The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 7


__ADS_3

"Kamu gila! Lepas!" teriakku marah sambil memukul bahu dan dada bidangnya menjauh.


Sean tersenyum miring seakan puas mendapatkan mangsa yang dia incar. Kedua tanganku terus memberontak menjauhkan tubuhnya. Hingga akhirnya, Satu tangannya terangkat menggenggam kedua pergelangan tanganku dan menahannya di atas kepalaku dengan kuat.


Aku menggeleng takut saat melihat wajahnya semakin puas menatapku tak bisa melakukan apapun. Perlahan kurasakan satu tangannya yang bebas mengelus pahaku naik turun dengan bebas.


"Jangan!" teriakku. Kakiku mencoba memberontak dari kukungan kakinya yang menahan kakiku. Namun, dengan gerakan cepat kakinya berpindah berada di antara kedua kakiku yang memberontak. Dan sialnya senyum miringnya semakin menjadi-jadi saat melihat rokku tersingkap dan memudahkannya mengelus pahaku.


Di posisi seperti ini, kelihatan seakan aku membuka diri untuknya, seakan aku menyerahkan diri padanya dengan pasrah. Tangan Sean beralih memainkan kedua dadaku bergantian hingga aku terperanjat kaget. Tidak, ini tidak boleh dilanjutkan, Sean sudah gila.


"Sean!" panggilku mencoba menyadarkannya. Namun tetap saja matanya dipenuhi nafsu membara menatap ke arahku yang berada di bawahnya. Tangannya semakin menjadi-jadi ingin membuka kemeja kerjaku. Tubuhku terkaku ingin menangis mendapatkan perlakuan ini. Namun sekarang, menangis bukan tindakan yang tepat.


"Sean, berhenti!" ucapku lagi dengan wajah berharap ia akan mendengarkanku.


Seketika sebuah ide muncul di otakku. Aku tau akan menyesali ini, namun ini satu-satunya cara agar ia sadar dengan perilaku bejatnya.


Sean menatap wajahku lekat dan aku ikut menatap matanya lekat. Jantungku berdegup kencang mencari ancang-ancang, lalu kepalaku naik menggapai kepalanya yang jauh dari jangkauanku. Bibirku meraih bibir Sean dan memangutnya lembut.


Perlahan kepalaku turun karena tak sanggup lagi untuk mengangkat kepalaku dalam keadaan berbaring seperti ini. Ternyata kepala Sean ikut turun agar pangutan kami tak terlepas.


Bibirku membelai bibirnya seakan menenangkannya. Tangannya yang berada di atas dadaku beralih mengelus pipiku. Kurasakan bibirnya ikut membalas lumatanku seakan kami berbicara dengan bibir saling menyatu.


Tangan Sean melepas kedua tanganku dan beralih meremas pinggulku. Aku tersenyum, akhirnya dia melepaskan kedua tanganku. Tanganku turun mengusap lembut kepalanya naik turun, seperti mengusap kepala anak kecil. Tanganku yang satu lagi menggenggam tangannya yang meremas pinggulku.


Tanganku mengamit tangannya agar tak melanjutkan kegiatan tangannya di pinggulku. Kurasakan tangan Sean mengerat menggenggam tanganku, seakan menyalurkan seluruh nafsu yang ia pendam.


Perlahan Sean melepas pangutannya dan menatapku lembut serta tersenyum padaku. Aku sampai terhanyut dalam tatapannya yang indah. Aku tenggelam dalam bola mata biru itu. Aku terpaku dengan senyumnya yang teduh dan hangat, berbeda saat ia selalu menatapku dengan senyum mengerikannya selama ini.


Tapi tidak sekarang. Aku harus bisa lolos darinya saat ini. Dengan gerakan cepat, aku menonjok tepat di hidungnya, mendorong tubuhnya sekuat tenaga dan menendang tepat di selangkangannya.


"SHIT! "


Aku berlari menjauh, menatap Sean yang meringis kesakitan sambil menatapku tajam. Aku merapikan kemeja dan rokku dengan raut kesal lalu menatapnya lagi.


Kuacungkan jari tengahku padanya sambil menatapnya marah, lalu melangkah pergi dengan raut puas.


heh... Aku tak akan bisa diperbudak olehnya dan jatuh di bawah kekuasaannya.


 ***


Mataku berulang kali hampir tertutup dikarenakan kantuk yang begitu menyerangku. Aku sudah meminum kopi ketigaku dan mataku tetap tak bisa diajak berkompromi. Kutatap jam tanganku yang menujukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


Sudah, aku tak sanggup lagi melanjutkan ini. Aku akan pulang dan tidur saat ini juga. Namun dalam keadaan mengantuk begini, aku takut mengendarai mobilku kerumah.


Ah... Aku akan memaksakannya. Yang terpenting sekarang adalah tidur di atas ranjangku yang nyaman.


Dengan langkah cepat aku menuju parkiran dan masuk ke dalam Bugatti milikku dan melaju menuju rumahku.


Untungnya aku sampai dengan selamat kerumahku. Aku berganti pakaian dengan piyamaku, menghapus make up ku, mematikan lampu dan tidur dengan nyaman dalam balutan selimutku.


Mataku mengerjab pelan. Dalam tidurku, kurasakan tanganku begitu sakit dan kaku. Pandanganku dipenuhi dengan kegelapan remang-remang dan kulihat sosok di dalam kegelapan ini berada di atasku.


Mataku langsung membola lebar dan berusaha meraih sosok itu. Namun, kurasakan tanganku terikat oleh sebuah kain dan ternyata ini alasan mengapa tanganku begitu keram.


"Kamu siapa?" tanyaku takut.


"Kau tidak bisa mengenali suaraku sayang?" tanyanya dengan suara berat dan dinginnya. Tunggu aku mengenali bentuk suara ini, ini suara pria gila itu—Sean.


Tanganku mencoba menghidupkan lampu, namun sia-sia karena kini tanganku semakin berdenyut sakit.


"Maaf sayang, aku mengikatnya terlalu kencang." ucapnya dingin dan aku semakin menggigil ketakutan.


"Jadi kamu yang memasuki kamarku selama ini?" tanyaku.


"Ya.... Kau terkejut?" nadanya seakan mengejekku. Sedetik kemudian Sean meraih bibirku, membuka kasar dan melumatnya brutal. Bibirku sakit dan nyeri menerima ciuman kasarnya.


"Tidak... Jangan!" aku tak bisa menahan air mataku untuk turun. Tubuhku bergetar hebat di bawah tubuhnya yang mengerikan. Auranya sangat gelap dan membuatku semakin ketakutan.


Tanpa sadar cahaya lampu menerangi kamarku dan aku bisa melihat sosok Sean dengan jelas di atasku dengan raut mengerikannya. Kulihat jelas hidungnya yang memar akibat tonjokanku. Tangannya menghapus air mataku yang turun dan mengusap pipiku lembut.


Tangisku semakin keras karna tatapan tajamnya yang siap memangsaku. Bahkan jari-jemarinya sudah tak bisa mengusap air mataku yang terus menerus turun.


"Shhh.. Diamlah sayang!" ucapnya dengan nada memaksa.


Sean seorang pria pemaksa dan dia benar-benar membuatku ketakutan setiap kali berjumpa dengannya. Sejak awal jika Sean memberikan kesan yang baik, mungkin saja aku akan mudah menyukainya. Namun tidak kali ini, dia sudah melecehkanku berulang kali.


"Apa yang akan kau lakukan?" aku berteriak marah. Kamarku kedap suara dan aku yakin tak ada yang bisa mendengar teriakanku saat ini.


"Percuma kau berteriak sayang, kau akan habis malam ini di bawahku." aku menggeleng ketakutan dengan bibir bergetar. Kurasakan tangannya yang dingin merayap masuk ke dalam piyamaku dan mencengkeram dadaku dari dalam.


Detik itu juga aku ingin berteriak namun tangannya menutup mulutku dan menatapku dengan senyum miringnya. Aku menggeleng lemah sambil menatapnya memohon ampun. Aku merutuki tubuhku yang tak bisa melakukan apapun dan tangannya semakin gencar memainkan dadaku. Aku mendengar desahan puas dari mulutnya karena berhasil membelai dadaku di dalam sana.


"Nikmatilah kejutan dariku Sweety." bisiknya di telingaku lalu mencium leherku ganas. Menyesap kulit leherku kuat sampai menimbulkan bekas kemerahan di sana.

__ADS_1


Aku menyesali kebiasaan tidak memakai bra saat malam hari. Sean membelai dadaku dengan gencar dan memainkan puncaknya, membuatku mengerang tertahan.


Sean merobek piyama atasku dan menatapku dengan mata penuh nafsu. Tangisku semakin deras karena dia berhasil membuatku bertelanjang dada di depannya.


"Kau sangat indah sayang." bisiknya. Kedua tangannya yang bermain di atas dadaku telah berganti tugas dengan mulutnya.


Aku mengerang kesakitan menerima semua pelecehan Sean di tubuhku. Mulutnya beraksi menciumi seluruh tubuh atasku dan meninggalkan bekas kemerahan dari leher hingga perutku.


Entah aku harus bersyukur atau tidak Sean masih belum menyentuh bagian privasiku. Sean melepas ciumannya dari tubuh atasku dan menatapku yang lemah tak memberontak. Kutatap matanya yang penuh nafsu menatapku tajam, sambil membuka baju yang ia kenakan.


Sean mencengkram pipiku, lalu mencium bibirku ganas. Menarik rambutku sehingga kepalaku terdongak. Ciuman kasarnya yang seakan ingin menghancurkan mulutku.


Tangannya perlahan turun untuk melepas celanaku.


"Tidak!" aku berteriak sedih. Sean menatapku lekat dan aku menatapnya dengan wajah bercucuran air mata.


"Jangan menyentuhku! Aku berjanji akan melakukan apapun, asal kau tidak menyentuhku." ucapku putus asa. Aku tidak bisa membiarkan Sean merenggut keperawananku walau di negara ini, itu adalah hal yang biasa.


"Apapun?" tanyanya dengan wajah menyelidik.


"Ya." jawabku pasrah.


"Yang kuinginkan saat ini adalah membuatmu mengerang dengan keras di bawah kekuasaanku." ucapnya menatapku dengan wajah tertarik.


"Maka lakukanlah sekarang, setelah semua ini jangan pernah menemuiku lagi dan muncul dihadapanku." ucapku menatapnya tajam. Aku pasrah, semua tergantung pilihan pria di atasku ini.


Kulihat Sean terkekeh nyaring lalu beranjak dari atas tubuhku.


"Kau begitu gigih, aku menyukai kepintaranmu. "Ucapnya mengusap bibirku yang luka dan bengkak. Tangannya bergerak melepas ikatan di tanganku, lalu mengusapnya lembut.


"Kau sudah berjanji akan melakukan apapun. Sekarang tidurlah!" Sean menarik selimut menutupi tubuh kami berdua. Sean menarikku dalam pelukannya dan mengusap kepalaku agar aku tertidur. Mataku memberat hingga akhirnya pasrah di dalam pelukannya dan tidur bersamanya.



Bersambung.....


Hay... hay... hay.....


Akhirnya aku lanjut lagi nih. Gimana nih part yang ini masih ada yang mau nebak nggak???


Jangan lupa Like, share dan komen danbtambahkan dalam favorite kalian. 😊

__ADS_1


bye... 😘💕


__ADS_2