The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 74


__ADS_3

Valerie membuka matanya perlahan sambil mengerjab-erjab menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba menusuk pupilnya. Valerie mengusap matanya pelan, lalu menatap ke sekelilingnya. Kamar yang tampak familiar di otaknya.


Valerie duduk dengan perlahan karena merasakan tubuhnya yang seakan tidak bertenaga. Pintu terbuka, menampilkan sosok Sean dengan nampan di tangannya.


"Kamu sudah bangun?" tanyanya dengan senyum manis seakan tidak terjadi apapun pada mereka.


Valerie mendehem singkat. "Makanlah, aku bawakan bubur untukmu." ujar Sean lagi.


Valerie menatap semangkuk bubur dan segelas air yang dibawa oleh Sean. Valerie membuang pandangannya dari nampan tersebut dan menatap Sean lagi.


"Aku kenapa bisa di sini?" tanya Vale.


"Kamu pingsan saat rapat tadi pagi." jawab Sean. Ingatan Vale melayang dan akhirnya teringat kejadian memalukan itu.


Valerie mengusap wajahnya malu. Sean mengambil mangkukku tersebut, menyendokkan bubur dan mengarahkannya pada Vale.


"Aaa!" titah Sean seperti menyuruh anak kecil makan.


Vale menatap Sean dengan sebelah alisnya terangkat. "Aku bisa makan sendiri." ujar Vale berusaha meriah mangkuk tersebut dari tangan Sean.


Sen menjauhkan mangkuk tersebut dari jangkauan Vale sambil menggeleng. "Kamu sedang sakit dan tidak ada tenaga bahkan untuk berdiri. Sekarang menurutlah, lalu minum obatmu dan kau bisa pulang untuk beristirahat." ujar Sean menatap Valerie lembut.


Bibir Vale terkatub tak bisa membantah ucapan Sean.  Vale menganggu pasrah, lalu Sean mulai menyuapinya dengan telaten.


Valerie mulai membuka mulutnya saat sendok tersebut berada di depan mulutnya. Namun, beberapa detik sebelum bubur itu masuk ke dalam mulut Vale. Valerie memundurkan badannya sambil menutup hidungnya.


"Ada apa?" tanya Sean khawatir melihat raut Vale.


"Aku tidak suka aromanya, aku jadi ingin muntah." ujar Vale dengan wajah dan mata polosnya. Sean menciumi Roma bubur tersebut dan merasa tidak ada yang aneh.


"Aku tidak suka itu." ujar Vale sambil menjauhkan mangkuk tersebut dari hadapannya.

__ADS_1


"Kamu ingin makan apa?" tanya Sean.


"Umhhh... Aku mau sesuatu yang sangat pedas." ucap Vale sambil menatap Sean dengan wajah semangat.


"Tidak boleh, kamu sedang sakit." kata Sean tegas tidak terbantah. Vale mengerucutkan bibirnya mendengar jawab Sean.


"Aku mau itu, kalau tidak, aku tidak akan makan." ancam Vale sambil menatap Sean tajam. Sean menatap Vale dengan wajah heran. Kenapa Valerie bersikap seperti ini? Biasanya Valerie tidak bersikap keras kepala seperti ini.


Sean memiringkan kepalanya bingung sambil berperang dengan otaknya sendiri. Sean memutar otak mencari jawaban yang dapat memuaskan untuk Valerie.


"Bagaimana kalau setelah memakan bubur?" tanya Sean menatap Vale lembut. Valerie menggeleng keras dengan wajah tak terbantah.


Sean menghela nafas. "Makanan apapun selain pedas, aku akan pesan." ujar Sean putus asa sambil menatap Vale meminta keringanan.


Vale tampak tertarik, lalu menatap ke atas seakan berpikir. "Ehmm.. Aku ingin memakan makanan apapun yang kamu masak." Sean melotot tak percaya.


Sean bukanlah seorang pria yang bisa memasak. Dia bahkan tidak pernah menyentuh alat-alat masak sejak kecil sampai sekarang.


"Baiklah, kamu tunggu di sini." ujar Sean meletakkan mangkuk bubur ke atas nampan dan pergi keluar, meninggalkan Vale yang duduk dengan tersenyum puas.


Empat puluh lima menit berlalu, Sean kembali masuk ke dalam ruangan pribadinya dengan sebuah troli makanan. Valerie yang sedang bermain ponsel sambil tiduran, menatap ke arah Sean santai.


Sean mendorong trolinya mendekat, lalu menatap ke arah mangkuk bubur yang sudah life tak berisi. Sean menatap ke arah Vale seakan meminta jawaban.


"Ahhh... Kamu lama sih masaknya, aku terlanjur kelaparan, jadinya makan bubur itu. Buburnya enak banget, aku suka." ujar Vale panjang lebar sambil tersenyum tak berdosa.


"Jadi kamu masih mau makan?" tanya Sean.


Valerie menggeleng. "Aku udah kenyang." ujar Vale sambil mengusap perutnya. Sean mengusap wajah prihatin pada dirinya sendiri. Ia memasak susah-susah dengan penuh perjuangan dan keringat, Valerie malah memakan kembali bubur yang ia bawa sebelumnya.


"Maaf." ujar Vale menatap wajah kecewa Sean.

__ADS_1


"Kamu masak apa?" tanya Vale sambil bangkit dari ranjang dan membuka penutup makanan yang dibawa oleh Sean.


Valerie menatap dua telur mata sapi yang pinggirnya tampak menghitam dan beberapa slice bacon disampingnya.


Vale menatap Sean dengan wajah datar. "Empat puluh lima menit hanya memasak ini?" tanya Vale takjub. Sean mengangguk polos.


Valerie membuang nafas sambil menggelengkan kepalanya takjub. "Aiden bahkan memasak lebih baik dari kamu." desis Vale pelan, namun bisa didengar oleh Sean. Sean menatap Vale tajam seakan tidak terima.


"Kenapa? Memang benar kok. Aiden yang selalu memasak saat kami tinggal di Rusia." ujar Vale sambil mencibik bibir.


"Jadi benar kalian tinggal berdua di hotel?" tanya Sean tak percaya.


"Iya, walau hanya dua hari." jawab Vale singkat. Sean sedikit bernafas lega, walau dua haripun rasanya ia tidak rela.


"Tidak usah dimakan kalau tidak mau." kata Sean badmood sambil menarik trolinya. Namun Vale ikut menarik troli tersebut dengan wajah mengerut.


"Siapa bilang tidak mau? Aku mau." kata Vale. Sean melepas tarikan tangannya, lalu menatap Vale yang mulai mencicipi masakannya.


"Asin." ujar Vale setelah memakan potongan telur dengan wajah mengerut. Namun, ia berusaha menelan telur tersebut dengan susah payah.


"Kamu marah ya sama aku?" tanya Vale menatap Sean dengan wajah cemberut. Vale mengambil gelas berisi air dan meneguknya banyak-banyak.


"Yang aku makan sekarang garam bukan telur." ujar Vale yang dibalas wajah pasrah oleh Sean. Perjuangan empat puluh lima menitnya yang sia-sia.


Valerie kembali menyuapkan telur tersebut dan melapisinya dengan bacon agar rasa asinnya berkurang. "Jangan dimakan lagi!" ujar Sean menatap Vale yang kembali memakan masakannya.


"Sayang. Lagian ini pertama kalinya kamu masak, aku harus hargain biar kamu makin semangat belajarnya." ucap Vale menatap Sean lembut sambil mengunyah makanannya. Sean ikut menatap Vale lamat-lamat, lalu senyum lembut terbit di bibirnya.


Valerie tetaplah Valerie. Wanita yang ia cintai itu tidak pernah berubah sejak dulu. Wanita yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2