
"I Sean Matthew Romanov, take you Valerie Vylzia Vasylchenko, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And here to I pledge you my faithfulness."
"Pengantin wanita dipersilahkan mengucap janji."
"I Valerie Vylzia Vasylchenko, take you Sean Matthew Romanov, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And here to I pledge you my faithfulness."
"Dengan ini, kedua belah pihak mengikat janji dihadapan Tuhan dalam sebuah ikatan pernikahan. Pengantin pria dipersilahkan mencium pengantin wanita." ujar sang Pendeta.
Sean tersenyum menatap Valerie yang juga tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Sean meraih pipi Vale dengan tangannya, lalu membawa wajahnya mendekat pada wajah istrinya itu. Vale menutup matanya saat ia rasakan bibir lembut Sean menabrak bibirnya.
Ciuman lembut tak menuntut yang penuh dengan kasih sayang. Sean menjauhkan wajahnya, lalu mereka berdua menatap ke arah tamu yang sejak tadi bertepuk tangan dengan riuh.
Acara pernikahan tersebut berjalan dengan lancar. Semua orang yang hadir terlihat bahagia, hanya saja mereka tidak melihat keberadaan Ayah Sean dan Kakeknya disana.
Televisipun dihebohkan dengan berita pernikahan Sean, namun tidak dengan tunangannya Anna, melainkan wanita lain yaitu Valerie.
Ditambah kehebohan bahwa mereka sudah mempunyai anak sebelum berita pernikahan itu beredar. Tentu saja banyak orang yang mengecap Valerie sebagai perusak hubungan karena berita ini. Namun Sean pasti akan menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya pada media agar membungkam seluruh komentar jahat tersebut.
Sean menatap seorang pria dan wanita beserta dua bocah kecil yang mereka gendong. Sean tersenyum saat sepasang manusia itu menghampirinya.
"Selamat atas pernikahanmu dan kelahiran anakmu."
"Terimakasih Davin." Pria itu adalah Davin dan istrinya Vania. Mereka datang ke Rusia untuk menghadiri acara pernikahan Sean dan Valerie.
Vania dan Valerie saling tersenyum hangat. "Siapa nama mereka?" tanya Valerie pada Vania sambil mengusap kepala bocah laki-laki berumur dua tahun yang digendong Vania.
"Ini Vian dan ini Vano." ujar Vania menunjuk anaknya satu persatu.
Vian dan Vano terlihat tertidur dengan tenang di gendongan Vania dan Davin karena sudah asik bermain sejak acara tadi.
"Bagaimana dengan anakmu?" tanya Vania.
"Namanya Liam." jawab Valerie.
"Lain kali kau harus bermain ke rumah kami bersama Liam." ujar Vania yang dibalas kekehan oleh Valerie dan anggukan setuju.
"Terimakasih atas semua bantuanmu padaku." ujar Sean pada Davin.
"Tidak masalah."
"Aku lupa harus memberikan hadiah pernikahanmu, tunggu sebentar." Davin menoleh ke arah pengawalnya dan memberi perintah. Pengawal tersebut mengangguk, lalu pergi dari sana.
Beberapa menit menunggu, akhirnya pengawal tersebut kembali. Mata Sean dan Valerie melebar saat melihat sosok yang berada di atas kursi roda yang didorong oleh pengawal itu.
"Ibu." desis Sean.
Sosok yang berada di atas kursi roda tersebut tersenyum hangat ke arah Sean yang juga menatapnya dengan mata memanas.
Sean melangkah mendekat saat Ibunya sampai di depannya. "Aku membawa Ibumu walau sebenarnya Ibumu belum sembuh dengan sempurna." ujar Davin.
"Terimakasih." ujar Sean pada Davin.
__ADS_1
Sean menunduk dan memeluk Ibunya dengan erat. Ibunya ikut memeluk anaknya tersebut erat sampai ia tidak sadar air mata sudah membasahi pipinya. Vania menatap Davin dengan sorot tersirat agar menjauh dari sana dan membiarkan Ibu dan Anak itu untuk menghabiskan waktu bersama. Davin mengangguk dan pergi dari sana dengan Vania.
"Sean." ujar Ibunya dengan bibir bergetar. Perasaan hangat menjalar di hati Sean saat ia menyadari yang dihadapannya ini adalah sungguh-sungguh Ibunya.
Sean melepas pelukannya. "Ibu, ini istriku Valerie." ujar Sean membawa Valerie ke sampingnya.
Valerie tersenyum lembut. Ibu Sean meraih tangan Vale dan menggenggamnya erat. "Terimakasih." ujar Ibu Sean padanya.
Vale tersenyum lembut dan menggenggam tangan Ibu Sean erat. "Ibu, kau sudah memiliki cucu, namanya Liam. Aku akan membawamu ke rumah untuk bertemu dengannya nanti." ujar Sean bersemangat.
"Baiklah."
***
Mommy, Kendra dan lain-lainnya terkejut saat melihat kedatangan Ibu Sean di acara pernikahan tadi. Mereka tidak menyangka bahwa Ibu Sean akan datang di hari membahagiakan ini.
Mommy dan Ibu Sean banyak berbincang tentang masa pertumbuhan Sean yang dilewatkan oleh Ibunya. Juga tentang bagaimana Sean bisa masuk ke keluarga mereka.
Disinilah mereka sekarang, di Mansion Romanov. Sean mendorong kursi roda Ibunya ke dalam Mansion. Sean menghentikan langkahnya saat ia melihat ayahnya dan kakeknya berada di ruang keluarga.
Ayah dan Kakek Sean sedikit terkejut saat melihat seseorang yang Sean bawa di atas kursi roda. Mereka tau Ibu Sean pasti akan bangun setelah pria itu membawa ibunya keluar dari Rusia untuk dirawat.
"Sayang, bawa Ibu ke kamar untuk berjumpa dengan Liam, aku akan berbicara sebentar dengan Ayah dan Kakek." ujar Sean pada Valerie. Valerie mengangguk dan membawa Ibu Sean ke kamarnya. Mommy, Kendra dan Neneknya ikut menyusul Vale. Sean menatap ke arah Kakek Valerie saat Kakek Vale menghampiri Sean.
"Aku akan membantumu berbicara dengan Kakekmu. Orang yang lebih tua yang harus menyelesaikan masalah." ujar Kakek Vale pada Sean. Sean mengangguk.
Sean dan Kakek Vale duduk bersama dengan Ayah dan Kakek Sean. "Ibu sudah sadar kembali dan dia akan tinggal disini." ujar Sean.
"Ayah bisa bekerja di perusahaan jika Ayah ingin." Dia hanya diam tak menjawab.
"Kau tidak ingin melihat cicitmu?" tanya Kakek Vale pada Kakek Sean.
"Tidak."
"Sayang sekali kalau begitu. Kita ini sudah tua dan hanya menunggu waktu dimana Tuhan akan memanggil. Sebelum itu terjadi, jangan sampai menyesal karena kau tidak merasakan apa itu arti keluarga sesungguhnya." ujar Kakek Vale panjang lebar. Lalu, ia bangkit berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
Dilain tempat, Vale kini menatap bayi kecilnya yang sedang tertidur dengan tenang di atas ranjang.
Valerie tersenyum saat jari telunjuknya digenggam oleh anaknya yang masih menutup mata dengan erat. Ibu Sean yang melihat hal tersebut ikut tersenyum hangat.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan perlahan dan menunjukkan sosok Sean yang masuk ke dalam kamar. Sean melangkah tanpa suara karena tidak ingin membangunkan putranya.
Setelah sampai di dekat ranjang, Sean menunduk untuk mengecup lembut kening istrinya singkat, lalu mengelus pipi lembut bayinya sebentar.
"Aku akan mengantar Ibu ke kamar untuk beristirahat." ujar Sean pada Ibunya. Mereka semua pergi dari sana, meninggalkan Vale bersama putranya yang masih tertidur lelap.
Beberapa menit kemudian Sean kembali masuk ke dalam kamarnya. Sean memperhatikan Vale yang sejak tadi tak bosan memperhatikan Liam yang tertidur.
"Kamu jadi jarang memperhatikan suamimu semenjak anak kita hadir, aku cemburu." Vale menoleh ke arah Sean yang berdiri menatapnya lekat.
Valerie tertawa pelan. Perlahan ia duduk di atas ranjang dan menatap Sean lekat. Ia menarik tangan Sean agar pria itu ikut duduk dengannya. "Maaf ya." ujar Vale lembut.
__ADS_1
Sean menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Vale menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Sean dan mencari kehangatan dalam dekapannya.
"Harusnya ini jadi malam pertama kita." ujar Sean dengan nada nakal. Vale memukul pelan lengan Sean.
"Jangan macam-macam, ada Liam!" ujar Vale. Sean mendecak.
"Ayo antar Liam ke kamar Kendra sebentar." ujar Sean.
"Tidak." jawab Vale tegas.
Sean menghela nafas, lalu berbaring di ranjang "Liam, kau baru saja menggagalkan malam pertama Daddy." ujar Sean menatap bayi kecil tak berdosa yang sejak tadi hanya tidur, namun sekarang tengah disalahkan oleh Sean.
Valerie tersenyum kecil, lalu beranjak berdiri dan menggendong putranya itu perlahan. Terlihat Liam menggeliat kecil saat Vale memindahkan tubuhnya ke box bayi.
Setelah meletakkan bayinya dengan sempurna, Valerie naik ke atas ranjang dimana Sean tengah tersenyum senang entah karena apa.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Vale heran.
Sean langsung menarik tangan Vale dan membawa wanitanya itu ke dalam dekapannya. Vale tertawa geli saat wajah dan deru nafas Sean menerpa lehernya.
"Geli." desis Vale sambil memukul pelan lengan Sean.
Sean pun melonggarkan pelukannya. Kini giliran Valerie yang menenggelamkan wajahnya di leher suaminya yang terlihat menggoda. Sean tersenyum lembut sambil mengelus punggung Vale naik turun.
"Aku harap Kakek dan Ayahmu akan segera menerimaku dan Liam." desis Vale menerpa leher Sean.
Sean mendehem lalu mengecup puncak kepala istrinya. "Semoga saja." ujar Sean lagi.
Valerie menjauhkan tubuhnya dari pelukan suaminya tersebut, lalu menatap lekat wajah Sean.
Sean ikut menatap wajah istrinya yang tengah menatapnya seakan mereka sedang berlomba saling tatap. Perlahan wajah Vale mulai mendekat dan menabrakkan bibirnya di atas bibir sang suami.
Bibir Vale bergerak dengan lembut menyiratkan rasa cinta yang besar di dalam pangutannya. Sean pun tak tinggal diam dan membalas permainan sang istri dengan senang hati.
Beberapa menit kemudian, Vale melepas permainan yang ia mula dan menatap mata Sean dengan kabut mata puas. "Aku berharap kita bisa membangun keluarga kecil kita dengan baik dan kita bisa bersama hingga maut memisahkan." ujar Vale lagi dengan wajah yang begitu dekat dengan Sean.
Kening mereka saling bersentuhan dengan deru nafas panas. Sean tersenyum dan mengamit pipi Vale dengan tangannya. "I love you my wife." ujar Sean di depan bibir Vale yang menggoda.
Senyum Vale merekah lebar mendengar ucapan lembut yang keluar dari mulut Sean. "I love you too my husband." balas Vale sambil terkekeh kecil.
Sean ikut tertawa, lalu kembali menarik wajah Vale dan menyatukan bibir mereka untuk saling membagi kehangatan di hari membahagiakan tersebut. Setelah berlika-liku perjalan dan perjuangan cinta yang telah mereka lalui, akhirnya Tuhan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan, sebagai bukti dari kerasnya perjuangan cinta dua anak manusia tersebut.
The End.
Akhirnya ceritanya ini selesai. Aku tau banyak yang nunggu cerita ini update, banyak juga yang pastinya kesal karena aku jarang up, aku mau minta maaf karena hal itu. Terimakasih untuk para pembaca setia yang senantiasa menunggu kisah cinta Sean dan Valerie disaat aku yang selalu jarang update dan kalian mau mengerti keadaanku. Aku mau bilang makasih banyak, Love you semuanya ❤️💜💞
Ini dia cerita tentang Kenzo. bawahannya Davin. Ayo mampir dan ramaikan kalau kalian suka cerita dengan genre Action, Psyco, Dark Romance, dan Thriller.
Mampir aja dulu manatau suka🙂👍🏻
__ADS_1
Trapped by the BEAST on going.