The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 97


__ADS_3

Vale dapat melihat jelas raut tak suka yang dipancarkan oleh Ayah Sean padanya. Valerie sedikit menunduk saat matanya bertemu dengan mata ayah Sean.


Ayah dan Ibu tiri Sean duduk dihadapan mereka tanpa suara. "Dia siapa Sean?" tanya Ibu tiri Sean sambil menatap Sean dengan wajah bertanya.


"Istriku." jawab Sean singkat.


"Apa?" Ibu tiri Sean tersontak kaget. Ia melihat ke arah perut buncit Vale yang begitu kentara.


"Dia hamil? Anak siapa?" tanya Ibunya lagi.


"Tentu saja anakku."


Ibunya menutup mulut kaget, bingung dan heran menghadapi kondisi ini. "Tetapi Anna..."


"Tidak ada Anna. Sejak awal aku sudah menolak pertunangan itu, aku melakukannya karena Kakek dan Ayah mengancamku saat itu." ujar Sean.


Sean melempar sebuah amplop coklat beserta buku nikah mereka di meja. "Aku sudah menikah dan sah secara hukum." ujar Sean tegas dan dingin.


Ayah Sean mengambil amplop tersebut dan membukanya. Ayah Sean mengeluarkan beberapa lembar foto di dalamnya. Ibu Sean lagi-lagi terkejut melihat seluruh foto didalam sana.


"Aku tau Ayah dan Kakek sudah mengetahui hal ini. Anna dan Nikolay melakukan hal ini dibelakangku, dibalik alasan karena aku menjebak mereka, namun mereka memang memiliki hubungan sejak dulu." ujar Sean panjang lebar.


Ayah Sean melempar foto-foto tersebut dengan kasar. Vale masih terdiam tak ingin buka suara saat berada dalam keadaan penuh tekanan seperti ini. "Kau tetap tidak bisa menikah dengan orang yang tidak sederajat dengan kita." teriak ayah Sean kencang hingga menggema di seluruh lorong.


Valerie tersentak saat mendengar teriakan tersebut yang pastinya secara tidak langsung ditujukan padanya. Sean menggeram pada ayahnya karena melihat istrinya ketakutan. "Tidak sederajat? Apa maksudmu sederajat dengan orang kotor dan licik sepertimu dan Kakek. Istriku bahkan lebih baik darimu dan Kakek, bahkan diriku sekalipun." ujar Sean marah besar.


Vale menggenggam tangan Sean semakin erat karena melihat kemarahan besar Sean yang jarang ia lihat.


"Berhenti Sean, istrimu hamil, jangan membuatnya tertekan karena permasalahan ini." ujar Kendra menghampiri Vale dan duduk disebelahnya.


Kendra mengusap punggung dan perut Vale pelan dan menuntunnya untuk tenang. "Aku akan membawa Valerie ke kamar, kau urus urusanmu dengan Ayah." ujar Kendra menuntun Vale untuk bangkit berdiri. Vale menatap Sean dengan wajah meminta persetujuan.


Sean mengangguk meyakinkan Vale untuk ikut dengan Kendra. Valerie akhirnya mengikuti Kendra dengan perasaan khawatir.


Sesampainya di kamar, Kendra menuntun Vale untuk duduk di atas ranjang dan berbaring nyaman. Kendra ikut duduk di atas ranjang dengan wajah tak terbaca.

__ADS_1


"Maaf, karena aku, Sean dan kedua orang tua kalian menghadapi masalah ini." ujarย  Vale bersalah.


Kendra menggeleng. "Tidak, mereka sudah seperti ini sejak Sean beranjak remaja. Aku yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya sebagai seorang kakak."


"Saat Sean datang ke rumah ini, aku sangat senang karena akhirnya aku tidak sendirian di rumah. Sejak kecil ia terlihat menyendiri dan tidak banyak berbicara. Aku melihat bagaimana Kakek dan Ayah membentuk Sean menjadi seseorang yang mereka inginkan. Aku sadar ia diperlakukan seperti boneka oleh Kakek dan Ayah, namun aku tidak bisa berbuat apapun. Sean tidak pernah tersenyum sejak dulu, walaupun ia bersama dengan temannya, dia seperti tidak memiliki teman."


"Hingga malam itu, aku melihatnya tersenyum memandang sebuah foto. Setiap hari dia akan bertemu dengan seorang pria yang akan memberikannya amplop. Aku sadar Sean membayarnya untuk memata-matai seseorang. Aku akhirnya masuk ke dalam ruang rahasia kamarnya dan mendapati album fotomu sejak kecil. Satu-satunya orang yang membuat ia tersenyum bahkan tanpa bertatap wajah dengannya adalah kamu."


Vale tercengang mendengarnya. Fakta baru tentang Sean yang begitu mengejutkan.


"Satu-satunya kebahagiaannya adalah kamu, aku tidak ingin menjadi orang yang mengambil kebahagiaan itu." ujar Kendra panjang lebar.


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah sosok Ibu tiri Sean. Vale menatap lekat saat Ibu tiri Sean berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.


"Maaf, aku tidak tau bagaimana perasaan Sean yang sebenarnya. Aku pikir aku sudah pantas menjadi Ibu baginya, namun ternyata tidak." ujar Ibu tiri Sean sambil mengelus puncak kepala Valerie.


"Aku menyayangi Sean sama seperti Kendra, aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku yang tidak tau apa yang dia alami selama ini." ujarnya lagi dengan mata memerah berkaca-kaca.


Kendra merangkul pundak ibunya dan menenangkan Ibunya tersebut. Ibu Sean meraih tangan Valerie dan menggenggamnya erat. "Tolong jaga putraku dan cintai dia seperti dia yang sangat mencintaimu." ujar Ibunya.


***


Vale POV


Aku kini tengah berdiri dihadapan Sean sambil memasangkan dasi kerjanya dalam diam. Semenjak kemarin Sean tidak ingin membahas apapun mengenai perbincangan ia dan Ayahnya setelah aku pergi dari sana. Aku juga tidak ingin bertanya dan hanya akan menunggu Sean mengatakannya tanpa paksaan dariku.


Setelah dasinya terpasang dengan rapi, Sean menunduk dan berjongkok dilantai untuk berhadapan langsung dengan perut buncitku. "Jangan nakal ya, jangan buat Mommy kerepotan." ujar Sean lembut setelah itu mengecup perutku.


Hatiku menghangat melihatnya. Sean berdiri kembali lalu menatapku lekat. Ia membawa kepalaku mendekat dan mengecup keningku lama.


"Aku berangkat. Kalau ada apa-apa hubungi aku. I love you." Aku mengangguk sambil menatap Sean dengan kelembutan.


Setelah itu Sean keluar dari kamar kami, meninggalkan aku seorang diri di tempat yang masih sangat asing bagiku.


Baru beberapa menit setelah kepergian Sean, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Ibu tiri Sean dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Sean sudah pergi, pasti kamu bosan di kamar terus. Kamu mau melakukan apa?" tanya Ibu Sean.


"Ehh." aku kebingungan ingin menjawab apa. "Aku ikut Mrs. Romanov saja." ujarku buntu tak tau harus melakukan apa.


Ibu Sean terlihat menggeleng dengan wajah kesal. "Panggil Mommy okay,ย  sekarangkan kamu sudah jadi anak Mommy." ujarnya yang kubalas denganย  anggukan canggung.


"Ahh, tunggu disini Mommy mau ambil sesuatu. Tunggu ya!" aku menatap punggung Ibu Sean yang pergi dengan begitu cepat keluar dari kamar.


Aku terkekeh melihat tingkah lucu Ibu tiri Sean yang sangat menarik. aku tak bisa menyembunyikan rasa senang karena Ibu Sean telah menerima kehadiranku di keluarganya. Aku duduk diam sambil menunggu kedatangan Ibu Sean.


Pintu terbuka dan menunjukkan Ibu tiri Sean yang masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan.


"Mommy membuat cookies, kamu cicip ya." ujarnya.


Aku tersenyum senang dan mengangguk. Aku menerima cookies pemberiannya dan memakannya dengan perasaan tak sabar.


"Ehmm, enak." ujarku tersenyum jujur menikmati cookies coklat tersebut.


"Benarkah?" aku mengangguk semangat dan memakannya lagi.


Ibu tiri Sean tampak tersenyum senang dan puas. Setelah itu, ia mengambil sebuah kotak yang berada di atas nampan juga.


Aku terdiam ketika ibu tiri Sean membuka kotak tersebut. "Ini berlian pemberian nenek Sean pada Mommy ketika mommy menikah. Sekarang mommy mau memberikannya kepada kamu." aku terkejut melihat kalung berlian dalam kotak tersebut. Batunya besar dan terlihat sangat mewah seperti milik kaum kerajaan jaman dahulu.


"Ini kalung turun-temurun untuk pengantin wanita. Sekarang kalung ini jadi milik kamu." ujarnya lagi.


Aku menutup mulut tak percaya. Aku menatap mata Ibu Sean dengan raut kaget. Ibu Sean hanya tersenyum meyakinkan dan akhirnya aku memeluknya begitu erat.


"Terimakasih Mommy." hangat. Pelukannya terasa hangat. Rasa hangat yang mengingatkanku dengan pelukan seorang ibu yang begitu mencintai anaknya. Tanpa sadar air mataku menetes. Aku jadi merindukan Ibu dan Ayah.


Bersambung..


Like, Vote dan komen yang banyak ya, biar cerita ini semakin berkembang.


Next Chapter : Besok.

__ADS_1


Ngomong-ngomong Happy Valentine day semuanya,๐Ÿ’“๐Ÿ’‹๐Ÿ’ž,, maaf telat. Ini cokelat dari aku ya๐Ÿซ๐Ÿซ๐Ÿซ๐Ÿซ๐Ÿซ


__ADS_2