
Sean mulai membuka kemejanya dengan cepat. Valerie yang melihat hal itu, langsung membulat kaget. Apa Sean akan memperkosanya?
"Jangan Sean!" ujar Vale saat Sean menggunting gaun tidur tipisnya. Sean seakan tuli dan melanjutkan kegiatannya. Hingga terpampanglah dada ranum Vale yang tidak tertutupi apapun serta dalaman putihnya.
Valerie merutuki kebiasaannya tidur tidak menggunakan bra. "TOLO..." teriakan Vale dibungkam oleh bibir Sean yang berada di atas bibirnya.
Sean memangut bibir Vale dalam. Sean menggigit bibir itu agar terbuka dan menyeruak masuk membelai seluruh bagian mulut Valerie. Vale menutup matanya bingung. Ada rasa haus di dalam dirinya akan sentuhan Sean. Kepalanya rasanya pening dan bingung dengan tubuhnya sendiri.
Valerie dapat merasakan tangan dingin Sean merambat memainkan dadanya. Mata Valerie semakin mengerat merasakan permainan ahli tangan Sean pada tubuhnya. Perlahan bibir Sean turun menuju leher Vale dan memberikan tanda kepemilikannya di sana.
Vale menggigit bibirnya menahan suaranya untuk keluar. Vale seakan kehilangan akal saat ini, dia tidak bisa berpikir jernih karena permainan Sean. Vale membuka matanya dan menatap Sean yang kini bermain di dadanya.
Saat itulah ia tidak bisa menahan suaranya untuk tidak keluar. Sean tersenyum kemenangan mendengar desahannya. Sean melanjutkan permainannya, membuat tubuh Vale meremang meminta lebih.
Valerie tersadar saat tangan Sean menarik celana dalam yang hanya tersisa di tubuhnya. Valerie kembali memberontak, menendang-nendang tubuh Sean dengan brutal.
"Sean hentikan! Aku tidak aku melakukannya denganmu." ujar Vale saat Sean mulai menurunkan celananya sendiri. Memampangkan miliknya yang sudah siap. Valerie menoleh ke arah lain agar tidak melihatnya.
"Kumohon hentikan ini Sean!" ujar Vale tak ingin menatap Sean. Vale memohon dengan putus asa. Ia tidak ingin Sean melakukan ini, lalu pergi setelah mendapatkan tubuhnya.
"Tidak, jadilah milikku Valerie!" ujar Sean kembali merangkak ke atas Vale dan wajahnya berhadapan dengan Valerie.
Valerie menggeleng kuat dengan mata memanas. Tidak, ia tidak ingin menjadi milik Sean jika Sean jelas milik wanita lain, bukan miliknya.
Valerie membulatkan matanya saat merasakan sesuatu di bawah sana menggeseknya dan ingin menerobos masuk. Merasakan benda keras tersebut menekan pada area sensitifnya. Valerie meronta panik saat benda tersebut membelah mencari jalan masuk. Mata Vale terpejam erat saat merasa benda tersebut perlahan masuk.
"Jangan Sean! Kumohon." Sean menulikan telinganya malam ini. Dia sekuat tenaga berusaha untuk tidak terbuai dengan wajah menyedihkan Vale. Sean harus berhasil membuat Valerie menjadi miliknya malam ini.
__ADS_1
Valerie berusaha menggerakkan badannya memberontak dari kukungan Sean, namun tangan Sean dengan cepat menahan pinggulnya dan menuntun masuk menerobos di bawah sana.
Hingga satu titik Vale terbelalak merasasakan benda tersebut tertahan oleh sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang menjalarkan rasa sakit ke seluruh badannya.
Vale ingin kembali memberontak, namun sedikit gerakan saja membuat sakit tersebut sampai ke kepalanya. Vale terpejam erat saat benda asing tersebut menekannya semakin kuat. Sedangkan Sean menggeram mendorong tubuhnya makin dalam. Sean menenggelamkan wajahnya di leher Vale, mencium aroma gadis itu kuat-kuat. Menambah rasa gairah di dalam dirinya.
"Aakk." Vale meringis sakit merasakan pusat tubuhnya ngilu.
Hingga akhirnya jantung Vale seakan anjlok dengan hembusan tertahan saat satu hentakan kuat masuk smpurna ke dalam dirinya. Valerie berteriak kencang merasakan rasa perih di pusat dirinya, menjalar ke perut, rusuk hingga rasa ngilu di ulu hatinya. Tubuhnya seakan terbelah menjadi dua saat sesuatu menerobos semakin dalam. Dan sebutir air mata akhirnya lolos dari sudut matanya.
Sean mengangkat wajahnya dengan nafas tertahan, menatap Vale tanpa rasa penyesalan di matanya.
"Sean..." ucap Vale dengan tatapan kosong, belum bisa mempercayai kejadian ini.
"Sakitnya tidak akan lama." ujar Sean sambil mengusap pipi Valerie yang mulai basah dengan tetesan air mata.
Benar kata Sean, rasa sakit tersebut berangsung hilang. Dan lenyap ketika Sean mulai menggoda tubuhnya yang lain. Mengulum dadanya dan menggiring rasa nikmat menggantikan rasa sakitnya.
Vale menggigit bibirnya erat, menahan desahan keluar dari mulutnya. Rasanya akan menjijikkan jika ia mendesah nikmat, padahal dirinya sedang terikat dan lebih tepatnya diperkosa.
Tetapi menahan desahan itu semakin sulit saat Sean menghujami dirinya dengan lebih kuat seiring permainan bibir pria tersebut di atas dadanya.
Sean melepas bibirnya dari atas dada Valerie dan menegakkan tubuhnya menikmati lembah hangat Valerie menjepit dirinya. Sean menggeram dengan mata terpejam dan desahan tertahan keluar dari mulutnya. "Shit.." Geram Sean begitu menikmatinya.
Vale menatap wajah Sean yang berada di atasnya. Pria itu menggeram dengan keringat mengucur di keningnya seiring pompaan tubuhnya. Sean mencari kenikmatannya hingga matanya terpejam menikmati. Sean tampak begitu gagah berada di atasnya. Vale tidak ingin menatap Sean lebih lama, lalu menolehkan kepalanya.
Sean membuka matanya, turun dan meraup bibir Vale. Seakan menyalurkan rasa kepuasan yang ia dapatkan sekarang. Sean bermain dengan lidah Vale dan bergelut di dalam sana, lalu meloloskannya.
__ADS_1
Valerie tidak tau berapa lama mereka bergumul. Mereka berdua bahkan sudah basah oleh keringat. Dan semakin lama Sean menghujaminya semakin kuat dan cepat. Mengundang rasa asing dalam dirinya. Rasa tertahan yang rasanya ingin diloloskan. Valerie menggenggam erat tali yang mengikat tangannya dan mencengkeramnya erat saat desiran itu semakin kentara beriringan dengan pompaan Sean yang semakin kuat menghujamnya.
Semakin cepat dan semakin cepat dan akhirnya lepas di ujung batas. Hentakan terakhir Sean yang mendorong tubuhnya untuk menumpahkan segalanya. Begitu pula tembakan hangat yang Valerie rasakan di dalam dirinya.
Sean dan Valerie saling merebut udara dengan nafas ngos-ngosan. Sean menatap Valerie lembut, mengecup bibir Vale singkat dan membaringkan tubuhnya di atasnya.
"Sean." ujar Vale putus asa dan keberatan menopang tubuh Sean. Ditambah ia masih menyatu dengan Sean di bawah sana.
Sean menenggelamkan wajahnya di leher Vale, mengecupnya lembut. "Kamu milikku Valerie, tidak akan berubah." desis Sean di lehernya.
Valerie menahan rasa sakit di ulu hatinya saat mendengar ucapan Sean. "Lepaskan tanganku Sean!" Sean menaikkan kepalanya dan melepas tangan Valerie. Menarik tangan tersebut dan mengecupnya lembut.
Sean menatap wajah lelah Valerie lekat, mengusap rambut Valerie yang berantakan dengan lembut. Valerie tidak menolak bahkan mengelak, ia lelah dan semuanya sudah terjadi pada dirinya yang malang.
"Lepas Sean!" ujar Vale mendorong tubuh Sean, mengisyaratkan pria itu untuk melepaskan penyatuan mereka.
Sea tampak tersenyum lembut, melepas dirinya dan membaringkan tubuhnya di samping Valerie. Menarik tubuh Valerie ke dalam pelukannya.
Valerie menatap sebentar wajah Sean dengan wajah begitu kelelahan. Rasa kantuk menyerangnya dan membiarkan ras nyaman di dalam dekapan Sean melingkupi dirinya. Hingga akhirnya matanya perlahan menutup.
"Sleep tight Honey." bisik Sean sambil mengecup puncak kepala Vale lembut dan ikut bergabung di alam mimpi bersama Valerie. Rasanya ia ingin menghentikan waktu di sini bersama dengan orang yang begitu ia cintai.
Bersambung....
Hehehehe...
Note : update next 1/6
__ADS_1
Bye...😘