The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 40


__ADS_3

Akhirnya Sean Update.


Tekan tombol likenya dulu dong.


Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.


~Selamat membaca~


***


Valerie terdiam menatap Sean yang dengan serius menceritakan masa lalunya. Valerie tidak tau jika Sean pernah mengalami masa sulit seperti ini. Dia selalu berpikir, Sean adalah orang beruntung yang lahir dari keluarga terpandang.


"Jadi sekarang, Ibumu di mana?" tanya Vale.


"Di Rusia. Dia di rawat di rumah sakit dalam keadaan koma." jawab Sean. Vale mengangguk kecil.


"Jadi, waktu kamu diam-diam ke Rusia untuk menemui Ibumu?" tanya Valerie setelah mengingat keganjalan perginya Sean ke Rusia dulu.


"Iya. Tiba-tiba kondisinya memburuk sehingga aku harus pergi ke sana dengan tiba-tiba." ujar Sean. Vale menatap Sean lekat dan wajah sedih. Vale tau bagaimana rasanya tanpa orang tua. Vale ditinggal oleh ayah dan ibunya saat dia berumur 7 tahun.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Vale diasuh oleh Kakek-neneknya dan dibawa ke Negara ini.


Yang selama ini tidak kalian ketahui adalah, Valerie lahir dan tinggal di Rusia. Ayahnya asli darah Rusia dan Ibunya Amerika. Oleh sebab itu, marga Valerie terdengar aneh di telinga orang Amerika. Vasylchenko adalah marga ayahnya.


"Aku sejak kecil tinggal di Rusia. Aku asli orang Rusia, walau campuran Amerika dari Ibuku. Semenjak orang tuaku meninggal, Kakek-Nenek dari ibuku membawaku ke Negara ini." ujar Valerie yang tiba-tiba membuka rahasianya pada Sean.


Sean tersenyum dan tampak tak terkejut sama sekali. Seakan pria itu sudah mengetahuinya.


"Aku sudah tau." ujar Sean. Valerie menatap Sean dengan wajah terkejut.


"Aku sudah tau semuanya tentangmu tanpa kamu beritahu." tambah Sean lagi.


Valerie menatap Sean dengan wajah bertanya. Sen terkekeh melihat wajah penasaran Vale, lalu mengusap lembut pipi Vale.


"Mau kuberitahu satu rahasia lagi?" tanya Sean yang langsung dibalas anggukan oleh Vale.

__ADS_1


"Aku mengetahui semua tentangmu, di mana kamu berada, apa yang sedang kamu lakukan sampai apa yang kamu bicarakan, aku bisa mengetahui semuanya."


"Haa??" ucap Vale bingung.


"Aku memasang kamera di seluruh penjuru rumah dan tentu saja kamarmu. Aku juga memasang pelacak sekaligus penyadap suara di tubuhmu." Vale ternganga sambil menyentuh tubuhnya.


"Di mana?" tanya Vale sambil terus meraba tubuhnya. Pikirannya melayang memikirkan jika Sean memasang alat itu dengan membuka bajunya diam-diam saat dia tertidur.


"Di sini." Sean menyentuh bagian belakang telinga kiri Vale, tepat di belakang cuping telinganya.


Vale mengusap telinganya untuk mencari alatnya, namun dia tak merasakan apapun


"Dia menyatu dengan kulitmu dengan sempurna. Bertahan selama dua bulan dan bahkan tak terlepas jika kamu mandi. Setelah dua bulan, aku akan kembali menggantinya." ujar Sean. Sean mengusap belakang telinga Vale berulang kali.


"Ini dia. Jika kamu mengusapnya dengan teliti, kamu akan merasakan perbedaannya dengan kulitmu." ujar Sean. Vale mengikuti intruksi Sean dan mengusapnya sambil menutup mata. Vale bisa merasakan sedikit tekstur tidak rata di kulitnya. Ukurannya seperti sebesar kuku jari kelingkingnya.


"Jangan memasangnya lagi!" ujar Vale sambil membuka matanya dan menatap Sean dengan raut cemberut.


"Kenapa?"


"Tapi alat itu begitu penting untukku." ujar Sean.


"Kamu bisa menggantinya dengan alat lain. Jangan memasangnya di kulitku, itu mengerikan." ujar Vale. Sean terkekeh dan menggangguk.


"Kamu mau aku melepasnya sekarang?" tanya Sean lagi.


"Apa sakit?"


"Sedikit dan akan sedikit berdarah." ujar Sean. Vale melotot mendengarnya, lalu memukul lengan Sean.


"Kenapa memasang alat membahayakan itu di tubuhku?" ujar Vale kesal.


"Maaf." ucap Sean tak tau haru mengatakan apa.


"Ya sudah cabut sekarang!" ucap Vale.

__ADS_1


"Baiklah." Sean langsung beranjak dari atas ranjang sedangkan Valerie duduk di atas ranjang sambil menatap Sean.


Sean tampak mencari sesuatu di laci dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam. Membawa kotak tersebut ke arah Vale.


Vale menatap seksama seluruh pergerakan Sean dan membola saat Sean mengeluarkan sebuah pisau bermata kecil mirip seperti pisau bedah dari dalam kotak.


"Dengan itu?" tanya Vale takut.


"Iya." jawab Sean santai. Karena alat ini alat yang begitu canggih dan menyatu dengan kulit, mau tidak mau cara pelepasannya pun sedikit sakit.


Vale menggigit bibirnya khawatir. "Kalau kamu takut, tutup mata saja okay?" Vale mengangguk dan menutup matanya.


Sean tampak mengarahkan pisau kecil itu ke arah kulit Vale. Pisau bermata kecil itu, Sean tekan tepat di tengah alat itu, lalu menariknya dengan cepat.


Valerie meringis saat sesuatu seakan ditarik dari kulitnya. Sean meraih sebuah kapas dan menutup lubang kecil yang mulai mengeluarkan darah itu.


"Sakit?" tanya Sean.


"Lumayan." jawab Vale. Tidak sesakit yang dia pikirkan.


"Jangan memasangnya lagi!" ancam Vale yang dibalas anggukan nurut oleh Sean.


Sean harus mencari alat lain untuk mengganti alat itu. Kini dia tak perlu bersembunyi lagi untuk memberikan Vale alat penyadap tanpa gadis itu ketahui.


"Ehmm... Sean, bagaimana dengan gosip itu?" tanya Valerie.


"Tenang saja, aku sudah mengaturnya dengan baik." jawab Sean. Valerie mengangguk sambil melempar senyumnya. Akhirnya, dia bisa tenang sekarang.


Bersambung...


Ohh iya, Mangatoon ngupdate versi lebih baik lagi loh. Ayo cobain fitur Chat dengan penulis cerita. Ayo gabung di grup Chatku Violet Slavny.


Kalian bisa saling menyapa sesama pembaca dan mengajukan pertanyaan apapun. Kalian bisa berkeluh kesah di sana tentang cerita ini. Bisa tanya-tanya juga kalau kalian bingung.


Ayo gabung😊😊

__ADS_1



__ADS_2