
Valerie menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Hari ini dia bangun pagi, karena harus membereskan barang-barang dari rumahnya dan disusun di Apartemen tempat ia tinggal sekarang.
Valerie mulai membereskan barang-barangnya selagi Bibinya membuat sarapan untuk mereka semua. Valerie sadar ia harus segera membeli ponsel baru dan laptop baru. Hari ini ia meminta libur pada Lucy dan Lucy yang akan menghubungi pihak HRD.
Valerie mengikat rambut panjangnya menjadi Ponytail, saat dia rasa rambutnya menganggu pekerjaannya.
"Nona, sarapan selesai." Valerie menjawab singkat, lalu bangkit untuk sarapan karena perutnya yang sudah meronta-ronta.
Valerie sarapan bersama dengan Kakek, Nenek dan Bibinya. Setelah selesai sarapan, Valerie kembali membereskan barang-barangnya sampai siang hari.
Valerie mengusap peluh di wajahnya sambil membuang nafasnya yang memberat. Valerie menatap seluruh barangnya yang sudah tersusun rapi sempurna. Sekarang ia hanya perlu membereskan kardus-kardus ke gudang.
"Nona, Tuan Aiden menelpon." ujar Bibinya, tepat setelah Valerie keluar kamar.
"Oh.. tunggu sebentar."
"Biar saya saja Nona." ujar Bibinya sambil meraih kardus di tangan Vale dan langsung membawanya pergi.
Valerie melangkah ke arah telepon rumah dan mengangkatnya. "Halo Aiden."
"Valerie." Vale terdiam mendengar suara seseorang yang terdengar sangat familiar di telinganya.
Vale menatap ke arah gagang telepon dengan wajah bertanya. Valerie mendekatkan kembali gagang tersebut ke telinganya dengan perlahan. Suara ini, suara Sean.
"Kenapa jadi kamu?"desis Vale dengan nada tidak suka.
Tidak terdengar balasan apapun dari Sean. Pria itu diam membisu. Valerie menghembuskan nafas lelah. "Ada apa?" tanya Vale cepat.
"Kamu baik-baik saja?"
Vale menutup mulut seakan menolak untuk menjawab. Valerie menutup matanya lelah. "Aku akan mematikannya jika tidak ada hal penting." ujar Vale dingin.
Vale berdiri sambil menunggu jawaban dari pria tersebut.
"Aku merindukanmu."
Mata Vale sedikit melebar mendengar nada menyedihkan itu. Tanpa sadar Valerie menggenggam erat gagang telepon tersebut sambil menggigit bibir.
Valerie mencoba menarik nafas untuk menenangkan kembali jiwa dan raganya. "Aku tutup!" ujar Vale singkat, lalu menutup telepon tersebut dengan cepat.
Valerie memijat kepalanya yang tiba-tiba pening karena Sean. Pria itu selalu membuatnya banyak pikiran. Vale melangkah kembali ke kamarnya dan bersiap-siap pergi untuk membeli ponsel dan beberapa barang yang ia perlukan.
***
__ADS_1
Valerie duduk di sebuah kursi taman sambil mengotak-atik ponsel barunya. Untung saja semua nomor yang tersimpan di ponselnya terhubung dengan email miliknya, sehingga jika ia memasukkan email-nya, nomor yang tersimpan di ponsel lamanya akan tersimpan kembali di ponsel barunya.
Valerie mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan menelepon sebuah nomor di sana. Valerie menelepon pihak perusahaan yang bertanggung jawab merenovasi rumahnya kembali. Valerie memastikan waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk rumah tersebut.
Setelah selesai berbincang dari telepon, Valerie membuang nafasnya lelah. Pengeluarannya kali ini, membuat kepala Valerie semakin pening. Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu dilanda masalah.
Tiba-tiba ponsel Valerie bergetar, menunjukkan nama Jovan di layar ponselnya. Valerie mengangkat telepon tersebut dan berusaha bersikap seperti biasa.
"Halo Kak, tumben." ujar Vale dengan nada ceria, walau raut wajahnya kini pucat dan tampak kelelahan.
"Valerie, apa yang terjadi? Kenapa bisa? Kamu baik-baik saja? Kakek-Nenek baik-baik saja?" tanya Jovan langsung dan bertubi-tubi.
Valerie menelan ludahnya gugup. "Kakak tau?" tanya Vale.
"Humm.. Kakak tau." jawab Jovan.
Perlahan mata Vale memerah menahan tangis. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya mengetat menahan agar suaranya tidak terdengar oleh Jovan.
Hingga akhirnya bibi Valerie bergetar dan setetes air mata turun dari sudut matanya.
"Kak, Vale kangen." ujar Vale dengan nada bergetar.
Jovan di seberang sana terdiam menyadari bahwa adiknya itu kini sedang rapuh. Jovan menyadari Valerie menyimpan hal itu sendirian. Jovan tau yang dibutuhkan Valerie saat ini hanya sebuah sandaran.
"Kakak juga kangen sama kamu." jawab Jovan pelan.
***
Keesokan harinya.
Valerie melangkah masuk ke kantornya dengan langkah berat. Seluruh mata langsung tertuju padanya saat setelah ia masuk. Valerie melangkah seperti biasa menuju lift.
"Vale." Melanie berlari ke arah Vale dan melangkah beriringan dengan sahabatnya itu.
Valerie menoleh sebentar pada Melanie dan tersenyum kecil. "Astaga Valerie."
Valerie menatap Melanie dengan wajah berkerut. "Kamu sakit?" tanya Melanie sambil menyentuh kening Vale.
Namun buru-buru Vale menjauhkan tangan Melanie dari wajahnya. "Enggak, cuman kurang tidur karena beres-beres." jawab Vale berusaha tersenyum.
Melanie menggeleng cepat. "Muka kamu pucat, kamu istirahat di ruang kesehatan aja dulu." ujar Melanie.
"Enggak bisa, aku ada rapat pagi ini." ujar Vale mempercepat langkahnya masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
__ADS_1
Melanie dan Vale masuk ke dalam lift. Melanie menekan tombol lantainya dan lantai Valerie. "Huftt... Yaudah nanti aku antar obat ke ruangan kamu." ujar Melanie menatap Vale khawatir.
Vale tersenyum tipis. "Makasih."
***
Valerie masuk ke dalam ruang rapat dengan berkas-berkasnya. Pandangan matanya bertemu dengan Sean yang menatapnya lekat. Valerie buru-buru mengalihkan wajahnya dan segera duduk di tempatnya.
"Rapat dimulai, silahkan Ms. Vasylchenko."
Valerie berdiri di depan meja rapat sambil menjelaskan proyeknya yang terpampang di layar proyektor. Awalnya berjalan lancar, namun semakin lama ia berdiri, rasanya tubuhnya semakin memberat. Hingga rasa pusing tiba-tiba menyerangnya. Pandangan matanya memburam dan tampak berputar. Valerie hampir terjatuh ke belakang, namun ia buru-buru menggenggam pinggiran meja rapat dan menahan tubuhnya yang hampir limbung.
Semua orang di meja rapat melihat Valerie heran. Sean yang berada di sana, tau ada sesuatu yang salah dengan Valerie. Saat Valerie masuk ke ruang rapatpun, Sean bisa melihat wajah pucat Valerie yang coba wanita itu tutupi dengan make up.
Sean bangkit dari tempat duduknya dengan wajah khawatir. Valerie menggenggam erat pinggiran meja sambil menutup matanya. Valerie mencoba menguatkan dirinya, lalu membuka matanya kembali. Pandangannya mengabur dan tampak abu-abu, Valerie melihat siluet seseorang yang melangkah ke arahnya, hingga akhirnya kesadarannya direnggut.
"Valerie." Sean tepat waktu menahan tubuh Valerie yang tiba-tiba terjatuh. Beberapa orang di ruang rapat tampak panik dan sedikit berteriak saat Valerie tiba-tiba ambruk.
Sean dengan cepat menggendong tubuh lemah Valerie dan melangkah meninggalkan ruang rapat begitu saja.
"Hubungi Dokter pribadiku!" ujar Sean saya ia melewati Brenda—sekretarisnya.
Brenda mengangguk, lalu menjalankan tugasnya. Sean melangkah cepat ke arah ruangannya dan membawa Valerie masuk ke dalam kamar pribadinya. Sean membaringkan Valerie dengan perlahan, lalu melepas heels yang Vale gunakan.
Sean duduk di sebelah Valerie dengan wajah panik. "Valerie, Valerie." panggil Sean berulang kali sambil menepuk pelan pipi Vale.
Tidak ada respon, Sean menggenggam tangan Vale yang terasa dingin. Sean menggosok-gosok telapak tangan Valerie dan menyalurkan rasa panas padanya. Sean menarik selimut dan menyelimuti tubuh Vale sampai ke lehernya.
Bunyi pintu terbuka, membuat Sean memalingkan wajahnya ke arah pintu. Seorang dokter tampak masuk ke dalam ruangan pribadinya. Seorang dokter pria.
"Periksa dia!" ujar Sean cepat setelah dokter tersebut masuk.
Dokter tersebut mengangguk paham, lalu mulai memeriksa keadaan Valerie. Tidak butuh waktu lama, Dokter tersebut melipat stetoskop miliknya.
"Kondisi tubuhnya lemah dan dia kelelahan. Sepertinya dia sedang banyak pikiran dan sulit tidur. Sebaiknya Tuan bertanya padanya, apa yang terjadi." ujar dokter tersebut.
"Untuk saat ini saya meresepkan vitamin dan obat tidur untuk membantunya istirahat lebih lama." Dokter tersebut menyerahkan selembar kertas resep pada Sean.
Sean menghela nafas panjang, lalu mengangguk singkat sambil menerima kertas tersebut. Dokter tersebut menunduk pamit, lalu pergi dari sana.
Sean melangkah ke arah ranjang, lalu duduk di sebelah tubuh Vale yang terbaring. Tangan Sean perlahan turun mengusap rambut halus Valerie dengan begitu lembut. Lalu kepalanya turun mengecup kening Valerie lama.
"Tunggu aku sebentar lagi." bisik Sean tepat di depan wajah Vale yang terpejam manis.
__ADS_1
Sean mengecup lagi kening Valerie lamat-lamat, menumpahkan rasa rindu, panik, khawatir, dan takut yang selama ini ia rasakan.
Bersambung...