The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 42


__ADS_3

Sean Update


Vote dan Like.


***


Flashback On


"Berhenti!"


Seorang bocah laki-laki kecil tampak berlari menyusuri gang sempit dengan keringat bercucuran, baju lusuh, sobek-sobek yang sudah kotor, dan 3 bungkus roti di tangannya.


Wajahnya panik dan berulang kali menatap ke belakang. Langkah kecilnya tampak tak berbanding apapun dengan langkah pria dewasa yang mengejarnya.


"Dasar pencuri kecil, berhenti kau sialan!"


Bocah kecil itu tersentak saat baju belakangnya di tarik dengan keras dan tubuh kecilnya terhempas ke jalanan. Roti yang ia bawa pun berserakan di jalan tersebut.


"Kena kau bocah." bocah kecil itu tampak bersujud, lalu memeluk kaki pria dewasa itu.


"Tolong beri aku roti itu, Ibuku sakit dan belum makan. Tolong ampuni aku." pria dewasa itu tampak geram, lalu menendang bocah tersebut yang memeluk kakinya.


"Lalu apa peduliku? Kau sudah mencuri di tokoku." ucap pria itu marah. Bocah itu meringis menahan sakit di tubuh kecilnya yang tampak kurus.


Pria itu menghampiri roti yang berserakan di jalan.


"Sial! Rotiku jadi kotor." pria itu lalu menginjak ketiga roti tersebut dengan wajah marah.


"Kau bisa ambil roti itu sekarang!" ucap pria itu dengan senyum miring. Bocah itu menatap sedih roti yang sudah tak berbentuk di jalanan itu.


Pria itu melangkah menjauh sambil tertawa. Bocah itu dengan tergopoh-gopoh meraih roti tak berbentuk itu untuk di bawa pulang.


Dia bersyukur roti itu terbungkus plastik, sehingga tidak terlalu kotor walau sudah gepeng.


Bocah itu berbelok ke arah ruko tua yang tak terpakai. Dia berhenti dan duduk di sebelah ibunya yang berbaring dengan beralaskan kardus.


"Ibu, aku membawa roti." ucapnya sambil menggoyang sedikit tubuh ibunya.


Ibunya berbalik dengan wajah pucat. Wanita itu tersenyum semampunya dan mengelus kepala anaknya lembut.


"Terimakasih Sean." ucap Ibunya parau.


Bocah kecil bernama Sean itu membalas dengan senyum manisnya. Sean membantu ibunya untuk duduk, lalu menyerahkan roti kepada ibunya.


"Maaf rotinya rusak, Sean tidak sengaja jatuh dan menimpanya." ucapnya.


Ibunya tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap kepala Sean kecil dengan penuh kasih sayang.


"Tidak apa-apa Sean, Ibu tetap menyukai setiap makanan yang kamu cari dengan susah payah." ucap ibunya. Sean tersenyum lalu menyerahkan roti itu pada ibunya.

__ADS_1


Memakan roti tak berbentuk itu dengan penuh rasa bersyukur. Ibunya terus memasang senyum menatap putra kecilnya yang mengunyah rotinya dengan lahap.


Keesokan harinya.


Sean kecil berlari dengan sekuat tenaga saat ia di kejar oleh beberapa anak berusia 5 tahun di atasnya. Sean tertangkap, tentu saja.


Sean di hempaskan ke jalanan dengan begitu kuat. "Aku selalu memperingatkanmu untuk tidak berada di wilayahku. Kemarikan uangnya!" anak-anak remaja itu merampas uang yang di genggam erat oleh Sean.


Tentu saja berhasil, tenaga Sean kecil tak sebanding dengan mereka. Anak remaja tersebut tertawa gembira saat mendapatkan uang yang mereka inginkan.


Bugh.


Tak selesai sampai di sana anak remaja tersebut memukuli dan menginjak tubuh kecil Sean dengan wajah gembira.


Sean meringis kesakitan, tubuhnya meringkuk dan tangan kecilnya mencoba melindungi tubuhnya.


"STOP!" anak remaja itu berhenti dan menatap ke arah gadis kecil yang berteriak pada mereka.


"Gadis kecil, kamu kesasar di gang ini, berbahaya loh." ujar anak remaja tersebut dengan senyum mengejek.


"Berhenti memukulinya!" ujar gadis kecil tersebut.


"Gadis kecil pergilah!" ucapnya lagi.


"MAMA PAPA, MEREKA MENGANGGU VALE." anak remaja itu tampak panik saat gadis kecil itu berteriak sangat keras dan nyaring.


Gadis kecil itu tersenyum remeh, lalu melangkah mendekati Sean kecil yang terbaring kesakitan.


"Kakak berdarah. Ayo, ikut Vale biar Mama Vale obatin kakak." ujar Vale dengan mata bulat polosnya. Vale membantu Sean berdiri dengan sekuat tenaga. Tubuh kecilnya berusaha sekuat mungkin untuk sampai ke sebuah toko roti milik keluarganya.


"PAPA MAMA BANTUIN VALE, BERATTTHH." teriak gadis itu saat melihat pintu toko roti sederhananya.


Tampak seorang pria dewasa ke luar dari sana dan menatap gadis kecil itu dengan raut khawatir.


"Vale, teriakan kamu loh sayang menggemparkan dunia." ujar papanya sambil mencubit pipi gembul Vale.


Vale terkekeh menatap papanya. Papanya menoleh ke sebelah putrinya yang sedang merangkul anak laki-laki yang lebih besar darinya.


"Papa bantuin Vale." ujar Vale. Papanya mengangguk dan dengan sigap menggendong tubuh kecil Sean ke dalam rumah makannya. Tubuh kecil Valerie mengikuti langkah kaki papanya dari belakang.


"Valerie melihat kakak-kakak besar mukulin kakak ini." adu Vale. Mamanya datang menghampiri suaminya yang menggendong tubuh Sean.


"Astaga, sebentar Mama obatin." ucap Mamanya. Papanya membawa Sean duduk di salah satu kursi pengunjung.


Valerie dengan susah payah naik ke atas kursi untuk ikut duduk.


Vale menatap mamanya yang datang dengan membawa kotak P3K. Mamanya dengan telaten mengobati Sean kecil dengan lembut.


Sesekali ringisan ke luar dari mulut Sean, namun anak laki-laki itu sama sekali tak menangis.

__ADS_1


"Kakak hebat! Kakak berdarah tapi nggak nangis. Vale kepentuk pintu aja langsung nangis." ucap Vale cerewet. Anak laki-laki itu tak henti menatap wajah gadis di depannya.


"Kakak kalau mau dipukul mereka lagi, langsung lari ke sini. Nanti Vale hajar mereka." tambah Vale lagi.


Sean tersenyum mendengarnya. Pertama kali, dia menemukan orang yang tidak memandangnya dengan raut jijik dan rendah.


Orang yang menolongnya dari kejamnya dunia. Gadis kecil yang lebih muda darinya, namun begitu pemberani.


Mama-Papanya tampak tersenyum mendengar ucapan cadel putrinya.


"Kamu rumahnya di mana?" tanya Mama Vale. Sean tidak menjawab dan menundukkan kepalanya.


Papa Vale menatap anak laki-laki itu dengan iba. Dia mengerti hanya dengan melihat penampilannya. Mamanya tampak membereskan alat-alat P3K yang sudah selesai ia gunakan.


Valerie turun dari kursinya dengan sedikit melompat. Gadis kecil itu mengambil sebuah kursi pendek dan menempatkannya di depan kulkas.


Tangan kecil Vale membuka kulkas tersebut dan mengambil susu strawberry dari sana.


Vale melangkah mendekati Sean dan menyerahkan susu tersebut padanya.


"Kakak haus ya, makanya tidak bicara?" ujar Vale. Papanya tersenyum dan mengelus rambut putrinya.


"Kakak haus sayang." ucap Papanya. Mama Vale bangkit dari duduknya dan mengemasi beberapa roti ke dalam plastik dan air mineral ke dalamnya.


Sean tampak menatap lekat susu tersebut. Vale kembali duduk, lalu menyesap susu yang tadi ia bawa juga untuknya.


Mamamya menghampiri Sean kembali.


"Ini tante ada sesuatu, bawa pulang ya. Kamu makan sama Mama-Papa." ucap Mama Valerie.


Valerie menatap lekat peristiwa di depannya. Papanya tampak tersenyum dan mengelus kepala Sean dengan lembut.


"Jangan takut, kalau ada apa-apa datang ke sini saja okey." ucap Papanya.


Sean terenyuh dan menunduk sedih. Perlahan air matanya turun dan membasahi wajahnya. Sean kecil menangis tertahan karena terharu. Sean bukanlah anak laki-laki yang mudah menangis. Dipukuli sampai berdarahpun Sean tidak pernah menangis.


Ini pertama kalinya Sean menangis karena terharu. Sean tersentak saat pinggangnya di peluk oleh sebuah tangan kecil.


"Sakitnya baru terasa ya kak, kakak kok nangisnya baru sekarang?" ujar Vale ikut sedih. Sean menatap gadis itu dengan lekat.


"Terimakasih."


Bersambung...


Ayo gabung di grup Chat, Qna disana, dll. Dikarenakan aku kemarin lama up sampe seminggu, aku panjangin deh biar puas. Udah mulai kebongkarkan.


Bye... 😘💕


Jangan lupa cuci tangan #dirumahaja

__ADS_1


__ADS_2