
Akhirnya Sean Update.
Tekan tombol likenya dulu dong.
Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.
~Selamat membaca~
***
Sean memasuki ruangan pribadinya dan mendapati Vale duduk di atas ranjang, merutuk sambil memukuli kepalanya.
Sean terkekeh melihat tingkah gadisnya itu. Dia melangkah mendekatinya, setelah menutup pintu dengan pelan.
"Valerie." Valerie menoleh ke sumber suara dan mendapati Sean berdiri dengan tegap di depannya.
"Kenapa kamu langsung menghampiriku? Aku masih harus mengutuki kebodohanku dan menenangkan rasa maluku." ucap Vale dengan raut kesal.
"Mereka sudah pergi. Aku menghampirimu karena khawatir padamu." ucap Sean sambil duduk di sebelah Vale.
"Kamu baik-baik saja?" pertanyaan dari mulut Sean mengingat kejadian menyakitkan yang terjadi pagi tadi.
Valerie tampak terdiam. Memandang lekat mata Sean yang sejak tadi menatapnya.
"Apa aku kelihatan baik-baik saja?" tanya Vale pelan. Sean terdiam sejenak, menyelidiki raut wajah yang saat ini gadis itu keluarkan.
Tangan kanan Sean terulur mengusap pipi Vale karena raut wajah sayunya. Sean menggeleng sambil terus mengusap pipi Vale. Valerie tidak baik-baik saja. Wajahnya mengambarkan betapa beratnya beban yang ia pikul saat ini.
"Makan siang bersamaku?" tanya Sean.
"Di mana?" tanya Vale.
"Makan siang di luar."
__ADS_1
"Dan menambah gosip lagi? Tidak. Terimakasih." ucap Vale dengan gelengan tak setuju.
Sean menggenggam tangan Vale dan mengecupnya pelan. "Maaf." karena reputasi Sean dan Aiden yang membuatnya terjerumus di antara kedua pria tampan dengan jibunan fans di dunia.
Kata 'Maaf' yang terlontar dari mulut Sean, membuat Vale terdiam.
"Tidak perlu. Lagipula yang mereka katakan benar. Aku adalah wanita murahan yang telah berulang kali di lecehkan olehmu yang notabenya adalah Presdir perusahaan ini."
Sean menggeleng mendengarnya. "Kau bukan wanita murahan Vale. Aku yang berengsek karna pikiran buasku padamu." sangkal Sean.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Vale sambil menatap lekat Sean.
"Aku terjebak di antaramu dan Aiden. Namun kebenarannya, aku sama sekali tidak ada hubungan spesial apapun dengan kalian. Karena aku tidak pantas bersama kalian." tambah Vale dengan nada perih terluka. Ke dua tangan Sean naik dan mencengkram kuat ke dua bahu Vale.
"Aku mencintaimu. Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku mencintaimu Valerie." ucap Sean di akhir kalimat dengan lamat-lamat.
"Shh... Sakit Sean."
Vale mengusap bahunya pelan. Tiba-tiba perkataan Melan semalam melintas di kepalanya. Bagaimana Melan menyangkal jika Sean tidak benar-benar mencintainya. Apa yang harus Vale percaya? Sean atau Melan?
Melan tidak pernah melihat langsung bagaiman dia dan Sean menghabiskan waktu bersama. Bagaimana sikap Sean selama ini yang memperlakukannya seperti barang yang berharga. Walau bejat karena nafsunya, namun Sean benar-benar terlihat mencintainya.
Sean melihat keterdiam Vale setelah ia mengucapkan hal itu dengan tegas. Wajah gadis itu tampak bimbang dan tertekan. Sean tidak tahan melihatnya.
Sean menarik tubuh Vale mendekat, lalu mencium kening gadisnya lamat-lamat. Vale semakin terdiam.
"Berhenti memikirkan sesuatu di kepala cantikmu itu. Cukup percaya pada hatimu Vale." ucap Sean yang berhasil membuat Vale mengangkat kepalanya menatap Sean dengan wajah berbinar.
Sean benar. Pria itu benar. Seharusnya ia mempercayai hatinya sendiri. Dia yang tau apa yang baik untuknya. Maka, percayalah pada dirimu sendiri.
Sean tau apa yang membebani gadisnya itu. Ia tau bagaimana sahabat gadisnya itu datang semalam dan berakhir tak mempercayai perasaannya pada Vale.
Jangan tanyakan bagaimana selama ini ia tau di mana Vale berada. Saat gadis itu di bar dan saat pesta waktu itu, karena ia sejak lama sudah memasang pelacak di tubuh gadis itu.
__ADS_1
Pelacak super tipis dan super kecil hingga gadis itu tak menyadari jika ia menanamkannya di kulit gadis itu. Pelacak di sertai mic untuk mengintai pembicaraannya, oleh karena itu Sean selalu tau apa yang di bicarakan oleh Vale di manapun gadis itu berada. Alat pelacak tersebut hanya bertahan selama dua bulan dan harus di ganti kembali dengan yang baru. Tidak lepas bahkan saat gadis itu mandi.
Namun ia juga mengetahui hal semalam melalui kamera tersembunyi yang ia pasang di kamar gadis itu.
"Hentikan semua gosip ini Sean! Hanya kamu yang bisa membantuku saat ini." ucap Vale. Sean mengangguk sambil mengelus rambut Vale.
"Aku akan menyelesaikannya untukmu." ucap Sean. Vale tersenyum dan mengangguk lega.
"Terimakasih Sean." Sean tersenyum dan mengangguk pelan. Sean berjanji akan menyelesaikannya semua hal yang membuat gadisnya sedih.
***
Vale sekarang pergi dengan Melan ke Mall untuk bersenang-senang. Melan yang merencanakannya karena melihat betapa murungnya wajah Vale saat makan siang bersamanya.
Vale setuju karena ia merasa butuh udara segar untuk membebaskan dada sesaknya karena omongan pedas orang-orang kantor.
Vale dan Melan menghabiskan waktu berbelanja dan makan setelah pulang bekerja. Setelah puas, mereka memutuskan untuk pulang.
Saat keluar dari pintu utama Mall. Mata Vale menangkap jelas seorang pria tua kumuh duduk di atas kertas kardus sambil memegangi perutnya.
Vale tanpa lama langsung berjalan ke arah gelandangan tersebut. Dia menyerahkan kantung plastik berisi makanan yang tadi ia beli untuknya sendiri.
Vale menyerahkannya dengan lembut. "Maaf kek, Vale cuman punya ini sekarang. Kakek kelihatannya lapar, jangan lupa di makan ya." ucap Vale lembut dan pamit pergi setelah kakek tersebut mengucapkan terimakasih dengan wajah haru.
Melan menatap Vale yang berjalan ke arahnya. "Seperti biasa. Valerie si malaikat tanpa sayap." goda Melan. Vale berdecak dan berjalan meninggalkan Melan.
Bersambung...
Akhirnya aku mulai pulih guys. Aku kembali lagi untuk mulai update cerita.
Semoga akunya makin rajin di tahun 2020 ya. Kalian juga vote dan like juga.
Bye... 😘💕
__ADS_1