The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 82


__ADS_3

Valerie mendorong tubuh Melanie yang sedang memberontak kesal. "Kenapa harus aku sih?"


"Karena kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya." jawab Vale sembari mendorong Melanie yang kini berpakaian layaknya seorang Koki.


Melanie memasang wajah kesal sambil terus didorong oleh Anna masuk ke dalam dapur sebuah Restauran.


"Kamu udah simpankan obatnya? Ingat ya, lakukan sesuai rencana." ujar Valerie.


Melanie masuk ke dalam dapur yang tampak ramai dan tampak sibuk. Melanie berdiri kaku sambil berusaha berbaur agar tidak ketahuan oleh para koki yang sedang sibuk dengan kerjaan masing-masing.


"Hey, ambilkan tenderloin!" ujar seorang Koki padanya.


"Tenderloin, ba.. baik." Melanie langsung beranjak ke arah kulkas besar dan mengambil daging tersebut dan memberikannya pada Chef tersebut.


"Ruangan VVIP 4, Fish Fillet, Sirloin Steak, Pear & Mixed greens salad. Drinks : Ocean Blue and caffe latte. Dessert : Golden Opulence Sundae dan chocolate fondue." ujar seseorang yang berbaju chef pada semua orang di dalam sana.


Melanie yang mendengarnya langsung tersentak. Ruang VVIP 4 adalah ruangan Anna dan Nikolay. Melanie mendekat ke arah troli dengan nama VVIP 4. Melanie melihat satu-persatu Koki meletakkan makanan yang dipesan ke atas meja dengan begitu rapi.


Melanie menatap ke arah seorang perempuan yang membawa dua minuman ke arah troli tersebut dan meletakkannya di sana.


Melanie tersenyum miring, lalu mengeluarkan botol yang Valerie berikan padanya dan dengan cepat menuangkannya pada dua minuman tersebut.


"Aku tidak tau yang mana minuman Anna, jadi aku memasukkan ke dalam kedua minuman ini." batin Melanie.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Melanie segera keluar dari sana dengan tingkah biasa saja.


Melanie berjalan ke arah toilet dan menemukan Valerie di dalam toilet. "Vale."


Vale menoleh ke sumber suara. "Kamu lama sekali." ujar Vale geregetan karena menunggu Melanie menyelesaikan tugasnya.


"Aku gemetaran tau."


"Jadi bagaimana? Selesai?" tanya Valerie.


"Aman. Tinggal rencana selanjutnya." ujar Melanie.


Valerie tersenyum. "Yasudah, kamu ganti baju, aku tunggu." ujar Vale menyerahkan kantung belanja pada Melanie. Melanie mengangguk dan masuk ke dalam bilik toilet untuk mengganti pakaiannya.


Tak butuh lama untuk Melanie mengganti pakaiannya. Begitu selesai, Valerie dan Melanie keluar dari Restaurant tersebut.


"Aku menginap di kantor malam ini, tetapi aku meminta ijin menginap di rumahmu pada Kakek." ucap Vale.

__ADS_1


"Okey." jawab Melanie mengerti.


Melanie mengantar Valerie ke kantor mereka. Setelah sampai, Valerie membawa tasnya ke dalam kantor sambil melambai pada Melanie.


Setelah Melanie pergi, Valerie masuk ke dalam kantor yang mulai sepi, namun masih ada beberapa karyawan yang lembur.


"Ms. Vasylchenko." Vale menoleh saat seseorang memanggil namanya.


Dia adalah salah satu karyawan yang mengenal dirinya. Valerie melempar senyum manis.


"Ada apa malam-malam datang ke kantor?" tanya orang tersebut.


Vale tersenyum mencari jawaban. "Sebuah dokumen penting tertinggal di ruanganku. Aku datang untuk mengambilnya."


"Oh, Baiklah."


Valerie tersenyum, lalu pergi dari sana dengan langkah cepat.


Valerie masuk ke dalam lift dan langsung menekan lantai 77. Valerie keluar dari kotak besi tersebut, lalu melangkah ke dalam ruangan Sean.


Dengan santai Valerie masuk ke dalam ruangan Sean yang tampak gelap. "Sean." panggil Vale sedikit takut karena ruangan tersebut yang sangat gelap.


Pintu kamar pribadi Sean terbuka dan langsung menyalurkan cahaya yang keluar dari kamar tersebut ke luar. Sean berdiri memasang senyum, lalu Vale melangkah masuk.


"Supaya tidak ada yang curiga." jawab Sean.


Valerie meletakkan tas yang ia bawa ke atas sofa yang berada di kamar tersebut. Valerie melepas sepatunya dan duduk di atas ranjang dengan sambil membuang nafas lelah.


Sean yang melihatnya, ikut duduk di atas ranjang sambil menaikkan kedua kaki Valerie ke atas ranjang dan menyelonjorkannya.


Sean dengan telaten mulai memijat kaki Valerie dengan penuh perhatian. Valerie tersenyum lembut sambil menatap lekat Sean yang sangat fokus dengan kegiatannya.


Valerie mulai merasakan kakinya yang tadinya pegal, mulai kembali enakan karena pijatan Sean. Valerie tersenyum geli sambil menggerakkan jari-jemari kakinya untuk menggoda Sean.


Sean yang melihatnya malah memijat jari kaki Vale. Ia mengira Valerie memberi kode untuk memijat jari kakinya juga.


Valerie terkikik geli melihat respon Sean yang begitu lembut padanya. Valerie yang tidak bisa menahan diri melihat Sean yang terlihat begitu tampan saat ini, langsung melepas pijatan tangan Sean dan menghambur memeluk pria itu.


Sean kebingungan menerima pelukan Vale, namun ia tetap membalasnya sambil mengelus punggung Valerie lembut. "Kamu kenapa? Baby lagi?" tanya Sean.


Valerie menggeleng di leher Sean. Valerie sangat suka menghirup aroma tubuh Sean yang menggoda.

__ADS_1


Karena Vale terlihat masih tidak ingin melepas pelukannya, Seanpun berinisiatif untuk memperbaiki posisi Valerie dipangkuannya agar dia nyaman.


Valerie yang merasa sangat nyaman di pelukan Sean semakin mengeratkan pelukan mereka. "Sayang, ingat Baby, jangan erat-erat meluknya!" ujar Sean. Valepun mengendorkan pelukannya dengan wajah kecewa.


Namun Valerie malam mencium leher Sean sebagai gantinya. Tubuh Sean tersentak saat mendapat serangan tiba-tiba dari Valerie. Bibir lembut, mulut hangat dan belaian lidah Valerie di kulit lehernya berhasil membuat sesuatu dalam dirinya terbakar.


Bukan hanya satu kali. Valerie mendaratkan ciumannya berulang kali di tempat yang berbeda-beda, bahkan hingga ke rahang Sean.


Awalnya Sean menggeram dalam hati dan mencoba menahan diri, namun tindakan agresif Vale membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.


"Berhenti Valerie!" ujar Sean susah payah menahan erangan. Tangan Sean kini berhenti mengelus punggung Vale dan malah mencengkeram baju wanita itu.


Valerie seakan menulikan telinga dan tetap melanjutkan kegiatannya. Sean yang sudah lupa diri langsung mengangkat tubuh Valerie, membaringkannya ke atas ranjang, lalu merangkak di atas tubuh Vale masih dengan menahan bobot tubuhnya.


"Kamu sedang hamil, jangan menggodaku lagi okey." ujar Sean masih mencoba untuk tidak menerkam Valerie.


Valerie mengalunkan tangannya di leher Sean dan menatap pria itu lembut. "Tetapi aku merindukanmu. Kamu tidak merindukanku?" tanya Vale memasang wajah sedih.


Sean membuang nafas kasar, lalu mempertemukan bibirnya dengan bibir lembut Valerie yang sangat menggoda.


Sean ******* lembut menyalurkan perasaannya pada Valerie dari pangutannya. Valerie menutup mata menikmati permainan Sean yang mulai mengambil akal sehatnya.


Tangan Sean turun dan mencengkeram pinggul Valerie erat-erat. Valerie tersenyum dalam pangutan mereka saat merasakan tangan Sean di pinggulnya. Kebiasaan lama Sean yang begitu ia rindukan.


Tak ingin tinggal diam, Valeriepun mulai membuka kemeja yang Sean kenakan sambil melanjutkan ******* mereka.


Sean yang menyadarinya, langsung melepas pautannya dan menatap lekat Valerie dengan nafas memburu.


"Kamu yakin?" tanya Sean memastikan untuk terakhir kalinya.


"Iya. Pertama kali kamu melakukannya padaku, aku terpaksa karena tidak bisa melakukan apapun. Ini kedua kalinya, dimana kita sama-sama saling membutuhkan." ujar Valerie.


Sean terdiam, lalu mengecup kedua mata Valerie bergantian. "Maaf untuk kejadian itu." ujar Sean.


Valerie menggeleng. "It's okay. Selagi itu kamu, aku masih bisa menerimanya, karena aku mencintaimu." ujar Vale.


Sean tersenyum tak tertahan mendengar pengakuan cinta Valerie yang selalu terdengar indah di telinganya. Selalu berhasil membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


"I love you Mi Amor."


Malam kedua mereka dimana Valerie menerima Sean seutuhnya, tidak seperti malam pertama mereka yang begitu buruk. Valerie memilih Sean sebagai seorang yang sangat berarti dihidupnya. Sean adalah orang yang Valerie inginkan untuk hidup bersama dengannya sampai mereka tua.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2