
Sean Up.
Like dan Vote.
Join my Grup Chat
***
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Gelapnya ruangan tak menghentikan niat seorang Sean untuk menemui gadisnya. Sean melangkah diam tanpa suara, mata Sean menangkap sosok Valerie yang terbaring lelap di atas ranjang dengan pencahayaan remang-remang.
Sean mendekati Valerie perlahan, menjaga agar gadis itu tidak terbangun. Sean ikut berbaring di samping Valerie, menarik gadis itu dalam dekapannya.
Sean asik menatap wajah teduh Vale yang tertidur nyenyak. Dia begitu merindukan gadis di depannya ini. Alat yang terpasang di tubuh Vale sudah tercabut hari itu, sehingga tidak mudah lagi ia bisa mengetahui seluruh percakapan gadis itu.
Di kantorpun, Sean hanya dapat menatap Valerie dari layar CCTV. Menatap setiap tetes air mata yang Vale keluarkan saat melihat bunga pemberiannya yang masih tersimpan di ruangan gadis itu. Saat Vale melamun sambil menatap pena miliknya. Sean melihat seluruh kegiatan Vale di kantor melalui CCTV. Hanya melalui benda itu, ia dapat membayar rasa rindunya.
Sean terdiam selama satu jam hanya untuk menatap wajah Vale dengan tenang. Hingga akhirnya, kembali pulang ke rumahnya dengan hati-hati. Dia harus berhati-hati dengan para suruhan Kakek dan Ayahnya.
***
Vale masuk ke dalam kantornya seperti biasa. Namun, ada yang aneh hari ini. Setelah gosip mengenainya, para karyawan lain mulai jarang tersenyum dan menyapanya. Namun hari ini, semua orang yang melewatinya, menyapa dengan begitu sopan dan tersenyum dengan begitu manis.
Valerie yang kebingungan, hanya dapat membalas dengan senyum kikuk.
"Valerie." Vale menoleh dan mendapati Melanie dengan senyum lebarnya.
Vale tersenyum dan menunggu Melanie sampai sejajar dengannya.
"Mel, ada apa hari ini?" tanya Vale sambil berbisik pada Melanie.
"Kamu belum tau?" tanya Melan dan dibalas anggukan polos Vale.
"Kamu lihatkan kemarin tiba-tiba orang-orang yang ngerumunin Aiden pergi?" tanya Melan yang dibalas anggukan lagi oleh Vale.
"Kamu tau kenapa?" Dibalas gelengan lucu Vale.
__ADS_1
"Aiden berjanji akan berfoto dengan mereka setelah urusannya telah selesai. Aiden menepatinya. Dia berfoto dengan mereka ditambah mengatakan 'tolong jaga Valerie dan bersikap baik padanya'." ucap Melanie dengan senyum menggoda. Vale terdiam, tak menyangka bahwa Aiden akan melakukan hal itu untuknya.
Vale merasa bersalah. Tentu saja. Dia mengucapkan kata-kata yang pasti menyakiti pria itu. Vale mengira Aiden akan menyerah atasnya setelah kata-katanya semalam. Namun buktinya, Aiden masih begitu perhatian dengannya. Valerie bingung. Bagaimana dia akan bersikap dengan Aiden nantinya?
Melanie yang menyadari keterdiaman Vale, langsung menyetop langkahnya sambil memutar tubuh Vale menghadapnya.
Vale yang terkejut, menatap Melanie bingung.
"Kenapa?" tanya Vale sambil ikut menatap Melanie lekat.
"Aiden pria yang baik. Aku bisa melihatnya sejak pertama kali kita bertemu dengannya. Walau sedikit aneh dan mengganjal karena dia bisa begitu baik dengan orang asing, dibalik itu, aku bisa melihat tatapan cinta untukmu di mata Aiden." ujar Melanie panjang lebar. Valerie terdiam mendengar ucapan Melan.
"Kamu tidak perlu menerimanya begitu cepat, namun jangan mendorongnya menjauh Vale." Hati Vale mencelos dengan kepala menunduk. Dia bisa mengingat wajah lesu Aiden terakhir kali di lift. Ngilu. Apa rasa ini juga yang dirasakan Aiden saat itu?
"Jangan membenci Aiden hanya karena dia terkenal. Hanya karena dia berbeda kelas dengan kita. Aiden mencoba mendapatkanmu, bahkan merelakan karirnya untukmu." Vale tak sanggup lagi mendengarnya. Semakin Melanie mengatakan hal-hal itu, semakin besar rasa bersalahnya.
Vale menggenggam lengan Melanie, mengisyaratkan agar gadis itu berhenti melanjutkannya. Melanie terdiam, Vale mengangkat kepalanya dan menatap Melanie lekat.
"I'll try it Mel." ujar Vale. Melanie menatap Vale lekat dan akhirnya tersenyum lembut pada sahabatnya.
Valerie memasuki ruangannya dengan wajah termenung. Vale duduk di kursinya, lalu termenung dengan segala pikirannya. Masa lalu tidak bisa kembali diulang. Yang bisa dilakukan sekarang hanya menata hidup menuju masa depan.
Valerie menguatkan tekatnya, lalu menatap ke belakang kursinya, mendapati bunga-bunga pemberian Sean dengan lekat.
"Saatnya bangkit." batin Vale.
Vale beranjak dari kursinya, meraih satu kantong plastik sampah dan memasukkan bunga-bunga tersebut ke sana. Setelah selesai, Vale membawa kantong sampah tersebut ke depan ruangannya agar dapat diambil oleh CS.
Valerie membuka lacinya dan mendapati pena milik Sean di sana. Valerie meraih kotak panjang, membuka kotak tersebut, memasukkan pena milik Sean ke dalam, menutupnya dan meletakkan kotak tersebut ke laci terbawah dan paling belakang.
Vale membuang nafas lega, lalu meraih ponselnya. Mencari nama Aiden dan menelepon pria itu.
Vale menunggu dengan jantung berdebar. Sampai akhirnya terdengar suara Aiden di seberang sana.
"Halo Vale." Dengar? Dia bahkan masih memanggil namanya dengan lembut.
__ADS_1
"Umm.. kamu di mana?" tanya Vale kikuk.
"Lokasi Shooting. Ada apa?" tanya Aiden balik.
"Aku ingin mengajakmu makan siang, apa siang ini kamu bisa?" tanya Vale sambil menggigit bibirnya ragu.
Hening. Tak ada jawaban di seberang sana. Vale semakin jantungan menunggu nya.
"Aiden." panggil Vale karena tak mendapat jawaban dari pria itu.
"Bagaimana jika makan malam?" tanya Aiden lembut. Vale berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk.
"Baiklah." jawab Vale sambil tersenyum.
"Aku akan menjemputmu." ujar Aiden.
"Kamu tau di mana rumahku?" tanya Vale.
"Aku tau." jawab Aiden yakin. Vale tak ingin bertanya lebih lanjut. Pria itu bisa mencari informasinya daur mana saja.
"Baiklah." jawab Vale kikuk.
"Aku tak sabar menunggu hingga nanti malam. Sampai jumpa nanti malam."
"Hummm." balas Vale. Vale meletakkan ponselnya setelah sambungan telepon mereka terputus. Akhirnya Vale mengatasi rasa takutnya.
Bersambungg...
Hay..Hay..hya..
Satu kata buat Sean dong!!!
Note : Next Chapter 18/5
Bye...😘
__ADS_1