The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 72


__ADS_3

"KEBAKARAN."


Vale menoleh ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup. Terdengar jelas suara teriakan Bibinya yang menggelegar di seisi rumah. Valerie menatap sembulan asap yang mulai masuk melalui celah pintunya.


Valerie dengan panik melangkah ke arah pintu dan membukanya. "AAHh." Vale berteriak nyaring saat api menyulut masuk ke dalam kamarnya, tepat setelah Valerie membuka pintu. Mata Vale menatap kobaran Api panas yang mulai merambat menghabisi sudut-sudut rumahnya. Valerie tidak bisa keluar, ia terkurung di kamarnya yang juga mulai dilalap api. Apa yang harus dia lakukan?


"KAKEK-NENEK." Vale berteriak keras karena mengkhawatirkan keadaan Kakek-Neneknya.


"NONA CEPAT KELUAR!" Vale menoleh ke arah balkon saat mendengar suara Bibinya dari luar.


Vale melangkah ke arah balkon dan mendapati Bibinya yang berada di luar rumah, berdiri di bawah balkon sambil mendongak ke arah Vale.


"Bibi, Bagaimana Kakek dan Nenek?" tanya Vale begitu panik.


"Nona cepat turun!" Perlahan air mata Vale menyeruak keluar membasahi pipinya.


"KAKEK DAN NENEK BAGAIMANA, Hiks?" teriak Vale frustasi sambil terisak kencang. Tanpa sadar Bibinya juga mulai menangis dengan wajah kalut, membuat kaki Vale langsung melemas dengan hati hancur.


"Nona..." lirihan suara Bibinya membuat Valerie meraung kesakitan sambil meremas bagian dadanya yang terasa remuk.


"TOLONG SELAMATKAN KAKEK DAN NENEK BI, hikss..." Vale berteriak meraung agar Bibinya menolong kakek dan neneknya sekarang, sebelum semuanya terlambat.


"Valerie." Valerie menatap ke arah kiri, dimana Kakek dan Neneknya keluar dari rumah sambil terbatuk-batuk.


Bibir Valerie bergetar hebat dan tangisnya malah semakin kencang, namun hatinya bernafas lega melihat Kakek dan neneknya selamat dan baik-baik saja.


"Valerie, turun dari sana sekarang!" ujar Kakeknya menatap cucunya dengan wajah khawatir.


Valerie bangkit sambil mengangguk mengiyakan ucapan Kakeknya, walau masih dengan wajah berderai air mata. Valerie menarik ingusnya sambil mengelilingi kamar untuk mencari kain panjang.


Valerie menghapus air mata yang mulai menganggu penglihatannya. Matanya menatap ranjangnya yang kini mulai dilalap api. Api semakin besar tanpa Valerie sadari.


Valerie membongkar lemari dengan buru-buru, menyatukan beberapa kain dengan panik dan mengikatkannya ke tiang pagar balkon.


"ARGH." Vale berteriak kaget saat kaca pintu lemarinya mulai berpecah dan lemarinya mulai ikut terbakar.


Valerie menambah kecepatan tangannya, mengikat kain tersebut dengan benar dan kuat, lalu melemparnya ke bawah. Valerie berdoa menguatkan diri sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk turun dengan tali seadanya yang ia buat.


Masih sampai di bagian tengah, tubuh Vale hampir terjun saat ikatan tali mulai kendor. Valerie menggenggam erat tali tersebut dan berdiam sejenak, sedangkan Nenek-Kakek dan bibinya memekik kaget saat Valerie hampir jatuh.


Valerie mulai kembali turun dengan perlahan-lahan dan akhirnya sampai ke bawah dengan selamat. Valerie berlari ke arah Kakek dan Neneknya dengan mata dan wajah memerah, ditambah air matanya yang masih saja turun.

__ADS_1


Valerie menghamburkan diri memeluk dua orang yang begitu Valerie sayangi segenap hati. Valerie menangis menumpahkan segala rasa takut dan kekhawatiran yang hampir membuat Valerie putus asa di atas sana.


Valerie terisak tersedu-sedu sampai ia sulit bernafas karena hidungnya tersumbat. Sampai tidak lama, suara sirine pemadam kebakaran mulai terdengar mendekat.


***


Valerie melangkah masuk ke dalam rumahnya yang tampak terbakar menghitam. Aroma asap dan gosong juga masih tercium walau sudah tidak ada api.


Seorang pemadam kebakaran tampak menghampiri Valerie. Valerie tersenyum menyapanya.


"Penyebab kebakarannya apa Pak?" tanya Valerie.


"Kebakarannya berasal dari Technical Room. Sulit menemukan asal penyebabnya, karena seluruh ruangan Technical room sudah habis terbakar, mungkin ada salah satu alat yang rusak, hingga akhirnya memicu kebakaran. Sebaiknya untuk sementara anda tinggal di Apartemen." ujar sang pemadam kebakaran.


***Sedikit Informasi tentang Technical Room**. Biasanya di rumah-rumah luar negeri yang mempunyai iklim non-tropis atau lebih dari dua musim, ruangan ini tuh ada. Di dalamnya itu semacam tempat alat-alat technical gitu buat rumah, kayak Sistem pemanas air, ketel gas untuk pemanas dan pendingin ruangan, mesin vacum cleaner, dll. Semacam itulah ya. Contoh foto dibawah*.



Valerie mengangguk mengerti, lalu pemadam tersebut pamit undur diri. Valerie menatap kembali rumahnya yang hancur. Valerie keluar menemui Kakek-Nenek serta Bibinya yang sedang duduk di kursi taman.


"Bi, Bantu Valerie kemasin barang yang masih utuh. Kita pindah ke Apartemen selagi rumah diperbaiki kembali." Bibinya mengangguk mengerti. Valerie melempar senyum sebentar pada Kakek dan Neneknya, sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah.


"Valerie."


Vale menoleh ke sumber suara dan mendapati Melanie yang berlari ke arahnya dengan wajah khawatir.


Melanie memeluk Valerie erat setelah melihat sahabatnya itu baik-baik saja. "Syukurlah kamu baik-baik saja." ujar Melanie lega.


Valerie tersenyum tipis dengan wajah lesu. Melanie melepas pelukannya dan menatap Valerie lekat. "Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Melanie.


"Apartemen untuk sementara waktu." ujar Valerie.


"Yaudah aku bantu kamu beres-beres." ujar Melanie. Valerie mengangguk dan akhirnya masuk kembali ke dalam rumah bersama Melanie.


Valerie masuk ke dalam kamarnya yang sebagian tampak terbakar dan banyak pecahan kaca di lantai. Valerie meraih koper yang ia simpan di dalam Walk in Closet yang untungnya tidak terlalap si merah.


Valerie mengemas baju, tas dan sepatunya ke dalam koper. Beberapa barang dan berkas yang masih terselamatkan ke dalam kardus. Namun naas, ponsel serta laptopnya terbakar, setengah bagian ranjangnya juga. Valerie menatap meja nakas di sebelah tempat tidurnya yang tidak terbakar dan mendapati bingkai foto yang masih utuh di sana.


Valerie meraih bingkai foto tersebut. Foto Valerie kecil bersama Mama dan Papanya di depan toko Rotinya dulu. Untung saja masih selamat. Valerie memasukkan bingkai tersebut ke dalam kardus, mencari kembali barang yang masih selamat dari kebakaran.


Valerie keluar dari kamarnya dengan satu kardus lagi dan meletakkannya di luar kamar, dimana barang-barang yang sudah ia kumpulkan berkumpul.

__ADS_1


"VALE." Vale mengernyit mendengar teriakan yang menggema di rumahnya. Valerie melangkah ke arah tangga dan mendapati Aiden di lantai satu berdiri tak tenang dengan wajah panik.


"Aiden." Aiden menoleh ke sumber suara dan mendapati Valerie berdiri di ujung anak tangga lantai dua. Aiden berlari menaiki anak tangga, lalu menghamburkan diri memeluk Valerie erat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Aiden masih memeluk erat pinggang Vale. Valerie mengangguk kecil di atas bahu Aiden, namun Aiden bisa merasakan anggukan tersebut.


Aiden melepas pelukannya, lalu menatap wajah Valerie lekat. Aiden bisa melihat raut lelah di wajah Valerie. Matanya tampak lesu dan sembab karena menangis.


Tangan Aiden merambat menangkup kedua pipi Valerie di tangannya. Aiden mengusap beberapa abu hitam bakaran di pipi Valerie dengan lembut.


Valerie tersenyum tipis dengan wajah lelah. "Kamu kok tau?" tanya Valerie membiarkan Aiden yang masih membersihkan wajahnya.


"Aku tau darimana juga tidak penting. Yang penting sekarang adalah kamu baik-baik saja." Ujar Aiden yang berhasil membuat Vale kembali tersenyum lembut.


Valerie menatap penampilan Aiden yang tampak rapi dengan aroma fress yang menguar dari tubuh pria itu. "Kamu habis shooting?" tanya Vale yang dibalas anggukan oleh Aiden.


"Udah, aku masih harus beres-beres." ujar Vale menurunkan tangan Aiden dari pipinya.


Valerie melangkah kembali ke arah kamarnya diikuti Aiden. Aiden menatap setengah bagian kamar Valerie yang menghitam karena terbakar.


Valerie mengitari kamarnya untuk memastikan kembali barang-barang sudah tersusun, sedangkan Aiden melangkah mengelilingi kamar Valerie.


Pertama kalinya Aiden menapakkan kaki di kamar gadis itu. Aiden melangkah ke arah balkon dan mendapati beberapa ikatan kain yang diikat di pagar balkon. Aiden menatapnya tali tersebut lekat.


"Kamu terjebak di kamar saat kebakaran tadi?" tanya Aiden ke arah Valerie.


"Iya." Valerie mengangguk sambil melangkah ke arah balkon.


Valerie menatap tali yang menyelamatkan hidupnya itu masih terikat di sana.


"Aku selamat dengan ini." ujar Valerie menyentuhnya.


Aiden mengelus puncak kepala Valerie naik turun dengan senyum manis. "Anak pintar." puji Aiden memasang wajah layaknya seorang Ayah yang bangga pada anaknya.


Valerie tersenyum malu mendapati reaksi lucu Aiden. "Aku sudah menyewa Apartemen untukmu dan mobil pengangkut barang sebentar lagi sampai." ujar Aiden yang dibalas tatapan tidak percaya.


"Benarkah?" tanya Valerie yang dibalas anggukan oleh Aiden. Valerie memeluk Aiden sambil mengucapkan terimakasih dengan haru.


Bersambung...


Next Up : 19/8

__ADS_1


__ADS_2