The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 17


__ADS_3

Saat Sean yang sibuk memeluknya di meja makan, tiba-tiba lewat dua orang pelayan dengan kantung besar yang masing-masing mereka bawa.


Vale buru-buru mendorong tubuh Sean menjauh, lalu mengikuti mereka berdua yang berjalan kedepan kulkas besar dan mewah. Vale terperangah bukan dengan kemewahan kulkas dan canggih itu, namun gadis itu malah terperangah saat melihat ciki, coklat, es cream dan yang lainnya di keluarkan oleh kedua pelayan tersebut.




"Hati-hati pecahan kaca Vale. "Ucap Sean memperingati, saat gadis itu tiba-tiba meloncat dari pelukannya.


"Siapa suruh kamu lempar-lempar piring segala. " Batin Vale mengejek, namun tetap menghindari pecahan piring tersebut dengan langkah hati-hati.


"Woah... "Ucapnya kagum dengan mulut terbuka. Vale benar-benar suka makan.


Sedangkan Sean, kini pria itu berdiri dengan wajah kesal menatap kearah Vale yang berdiri kagum menatap makanan.


"Sial. " Batin Sean kesal. Ia melangkah mendekati valerie dan berdiri di samping wanita tersebut.


"Bersihkan pecahan ini! "Ucap Sean dingin pada seorang pelayan yang sigap datang setelah tuannya selesai makan.


"Baik tuan. "


"Ada sesuatu yang anda inginkan Nona? "Tanya salah satu pelayan tersebut sopan. Vale yang mendengar pertanyaan tersebut langsung mengangguk semangat.


"Iya, aku mau itu. "Ucap Vale sambil menunjuk makanan ringan di dalam plastik tersebut.


"Tidak, kamu baru saja sarapan, jangan memakan makanan ringan! "Ucap Sean yang berdiri di samping Vale. Vale memberengut kesal menatap Sean, namun berusaha memasang wajah semenggemaskan mungkin.


"Sean.. "Bujuk Vale dengan imut khas anak-anak.


"Tidak! Kamu bisa memakannya siang nanti. "Ucap Sean tegas dan berhasil membuat Vale semakin cemberut sedih.


Vale menatap ciki-ciki tersebut dengan wajah sedih. Ia tak bisa memakannya sekarang. Sean benar-benar pria yang overprotektif padanya.


Dengan raut sedih, Vale berbalik menghiraukan Sean dan pergi menuju ruang tamu. Ia melempar tubuhnya malas ke atas sofa.


Sean melangkah menyusul Valerie yang pergi menuju ruang tamu. Di lihatnya gadis itu duduk dengan raut sedih dan kecewa karna tak bisa memakan ciki yang pelayannya bawa.


Sean merasa kasihan melihat raut wajah sedih gadisnya, namun ia tetap harus tegas agar gadis itu tak menganggapnya main-main. Setelah sampai di dekat sofa, Sean duduk di sebelah Vale yang memasang wajah sedihnya. Vale menggeser duduknya saat Sean mengambil duduk di sebelahnya.


"Kamu bisa memakannya nanti siang sayang. "Ucap Sean berusaha membujuk Vale yang merajuk padanya. Namun Vale tetap memasang wajah cemberutnya dan menghiraukan Sean yang berusaha membujuknya.


Sean berusaha memutar otaknya, mencari alasan yang kira-kira dapat membuat Vale kembali ceria dan melupakan kekesalannya. "Kamu ingin menelfon kakek-nenekmu? "tanya Sean yang berhasil membuat Vale langsung menoleh menatap Sean.


"Apa? "tanya Vale masih dengan wajah cemberut, berusaha memastikan apa yang ia dengar tadi adalah nyata.


"Menelfon kakek-nenekmu, kamu mau? "Tanya Sean sekali lagi.


"benarkah? "tanya Vale tak yakin, namun sekarang wajah cemberutnya perlahan memudar. Sean mengangguk menanggapi pertanyaan Vale yang ragu-ragu pada ucapannya.


Perlahan senyum Valerie merekah dan mengangguk semangat. "Yes, akhirnya aku bisa bicara pada kakek dan nenek. Apa aku beritahu mereka yang sesungguhnya, bahwa sekarang aku sedang di sekap oleh atasanku sendiri? " Batin Vale berteriak jahat memikirkan cara agar ia dapat lolos dari tempat ini secepatnya.


"Tapi, kamu hanya dapat menanyakan kabar mereka lalu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja di Paris. "ucap Sean yang seakan tau apa yang sedang Vale pikirkan.

__ADS_1


Vale melotot kaget mendengar ucapan Sean, lalu melongos lemas karna apa yang ia rencanakan harus gagal begitu saja. "Baiklah. "Ucap Vale pasrah, setidaknya ia dapat berbicara pada kakek-neneknya.


"Ingat, kamu tak bisa lari dariku selama lima hari ini sayang. "Ucap Sean dengan senyum miring khasnya yang tak akan pernah bisa Vale lupakan.


Kalian mungkin bertanya di mana handbag yang ia pakai semalam beserta seluruh isinya, seperti ponselnya. Vale sudah sejak bangun mencari keberadaan handbagnya di kamar, namun sama sekali tak menemukannya di manapun.


Vale yakin bahwa Sean sudah menyembunyikannya di tempat paling aman, yang tak bisa gadis itu jangkau.


Sean merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponsel Vale dari sana.


Vale mengatub mulutnya kaget. Ternyata ponselnya dikantongi oleh pria itu selama ini.


"Telfonlah mereka! Aku beri waktu 30 menit perhari. Kau bisa menelfon kakek-nenekmu selama lima hari di sini. Kurang baik apa aku? "Ucap Sean membanggakan dirinya sendiri sambil menyerahkan ponsel Vale.


Vale mengambil ponselnya dengan semangat, lalu hendak beranjak menjauhi Sean. Namun, dengan cepat Sean mencekat lengan Vale, menarik tubuhnya kencang dan jatuh tepat di pangkuannya.


"Sean. "Sungut Vale. Ia ingin berbicara leluasa dengan kakek-neneknya tanpa ada Sean.


"Berbicaralah disini! Aku tak akan menganggumu. "Ucap Sean dengan senyum manisnya.


"Iya atau tidak sama sekali. "Valerie hendak memberengut tidak setuju namun Sean dengan cepat mengeluarkan jurus andalannya. Valerie menghembuskan nafas putus asa dan akhirnya pasrah di atas pangkuan Sean.


Jari-jemari Vale menari di atas layar lalu meletakkannya di depan telinga. Vale mendengar deringan dan menunggu seseorang di sebrang sana menjawabnya.


"Halo. "Mata Vale melebar senang saat mendengar bibinya mengangkat telefon rumah.


"Halo Bibi, ini Valerie. "


"Oh Nona, Nona sedang berada di Paris saat ini? "


"Kakek sama nenek lagi berjemur pagi. "Ucap bibi dari sebrang sana.


"Ah.. Bibi tolong berikan pada Kakek-Nenek! Vale harus cepat, Vale di kejar waktu. "Sean tersenyum senang melihat raut khawatir gadisnya yang ketakutan.


"Ah iya nona. Bibi panggil secepatnya. "Beberapa saat diseberang sana diam tanpa ada suara. Hingga 5 menit kemudian suara neneknya terdengar.


"Valerie. "Ucap neneknya lembut.


"Nenek, ini Valerie. Maaf Vale nggak memberitahu Nenek dan Kakek terlebih dahulu tentang kepergian Vale. "Ucap Vale.


"Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja di sana? "Tanya neneknya.


"Vale baik Nek. Apa Nenek sama Kakek baik-baik saja? "Tanya Vale.


"Iya. Tenang saja, ada Bibi yang menjaga Nenek dan Kakek. Kamu yang seharusnya menjaga diri baik-baik di sana. "


"Iya Vale akan jaga diri baik-baik kok. "Ucap Vale. Namun menatap kearah Sean seakan menyindir pria itu yang selalu mencoba macam-macam dengannya.


"Nenek tau, di kamar Vale masa ada serangga yang gigitin badan Vale. Leher, tangan, dan juga bibir Vale sampai bengkak karna serangga itu. Anehnya serangganya cuman satu, terus nafsuan sama Vale. Tiap malam gigitin mulu. "Ucap Vale menatap Sean dengan pandangan sengit. Sean tau serangga itu adalah dia. Sean tersenyum lebar mendengar perumpamaan lucu Vale tentangnya.


"Yaudah kamu semprot pakai racun serangga. "Ucap neneknya.


"Racun serangganya nggak akan mempan Nek. Oh iya, Kakek dimana? "Ucap Vale masih menatap Sean, lalu memalingkan wajahnya ke arah depan.

__ADS_1


"Disini, di samping Nenek. Nih kek, Valerie. "Ucap neneknya di seberang sana.


"Vale. "


"Kakek, Kakek baikkan? "Tanya Vale semangat. Namun Vale merasakan kepala Sean perlahan bersandar di dada atas kirinya dan tangannya memeluk erat perutnya.


"Baik. Kamu? "Tanya kakeknya.


"Baik. "Ucap Vale sedikit risih dengan pergerakan Sean.


"Di sana amankan? "Tanya kakeknya. Sean merenggut satu tangan Vale yang bebas, lalu menariknya dan meletakkannya di atas kepalanya sendiri. Mengisyaratkan agar Valerie mengelus-elus kepalanya lembut.


"Aman kok. "Ucap Vale. Seakan mengerti kemauan Sean, perlahan ia mengelus lembut kepala Sean, merasakan betapa lembutnya rambut pria itu di telapak tangannya.


"Baguslah, kamu harus jaga diri baik-baik! "


"Iya Kek, yaudah Valerie tutup. Ucapin juga sama Nenek, jaga kesehatan selama Vale nggak ada! Bye Kek. "


"Iya. "Setelah mendengar jawaban tersebut, Vale menutup telfonnya.


Vale menatap kearah Sean yang menutup matanya menikmati elusan tangannya. Vale mencoba merasa nyaman walau hatinya kini berdebar kencang. Matanya menatap lekat betapa sempurna setiap lekuk wajah Sean.


Bulu matanya, hidung hingga bibirnya, Vale memuji ciptaan Tuhan yang sempurna ini. Namun di balik itu, Vale melihat beberapa bekas luka memanjang di tubuhnya.


Di dada, di punggung serta di lengan atasnya. Hati Valerie tiba-tiba sedih melihatnya. Apa yang sudah dilalui Sean hingga mendapatkan itu semua? Otaknya berusaha keras mendapatkan jawaban yang membuatnya khawatir.


"Serangga hmm? "Tanya sean tiba-tiba sambil membuka matanya. Mengangkat kepalanya, lalu menatap kearah Vale dengan senyum menggoda.


Vale yang tadi terdiam dengan fikirannya, langsung tersadar karna Sean yang menatapnya lekat saat ia mencuri pandang padanya.


"Iya, kamu serangganya. "Ucap Vale frontal. Tuhkan, dia tidak akan bisa bersikap lembut dan baik pada Sean walau hanya lima hari. Pria itu selalu menggodanya.


Sean tersenyum geli, lalu tangannya menarik pinggang Vale agar semakin dekat dengannya.


"Kamu suka serangganya? "Tanya Sean lagi-lagi menggoda Vale.


"Siapa yang suka serangga yang kerjaannya gigitin mulu? "Ucap Vale kesal.


"Oh jadi mau yang lebih? "Tanya Sean lagi dengan nada geli.


"Mesum. "Ucap Vale kesal dengan wajah memerah, lalu mendorong dada Sean menjauh dan beranjak dari pangkuannya. Ia duduk kembali di sofa dan merenggut remot TV dengan kesal.


Sedangkan Sean menatap wajah Vale dengan senyum kesenangan. Ia suka membuat Vale kesal dan cemberut dengan wajah memerahnya.


Bersambung...


Hay... Hay..


Kangen nggak? Komen dong yang banyak biar aku makin semangat lanjutnya.


Pict sean deh sebagai penutup, aku masih belum dapet cast valerie loh yang cocok, kalian bisa kasih rekomendasi dikolom komentar.


__ADS_1


Bye.... 😘💕


__ADS_2