
Sean duduk di sofa ruangan yang tampak tak asing baginya karena sering ia kunjungi. Sean duduk dengan tenang sambil meminum kopi yang tersedia dihadapannya, ditemani seorang pria pemilik ruangan tersebut.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya pria pemilik ruangan tersebut. Pria tinggi tampan yang begitu dekat dengan Valerie.
Jovan. Iya, dia Jovan, pria yang duduk berhadapan dengan sosok Sean saat ini. Jovan dan Sean kini duduk sambil bersantai di ruangan Jovan.
"Kami membahasnya. Aku mengikuti semua permintaan mereka." jawab Sean. Jovan mengangguk singkat, lalu meletakkan cangkirnya dengan elegan.
"Apa kau tau di mana Valerie tinggal?" tanya Jovan dengan sebelah alis terangkat dan senyum miringnya.
"Di Mansionmu." jawab Sean santai. Jovan mengangguk sambil tersenyum tertahan, lalu menyandarkan badannya ke sofa.
"Valerie tinggal dengan Aiden di hotel yang sama." ujar Jovan dengan senyum miring terselubung. Setelah mendengar itu, Sean menatap Jovan tajam dengan pandangan tak percaya.
"Aku yang menjemputnya agar dia tidak tinggal berduaan dengan pria itu. Tetapi, Valerie menolak karena Aiden sudah membiayai dia ke Rusia dan sudah membayar hotel." ujar Jovan memanas-manasi, berharap usahanya membuat sesuatu di dalam diri Sean terbakar dan meledak.
Tentu saja usaha Jovan tidak sia-sia. Nyatanya, sekarang ada yang membara di dalam diri Sean. Tangan Sean mengepal erat dengan wajah marah.
"Di mana hotelnya?" tanya Sean tajam.
Jovan tersenyum kemenangan, lalu menggidikkan bahunya mengejek. "Bukankah Rusia negara kekuasaanmu, cari saja di mana hotel itu." ujar Jovan sengaja menarik-ulur emosi Sean.
"Aku Aliano." ujar Sean kesal.
"Sudah jelas kau Romanov. Sebentar lagi juga kau akan sah menjadi bagian dari Romanov. Lalu, setelah kau menikah dengan Keluarga Petrov, kalian akan menjadi pasangan pemegang kekuasaan Negara." ujar Jovan menggoda Sean.
"Aku hanya akan menikahi satu orang dalam hidupku dan kau tau siapa dia." ujar Sean kesal. Dia benar-benar terpancing dengan permainan yang dibuat oleh Jovan.
"Valerie? Mungkin saja dia dan Aiden sekarang sedang menghabiskan waktu di luar sambil mengenang masa lalu." ujar Jovan lagi semakin membuat emosi Sean memuncak.
Namun wajah marah Sean tiba-tiba terganti dengan wajah tenang dan senyum tak tertahan. "Valerie tidak akan lari dariku." ujar Sean percaya diri dengan senyum yang tiba-tiba terganti dari ekspresi marah.
"Mungkin sebentar lagi kau akan mendengar kabar menggembirakan darinya." Jovan mengerutkan kening bingung mendengar ucapan Sean. Apa maksudnya?
Jovan menatap Sean meminta penjelasan. "Aku bercinta dengan Valerie." ujar Sean frontal tanpa tau malu dengan senyum lebarnya. Mengingatnya membuat Sean kembali ke saat itu. Melayang di udara.
"APA?" teriak Jovan kaget sambil bangkit berdiri menatap Sean.
Sean hanya duduk dengan senyum yang tidak luntur. "Kau melakukannya?" tanya Jovan tidak percaya, namun dibalas anggukan pasti oleh Sean.
"Kau melakukannya dengan sepihak bukan?" tanya Jovan marah sambil menarik kerah jas Sean. Sean mengangguk namun tetap tersenyum tak bersalah.
__ADS_1
"Valerie masih kecil sia*an." ujar Jovan marah.
"Dia sudah dewasa bodoh." ujar Sean ikut marah mendengarnya.
"Dia masih polos dan baj*ngan sepertimu melakukan itu padanya."
"Kau juga melakukannya dengan seorang wanita di pesta pertunanganku. Bahkan kau baru pertama kali bertemu dengannya."
"Itu berbeda Sia*an."
"Apanya yang berbeda? Dia mabuk dan kau melakukannya. Siapa yang lebih baj*ngan?" tanya Sean kesal.
Jovan melepas cengkeramannya, lalu menghembuskan nafas tidak percaya. Jovan duduk kembali sambil menyugar rambutnya. Dia mengaku kalah. Seharusnya dia tidak berdebat dengan Sean.
"Apa Kakek tau?" tanya Jovan lagi dan dibalas gelengan oleh Sean.
"Aku bisa dibunuh Kakek saat itu juga jika dia tau aku melakukan itu pada cucunya." ujar Sean dengan wajah takut. Tentu saja Sean hanya tunduk saat menghadapi Kakek Valerie.
"Aku akan melaporkanmu pada Kakek." ujar Jovan sambil meraih ponselnya. Sean bangkit dengan panik dan menghalau Jovan.
"Jangan! Bisa-bisa Kakek tidak mengijinkanku bertemu Vale lagi di rumah." ujar Sean dengan wajah memohon.
Sean terus mencoba menahan Jovan, bahkan mereka sampai bergulat tidak jelas hanya untuk memperebutkan ponsel. Mereka berdua saling menggerutu, mengancam satu sama lain untuk menemukan titik tengah.
"Aku akan mencari tau nomor dan semua hal tentang wanita itu untukmu." ujar Sean sebagai penawaran terakhirnya. Jovan terdiam setelah mendengar hal itu. Wanita yang menarik perhatiannya di pesta pertunangan Sean. Wanita yang ia tiduri dan pergi begitu saja bahkan sebelum ia membuka mata.
Jovan menatap Sean dengan wajah bertanya. Apa dia serius? Sean yang melihat itu langsung mengangguk yakin.
"Aku cari tau dan sebagai balasannya jangan beritahu Kakek! Deal?" tanya Sean sambil mengulurkan tangannya pada Jovan. Jovan membalas uluran tangan tersebut.
"Deal."
***
Valerie kini duduk bersampingan dengan Aiden di sebuah kursi taman. Vale masih senantiasa menatap Aiden dengan raut takjub. Dirinya tidak menyangka kalau sahabat kecilnya akan menjadi artis terkenal dan setampan ini.
Aiden melirik ke arah Vale yang sejak tadi menatap wajahnya dengan mulut terbuka. Aiden terkekeh melihat wajah konyol Vale, lalu mencubit pipi Vale gemas.
"Awss." ringis Vale sambil mengusap pipinya yang baru saja dicubit oleh Aiden.
"Jangan lupa tutup mulut, iler kamu sampai keluar tadi." ujar Aiden dengan lengkungan senyum dimatanya.
__ADS_1
Vale menutup mulutnya sambil mengusap sekitar mulutnya jika perkataan Aiden benar kalau ia ileran dan ternyata Aiden hanya menggodanya saja. Ia baru sadar kalau sejak tadi ia melamun memperhatikan Aiden.
"Kenapa sejak awal kita bertemu kamu tidak langsung memberitahuku?" tanya Vale heran.
"Aku pikir kamu lupa. Buktinya kamu tidak mengenaliku saat pertama kali kita bertemu." ujar Aiden.
Vale mengerut. "Gimana aku bisa kenalin, kamu sekarang sama kamu waktu kecil itu beda 180 derajat tau." ujar Vale membela diri.
Aiden mendecih. "Aku langsung mengenalimu sejak pertama kali kita bertemu." ujar Aiden.
"Huhhh... Kalau aku jangan ditanya." ujar Vale sambil memutar tangannya didepan wajahnya sambil menggeleng pada dirinya sendiri. Sejak kecil sampai sekarang wajahnya ya begini, pas-pasan.
"Kamu cantik." ujar Aiden tidak setuju dengan jawaban Vale.
Vale terdiam mendengarnya, namun pipinya memerah mendengar pujian tersebut.
"Selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aiden memecah keheningan. Vale menoleh dan berpikir.
"Makan." jawab Vale yang dibalas kekehan oleh Aiden. Vale mengernyit heran melihat Aiden yang tertawa.
"Bukan itu maksudku. Kamu sekarang pengangguran, apa yang akan kamu kerjakan setelah kita pulang nanti?" jelas Aiden lagi yang dibalas ber-oh ria oleh Vale.
"Mencari pekerjaan di perusahaan lain tentu saja." jawab Vale.
"Kamu tidak akan kembali ke Perusahaan Sean?" tanya Aiden.
Vale tampak berpikir sejenak. Dia sudah keluar dari sana, bagaimana mungkin dia masuk lagi ke sana. Semenjak hari pertunangan Sean dengan Anna waktu itu, Valerie mulai mengaitkan segalanya tentang sifat Sean dan keluarganya.
"Mungkin iya mungkin tidak." jawab Vale ambigu.
Aiden mengernyit sedangkan Vale tersenyum senang membuat Aiden kebingungan dengan jawabannya.
"Tuhan sudah membuat jalan kita masing-masing. Jika memang berjodoh, pasti akan bersatu." ujar Vale menatap Aiden dengan senyum lembut.
"Jika memang Sean bukan jodohku, aku yakin Tuhan menyediakan orang yang lebih tepat untukku." tambah Vale lagi. Aiden terdiam dan menatap Vale lekat. Kata-kata gadis itu membuat sesuatu di dalam hatinya tenang. Jika memang dia tidak berjodoh dengan Vale, dia harus ingat ada seseorang di luar sana yang menunggu kedatangannya.
Bersambung...
Next Up : dua hari kemudian (30/7)
Enjoy...😊
__ADS_1