
Akhirnya Sean Update.
Tekan tombol likenya dulu dong.
Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.
~Selamat membaca~
***
Valerie meraih ponselnya dengan cepat, dia ingin mengetahui kabar Sean secepatnya. Apa yang pria itu lakukan di saat dia kini sedang menangis keras?
Valerie memanggil nomor Sean dengan penuh antusias. Tangannya berkeringat saat meletakkan speaker ponsel ke telinganya. Vale menunggu dengan penuh harap. Hingga....
"Halo."
"Sean." desis Vale rendah. Air matanya kembali menetes. Namun, dia menahannya agar mulutnya tidak mengeluarkan suara isakan.
Sedangkan di seberang sana, tak terdengar suara apapun. Mereka sama-sama terdiam dengan ponsel di telinga.
"Valerie, kamu di kantor?" tanya Sean dengan nada selembut sutra.
Vale mengangguk seakan Sean ada di depannya. "Iya." lanjutnya dengan suara parau.
"Kamu menangis? Kenapa?" tanya Sean lagi dengan nada khawatir.
"Apa lagi alasannya? Ini semua karena aku merindukanmu." jawab Vale dengan mata memerah sedih. Mulutnya terisak pelan sambil terus mengusap air matanya yang tak berhenti turun.
"Aku juga merindukanmu." Vale yang mendengarnya, malah menangis semakin kencang. Sean di buat kelimpungan di seberang sana, karena tangisan kerasnya.
"Shttt... Sudah sayang! Aku akan kembali secepatnya." ujar Sean dengan nada membujuk.
Kembali?? Pertanyaan itu merasuk ke pikiran Vale. Namun, ia tak ingin merusak momen penting kali ini.
"Cepatlah datang dan temui aku!" ujar Vale pelan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tutup sekarang." ujar Sean.
"Hmm." balas Vale dengan deheman.
Sambungan telepon merekapun terputus. Vale menatap ponselnya yang telah mati dengan lekat. Sudah ada perasaan hangat di hatinya.
"Datang dan tepati janjimu Sean." desis Vale pelan dengan senyum tipisnya.
***
Sean masuk ke dalam ruangan serba putih yang penuh dengan peralatan-peralatan media. Tampak selang penyambung hidup dan bertengger di badan dan mulutnya.
Ruangan dengan aroma antiseptik serta obat-obatan itu, Sean masuki dengan langkah perlahan.
Di tatapnya sosok perempuan yang terbaring kaku di atas ranjang dengan mata melembut. Tangannya perlahan terulur untuk menggenggam tangan dengan selang infus tersebut.
Seseorang yang selalu Sean rindukan dan selalu bersama dengannya. Seseorang paling berharga yang sangat Sean sayangi. Dia rela melakukan apapun untuknya.
"Aku datang." ujar Sean lembut dengan senyum di bibirnya.
Cklek.
"Sean, kau datang lagi." ujar dokter tersebut. Mereka terdengar akrab? Ya, karena dokter tersebut adalah sahabat Sean.
Dokter muda jenius yang berasal dari Negara yang tidak terlalu terkenal, namun di kenal sangat pintar dan handal sebagai Dokter muda paling berbakat di Negara ini.
Dokter yang membawa nama baik Negaranya hingga ke luar Negeri. Tidak hanya pintar, namun pria muda ini sangat tampan dengan wajah Asia-Amerikanya.
Namanya, Zander Stefanus Renaldi, orang-orang biasa memanggilnya Zein. Dokter muda yang berasal dari Indonesia dan mengejar mimpinya hingga terkenal di Rusia.
"Tentu saja aku akan datang lagi ke sini. Bagaimana kabarmu Zein?" tanya Sean.
"Tentu saja baik." jawab Zein dengan senyum tipis.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Sean lagi.
__ADS_1
"Tidak ada peningkatan secara spesifik. Kondisinya masih dalam keadaan koma dan tak tau kapan akan sadar." jawab Zein. Sean mendesah pelan. Belum ada perkembangan sama sekali.
"Kudengar kau akan kembali ke Indonesia." ujar Sean tiba-tiba.
"Benar. Aku akan mulai bekerja di Rumah sakit Ayahku." jawab Zein dengan anggukan pelan.
"Kenapa tiba-tiba? Aku harus mencari Dokter baru kalau kau pergi." ucap Sean.
"Jika terjadi sesuatu yang penting, aku pasti akan datang ke sini." ujar Zein.
"Ibuku sangat gencar menyuruhku untuk cepat menikah, padahal aku baru berumur 27." ucap Zein dengan wajah dongkol.
"Pantas ibumu begitu, kau sangat dingin dengan wanita manapun. Carilah wanita untuk menemanimu." ujar Sean dengan senyum mengejek.
"Kau tau aku tidak suka wanita bodoh, merepotkan, cerewet, dan boros. Aku ingin mencari wanita pintar, mandiri, dewasa dan mengerti seluruh kesibukanku sebagai Dokter." ucap Zein.
Sean tertawa. "Kalau begitu, selamat mencarinya hingga ke ujung dunia." ucap Sean sambil tertawa mengejek.
"Aku akan pulang. Tolong pantau terus keadannya!" ujar Sean yang di balas anggukan paham dari Zein.
Sean melangkah ke luar ruangan setelah berpamitan pada Zein.
Bersambung....
Hay.. Hay.. Hay..
Aku rencana mau bikin novel baru nih. Ceritanya tentang si Zander ini. Dokter muda berbakat yang sangat terkenal di Rusia dan kembali ke Negara asalnya, Indonesia.
Dia kembali untuk mengurus Rumah Sakit milik ayahnya sekaligus dokter di sana. Namun, ibunya dengan gencar dan penuh persiapan, menjodohkannya dengan seorang gadis yang sangat jauh dari tipe idealnya.
Merepotkan, bodoh, cerewet, dan boros, di tambah ceroboh. Sangat jauh dari wanita pintar, mandiri, dewasa dan pengertian yang dia inginkan.
Apa yang akan terjadi dengan mereka? Apa gadis itu sanggup dengan sifat dingin Zander.
Tunggu ya ceritanya😊
__ADS_1
Kalau sudah ada yang siap novelnya☺️🤭
Bye... 😘💕