
Tiga hari semenjak kejadian di lift, Valerie ijin tidak datang ke kantor dengan alasan sakit.
Sean mengerti Vale memerlukan waktu. Sean tidak dapat menahan amarahnya saat Valerie mengajak Aiden makan siang dan berganti menjadi makan malam romantis.
Sean memesan Restoran yang telah dipesan Aiden agar dapat melihat Valerie dan tak membiarkan mereka berdua bersama.
Sean yang melakukannya. Mengusik Valerie agar tidak melupakannya. Sean benar-benar terpukul melihat Valerie membuang bunga-bunga yang ia berikan dengan penuh tekat untuk melupakannya. Sean hanya tidak ingin Valerie pergi darinya.
Sedikit lagi dan dia akan kembali pada Valerie. Sean kalut dengan rasa perih di hatinya, saat Valerie melewatinya seperti tidak pernah mengenalnya. Di saat Vale memandangnya sebagai seorang atasan membuat Sean merasa ngilu.
Dia melakukan ini hanya untuk Valerie. Jika Sean memberitahu gadis itu dan memilih bertarung bersama, Ayah dan Kakeknya tidak akan melepaskan Valerie dan seluruh keluarganya.
Biarkan dia yang menanggung semuanya rasa sakitnya dan berjuang agar dapat bersama-sama dengan Valerie. Ayah dan Kakeknya akan melakukan apapun untuk menyingkirkan Valerie dari hidupnya.
Bahkan disaat ia sudah menyetujui pertunangannya dengan Anna, Ayah dan Kakeknya masih melihat Vale sebagai gangguan. Mereka akan tenang jika Valerie benar-benar tidak ada di dunia.
Sean yang duduk terdiam di kursi kebesarannya tiba-tiba tersadar dengan ketukan pintu.
"Masuk!" ujar Sean.
Pintu terbuka dan tampak seorang karyawan wanita memasuki ruangannya dengan kepala menunduk.
Wanita tersebut menyerahkan sebuah berkas beserta amplop coklat.
"Hari ini Ms. Vasylchenko mengirimkan surat pengunduran diri pada HRD dan telah disetujui Sir."
"Apa? Kenapa kalian menyetujui surat pengunduran dirinya?" tanya Sean marah sambil membuka amplop coklat berisi surat resign atas nama Valerie.
__ADS_1
"Ms. Vasylchenko bukan karyawan yang terikat kontrak Sir, Ms. Vasylchenko dapat mengajukan pengunduran diri jika dia menginginkannya. Kami tidak ada alasan untuk menolak." ujar Wanita di depannya dengan kepala menunduk takut karena suara bentakan Sean.
Sean menggebrak meja dengan kasar. "Kau bisa membuat alasan apapun untuk menolaknya. Katakan seluruh pekerjaan yang dia tanggungjawabi tidak bisa ditinggalkan." ujar Sean marah.
"Ms. Vasylchenko mengatakan tanggungjawab tugasnya sudah diserahkan pada ketua bagian dan ketua akan memilih penanggung jawab yang lain." jawabnya.
"Maka katakan tugas tersebut tidak dapat berpindah tangan! Panggil Lucy!" ujar Sean sambil melempar berkas dan amplop yang dibawa oleh wanita tersebut.
Wanita tersebut menunduk hormat. "Baik Sir." jawabnya takut.
Wanita tersebut pergi dengan terburu-buru dari ruangan Sean. Sean menyugar rambutnya kesal dengan nafas frustasi.
Sean meraih ponselnya dengan cepat saat benda itu berdering.
"Halo."
"Masih ada pekerjaan di kantor." ujar Sean sambil mengusap kepalanya pening.
"Serahkan pada tangan kananmu!" titah Kakeknya dingin.
"Tidak bisa. Besok aku berangkat." ucap Sean dingin
"Kau gila...." Sean mematikan ponselnya dan membantingnya asal.
Kepalanya pusing dan wajahnya terlihat lelah. Tiga hari ia memikirkan Valerie dan hanya dapat melihat gadis itu dari kamera tersembunyi yang ia pasang di seluruh penjuru rumahnya dan kamarnya.
Sean hanya dapat melihat Valerie dari CCTV ruangan Vale saat gadis itu berada di ruangannya. Sean merasa puas walau hanya melihat Valerie yang fokus dengan segala pekerjaannya dari balik monitor.
__ADS_1
Apa Valerie sebenci ini padanya? Sampai-sampai gadis itu memutuskan menjauh darinya. Sean tidak dapat hidup tanpanya, Valerie adalah hidupnya.
Pintu terketuk. "Masuk!"
Tampak Lucy masuk dengan kepala menunduk. "Bagaimana dengan seluruh tugas Valerie?" tanya Sean langsung to the point.
"Seluruh tugas dan tanggung jawab Valerie berpindah tangan pada Glady Sir. Glady saya tunjuk untuk menggantikan posisi Valerie sebagai Designer utama."
"Sialan. Batalkan! Beritahu Valerie tugasnya tidak dapat berpindah tangan!" ujar Sean marah sambil membanting mejanya.
"Maaf Sir, Valerie tidak dapat dihubungi sejak tiga hari yang lalu setelah ia meminta ijin dengan saya. Hari ini juga saya terkejut melihat surat pengunduran dirinya dan berusaha menghubunginya, namun tidak ada respon sama sekali." ucap Lucy dengan kepala menunduk.
Sean meraup rambutnya kesal dan menutup matanya untuk menahan letupan amarah dalam dirinya.
"DATANGI RUMAHNYA!" teriak Sean tak dapat mengontrol emosinya.
Lucy tersentak kaget mendengar bentakan Sean padanya. Lucy menunduk gemetar dan akhirnya mengangguk.
"Baik Sir, saya permisi." ujar Lucy takut.
Lucy keluar dengan cepat, sedangkan Sean bangkit berdiri dan membanting kursi marah.
Bersambung...
Note : update next 26/5
Bye...😘
__ADS_1