
Sean memakan makan malamnya dalam diam. Ia duduk dengan begitu elegan dan makan tanpa suara. Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri meja mereka sambil membawa sebotol anggur.
"Permisi Tuan, Nyonya." ujarnya.
"Anggur ini aku pesan spesial untuk malam ini. Mari minum." ujar Anna.
"Aku tidak minum." ucap Sean langsung menolak.
"Sean, menolak minum sama saja menjatuhkan harga diri. Ingat tradisi kita!" ujar Ibu tiri Sean menimpali.
"Besok aku harus bekerja." tambah Sean.
"Satu gelas tidak akan membuatmu mabuk." ujar Ibu tiri Sean lagi.
Sean melempar pisau dan garpunya ke atas meja, lalu menatap Ibu tirinya dan Anna bergantian dengan tatapan tajam.
"Aku bukan orang bodoh. Jangan menguji kesabaranku karena aku sudah cukup menahan diri sampai saat ini." ujar Sean lamat-lamat sambil menatap Anna tajam.
"Apapun yang kau rencanakan dalam otak kecilmu itu, tidak akan pernah bisa menjatuhkanku dalam perangkapmu."
"Anna, ingat aku masih memegang kartu As mu, jadi bersikaplah dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan segalanya dalam satu hari." ucap Sean benar-benar marah. Anna meneguk ludahnya kasar sambil meremas tangannya sendiri panik.
"Sean, kenapa kau berbicara begitu kasar pada Anna?" kata Ibu tiri Sean dengan wajah terkejut.
Mata Sean memicing, lalu bangkit berdiri dari meja makan tersebut dengan raut dingin.
"Aku pulang, kalian lanjutkan saja makan malam ini." ujar Sean datar, lalu pergi dari restoran tersebut dengan hati berapi-api. Sean bahkan menghiraukan panggilan ibu tirinya dan tetap melangkah menjauh dari sana.
***
Valerie melangkah pelan di tepi pantai dengan pasir putih dan airnya yang begitu jernih. Gaun tipisnya berterbangan karena angin pantai yang sejuk. Vale mengelus perutnya dengan senyum tipis sambil menikmati sinar matahari pagi.
Vale menoleh ke sebelah kanannya, dimana Gilbert ikut berjalan beriringan dengannya. "Kau tidak punya kekasih?" tanya Vale tiba-tiba.
Gilbert mengernyit. "Belum." jawab Gilbert singkat.
Vale tersenyum mengejek. "Sedih sekali." ujar Vale. Gilbert mendengus mendengarnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ben?" tanya Vale lagi.
"Dia juga belum." jawab Gilbert.
"Hehh, kalian tampan tetapi kalian tidak laku." ujar Vale. Gilbert lagi-lagi mendengus sambil mengelus dadanya sabar.
"Sama sepertiku. Sean adalah pria pertama dalam kisah cintaku. Dia tiba-tiba datang seperti serigala liar dan langsung menerkamku saat melihatku pertama kalinya."
"Banyak sekali wanita yang berdiri di sampingnya. Harus nya kau mengikuti triknya dalam memikat hati wanita."
"Kau juga wanita pertama dalam kisah cintanya. Dia hanya mencintaimu sejak dulu sampai sekarang. Aku sangat kagum melihat kegigihannya dalam mendapatkanmu." ujar Gilbert.
Vale terkekeh. "Aku tau. Karena itu aku menghiraukan segala sikap buruknya padaku dulu, menghiraukan segala masa lalu buruknya dan hanya melihatnya sebagai Sean—pria yang kucintai."
Gilbert terdiam mendengar ucapan Valerie. "Sean sudah memikul terlalu banyak beban sejak ia kecil. Aku hanya ingin meringankan beban yang ia pikul dan melewati segalanya bersama dengannya."
"Tetapi, lagi-lagi dia hanya memikirkan tentang diriku dan menghiraukan dirinya sendiri. Aku ingin melawan mereka bersamanya. Namun dilain sisi, aku takut diriku hanya akan menambah bebannya semakin berat."
"Seandainya aku tidak lemah dan tidak penakut, aku ingin berdiri disampingnya dengan rasa bangga." langkah Gilbert terhenti mendengar ucapan panjang lebar Valerie.
"Kau harusnya bangga." Ujar Gilbert. Vale menatap ke arah Gilbert dengan wajah bertanya.
"Dia tidak mengorbankan dirinya sendiri. Dia melakukan itu, karena dia yakin dia bisa melakukannya hingga tuntas. Dengan kau yang menuruti keinginannya untuk bersembunyi di pulau ini dengan baik, sudah membuktikan bahwa kau mempercayai Sean bisa menyelesaikan ini semua sampai tuntas." ujar Gilbert.
Giliran Vale yang berdiri diam. Vale mengangkat kepalanya dan menatap Gilbert dengan senyum lebar, namun matanya memerah.
"Kau membuatku semakin merindukannya." ujar Vale menahan tangisnya.
Gilbert tersenyum lembut melihat wajah Valerie. Ia pun melangkah maju, lalu membawa Vale ke dalam pelukannya. Vale menenggelamkan wajahnya di dada Gilbert.
"Terimakasih sudah memenangkan hatiku." lirih Vale.
Gilbert mengangguk. "Imbalannya, kau harus mengenalkan seorang wanita padaku." ujar Gilbert menggoda.
Vale tertawa kecil. "Aku tidak yakin kau akan menyukai wanita yang akan kukenalkan padamu." ujar Vale sambil melepas pelukannya.
Gilbert mengernyit. "Dia sangat berisik dimanapun dia berada. Dia seperti wanita berkepribadian ganda. Sebentar-sebentar manis seperti kucing, lalu galak seperti macan betina. Aku tidak yakin kau bisa menghadapi spesies yang satu ini." ujar Vale sambil membayangkan orang tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya menarik." ujar Gilbert sambil mengelus dagunya tertarik. Vale tersenyum miring.
"Baiklah,kalau kau tertarik. Aku akan mengenalkan kalian setelah kita keluar dari pulau ini. Ahh, apa aku bawa saja dia ke pulau ini."
Gilbert terkejut. Vale tersenyum miring. "Ide bagus Valerie." ujar Vale memuji dirinya sendiri.
"Kau harus meminta ijin pada Sean terlebih dahulu." ujar Gilbert.
"Tenang saja. Prinsip ku adalah kita lakukan dulu kesalahan itu, lalu meminta maaf setelahnya." ujar Vale. Gilbert menggeleng prihatin melihat sikap Vale yang tiba-tiba berubah.
***
Sean membuka pintu ruangan Kakeknya dengan wajah datar. Gregory menatap ke arah Sean dengan sama datarnya.
"Ada apa kau kesini?" tanya Gregory.
Sean duduk di sofa ruangan tersebut dengan santai. "Kau mengetahui semuanya bukan?" tanya Sean pada Gregory tanpa basa basi.
Gregory tersenyum miring. "Tentang apa? Ah.. tentang wanitamu itu?" tanya Gregory memancing.
Sean tertawa sumbang. "Iya, dia istriku sekarang." ujar Sean.
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kami di Kantor Cacatan Sipil. Secara hukum, Valerie sah menjadi istriku." tambah Sean lagi.
Rahang Gregory mengeras, lalu tangannya memukul meja. "SEAN."
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Sean santai seolah tak terganggu oleh teriakan Gregory.
"Kau sudah kehabisan rencana? Aku memiliki bukti Anna tidur dengan Nikolay. Aku bisa menggunakan ini untuk menjatuhkan namanya dan membatalkan pernikahan. Ibuku juga sudah tidak ditanganmu lagi."
"Ah, mata-mata dan dokter yang coba kau susupkan masuk ke dalam laboratorium sudah menghilang selamanya."
"Betapa liciknya kau dan Ayah menggunakanku sebagai alat dan mengancamku menggunakan Ibu untuk menuruti kemauan kalian sejak aku kecil. Mulai saat ini, kau tidak punya pilihan selain menyerah atau aku akan melenyapkan Romanov hingga ke akarnya."
Sean melempar sebuah berkas ke atas meja sambil bangkit berdiri. "ini adalah bukti usaha perdagangan manusia yang kau lakukan dan penggelapan dana. Bukan hanya ini, aku masih punya banyak lagi." setelah mengucapkannya, Sean melangkah keluar tanpa pamit, meninggalkan Gregory yang terdiam dengan wajah kaget.
Gregory tak dapat membuka mulutnya dan hanya bisa duduk terdiam di kursinya. Jiwanya seakan keluar dari dalam tubuhnya dan meninggalkan raga yang kosong.
__ADS_1
Bersambung....