The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 95


__ADS_3

Sean duduk dengan manis di kursi kebesaran milik Gregory. Sean menatap ke seluruh pemegang saham dan direksi yang hadir di tempat rapat tersebut. Setelah membuang nafas pelan, Sean menegakkan badannya dan melempar tatapan serius.


"Aku rasa kalian belum mendengar berita malang ini. Kakekku jatuh sakit dan ia terbaring di rumah sakit dalam keadaan kritis. Dia sudah terlalu tua untuk memimpin perusahaan ini, karena itu aku ingin kalian membuat keputusan." Para manusia yang hadir disana terkejut bukan main setelah mendengar beritanya.


"Kalian harus memilih pemimpin perusahaan selanjutnya, aku atau ayahku." ujar Sean singkat, lalu menutup mulutnya.


Para manusia disana langsung ribut memikirkan pilihan yang diberikan oleh Sean.


"Pavlo tidak sanggup memegang tanggung jawab ini."


"Tapi bukankah Ayahnya, yang lebih berhak."


"Kita harus memikirkan masa depan perusahaan. Posisi ini harus jatuh ke tangan yang tepat."


"Benar, lagipula sejak awal Gregory memang menginginkan cucunya sebagai penerusnya."


"Benar juga."


Sean menarik sebelah bibirnya mendengar bisikan-bisikan orang-orang dihadapannya.


"Posisi ini tidak boleh dibiarkan kosong terlalu lama, kalian harus segera membuat keputusan." ujar Sean sambil melipat tangannya.


Para pemegang saham dan direksi saling bertatapan dengan wajah bingung. Hingga akhirnya mereka mengangguk setelah menemukan keputusan mereka.


"Posisi ini, sepertinya akan tepat jika berada di tanganmu Mr. Romanov." ujar salah satu diantara mereka.


"Benar."


Semua didalam ruangan rapat tersebut mengangguk menyetujui. Sean tersenyum lebar, lalu bangkit berdiri.


"Terimakasih sudah mempercayakan posisi ini padaku." kata Sean penuh sopan, namun senyum miring sekilas terpatri di bibirnya.


"Sudah selesai Kakek, Ayah." batin Sean.


"Tunggu Aku Valerie." batin Sean lagi berteriak.


***


Usia kandungan Valerie kini menginjak minggu ke-30. Satu bulan berlalu semenjak Melanie dan Aiden datang ke pulau ini, Sean sama sekali tidak menghubunginya.


Valerie melangkah di tepi pantai dengan wajah murung ditemani oleh Aiden. Aiden dan Melanie memutuskan memperpanjang libur mereka sampai aku melahirkan.


Gaun lebar yang dipakai Vale berhembus karena terpaan angin. Vale mengikat rambutnya yang menganggu karena kencangnya angin. Valerie mengusap perutnya yang sudah sangat besar, matanya memandang hamparan air laut yang berombak.


"Kita kembali saja, anginnya sangat kuat." ujar Aiden pada Vale.


Vale menggeleng. "Sebentar lagi." ujarnya.


Aiden membuang nafas pasrah. Aiden memegangi sandal yang dilepas Valerie karena ingin berjalan di pasir dengan bertelanjang kaki.


"Apa dia sudah melupakanku?" tanya Vale cemberut.

__ADS_1


Aiden terdiam. Ia tahu masalah yang kini sedang Vale hadapi. Matanya menatap ke arah Vale yang memasang wajah sedih, lalu tersenyum. "Bagaimana mungkin dia bisa melupakanmu dalam satu bulan, sedangkan dia sudah menunggumu selama bertahun-tahun." ujar Aiden mengejek.


Vale sedikit terhibur mendengarnya, namun tetap saja hatinya terasa mengganjal. "Lalu mengapa dia tidak menghubungiku? Setidaknya memberikan pesan singkat agar hatiku tenang." ujar Valerie kesal dan marah.


"Aku takut dia tidak akan melihat saat aku melahirkan anak kami." ujar Valerie menatap Aiden sedih.


Aiden mengerti perasaan Vale. Mata Vale terlihat memanas sambil mengusap perutnya. Aidenpun menarik Vale kedalam dekapannya, lalu mengelus kepala wanita itu lembut.


Sedikit tidak nyaman karena perut buncit Vale, namun hal itu bukan masalah besar.


"Kau mempercayainya bukan? Kalau kau percaya padanya, jangan ragukan dia." ujar Aiden.


Vale terdiam masih dengan wajah sedih. Vale melepas pelukan Aiden sambil menguap matanya. "Sean akan marah jika aku memeluk pria lain." ucap Vale mengerucutkan bibirnya. Aiden tertawa kecil mendengar ucapan menggemaskan Vale.


"Siapa pria yang tidak cemburu melihat wanitanya berdekatan dengan pria lain." kata Aiden sambil tertawa renyah. Vale manyun, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke arah rumah.


"Hey, ibu hamil tidak boleh ngambek." ejek Aiden sambil mengejar langkah Vale.


"Berisik." ucap Vale kesal.


"Hahahaha." gelak tawa Aiden terdengar menyelimuti pantai tersebut sambil terus menggoda Vale selama jalan pulang.


***


Valerie menutup buku bacaannya, lalu meletakkan buku tersebut ke atas nakas. Vale menatap jam yang menunjukkan pukul sebelas malam, lalu akhirnya mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.


Vale mengambil posisi tidur menyamping dengan nyaman sambil mengusapi perutnya naik turun. Vale mulai menutup matanya perlahan karena kantuk mulai menyerangnya.


Tanpa butuh waktu lama, Valerie akhirnya jatuh ke alam bawah sadarnya dan tertidur dengan nyenyak.


Suara langkah kaki samar-samar terdengar. Ruangan yang temaram tersebut hanya menunjukkan siluet badannya yang terlihat gagah.


Orang tersebut perlahan mendekati Vale yang terbaring nyenyak di atas ranjang. Dengan perlahan mengusap rambut wanita itu dengan lembut. Senyum lembut terbit di bibirnya.


Orang tersebut mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Vale lama.


"Aku pulang sayang." bisiknya.


***


Vale mengerjabkan matanya pelan untuk menyesuaikan pandangannya. Valerie mengambil posisi duduk sambil merentangkan tangannya. Setelah itu, Vale bangkit berdiri dan bersiap-siap.


Setelah 30 menit, Valeriepun keluar dari kamarnya dengan penampilan segar. Kening Vale mengerut. Tumben sekali Bibi tidak mengantar susu hamilnya. Vale menggeleng dan melanjutkan langkahnya. Melanie entah dari mana tiba-tiba datang menghampirinya.


"Aku bantu kamu." ujar Melanie membantu Vale turun tangga. Vale mengangguk.


Setelah itu, Vale melangkah ke arah meja makan yang masih tampak sepi. "Kemana semua orang? Belum bangun ya? Biasanya aku yang paling lama bangun." ujar Vale pada Melanie.


Melanie terkekeh, lalu menuntun Vale untuk duduk di salah satu bangku meja makan.


"Kamu tunggu disini, aku cari Bibi sebentar." ujar Melanie, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Vale.

__ADS_1


Vale semakin mengernyitkan keningnya bingung. Vale bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuat susu hamilnya.


Setelah sampai disana, Vale terdiam melihat punggung seseorang yang terlihat sangat familiar di otak Vale. Pria yang berada di dapur tersebut menoleh saat merasakan kedatangan seseorang.


Vale membulat melongo melihat sosok yang kini membalikkan badannya dan menunjukkan wajahnya.


Vale menutup mulutnya dengan tangan saking terkejutnya. "Pagi sayang, susumu."


Vale terdiam tak berkedip. Vale mengucek matanya mencoba menyadarkan dirinya apa ini hanya ilusi karena ia terlalu merindukan pria itu. Masih ada. Vale mencubit pipinya keras.


"Aw, sakit." dan pria di depannya masih ada. Ini bukan mimpi ataupun ilusi.


"Kenapa mencubit pipimu sendiri hmm?" tanya pria itu menghampiri Vale sambil mengusap pipi Vale yang memerah karena cubitan.


"Sean."


"Apa? Ini aku." ujar Sean sambil tersenyum hangat.


Vale terdiam, namun perlahan matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan menangis, aku sudah pulang." ujar Sean menangkup kedua pipi Vale yang kini menahan tangis.


"Aku hanya terlalu bahagia karena kamu ada di depanku." ujar Vale terbata-bata menahan tangis.


Sean tersenyum, lalu mengecup kedua mata Vale lembut. "Kalau begitu jangan menangis okey." ujar Sean menenangkan.


Vale menarik nafas. "Tapi aku menangis bahagia." ujar Vale masih dengan mata memerahnya.


"Tetap saja aku tidak suka melihatmu mengeluarkan air mata." ujar Sean mutlak.


Vale manyun, lalu memeluk pria itu dengan erat. "Aku merindukanmu." ujar Vale.


"Aku juga merindukanmu." ujar Sean.


"Kamu harus menjelaskan kenapa tidak mengabariku selama sebulan ini." ujar Vale mengancam.


"Hehe, baiklah." kata Sean.


"Sekarang, minum susumu dulu, aku akan buatkan sarapan." tambah Sean lagi sambil melepas pelukannya.


Sean memberikan segelas susu pada Vale, lalu melangkah ke arah kompor. Vale meminum susunya sambil berdiri dan berjalan mendekati Sean yang mulai sibuk memasak.


"Biarkan bibi saja yang memasak, aku masih belum puas memelukmu." ujar Vale kesal. Sean lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Valerie, lalu menatap wanitanya itu lekat.


"Semenjak kutinggalkan, kenapa kamu semakin manja hmm?" tanya Sean menatap Vale dengan tatapan yang begitu menawan, membuat Vale tersipu.


"Memangnya salah?" tanya Vale kesal.


"Tidak ada yang salah." ujar Sean, lalu mengecup singkat bibir Vale.


"Tunggu sebentar lagi okey. Setelah itu, aku akan mengabulkan semua permintaanmu."


"Janji?" tanya Vale.

__ADS_1


"Janji."


Bersambung....


__ADS_2