
Sean update.
Like dan Vote.
Ayo gabung di Grup Chat Violet Slavny.
***
Valerie dengan begitu fokus mengerjakan seluruh pekerjaannya. Sampai akhirnya ia mulai meregangkan tubuhnya karena kelelahan. Tubuhnya kaku dan tengkuk serta pinggangnya sakit.
Valerie mencoba menenangkan matanya yang lelah karena sejak tadi harus berkutat di depan laptop. Valerie menutup matanya, menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Rasanya dia akan tertidur sebentar lagi jika begini terus.
Vale membuka matanya kembali saat terdengar suara deringan ponselnya yang berbunyi. Mata Vale menyipit saat melihat nama Aiden tertera di sana.
Vale menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga. "Halo."
"Halo, Valerie aku ingin mengajakmu makan siang hari ini." ajak Aiden langsung to the point. Vale bahkan di buat kaget karena aksi frontal Aiden.
"Ehmm.. Aku bukan bermaksud untuk menolakmu. Tetapi, setelah kejadian belakangan ini, aku memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan kalian." ujar Vale lembut dan hati-hati.
"Apa karena aku seorang Artis?" tanya Aiden. Vale membuang nafas pasrah. "Iya." jawab Vale. Jujur adalah yang terbaik untuk saat ini.
"Jika karena aku seorang Artis membuatmu tidak nyaman, aku bisa berhenti menjadi seorang Artis hari ini juga." ujar Aiden. Vale terbelalak kaget dengan kata membola lebar.
"Aiden, kau tidak bisa membuang karirmu dengan begitu mudah hanya karena seseorang sepertiku." ucap Vale tak setuju. Ada rasa marah di nada bicaranya.
"Kau tidak akan tau betapa berharganya dirimu untukku dibandingkan karir ini." ujar Aiden yang berhasil membuat Vale terdiam kaku. Nada lemah Aiden membuat hati Vale bergetar.
"Kau mungkin tidak mengenaliku, namun aku langsung bisa mengenalimu dalam sekejap. Bagaimana bisa kau tidak berharga? Kau yang merubah diriku menjadi seperti sekarang." ujar Aiden. Vale mengernyit bingung mendengar perkataan Aiden.
__ADS_1
"Aku memaksa untuk makan siang denganmu hari ini. Aku akan datang ke kantormu dan makan siang bersama mu di kantin." ujar Aiden mutlak.
"Tapi..." sebelum perkataan Vale selesai, sambungan telepon mereka terputus oleh Aiden.
Vale membuang nafas gusar sambil menatap ponselnya. Apa maksud perkataan Aiden? Pertanyaan itu selalu meluncur di otaknya.
Valerie melirik jam tangannya. Tiga puluh menit lagi jam makan siang. Valerie kembali membuang nafasnya gusar. Bagaimana sekarang? Apa yang harus dia lakukan? Jika Aiden benar-benar datang ke kantornya, bisa-bisa dirinya kembali di angkat ke atas layar.
Aiden akan membuat seluruh isi kantornya heboh dan gempar. Apa dia kabur saja? Vale merengek kesal karena tak tau harus melakukan apa.
Vale memutuskan untuk membereskan peralatan kerjanya. Menutup laptopnya, membereskan berkas di atas mejanya, mengumpulkan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam laci. Namun, pena emas mencolok itu kembali menangkap matanya. Penas emas milik Sean dengan ukiran namanya yang indah.
Keberadaan pena ini saja langsung membuatnya mengingat sang pemilik. Vale menggeleng, lalu menutup laci tersebut.
Vale bangkit dari kursinya dan berputar ke belakang. Namun deretan bunga indah di depannya kembali membuatnya terdiam. Terlalu banyak kenangan pria itu di ruangan ini. Bunga-bunga indah yang pernah Sean berikan padanya.
Vale mengulurkan tangannya menyentuh bunga tersebut. Beberapa bunganya mulai mengering dan mati. Vale menurunkan tangannya dengan perlahan. Vale mencoba menahan semuanya dan melangkah ke laut dari ruangannya.
"Dor." Vale terkekeh saat melihat wajah Melanie yang terkejut karena tingkahnya.
"Damn Vale, jantungku hampir copot." ucap Melan sambil mengelus dadanya.
"Kamu terlalu fokus." ejek Vale. Melanie mendecak dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Tumben kamu datang ke sini. Masih 20 menit lagi jam makan siang." ujar Melan sambil melirik jam tangannya.
"Aku bosan di ruanganku." ujar Vale sambil mempoutkan bibirnya.
"Aku juga mengantuk." ujar Vale dengan mata lelahnya.
__ADS_1
"Ngantuklah kalau kamu begadang cuman karena nangis." tambah Melan mengejek. Vale menggigit bibirnya geram, lalu memukul lengan Melan.
Melanie terkekeh karena berhasil mengerjai sahabatnya itu.
Masih dalam posisi berdiri, Vale menatap Melanie lekat.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." bisik Vale hati-hati.
"Apa? Kenapa bisik-bisik?" ceplos Melan.
"Tapi kamu jangan langsung heboh, stay cool okey." ujar Vake. Yang dibalas anggukan tak sabar dari Melanie.
"Aiden akan datang ke kantor jam makan siang hari ini."
"WHAT?"
Buru-buru Vale menutup mulut Melanie yang terbuka lebar dengan telapak tangannya. Teriakan Melanie membuat Vale mendecak kesal.
"Mel." Geram Vale.
"Sorry." ujar Melan sambil mengacungkan jari V nya. Vale melepas tangannya dari mulut Melan.
"Tapi kamu serius?" tanya Melan yang dibalas anggukan oleh Vale.
"Wow.. Menarik." batin Melan berteriak heboh sambil menatap Vale girang. Vale yang di tatap begitu hanya dapat mengernyit tak mengerti.
Bersambung...
Hay.. ayo gabung ke grup chat Violet Slavny. Mumpung sudah bebas masuk belum di Lock. Ayo gabung!!
__ADS_1
Untuk mengembangkan diriku sendiri, aku memutuskan untuk membuat note kapan next update selanjutnya. Untuk waktu pastinya kapan di kirim aku bakalan buat pengumuman nya di grup chat.
Note : Next Part tiga hari kemudian.