The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 25


__ADS_3

Sean menuruni anak tangga dengan senyum merekah. Pagi harinya disambut dengan begitu indah dan tak terlupakan. Setelah membuat bibirnya sendiri dan bibir Vale membengkak sampai puas, dia beranjak kabur ke dalam kamar mandi untuk menghindari amukan Vale.


Setelah keluar dari kamar mandi dia langsung di sambut dengan wajah marah Vale yang berdiri dengan tangan terlipat di dada di depan pintu. Sean tersenyum mengingat betapa lucunya setiap ekspresi yang Vale keluarkan saat gadis itu marah.


Pukulan-pukulan yang ia terima dari tangan kurus Vale di pundak, bahu dan dadanya bahkan masih terasa dengan getaran hangat di dadanya. Tidak sakit namun meninggalkan rasa hangat. Katakan Sean gila, namun itulah yang ia rasakan.


Hingga akhirnya matanya menangkap sosok pria paruh baya yang duduk manis di atas kursi meja makan. Senyumnya seketika luntur, di gantikan dengan wajah dingin dan datarnya. Sean lanjut melangkahkan kakinya hingga sampai di meja makan.


"Selamat pagi, Son. "Sapanya dengan senyum manis di bibirnya.


Sean tak membalas dan duduk dengan santai di atas kursi. Sean menatap beberapa piring yang berjajar rapi di atas meja makan.


"Siapkan secangkir susu! "Titah Sean dingin.


"Baik Tuan. "Pelayan tersebut melenggang pergi dengan kepala menunduk.


"Di mana gadis itu? Kau tak mengajaknya sarapan? "Tanya pria tersebut.


"Dia akan turun sebentar lagi. "Ucap Sean.


Pria paruh baya tersebut terseyum puas. Akhirnya dia dapat melihat wajah gadis tersebut setelah sekian lama. Selama ini Sean benar-benar menjaga agar wajah gadis tersebut tak di ketahui oleh keluarganya, bahkan namanya sekalipun. Sean menjaga ketat gadis tersebut dari jangkauan keluarganya. Dan hari ini entah karena alasan apa, Sean sendiri yang membongkarnya pada papanya.


Pria paruhย  baya tersebut menoleh ke arah tangga saat mendengar bunyi tapakan sendal Vale yang menuruni anak tangga. Senyum miringnya langsung terbit melihat seorang gadis dengan rambutnya yang terurai dan gaun pinknya menuruni anak tangga.


"Pantas Putraku begitu menjaganya, gadis ini begitu cantik, namun sayang bukan siapa-siapa hingga pantas masuk ke dalam keluargaku.ย  "Batinnya berdecih remeh.


Vale yang menuruni anak tangga terkseiap saat melihat seorang pria paruh baya ikut duduk di meja makan bersama Sean.


"Siapa dia? Keluarga Sean? Ayahnya? "Batin Vale bertanya-tanya. Vale melangkah mendekati meja makan dan berdiri di dekat kursi Sean. Ia tak berani langsung duduk, karena takut tak sopan jika benar itu ayahnya Sean.


"Duduk Vale! "Titah Sean. Vale mengangguk dan langsung duduk di samping Sean setelah menunduk ke arah pria paruh baya tersebut.


"Jangan menunduk! "Ucap Sean dingin saat melihat Vale menunduk ke arah papanya.


Vale menatap Sean bingung. Sean kembali dingin dan senyumnya menghilang. Ada apa dengan Sean dan pria paruh baya ini?

__ADS_1


"Aku Papanya Sean. "Ucap pria paruh baya tersebut. Ia mengenalkan dirinya sendiri karena yakin putranya pasti tak akan mengenalkan dirinya pada gadis itu.


"Namaku Pavlo Romanov"


Romanov? Dia tidak salah dengar kan? Marga bangsawan terkenal dan paling berpengaruh di Rusia. Valerie memang tidak update mengenai berbagai berita Entertaiment. Namun ia mengingat jelas sejarah yang ia pelajari saat sekolah dulu.


"Tetapi Sean kan Aliano. "Batin Vale bingung. Namun tak berani untuk bertanya, saat melihat betapa menegangkannya situasi di antara Sean dan papanya.


Keheningan pecah saat seorang pelayan datang membawakan secangkir susu dengan kepala menunduk.


"Ini susunya Tuan. "


"Makan sarapanmu Vale dan jangan lupa minum susumu! "Ucap Sean dengan nada memerintah. Vale mengernyit menatap segelas susu tersebut. Terakhir kali ia minum susu saat Sekolah Dasar dan sekarang dia di suruh meminum susu lagi.


"Aku tidak ingin susu, Sean. "Ucap Vale pelan. Dia tak ingin mengganggu kegiatan makan papanya Sean.


Sean menoleh ke arah Vale dan menatapnya tajam. "Harus! Tidak ada bantahan! "Ucap Sean dingin, lalu kembali melanjutkan memakan sarapannya.


Valerie mendesah pasrah dan memakan sarapannya dalam diam. Keheningan kembali menyelimuti meja makan tersebut. Hanya terdengr suara dentingan sendok yang membentur piring. Vale tak tahan berada di keheningan seperti ini. Ia memakan sarapannya dalam diam dan cepat, lalu menghabiskan segelas susunya.


Vale memasuki kamarnya. Oh bukan, ini kamar Sean yang juga ia tempati. Valerie melepas sendalnya dan naik ke atas ranjang. Ia tak tau harus melakukan apa. Biasanya Vale akan memainkan ponsel atau membaca novel di kamarnya. Namun kini, ponselnya di simpan oleh Sean dan tak ada buku apapun di sini kecuali beberapa buku mengenai saham, inflasi, dan lainnya.


Valerie membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya dalam diam.


"Apa kira-kira yang mereka bicarakan? "Ucap Vale bermonolog.


"Apa Papa Sean tidak menyukaiku? Dia bahkan tidak tersenyum padaku saat memperkenalkan dirinya. "Lanjut Vale dengan wajah sedih.


Cklek.


Vale terlonjak duduk saat pintu kamar tiba-tiba terbuka, memunculkan sosok Sean yang masuk dengan wajah dingin. Valerie duduk sambil menatap ke arah Sean.


"Kenapa cepat? Bukannya kalian ingin berbicara berdua? "Tanya Vale dengan wajah polosnya.


"Siapa yang ingin berbicara dengannya? "Tanya Sean dingin. Kening Vale berkerut bingung mendengar pertanyaan Sean.

__ADS_1


Sean menghampiri dirinya dan ikut duduk di atas ranjang. "Kenapa? "Tanya Valerie bingung.


"Apanya yang kenapa? "Tanya Sean.


"Sean berhenti melempar pertanyaan! Aku bertanya padamu dan kau menjawabnya dengan pertanyaan. "Ucap Valerie kesal.


Sean tersenyum tipis melihat wajah kesal Vale. Rasa marahnya perlahan hilang jika berhadpan dengan gadisnya itu. Hanya Vale yang dapat membuatnya tersenyum seperti ini.


Sean meraih lengan Vale dan menarik gadis tersebut ke arahnya. Sean dengan cepat memeluk Valerie, membenamkan wajahnya di leher untuk mencari ketenangan. Valerie yang tiba-tiba di peluk hanya dapat terdiam. Ia tak menolak seperti biasanya, karena sepertinya Sean sedang memikul beban yang begitu berat.


Perlahan tangan Vale naik dan mengelus lembut kepala Sean naik turun.


"Kau ingin pulang ke rumahmu? "Pertanyaan yang Sean lontarkan benar-benar memebuat Vale terkejut.


"Kenapa tiba-tiba begini? bukannya tersisa 3 hari lagi? "Tanya Vale bingung. Hatinya sedih entah karena alasan apa, bukankah seharusnya ia senang karena ini yang memang ia inginkan. Apa benar ini yang dia inginkan?


"Kamu sebaiknya pulang hari ini! "Hati Vale melongos sedih. Nada Sean menujukkan ini adalah perintah dan Vale tak ada hak untuk menolak. Dia Siapa? Vale mengangguk perlahan masih dalam keadaan memeluk Sean.


Dia tak ingin semakin menambah beban yang sekarang sedang Sean pikul. Sepertinya hubungan Sean dengan papanya sedang tidak baik, itulah yang Vale pikirkan di dalam hatinya.


"Aku akan pulang hari ini. "Ucap Valerie pelan masih mengusap naik turun kepala Sean. Valerie dapat mendengar jelas dan merasakan ******* nafas lelah yang Sean keluarkan.


Ia tak ingin membuat Sean lelah lebih dari ini. Ia tak ingin membuat pria tersebut lemah seakan memikul beban berat di pundaknya. Ia tak ingin membuat dirinya menjadi kelemahan Sean. Ia ingin menjadi kekuatan bagi Sean. Itu yang Vale inginkan. Benar, itu yang dirinya inginkan.


Bersambung....


Akhirnya part ini selesai juga. terimakasih kalian yang bersabar, akhirnya pahala orang sabar datang juga dengan up dua part ini.


Ayo suka nggak ngelihat papanya Sean??


Gimana tanggapan kalian ??


Jangan lupa like, share dan komen.


bye... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2