
Valerie menuruni taksi yang ia pesan, lalu memandang bandara di depannya yang dipenuhi oleh orang-orang. Valerie menarik kopernya, sambil mencari nama Aiden di ponselnya.
Valerie meletakkan ponselnya di depan telinga, menunggu sambungan diterima dari seberang sana.
"Valerie, kamu sudah sampai?" tanya seseorang diseberang sana langsung bahkan tak perlu mengatakan 'halo'.
"Iya, kamu dimana?" tanya Valerie sambil memendarkan matanya.
"Biar aku yang menghampirimu, kamu dimana?"
"Ehmm.. di pintu masuk." jawab Valerie sambil menggigit bibirnya tidak enak.
"Tunggu aku!" Sambungan telepon mereka terputus. Valerie berdiri diam di tempatnya sambil menunggu kedatangan Aiden.
Tak butuh waktu lama, Aiden datang dengan pakaian casualnya, membuat ia kelihatan sangat fresh. Valerie tersenyum memandang Aiden, hingga akhirnya pria itu sampai di depannya.
"Hai." sapa Aiden dengan senyumnya yang begitu manis. Valerie ikut tersenyum semakin lebar dan membalas sapaan Aiden.
Aiden langsung mengambil alih koper Valerie dan menariknya. Valerie hendak menarik kopernya, "Aku saja." namun Aiden dengan cepat menggeleng dan menjauhkan koper tersebut dari jangkauan Vale.
"Biar aku saja, ayo." ujar Aiden menuntun Valerie menuju jalur khusus. Di sana sudah ada beberapa pengawal Aiden dengan koper milik pria itu. Aiden menyerahkan koperku ke para pengawalnya, menginteruksi untuk membawakan koper mereka.
Valerie naik melewati tangga, masuk ke dalam jet. Aiden membimbing Valerie duduk di sebuah kursi mewah, memakaikannya sabuk pengaman, lalu mengurus dirinya sendiri setelah memastikan Valerie aman.
"Setelah lepas landas, kamu boleh tidur." ujar Aiden. Valerie mengangguk.
Valerie mengeluarkan ponselnya dan memainkannya canggung. Disini hanya ada mereka berdua, rasanya Vale tak tau harus berbuat apa.
"Perjalanannya memakan waktu sebelas jam, mungkin kita sampai di Rusia pukul 5 pagi keesokan harinya, sesuai waktu Rusia. Perbedaannya tujuh jam dengan New York." ujar Aiden panjang lebar. Valerie mengangguk-angguk paham.
Valerie tampak terdiam sambil menggigit bibirnya. "Bagaimana jika aku tidak bisa menahan tangisku nanti?" tanya Vale dengan wajah lesu. Aiden mengatupkan bibirnya diam.
"Menangislah, aku akan ada di sisimu." ujar Aiden menatap Valerie dengan penuh tekad. Vale ikut menatap Aiden lekat. Bagaimana bisa seorang pria sebaik Aiden menyukai dirinya.
Valerie awalanya berfikir untuk mulai menerima Aiden dan mencoba membuka hatinya, namun bagaimana bisa ia layak bersanding dengan Aiden sedangkan mahkota yang ia pertahankan selama ini hancur karena Sean. Apalagi yang bisa Valerie banggakan?
Mungkin Aiden bisa menerima keadaannya mengingat betapa baiknya pria itu, namun Valerie yang merasa tidak pantas.
Vale memutus kontak mata mereka dengan memalingkan wajahnya. Ia tidak tau harus berkata apa.
Mereka sama-sama terdiam tak membuka suara bahkan setelah jet lepas landas.
Seorang pramugari tampak masuk dengan trolinya.
"Minum tuan?" tanya Pramugari tersebut pada Aiden.
"Wine." ujar Aiden. Vale menoleh ke arah Aiden setelah beberapa lama mencoba untuk tidak menatap pria itu.
__ADS_1
"Apa dia marah?" batin Vale berteriak. Wajah Aiden tampak murung, membuat Vale semakin merasa bersalah.
Pramugari tersebut tampak menuangkan wine ke dalam gelas. Valerie buru-buru angkat bicara.
"Jangan! Berikan dia pomegranate agar wajah murungnya menghilang!" ujar Vale sambil menatap Aiden mengejek. Aiden menoleh ke arahnya, senyum pria itu tampak merekah, wajah murungnya seketika menghilang.
"Aku tidak suka pomegranate. Lagi pula aku hanya akan meminum segelas wine saja untuk menjernihkan pikiranku." ujar Aiden sambil menahan senyumnya.
"Iya segelas, lalu segelas lagi, lagi dan memintanya lagi terus menerus." ejek Valerie yang berhasil membuat Aiden tertawa.
"Kalau begitu orange juice untuknya, aku lemonade." ucap Vale pada pramugari tersebut. Pramugari tersebut tampak mengangguk canggung sambil membuatkan minum pada mereka.
Aiden meminum juicenya dengan senyum tertahan. Valerie menatap jamnya yang menunjukkan pukul dua belas.
Aiden bangkit dari tempat duduknya, membawa Valerie menuju sebuah ruangan dengan tempat tidur di dalamnya.
"Tidurlah kalau kamu mengantuk!" Vale mengangguk. Matanya memang jadi lelah karena tidak berbuat apapun.
Valerie menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Ranjang yang empuk. Tidur siangnya sempurna.
Valerie bangun jika Aiden menyuruhnya makan, lalu Vale akan kembali tertidur jika sudah kenyang.
***
Valerie merasa tubuhnya terombang-ambing di atas udara. Mata Valerie mengerjab pelan, langit masih gelap, dan rahang Aiden ditangkap oleh matanya.
Aiden yang mendengar desisan Vale, mengeratkan tubuh Vale pada tubuhnya. Hingga, akhirnya kegelapan kembali menyambutnya.
"Valerie bangun! Vale bangun! Ayo sarapan!" Vale menggeliat dengan wajah murung.
"Bi, Valerie masih ngantuk." Valerie merengek dengan suara tangis kecilnya, matanya masih tertutup dan enggan terbuka.
Aiden menatap Vale heran. Wanita itu sampai salah memanggilnya. "Valerie." Aiden memanggil nama Vale lamat-lamat. Aiden menatap lekat wajah tenang Vale. Wanita itu tampak sangat cantik di bawah matahari pagi.
Aiden menggeleng mengenyahkan pikiran kotornya. Aiden melangkah ke arah kamar mandi membawa sedikit air di dalam gelas.
Aiden memercikkan air tersebut ke wajah Vale dengan sadis. Wajah Vale mengkerut kesal. "Stop!" Vale membuka matanya dengan susah payah dan menatap Aiden yang kegirangan.
"Aiden." ujar Vale kesal. "Mandi sana, biar kita sarapan." ujar Aiden sambil berlalu dengan gelasnya ke dalam kamar mandi.
Valerie duduk dengan ogah-ogahan. "Koper?" tanya Vale dengan mata setengah terbuka sambil menguap.
"Udah disini Ratu, dilihat dong!" ujar Aiden ikut geram. Valerie terkekeh bodoh melihat kopernya dilantai.
"Kita dimana? Di hotel?" tanya Vale sambil melirik sekelilingnya.
"Iya." jawab Aiden.
__ADS_1
Valerie bangkit berdiri dengan langkah seperti orang mabuk. Aiden menggeleng heran, hingga akhirnya Vale tenggelam di pintu kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, Valerie melangkah ke arah ruang makan dengan rambut setengah basahnya. Vale duduk di atas kursi dan menatap beberapa sajian di depannya.
"Kamu yang masak?" tanya Valerie sambil melihat Aiden. Pria itu menganggu bangga.
Vale meraih sendok dan memakan sarapannya. "Enak." ujar Vale saat makanan tersebut meleleh di lidahnya. Aiden ternyata pandai memasak, tidak seperti Sean.
"Pestanya nanti malam, siang ini bagaimana kalau kita keluar?" tanya Aiden.
"Boleh, aku harus membeli gaun untuk pesta nanti." ujar Vale sambil mengangguk setuju.
***
Valerie meraih ponselnya dan mencari kontak Jovan di sana. Vale menghubungi pria itu dengan senyum merekah.
"Halo kak."
"Vale, ada apa?" tanya Jovan dari seberang sana.
"Kak, Valerie sekarang ada di Rusia, kakak nggak mau ketemu Vale?"
"Kok bisa? Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Jovan bingung.
"Aiden yang mengajakku untuk menemaninya ke pesta pertunangan atasanku." jawab Valerie.
"Kamu tinggal berdua sama dia?" tanya Jovan dengan nada khawatir.
"Iya." jawab Vale tanpa dosa.
"Kamu di hotel mana? Kakak kesana sekarang!" terdengar grasak-grusuk di seberang sana, membuat senyum Vale mengembang.
"Aku share location ya. Bye." ujar Vale, lalu menutup panggilannya setelah Jovan mengucapkan sampai jumpa.
Bersambung....
Maaf aku terlambat up berhari-hari. Jadi sebenarnya udah beberapa hari ini aku sakit, awalnya kepalaku pusing banget, terus badanku entah kenapa pegal semua.
Akhirnya mulai kayak pilek gitu dan kerongkongan rasanya sakit kayak tertahan. Malamnya dada kayak berat.
Aku panik dong tapi belum ada gejala demam, aku pikir virus ini. Jadi, aku tunggu beberapa hari akhirnya mendingan. Semoga bukan apa-apa ya.
Kalian sehat-sehat juga ya. Maaf nggak ngabarin.
Oh iya mampir ke cerita Kenzo ya, 'Trapped by the BEAST'
Note : next update 8/6
__ADS_1
Bye..😘