
Mataku masih senantiasa terpejam dan berbaring nyaman di atas ranjang ruang kesehatan. Namun kurasakan sesuatu mengelus rambutku dan tanganku digenggam dan dielus dengan begitu lembut.
Aku mencoba membuka mata, namun perasaan ini terlalu nyaman dan rasanya aku ingin melanjutkan tidurku. Kurasakan elusan di kepalaku berhenti dan beralih mengelus perutku naik turun dan memutar.
Aku mencoba membuka mata dan tersentak saat menemukan Sean duduk di sebelah ranjangku. Mataku melotot ke arahnya dan menatapnya heran.
"Sir, anda— " belum selesai aku bicara, dia sudah memotong perkataanku.
"Sudah, istirahatlah! Maafkan aku." ucapnya lembut. Aku mengernyit bingung, untuk apa dia minta maaf? Apa jangan-jangan karena masalah melecahkanku waktu itu.
"Kenapa anda minta maaf?" tanyaku heran dan menatapnya bingung.
"Apa aku salah minta maaf?" tanyanya nyolot dan aku langsung memutuskan untuk diam tak meladeninya. Tak ada gunanya menyahuti perkataan pria ini.
"Sir, tangan anda tolong!" ucapku menginterupsi tangannya yang berada di atas perutku dan tangannya yang menggenggamku agar terlepas.
"Sudah kukatakan panggil aku Sean saat kita berdua!" ucapnya marah sambil melepas tangannya di perutku. Namun tidak dengan tangannya yang menggenggam tanganku.
"Tetapi anda Atasan saya dan ini wilayah Kantor." ucapku gugup—menatapnya yang melempar tatapan tajam padaku.
"Aku Bosnya. Panggil aku Sean kalau tidak aku akan menciummu!" ucap nya dingin, namun terkesan tegas dan menuntut.
"Tapi Sir—"
Dia bangkit dari kursinya kasar, sampai kursi tersebut terjungkal ke belakang dan menimbulkan suara terjatuh yang keras.
Dengan gerakan super cepat dia naik ke atas ranjangku dan langsung menciumku kasar. Jemarinya masuk ke helaian rambutku dan menarik rambutku agar kepalaku mendongak dan memudahkan dia menciumku lebih dalam. Satu lagi tangannya menekan tengkukku semakin dekat.
Aku terhenyak pusing. Bibirku yang luka semakin sakit dan bertambah perih. Mataku terpejam tak kuat merasakan sensasi kasar dan liar ini. Tubuhku lemas dan pasrah membiarkannya menuntutku dalam ciuman ahlinya.
Tanganku hanya dapat mencengkeram punggung jasnya untuk melampiaskan apa yang kurasakan. Tubuhku benar-benar lemas untuk memberontak dari ciumannya. Kurasakan tangannya turun dan mencengkeram pinggulku, membuat rasa panas semakin menggejolak dalam tubuhku.
Hingga akhirnya dia melepas ciuman yang dia mulai dan kami saling berebut udara dengan nafas terengah-engah. Dengan hidung yang masih saling bersentuhan, pria di atasku ini menatapku dengan mata lembutnya. Kutatap wajahnya yang ikut tersengal dengan mulut terbuka.
Perlahan kurasakan jempolnya mengusap bibir bawahku dengan lembut dan mata kami saling bertatapan lekat.
"Sudah kukatakan aku tak main-main dengan ucapanku." ucapnya menatapku lekat masih dengan jarak yang begitu dekat.
Kembali dia meraih bibirku, membelai, dan memporak-porandakannya. Bibirnya yang penuh membuat mulutku semakin terasa penuh. Tanganku yang tak bisa diam, naik dan menjambak kecil rambutnya.
Tangan Sean semakin aktif mencengkeram pinggulku hingga mulai mengelus turun. Sampai akhirnya dia kembali melepas ciumannya dan menatapku lagi.
"Coba melanggar perkataanku kalau kamu mau menerima hukuman ini lagi." ucapnya dengan senyum miring. Dia pasti kesenangan dan aku hanya bisa pasrah saat ini. Aku menatapnya tajam dan memukul bahunya mengisyaratkan agar ia turun dari atasku.
__ADS_1
"Turun! Bagaimana jika Karyawan yang lain melihat?" ucapku dingin sambil terus mendorong kedua bahunya agar menjauh dariku. Dia tidak ingin aku memanggilnya Sir, jadi jangan salahkan aku berbicara tidak sopan padanya.
Dan untungnya, dia turun dari atas ranjang dan berdiri dengan wajah dinginnya. Aku berbalik memunggunginya dan tak ingin menatapnya saat ini.
"Lebih baik kamu pergi." ucapku tak mau melihat dirinya.
Beberapa detik, hening tanpa jawaban darinya, aku mulai penasaran apa yang dilakukan pria itu di belakangku. Apa dia sudah pergi? Atau tidak?
Dengan rasa penasaran yang memuncak, aku memutuskan membalik badanku dan terkejut mendapati dia masih berdiri di sana dengan wajah dinginnya.
"Kamu kenapa masih di sini? "Tanyaku panik, takut-takut dia akan menghukumku lagi.
"Aku akan pergi, setelah kamu memanggil namaku sekali saja." Aku mengernyit bingung dan menatapnya aneh. Ada apa dengan pria di depanku ini? Dia benar-benar sungguh aneh.
"Serius? "Tanyaku untuk meyakinkan perkataannya dan menatapnya menyelidik.
"Ya." dia menjawab singkat, padat dan jelas. Aku meneguk ludahku gugup, mencoba untuk menenangkan diriku. Bagaimanapun, aku mana bisa memanggilku atasanku sendiri dengan namanya. Aku ragu. Namun, demi menyelamatkan diri sendiri, aku harus melakukannya.
"Sean." ucapku sambil menatap matanya yang juga menatapku lekat. Aku mengernyit saat dia tanpa pamit dan tanpa kata apapun, langsung melenggang pergi ke luar dari ruangan ini.
Aku ternganga tak percaya melihat kejadian yang baru saja terjadi. Sepertinya atasanku ini memang orang aneh, tetapi juga menakutkan. Aku bahkan terintimidasi berada di dekatnya.
"Dasar aneh." ejekku sambil menatap pintu yang tertutup.
Namun pikiranku kembali melayang dengan sentuhan bibirnya. Oh tidak, aku tidak menyukai perasaan ini, perasaan meremang setiap mengingat sentuhannya.
Aku menggeleng mencoba menghilangkan semua bayangan itu dan memutuskan kembali berbaring mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat sepuas mungkin.
***
Aku tertidur cukup lama di ruang kesehatan, sampai jam makan siang datang. Beruntungnya aku, Melanie datang ke ruang kesehatan sambil membawa makan siang untukku dan dirinya.
Dia membawa berbagai makanan kesukaanku, serta strawberry juice kesukaanku. Memang Melanie sahabat terbaikku.
Melanie menyiapkan meja khusus untuk pasien dan meletakkan makananku di sana. Aku bertepuk tangan senang, lalu menyerbu makan siangku dengan semangat.
Namun di sela makanku, lagi-lagi pria itu, ya atasanku yang aneh itu muncul dalam otakku. Dan yang muncul adalah kejadian ciuman liar tadi. Hell... Hilangkan dia dari otakku!
"Mel, kamu merasa aneh nggak sih liat Atasan kita?" tanyaku menatap Melan yang sibuk memakan makan siangnya juga.
"Enggak tuh." jawabnya santai. Apa jangan-jangan dia hanya begitu padaku saja?
"Kamu tau nggak sih, kemarin pertama kali dia datang ke kantor ini, dia manggil aku ke ruangannya." ucapku
__ADS_1
"Terus?" tanyanya tak minat.
"Mel, dia menciumku!"
"WHATSSSSS?" aku terperanjat kaget saat dia tiba-tiba berteriak, sampai-sampai makanan yang tadi ia kunyah muncrat ke luar dari mulutnya.
"Ih... Mel jorok." gerutuku kesal.
"Maaf, namanya juga aku kaget." ucapnya sambil membersihkan makanan yang tadi ia sembur dengan tisu.
"Tapi kamu serius Vale?" tanyanya tak percaya dan masih sibuk dengan kegiatan bersih-bersihnya.
"Iya dan hari ini dia juga datang ke sini dan kembali menciumku Mel." aduku.
"WHAT? LAGI?"
"Hmm." dehemku menjawab pertanyaannya. Aku kembali memakan makananku dan menunggu respon Melanie.
"Kenapa dia menciummu?" tanyanya dengan raut penasaran.
"Kemarin, entahlah dia tiba-tiba menciumku. Hari ini, dia menghukumku karena tak memanggilnya 'Sean' saat kami hanya berdua." jawabku.
"Apa dia menyukaimu?" tanyanya gamblang dan aku langsung menjitak kepalanya kesal.
"Jangan sembarangan!" ucapku kesal.
"Tetapi Vale, dari cerita kamu dia aneh." ucapnya memasang bibir cemberut sambil mengusap kepalanya yang kujitak.
"Iya aku tau."
"Dan lagi, aku sampai sekarang nggak bisa nemuin alasan yang cocok kenapa bibir kamu robek dalam semalam dan pergelangan memar-memar kayak gitu." kilah Mel yang berhasil membuatku kembali tersadar dengan kondisiku.
Ya, aku juga tak menemukan alasan yang tepat sampai sekarang kenapa bibirku bisa luka seperti ini. Ciuman kasar? Hanya ciuman kasar yang dapat membuat bibir sampai robek. Namun siapa?
"Ah.. Udah deh aku nggak mau memikirkannya. "Rutukku kesal dan melanjutkan makanku dengan serampangan.
Namun pikiranku terus memikirkan tentang banyak hal, terutama Sean atasan gilaku.
Bersambung.....
Hai yang udah nunggu updatetan ceritaku. Oh iya aku mau bilang kalau kalian baca nama sean itu terserah mau syon, sean, atau syan dan vale itu (vel).
Tapi kembali lagi deh sama kalian, senyaman kalian membaca nama mereka aja😉
__ADS_1
Jangan lupa share, like, comment dan masukkan dalam list favorite kalian. 😊
Bye😘💕