Grup Violet Slavny.
***
"Ms. Petrova, kudengar pertunangan kalian akan segera diadakan, apa kalian akan bertunangan di Rusia?" tanya Aiden. Valerie langsung mengangkat kepalanya menatap Aiden. Apa pria itu sadar bahwa pertanyaannya membuat hati Vale sakit?
"Tentu saja di Rusia. Aku berharap Mr. Zachary dapat hadir di pesta kami." jawab Anna sambil mengamit lengan Sean dan melempar senyum hangat pada pria itu.
Vale berusaha untuk bersikap senetral mungkin dihadapan Sean dan tunangannya. Sulit? Tentu saja. Namun, Vale tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pria itu. Vale sudah cukup merasa menyedihkan malam itu, di kediaman Sean.
"Aku akan datang jika anda sudah mengundangku secara langsung seperti ini." ujar Aiden sopan.
"Kuharap anda membawa pasanganmu juga, akan ada pesta dansa nantinya." ujar Anna dengan senyum ramahnya. Vale terdiam, bahkan mereka sudah merencanakan acara pesta pertunangan Sematang ini.
"Aku juga berharap bisa membawa wanita yang kucintai untuk datang ke sana." jawab Aiden sambil melirik Valerie. Vale tak menyadari tatapan Aiden, gadis itu sibuk melamun dengan segala pikirannya.
"Vale, kau ingin menjadi pasanganku nantinya?" tanya Aiden. Vale masih melamun bahkan tak menyadari pertanyaan Aiden.
Melanie buru-buru menyenggol Vale dan menyadarkan sahabatnya itu. "Iya." ujar Vale tersadar dari lamunannya sambil tersenyum kikuk.
Valerie menjawab asal karena tidak tau apa yang sejak tadi mereka bicarakan. Aiden tersenyum mendengar jawaban Vale.
"Kamu setuju?" tanya Aiden lagi.
Vale tersenyum bingung dengan kening berkerut. Setuju apanya? Memangnya apa yang terjadi sejak tadi? Vale menatap wajah Aiden yang penuh harap. Vale mengangguk kaku, tak tau harus melakukan apa.
"Baguslah. Kapan pertunangan anda berlangsung?" tanya Aiden pada Anna.
"Minggu depan." ujar Anna.
"Aku tidak menyangka akan secepat ini." ujar Aiden yang dibalas senyuman senang Anna.
__ADS_1
Sejak tadi Sean hanya terdiam dan sesekali melirik Valerie yang terdiam sambil memakan makanannya pelan.
Sean merasa dadanya memberat, Valerie bahkan sejak tadi tak berniat untuk meliriknya. Mereka berdua seakan tidak pernah mengenal. Namun Sean lagi-lagi menguatkan dirinya. Ini yang terbaik.
Valerie tiba-tiba bangkit sambil mengangkat nampannya. "Aku sudah selesai makan. Jika Mr. Romanov dan Ms. Petrova masih ingin berbincang dengan Aiden, aku pamit lebih dulu." ujar Vale sambil menundukkan kepalanya sopan. Valerie beranjak cepat dan Melanie mengikuti sahabatnya setelah ikut menunduk sopan ke arah atasannya.
Aiden menatap punggung Valerie yang melangkah meninggalkannya. "Ms. Petrova, kalian berdua pasti butuh waktu berdua bersama. Aku harus menyusul kekasihku." ujar Aiden yang dibalas anggukan penuh senyuman oleh Anna. Sedangkan Sean menatap tajam ke arah Aiden yang mulai bangkit berdiri.
Aiden berlari menyusul Valerie dan Melanie yang sudah memasuki lift. Sebelum pintu lift tertutup, Aiden mempercepat langkahnya dan sukses masuk ke dalam, bahkan meninggalkan para pengawalnya yang ketinggalan.
Vale menatap Aiden lekat, lalu memalingkan wajahnya. "Bukankah aku sudah mengatakan tidak ingin terlibat dengan orang-orang seperti kalian lagi. Berhenti menarikku masuk di antara kalian!" ujar Valerie dengan wajah memerah menahan tangis.
Aiden terdiam menatap Vale yang memalingkan wajah darinya. Perlahan, Aiden mencoba meraih pipi Vale lembut, namun Valerie menghempaskan tangan Aiden kasar.
"Kamu tau aku masih mencintai pria bere*gsek sepertinya, tapi kenapa kamu harus menanyakan hal-hal mengenai hubungan mereka di depanku? Kamu tau itu menyakitiku. Tetap berada di sana, hanya akulah yang akan tersakiti." ujar Vale dengan mata memanas, hingga akhirnya air matanya terjatuh. Lagi dan lagi tanpa bisa ia hentikan.
Aiden langsung menarik Vale ke dalam dekapannya. Vale memberontak kasar, namun Aiden semakin mengeratkan pelukannya.
Vale memberontak dengan sia-sia. Tenaganya yang habis jika harus melawan Aiden lagi dan akhirnya ia menyerah dan membiarkan dirinya terperangkap dalam dekapan Aiden. Tanpa mereka sadari Melanie sudah ke luar dari sana dan turun di lantai ruangannya.
Vale terisak di dalam dada Aiden dan tangannya mencengkram jas Aiden erat. Aiden mengelus rambut serta punggung Vale naik turun untuk menenangkannya.
"Aku membencinya." isak Vale frustasi.
"Aku membencimu Sean." ucap Vale lagi.
"You deserve better than him Vale." (Kamu berhak mendapat yang lebih baik dari dia, Vale.) bisik Aiden lembut.
"He stole my whole heart, then threw it away like trash. You are right, I deserve better than him. But..." (Dia mencuri seluruh bagian hatiku, lalu membuangnya seperti sampah.)
"Let me take his place." potong Aiden. (Biarkan aku menggantikan posisinya.)
Vale terdiam mendengar ucapan Aiden.
"Let me go into your heart and get him out of there. Let me heal the wound he has inflicted." (Biarkan aku masuk ke dalam hatimu dan menyingkirkan dia dari sana. Biarkan aku mengobati luka yang ditorehkan olehnya.)
__ADS_1
Valerie mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap wajah Aiden yang menatapnya serius.
Valerie terdiam sesaat walau air mata masih turun dari pelupuk matanya. Valerie dapat melihat keteguhan dari mata Aiden. Vale dapat melihat betapa Aiden berusaha membuat dirinya melihat pria itu.
"But you deserve better than me." ujar Vale dengan nada bergetar. Aiden terlalu baik untuknya yang pernah dilecehkan oleh seorang Sean.
"I need you. I just want you in my life. I don't need anything if I have you." jawab Aiden sambil merengkuh pipi Vale yang penuh air mata. Vale tidak menolak saat Aiden dengan lembut mengusap pipinya yang penuh air mata. (Aku membutuhkanmu. Aku hanya menginginkanmu di hidupku. Aku tidak membutuhkan apapun jika aku memilikimu.)
Tangis Vale terhenti menyisakan diamnya kedua manusia tersebut. Aiden menatap Vale lembut dan Vale ikut menatap Aiden lekat.
Hingga akhirnya, Aiden perlahan mulai mendekatkan wajahnya, menatap bibir ranum Vale yang sejak tadi menggodanya. Bibir yang terisak begitu lucu. Aiden mulai memiringkan wajahnya ingin meraih benda pink tersebut. Namun tiba-tiba lift berdenting menghentikan aksi nekat Aiden.
Pintu lift terbuka tepat di lantai ruangan Valerie. Vale memalingkan wajahnya saat bibir Aiden tinggal beberapa senti lagi menyentuh bibirnya.
Vale mendorong Aiden menjauh, lalu ke luar dari kotak besi tersebut. Aiden menatap Vale yang berdiri menghadapnya, namun sudah berada di luar lift.
"Sean adalah cinta pertamaku. Aku tidak bisa menerimamu secepat ini. Jika aku melakukannya, maka aku tidak ada bedanya dengan Sean. I just need more time and need more space to move on."
"Namun, aku tidak berjanji bisa mencintaimu setelah melupakannya. Kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku Aiden." ujar Vale lembut sambil tersenyum tulus. Hingga pintu lift perlahan tertutup, memperlihatkan wajah lesu Aiden.
Bersambung....
How about this chapter?
Kalian minta diperpanjang dan akhirnya aku perpanjang.
How about Aiden? Apa Aiden bakalan mundur setelah ini?🤔ðŸ¤
Vote dan like..
Join my Grup Chat
Note. : Next Chapter (15/5)
Bye...😘
__ADS_1