
"Tidak perlu meminta maaf, karena aku menganggap hal itu tidak pernah terjadi di acaraku."
Valerie menatap Anna yang juga menatapnya sambil tersenyum tidak masalah. Vale mengangguk paham, lalu ikut melempar senyum ramahnya.
"Baguslah jika Ms. Petrova berpikir begitu." ujar Vale.
Anna masih senantiasa memasang senyum di bibirnya, hingga ponselnya tiba-tiba berdering, menandakan sebuah telepon masuk.
Anna merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Anna tersenyum lebar saat membaca Id Caller di atas layarnya. Anna dengan begitu gembira mengangkat telepon entah dari siapa itu.
"Halo Sean, ada apa?" senyum Valerie luntur saat mendengar nama 'Sean' dari mulut Anna.
Valerie tanpa sadar menggenggam erat garpu yang ia pegang sambil memakan makananjya dengan berusaha bersikap biasa saja.
"Kenapa? Kamu merindukanku?" Valerie mengunyah makanannya dengan pelan, seperti orang tidak berselera makan.
Valerie mendengar Anna tertawa lepas dan melihat wajah gembira wanita itu. "Aku sedang makan siang." ujar Anna.
"Sebentar lagi selesai, ada apa?" tanya Anna lagi.
"Kamu ingin kemari menjemputku?" mata Vale melebar saat mendengar pertanyaan Anna.
"Baiklah, aku akan mengirim lokasinya."
"Sampai jumpa sayang." ujar Anna terakhir kali, sebelum akhirnya menutup sambungan telepon mereka.
Aiden yang sejak tadi melihat jelas semua perubahan wajah Vale saat nama Sean terdengar, hanya bisa menghela nafas.
"Mr. Romanov akan kemari?" tanya Aiden pada Anna.
"Iya, untuk menjemputku." jawab Anna.
"Hubungan kalian sepertinya berjalan dengan baik." ujar Aiden sambil tersenyum.
"Tentu saja. Aku dan Sean sudah dekat sejak kami kecil. Akulah yang paling mengerti Sean sejak dulu." ujar Anna, namun matanya memandang Vale yang memakan makanannya dalam diam.
Anna tampak menyeringai sedetik, lalu menatap Aiden dengan senyumnya.
"Aku tinggal bersama dengan Sean di rumahnya selama aku di Negara ini, karena itu Sean menjemputku dan mengantarku pulang." tambah Anna basa-basi, padahal tidak ada yang mempertanyakan hal itu padanya.
Aiden hanya ber-oh ria dan Vale hanya membalas dengan senyum tipis.
"Setelah kami menikah, Sean dan aku akan menetap di Rusia. Perusahaannya yang berada di sini akan dipercayakan kepada orang kepercayaannya." Vale mengangkat kepala menatap Anna dengan begitu lekat. Anna ikut menatap Valerie dengan sama lekatnya.
Sean tidak akan tinggal di Negara ini lagi? Pria itu tidak akan berada di Perusahaan itu lagi? Valerie tidak akan bisa melihat Sean lagi, setelah pria itu menikah.
Valerie menggigit bibirnya kuat, meletakkan peralayan makannya, lalu menatap Aiden. "Aku harus kembali ke kantor sekarang, sebentar lagi jam makan siangku habis." ujar Vale bangkit berdiri dengan wajah tak bersemangat.
"Aku akan mengantarmu." ujar Aiden sambil mencekal tangan Vale.
Vale melepas cekalan tangan Aiden dengan cepat. "Kamu temani Ms. Petrova saja, selagi dia menunggu tunangannya." ujar Vale pada Aiden.
"Kamu ke kantor dengan apa?" tanya Aiden kembali mencekal tangan Valerie dan menggenggamnya erat, agar Vale tidak bisa melepasnya lagi.
__ADS_1
"Dengan Taxi." jawab Vale singkat dan mencoba melepas cekalan tangan Aiden.
"Lepas Aiden!" ujar Vale menatap Aiden dengan wajah kesakitan. Sedangkan Anna menatap kedua orang di depannya dengan senyum miring.
"Kita pergi bersama!" ucap Aiden tak ingin dibantah.
Vale merintih merasakan pergelangan tangannya yang nyeri.
"SEAN." Vale menoleh saat mendengar suara Anna yang memanggil nama tersebut dengan nada ceria.
Tampak sosok Sean berdiri sambil menatap ke arah cekalan tangan Aiden pada Valerie dengan tatapan tajam.
Anna bangkit berdiri dengan begitu gembira sambil meraih tasnya, lalu melangkah ke arah Sean dan memeluk lengan pria itu dengan senyum manis.
Valerie memalingkan wajahnya dari Sean, menghempas kuat tangan Aiden hingga terlepas, lalu melangkah dengan wajah dingin melewati kedua pasangan tersebut.
Aiden mengusap rambutnya frustasi, lalu meraih ponsel dan barangnya di atas meja makan. Aiden dengan buru-buru mengeluarkan kartunya untuk membayar.
"Aku akan membayar makan siang ini Mr. Zachary, kejarlah kekasihmu sebelum dia semakin menjauh." ujar Anna angkat bicara.
Aiden menatap Anna, lalu berterimakasih."Kalau begitu saya duluan." ujar Aiden, lalu berlari mengejar sosok Vale yang sudah tidak ada di dalam Restauran.
Sedangkan Sean masih berdiri diam dengan segala pikirannya, bahkan tidak sadar jika Anna memanggilnya berulang kali.
"SEAN." Sean tersadar dari lamunannya, lalu menatap ke arah Anna.
"Ada apa?" tanya Sean berusaha bersikap tenang.
***
Valerie duduk dengan kasar di atas kursi kerjanya. Vale merenggut rambutnya, menutup matanya, lalu menghembuskan nafas kasar.
Perkataan Anna terus terngiang di kepalanya seakan berusaha mengambil alih otaknya. Bahkan Vale tidak bisa berpikir jernih saat ini. Kepalanya mendadak pusing berdentum-dentum seperti gendang.
Valerie menekan kepalanya kuat, berharap agar rasa berdentum-dentum itu menghilang. Namun usahanya sia-sia, kepalanya bahkan tambah sakit.
Valerie mencoba menidurkan kepalanya di atas meja dan menutup matanya erat. Beristirahat sebentar dan berharap saat ia bangun, rasa pusingnya menghilang. Hingga tidak butuh waktu lama, sampai Vale benar-benar jatuh ke alam bawah sadarnya.
***
"Vale... Valerie.. Valerie."
Valerie mengerjabkan matanya perlahan, mengangkat lehernya yang terasa kaku karena tidur di meja, lalu menatap seseorang yang memegang bahunya dan mencoba membangunkannya.
"Melanie." ucap Vale menyadari kehadiran sahabatnya yang lumayan lama tidak berjumpa.
Melanie tampak tersenyum lembut sambil mengusap rambut Vale yang berantakan.
"Jam berapa?" tanya Valerie yang tersadar kalau dia baru saja tertidur di jam kerjanya.
"Jam Enam." jawab Melanie santai. Vale merengut sambil mengutuki kebodohannya, ia sudah tertidur selama dua jam.
"Astaga, apa si Lucy itu mencariku? Atau memasuki ruanganku?" batin Vale mengingat Lucy yang begitu cerewet akan memarahinya jika dia tau.
__ADS_1
"Valerie tenang." ujar Melan menatap Vale yang duduk dengan raut khawatir.
"Lucy tidak mencarimu. Tidak ada siapapun yang masuk ke sini kecuali aku." ujar Melanie menenangkan Vale.
"Benarkah? Dari mana kamu tau?" tanya Vale tidak yakin.
"Melanie serba tau. Udah deh tidak usah dipikirkan." ujar Melan memasang raut masa bodoh.
Vale akhirnya mencoba menenangkan diri. "Bagaimana hubungan kamu dengan Sean?" tanya Melanie langsung.
Vale menatap Melanie sebentar, lalu membuang nafas pelan. "Dia akan segera menikah dengan tunangannya." jawab Vale.
"Lalu?" tanya Melan ambigu.
Valerie menatap Melanie sambil mengernyit kening heran. "Lalu apa? Ya, lalu mereka menjadi suami istri dan tinggal bersama di Rusia selamanya." jawab Valerie dengan nada kesal.
Melan tampak tersenyum puas melihat reaksi Vale. "Dia mengatakan akan menikahi wanita itu?" tanya Melanie lagi.
Valerie mendengus jika mengingat hal mengenai kedua pasangan tersebut. "Tentu saja dia akan menikahi tunangannya. Dia dan Anna sudah mengenal sejak kecil dan Anna yang paling mengerti dirinya." ujar Vale panjang lebar dalam satu tarikan nafas.
Melanie mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Mau hangout denganku untuk menghilangkan pria itu dari pikiranmu?" tanya Melanie.
Valerie menggeleng tak bertenaga. "Aku dihukum lembur selama satu minggu tanpa penaikan gaji oleh Pria itu." ujar Vale geram, bahkan tak ingin menyebut namanya.
"Kenapa dihukum?" tanya Melan heran.
"Dia membuat alasan resign diriku dengan cerita yang aneh. Padahal sudah jelas aku resign dengan benar, dia mengatakan aku melanggar aturan perusahaan karena tidak menunggu persetujuan darinya." ujar Vale marah jika mengingat kejadian kemarin.
"Seharusnya kamu menolak."
"Aku sudah menjelaskan semuanya dengan benar, sampai di titik dimana aku tidak ingin berdebat lagi dengannya dan mengiyakan segala ucapannya." ujar Vale.
Kini Melanie yang mendengus kesal karena tidak bisa hangout dengan Valerie. Melanie mengerucutkan bibir cemberut.
"Oh iya, kamu memelihara anjing ya?" tanya Melanie yang dibalas kerutan di kening Vale.
"Anjing apa?" tanya Vale bingung.
"Ini, foto anjing hitam ini." ujar Melanie sambil menunjuk foto anjing hitam yang berada di meja Valerie.
Vale meraih foto tersebut dengan cepat dan menelitinya. Foto ini dan kotak itu, jelas-jelas sudah Vale buang ke dalam tempat sampah. Kenapa ada di sini lagi?
Valerie beranjak menuju tempat sampah ruangannya dan mendapati kotak tersebut di dalam sana, namun fotonya berada di sini.
Valerie menggenggam erat foto tersebut, lalu mengangkat kepalanya menatap Melanie. "Kamu yakin tidak ada yang masuk ke ruanganku saat aku tertidur?" tanya Vale menatap Melanie lekat dengan raut serius.
"Aku menanyakannya pada asisten Lucy yang berjaga di lorong dan dia mengatakan tidak." ujar Melanie.
Vale menatap kembali foto tersebut. Ada perasaan mengganjal saat ia melihat foto tersebut lamat-lamat. Perasaannya merasa tidak nyaman. Valerie kembali ke tempat sampah dan membuang foto tersebut dengan kasar.
Bersambung.....
Next Up : 14/8
__ADS_1