The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 61


__ADS_3

Valerie menggandeng tangan Jovan masuk ke dalam aula hotel tempat pesta berlangsung. Satu tangannya lagi memegang clutch bagnya, sedangkan Aiden melangkah sendirian.


Seharusnya pasangan Valerie adalah Aiden bukan Jovan, namun hal ini terjadi semenjak kedatangan Jovan. Jovan melarang Aiden berdekatan dengan Valerie, bahkan menuntut untuk tidak merangkul Vale.


Aiden hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan pria itu, begitupun Vale.


Valerie memandang seluruh dekorasi yang tampak mewah. Ini pertunangan bukan? Tapi mengapa semewah dan seresmi ini? Memang orang kaya berbeda.


Valerie sempat takut dan sedikit trauma dengan pesta-pesta orang-orang terpandang seperti ini. Valerie sejak tadi tidak tenang di mobil, mengingat kejadian yang pernah menimpanya.


Valerie memikirkan banyaknya kamera dan wartawan, ia menjadi bahan sorotan mereka dengan lampu flashnya yang begitu mengganggu dan tidak nyaman.


Namun, tidak ada wartawan sama sekali di pesta ini. Sepertinya kedua pihak keluarga setuju untuk tidak mengumbar pesta ini ke publik. Walaupun berita pertunangan ini sudah tersebar dimana-mana, pesta ini tidak mengijinkan adanya liputan media disini.


Valerie melangkah anggun dengan gaunnya yang begitu indah. Beberapa sorot mata tertuju pada Valerie yang terlihat sangat menarik.



*kira-kira bentuk gaunnya kayak gini ya, aku coba nyari di google nggak ketemu referensinya, jadinya aku gambar sedemikian rupa. lumayan juga.*


Valerie melepas rangkulan tangannya dari Jovan dan beralih merangkul Aiden. Jovan awalnya sempat ingin protes, hingga suaranya tertahan saat seorang wanita datang menghampiri Aiden dengan raut gembira.


"Akhirnya anda datang juga Mr. Zachary." wanita itu adalah Anna. Pemeran utama wanita di pesta ini.


Aiden tersenyum begitupun Valerie ikut melempar senyum. Anna tampak sangat cantik malam ini. Dengan dandanan natural, gaun panjangnya yang indah ditambah rambut pirang bergelombangnya, membuat wanita itu terlihat seperti peri.


Anna tampak ikut membalas senyuman Valerie. "Nona, acara akan dimulai." ujar seorang pelayan yang datang menghampiri Anna.


Anna mengangguk mengerti, lalu menatap Aiden kembali. "Selamat menikmati pestanya, saya permisi." ujar Anna yang dibalas tundukan hormat oleh Aiden.


Anna melangkah entah kemana, meninggalkan Aiden dan Vale yang masih terdiam di tempat.


Jovan dengan bar-barnya, menarik tubuh Vale menjauh dari Aiden. Valerie menggeleng maklum dengan tingkah kakaknya yang protektif itu.


Vale menatap ke seluruh penjuru aula. Ia belum melihat Sean di mana-mana sejak tadi. Bahkan saat Anna menyapa mereka, Sean tidak bersama wanita itu.


Vale duduk di bangku yang telah tersedia, bersama dengan Aiden dan Jovan. Seorang MC tampak naik ke atas panggung menandakan acara akan dimulai.


MC pria tersebut membuka acara dengan begitu profesional. Mengundang beberapa penyanyi untuk bernyanyi di atas panggung. Menyuruh para tamu untuk menikmati makanan yang tersedia, hingga acara inti dimulai.


Valerie ditemani Aiden berdiri tepat di depan meja yang penuh makanan, mengambil beberapa makanan dan meletakkannya ke atas piring.


"Kak Jovan di mana?" tanya Vale pada Aiden yang baru menyadari keberadaan Jovan yang entah dimana.

__ADS_1


"Bukannya tadi ikut kita?" tanya Aiden balik. Vale menggidik bahu tidak tau. Biarlah, lagipula Jovan juga sudah besar bukan anak kecil lagi.


Vale melangkah bersama Aiden kembali ke meja mereka untuk memakan makanan mereka dengan santai.


Sampai akhirnya acara inti yang ditungu-tunggu dimulai. Mendadak Valerie menautkan jarinya gugup. Apa Sean tau dia di sini? Vale jadi takut seketika.


Bagaimana jika pria itu tau dia di sini? Valerie menatap fokus ke arah panggung, Di mana sosok Anna dan Sean naik ke sana setelah dipanggil oleh sang MC.


Mata Valerie menatap sosok Sean yang terlihat tampan dengan jas mewah serta rambutnya yang tertata rapi. Sean sangat tampan di atas sana, membuat ia iri dengan posisi Anna. Valerie tidak ingin menyangkal kalau dia masih mencintai sosok Sean dan menginginkan pria itu. Katakan dia wanita bodoh! Iya, dia bodoh karena cinta.


Vale menatap lekat bagaimana Anna dan Sean saling bertukar cincin. Para tamu terdengar bertepuk tangan dengan riuh. Kedua pasangan tersebut melempar senyum pada tamu-tamunya. Valerie menoleh dengan cepat membelakangi panggung, agar Sean tidak dapat menyadari kehadirannya.


Tanpa Vale sadari setetes air menetes dari pelupuk matanya. Aiden melihat semuanya, bagaimana Vale menahan rasa sakit ini sendirian, sedangkan Sean tersenyum di sana.


"Acara selanjutnya adalah pesta dansa. Acara dansa dibuka dengan penampilan kedua pasangan hari ini. Mr. Romanov–Ms. Petrova silahkan." ujar sang MC.


Kedua pasangan tersebut melangkah ke arah hall dansa dan berdansa dengan iringan lagu yang lembut.


Para tamu yang lain mulai ikut berdansa mengikuti lagu dengan senyum penuh kegirangan. Aiden menatap Vale sebentar yang mencoba mengusap titik air matanya dengan tissue.


Lalu, mengulurkan tangannya ke depan Vale dengan senyum manis. "May I have a honor to dancing with you?" tanya Aiden layaknya bangsawan.


Vale tersenyum tipis, mengangguk kecil dan menerima uluran tangan Aiden. Aiden menarik tangan Valerie pelan, menuntun wanita itu untuk masuk ke hall dansa.


Aiden dan Vale saling bertatapan lembut melangkah pelan ke kanan dan ke kiri seiring alunan lagu yang lembut. Aiden menuntun Vale untuk berputar, sedangkan Vale dengan gembira berputar sambil tertawa kecil. Vale yakin tariannya sangat kaku.


Kini kedua tangan Aiden berada di pinggang Vale dan kedua tangan Vale berada di pundak Aiden.


"Kira-kira di mana Kak Jovan?" tanya Vale tiba-tiba namun dengan senyum yang merekah indah di bibirnya.


Aiden menggidik bahu tak tahu. "Mungkin, dia sedang berdansa dengan salah satu wanita di sini." ujar Aiden dengan senyum menggodanya. Vale tertawa geli mendengarnya serta melihat ekspresi Aiden.


"Извините." (Permisi.) Valerie dan Aiden menoleh ke sumber suara, di mana seorang pelayan wanita, menundukkan kepalanya dengan hormat. Valerie sedikit mengerti dengan bahasa Rusia, karena itu bahasa masa kecilnya.


Vale dan Aiden menghentikan tarian mereka dan menatap pelayan tersebut bingung. "Что случилось?" (Ada apa?) tanya Aiden dengan bahas Rusia yang begitu kental.


"Сэр, кто-то хочет встретиться с Ноной Васильченко. Может ли Нона следовать за мной?" (Tuan, seseorang ingin bertemu dengan Nona Vasylchenko. Bisakah Nona mengikuti saya?) tanya pelayan tersebut. Valerie menoleh menatap Aiden bingung. Tatapan wanita itu bertanya-tanya apa yang terjadi saat ini? Kenapa ia harus dibawa entah kemana.


"Кто хочет с ним познакомиться?" (Siapa yang ingin bertemu dengannya?) tanya Aiden dengan raut wajah tidak bersahabat.


"Великий мастер Романов." (Tuan Besar Romanov.) jawab pelayan tersebut yang berhasil membuat Vale tersentak kaget mendengarnya.


Vale menatap Aiden sambil menggeleng dengan raut khawatir. Di dalam pikiran Vale, apakah Sean yang ingin bertemu dengannya?

__ADS_1


Vale menoleh mencari sosok Anna dan Sean yang masih menari di tengah Hall. Apa jangan-jangan Papanya Sean?


Aiden menatap pelayan tersebut lekat. "Скажи своему хозяину, он не хочет с ним встречаться." (Katakan pada Tuanmu, dia tidak ingin bertemu dengannya.) ujar Aiden lamat-lamat.


"Извините, сэр, но, пожалуйста, сотрудничайте с вами." (Maaf Tuan, tapi mohon kerja sama anda.) Vale menatap pria bertubuh tegap dengan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya, tiba-tiba berdiri di belakang mereka dengan wajah dingin dan datar.


Aiden menarik Vale lebih dekat dengannya, sedangkan Vale berdiri dengan wajah takut.


"Пожалуйста, следуйте за мной!" (Silahkan ikuti saya!) ujar pelayan tersebut, lalu melangkah pelan seperti tidak terjadi apapun di tengah pesta ini.


Valerie menggenggam erat tangan Aiden, melangkah beriringan dengan pria itu dengan wajah khawatir. Aiden dan Valerie mengikuti pelayan tersebut, dengan pengawal pria di belakang mereka. Berjalan santai melewati orang-orang di pesta agar tidak menarik perhatian.


Dilain sisi.


Sejak tadi senyum Anna tidak luntur dari bibirnya. Kedua insan itu masih asik berdansa dengan hikmat.


"Kenapa baru tadi pagi sampainya? Aku khawatir setengah mati kamu nggak ngabarin dari kemarin." ujar Anna angkat bicara.


"Ada pekerjaan." jawab Sean singkat, padat dan jelas. Anna mengangguk mengerti.


"Oh iya, tadi aku sempat menyapa Mr. Zachary. Aku pikir dia tidak akan datang karena jadwalnya yang begitu padat. Ternyata dia datang bersama wanita waktu itu." Tubuh Sean seketika menegang kaku dan ia berdiri menghentikan tarian mereka.


"Aiden? Dengan wanita mana?" tanya Sean merenggut bahu Anna dan mencengkeramnya erat, seakan ingin meremukkannya. Mata Sean seketika tajam dengan raut wajah khawatir.


"Awsss... Sakit Sean." ringis Anna pelan.


"JAWAB!" teriakan kencang Sean seketika menarik perhatian tamu-tamu yang lain dan menatap lekat ke arah Anna dan Sean.


Para tamu saling berbisik melihat tingkah aneh Sean yang arogan. Anna menatap Sean dengan raut wajah takut.


"Wanita di kantin waktu itu, wanita yang sama di restoran hari itu juga." jawab Anna dengan nada gemetar. Ia ingin menangis rasanya.


Sean melepas cengkeramannya, lalu berlari entah kemana, meninggalkan sosok Anna yang berdiri kaku mengusap bahunya sambil menahan tangis di tengah kerumunan para tamu.


Hanya satu hal di otak Sean saat ini. Valerie. Wanita itu harus baik-baik saja.


Bersambung..


Lebih cepat dari jadwalkan? Seharusnya besok aku update, ya tapi aku pengen up sekarang.


Ayo mampir di ceritaku yang lain. 'Trapped by the BEAST.'


Note : update next 13/6

__ADS_1


Bye..😘


__ADS_2