The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 45


__ADS_3

Valerie berbaring miring di atas ranjangnya. Hingga pulang kantor, Sean tak terlihat di kantor. Tentu saja Vale menunggunya. Dia hanya ingin bertanya dan memastikan.


Apa Sean benar-benar tidak peduli padanya. Namun sepertinya iya. Valerie mengirim puluhan pesan pada pria itu, namun hingga sekarang tidak ada balas apapun darinya.


Apa yang harus Valerie lakukan sekarang? Dia harus bertemu dan berbicara empat mata dengan pria itu.


Hingga akhirnya sebuah ide muncul dan ia dengan cepat beranjak dari ranjangnya. Valerie mengambil jaket dan memakainya sambil berjalan.


Vale menuruni anak tangga dengan bunyi hentakan kaki tak sabar. Jovan yang sedang menonton televisi di ruang tamu dibuat heran olehnya.


"Valerie kamu mau kemana?" tanya Jovan saat melihat Valerie melangkah ke arah pintu keluar.


"Menemui Sean di rumahnya." jawab Vale cepat tanpa menghentikan langkahnya.


Jovan hendak menghalau, namun langkahnya terhenti mengingat betapa sedihnya wajah gadis itu hari ini.


Valerie melangkah cepat ke luar dari kawasan rumahnya dan melangkah ke rumah besar di seberangnya. Kenapa dia menjadi bodoh? Sudah jelas Sean tinggal di depan rumahnya. Vale hanya perlu menghampiri pria itu ke rumahnya.


Valerie berhenti di depan gerbang tinggi dan besar tersebut. Vale menekan bel intercom di sebelahnya.


"Siapa?" tanya seseorang dari intercom tersebut.


"Valerie. Aku ingin menemui Sean." ujar Vale.


"Ahh.. Nona Valerie. Silahkan masuk." jawab seseorang dibalik sana.


Perlahan gerbang tersebut terbuka sedikit demi sedikit. Valerie langsung memasukinya dan melangkah cepat ke arah pintu masuk.


Valerie mendorong pintu masuk tersebut dan menatap ke sekeliling rumah luas tersebut. Seorang pelayan datang menghampirinya.


"Nona Valerie sudah lama tidak bertemu." sapanya. Vale tersenyum singkat.


"Di mana Sean?" tanya Vale to the point.


"Tuan berada di kamarnya." jawab pelayan tersebut. Vale mengangguk dan langsung beranjak ke kamar pria itu.

__ADS_1


Valerie sudah pernah menghabiskan waktunya di sini walau hanya beberapa hari. Dia juga cepat akrab dengan para pelayan dan penjaga. Itu semua karena Sean menyuruh mereka menganggapnya Nyonya rumah ini.


Vale menatap sebuah pintu yang tak asing dan terpahat jelas di otaknya. Dengan penuh keyakinan, Vale membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar pria itu.


Cklek.


Mata Valerie langsung bertemu dengan mata pria yang berhasil membuat hatinya sakit seketika. Melihat wajah pria itu, membuat hatinya bahagia dan sakit bersamaan.


Namun yang Vale terima hanya tatapan dingin tak bersahabat yang pria itu lemparkan padanya. Sean sedang duduk manis di meja kerjanya dengan sebuah laptop di depannya.


"Siapa yang membiarkanmu masuk ke sini?" tanyanya dingin dengan tatapan mata tajam. Vale masih terdiam kaku di tempatnya. Hatinya masih tidak percaya, apa pria yang ditatapnya hari ini adalah pria yang ia cintai?


Valerie menahan matanya yang mulai memanas. Tatapan dingin itu membuat hatinya ikut membeku.


"Aku datang hanya untuk menanyakan beberapa hal." ujar Vale menahan dirinya.


"Apa?" tanya Sean tanpa menghilangkan wajah dinginnya.


Valerie meremas tangannya dengan gugup. "Kamu tidak membaca semua pesanku?" tanya Vale.


Vale menggigit bibirnya mendengar jawaban Sean yang menyakitkan hatinya. Valerie berusaha untuk tidak menangis dan melemah saat ini.


Namun Vale tak bisa menahan rasa panas di matanya dan bibirnya yang mulai bergetar. "La—lalu apa yang terjadi hari ini?" tanya Vale sekuat mungkin.


Sean terdengar mendengus. "Apa kurang jelas? Semua sudah kukatakan sejelas mungkin di depan kamera. Seharusnya kau sudah menontonnya." ujar Sean tanpa menoleh sedikitpun ke arah Vale.


Raut wajah Vale semakin memerah menahan tangis. Dia menggigit bibirnya untuk menahan getaran pada bibirnya. Dia tidak ingin menangis lemah di depan pria yang membuangnya.


Valerie menatap lekat Sean yang asik mengetik di depan laptopnya. Bahkan pria itu sama sekali tidak menatap ke arahnya, membuat hati Vale semakin memburuk.


Vale menunduk menyadari betapa bodohnya dia. Sejak awal otaknya sendiri sudah memperingati hatinya untuk tidak terjatuh dalam pesona pria ini.


Valerie meremas tangannya semakin kuat. Matanya lagi-lagi terpejam hanya untuk menguatkan dirinya sendiri.


Valerie mengangkat kepalanya dan menatap lekat Sean. "Apa kamu benar-benar tidak mencintaiku selama ini?" lirih Vale dengan nada pilu.

__ADS_1


Gerakan tangan Sean di atas keypad seketika berhenti. Sean bisa mendengar betapa menyedihkan suara Valerie saat ini. Gadis itu menahannya sejak tadi.


Sean mencengkeram tangannya dan menguatkan dirinya. Perlahan Sean menoleh ke arah Vale yang menatapnya lekat dengan wajah memerah. Bibirnya bergetar dan matanya memerah menahan tangis.


Sean memasang senyum miringnya. "Apa kau tidak menyadarinya? Apa kau bodoh? Mana mungkin aku mencintai wanita sepertimu." ujar Sean dingin.


"Tidak, aku sangat mencintaimu, hingga rasanya sakit dan menyakitkan." batin Sean berteriak.


Vale tak bisa menahan lagi air yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya. Perlahan air tersebut jatuh membasahi pipinya. Vale menunduk dengan suara isakan yang ke luar dari bibirnya.


"Jangan menangis sayang!" batin Sean yang berharap bisa Vale dengarkan.


"Ternyata aku memang bodoh." lirih Vale. Valerie mengusap pipinya yang basah dengan gerakan kasar.


Vale menatap Sean lekat dengan wajah berderai air mata. "Penyesalan yang akan kuingat hingga akhir hidupku, karena aku mencintai pria sepertimu." ujar Vale.


Vale membalikkan tubuhnya cepat. Melangkah ke luar dari rumah tersebut dan berlari menghiraukan tatapan bingung para pelayan dan penjaga.


Meninggalkan Sean yang terdiam menatap pintu yang sudah menelan Vale. Ingin rasanya Sean berlari dan memeluk gadisnya, namun ia tidak bisa. Sean harus menahan dirinya hingga akhir.


"Maafkan aku." lirih Sean sekecil mungkin.


Valerie berlari menuju kamarnya, menghiraukan teriakan Jovan yang shock saat melihatnya datang dengan penuh air mata.


Valerie mengunci pintu kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Valerie menangis pilu. Berulang kali Vale berusaha menghapus air matanya yang tidak ingin berhenti.


Jadi ini akhir kisah cintanya dengan Sean. Benar kata orang-orang, cinta pertama memang tidak pernah berhasil. Valerie hanya harus mencari cinta terakhirnya.


Namun Vale menyadari, benar kata orang-orang, cinta pertamalah cinta yang paling berkesan dan tak bisa dilupakan dengan mudah. Dimana pertama kali kamu merasakan rasanya mencintai, hingga takut memikirkan jika dia pergi meninggalkanmu.


Cinta pertama yang menyesatkan dan  menghancurkan, namun mengandung kenangan yang begitu besar.


"Cinta pertamaku yang menyedihkan" batin Vale.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2